No plagiat 🚫
Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa
Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.
Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.
Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?
"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Penjaga Hutan Hitam
Tiga hari telah berlalu sejak langit Desa Songjia berubah menjadi merah. Song Yuan kini tak lebih dari sesosok bayangan kecil yang ringkih, merangkak di antara akar-akar raksasa Hutan Hitam yang lembap. Pakaian ramunya sudah compang-camping, wajahnya kotor oleh tanah dan bekas air mata yang mengering, dan perutnya terasa seperti sedang diiris sembilan pedang karena kelaparan.
Ia hanya bertahan hidup dengan memakan akar tanaman pahit dan meminum embun. Namun, luka di jiwanya jauh lebih perih daripada rasa lapar itu. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat kobaran api dan wajah ayahnya yang tersenyum di tengah hujan anak panah.
"Ibu... Ayah..." bisik Yuan parau. Suaranya hampir hilang.
Langkah kakinya terhenti ketika ia memasuki sebuah wilayah yang aneh. Pohon-pohon di sini tidak memiliki daun, batangnya hitam legam dan mengeluarkan cairan kental seperti darah. Tidak ada suara burung atau serangga. Keheningan di tempat ini begitu berat, seolah-olah suara napas saja bisa mengundang kematian.
Tiba-tiba, bulu kuduk Yuan berdiri. Insting yang ditanamkan ayahnya selama bertahun-tahun berteriak: Bahaya!
Sshhh.... ssshhhh....
Suara gesekan benda keras di atas tumpukan daun kering terdengar dari arah belakang. Yuan memutar tubuhnya dengan cepat, mencoba menarik busur kayu ringannya, namun tangannya terlalu lemas. Busur itu jatuh ke tanah.
Dari balik kegelapan pohon raksasa, muncul sesosok pria yang duduk di atas dahan rendah. Pria itu mengenakan jubah hitam bersisik yang berkilauan seperti kulit ular di bawah cahaya bulan yang pucat. Kulitnya pucat pasi, rambutnya panjang terurai berantakan, dan matanya... matanya berwarna kuning keemasan dengan pupil vertikal yang tajam.
Itulah Mo Chen, sang "Ular Hitam".
"Seorang anak manusia?" suara Mo Chen terdengar dingin, berdesis, dan bergaung di antara pepohonan. "Bau busuk kematian di tubuhmu sangat menyengat. Kau datang ke sini untuk memberi makan pohon-pohonku, Nak?"
Yuan gemetaran, tapi ia teringat pesan ibunya. Dengan tangan gemetar, ia merogoh kantong kulit di pinggangnya dan mengeluarkan lencana perak berukir naga.
"Ibu... Ibuku bilang... aku harus mencari Mo Chen..." suara Yuan terputus-putus.
Mo Chen terdiam. Ia melompat turun dari dahan dengan gerakan yang begitu halus, hampir tidak menyentuh tanah. Ia mendekat, baunya seperti campuran antara obat-obatan pahit dan ular mati. Ia menyambar lencana itu dari tangan Yuan dan memperhatikannya sejenak.
"Lencana Klan Bai? Jadi jalang kecil itu masih hidup?" Mo Chen menyeringai, memperlihatkan deretan gigi yang terlalu runcing untuk seorang manusia. Ia menatap Yuan dari atas ke bawah. "Dan kau? Kau anaknya dengan si Jenderal bodoh Song Yan?"
"Jangan... jangan panggil ayahku bodoh!" teriak Yuan dengan sisa tenaganya, matanya kembali menyala karena amarah.
PLAK!
Tanpa peringatan, Mo Chen menampar wajah Yuan hingga anak itu terpelanting ke akar pohon. Bibir Yuan pecah, darah segar mengalir.
"Jangan berteriak di depanku, cacing tanah," desis Mo Chen, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Yuan. "Ayahmu memang bodoh. Dia mati karena emosi murahan yang kalian sebut kasih sayang. Di hutan ini, hanya ada satu hukum: Yang kuat memakan, yang lemah menjadi kotoran."
Mo Chen berdiri tegak kembali, membuang lencana itu ke tanah seolah barang sampah. "Aku tidak menerima murid. Apalagi bocah cengeng yang bahkan tidak bisa memegang busurnya sendiri."
Yuan merangkak kembali, mengambil lencana itu dengan tangan gemetar, lalu menatap Mo Chen dengan tatapan penuh dendam. "Aku bukan cengeng. Aku mau membalas dendam. Ajari aku cara membunuh mereka semua... tolong."
Mo Chen tertawa. Tawa yang kering dan mengerikan. "Membunuh? Kau tahu apa tentang membunuh? Kau bahkan tidak tega menyembelih ayam kemarin, kan?"
Pria ular itu tiba-tiba mencengkeram leher Yuan dan mengangkatnya ke udara. Yuan meronta, oksigen mulai menipis.
"Jika kau ingin aku mengajarimu, kau harus berhenti menjadi manusia. Aku akan membedah setiap inci dagingmu, meremukkan tulangmu, dan mengganti darahmu dengan racun. Kau tidak akan menemukan kasih sayang di sini. Kau hanya akan menemukan penderitaan yang lebih buruk daripada kematian," ancam Mo Chen.
"Aku... tidak takut..." rintih Yuan, matanya menatap tajam ke mata kuning Mo Chen. "Aku mau mereka... semua mati."
Mo Chen melepaskan cengkeramannya. Yuan jatuh tersungkur, terbatuk-batuk mencari udara.
"Baiklah, Cacing Kecil. Kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan," Mo Chen berjalan pergi menghilang ke dalam kabut hutan. "Ikuti aku jika kau tidak ingin dimakan serigala dalam lima menit. Dan ingat satu hal... mulai hari ini, jangan pernah panggil aku 'Guru'. Panggil aku 'Tuan', karena kau hanyalah alat yang sedang aku asah."
Yuan bangkit dengan kaki gemetar. Ia mengambil busurnya, menatap ke arah Desa Songjia yang sudah jauh di belakang, lalu melangkah masuk ke dalam kegelapan mengikuti sang Ular Hitam.
Masa kecilnya benar-benar telah berakhir. Di tangan Mo Chen, Song Yuan tidak akan dilatih sebagai pahlawan, melainkan sebagai senjata mematikan yang tidak punya hati.
Yuan menyeret langkahnya mengikuti jubah hitam Mo Chen yang berkibar di antara kabut. Setiap kali ia tertinggal sedikit saja, suara desisan ular terdengar dari balik semak-semak, seolah ribuan mata sedang mengawasi betisnya yang kecil, siap mematuk jika ia berhenti melangkah.
Mereka sampai di sebuah gua yang tersembunyi di balik air terjun berwarna hitam pekat. Air itu tidak berbusa putih, melainkan berwarna abu-abu keruh dengan aroma belerang yang menyengat. Di dalam gua, tumpukan tulang belulang hewan—dan mungkin manusia—berserakan di sudut-sudut ruangan. Tak ada kasur empuk, tak ada aroma ubi bakar. Hanya ada meja batu yang penuh dengan botol-botol kaca berisi cairan berwarna-warni yang bergejolak.
"Duduk," perintah Mo Chen tanpa menoleh.
Yuan duduk di atas lantai batu yang dingin. Tubuhnya menggigil, namun matanya tetap tertuju pada Mo Chen yang sedang menumbuk sesuatu di dalam lumpang batu.
"Makan ini," Mo Chen melemparkan sesuatu yang terlihat seperti jantung mentah dari hewan kecil yang masih berdenyut tipis.
Yuan mual. Perutnya bergejolak hebat. "Ini... ini masih mentah, Tuan."
"Secara logika," Mo Chen berbalik, mata kuningnya berkilat kejam di bawah cahaya obor hijau. "Api adalah kemewahan bagi orang lemah. Musuhmu tidak akan menunggumu memasak sebelum mereka menebas lehermu. Makan, atau kau akan mati kelaparan sebelum matahari terbit."
Yuan menatap daging itu dengan jijik. Namun, bayangan wajah pria luka bakar yang menghancurkan desanya muncul kembali. Ia memejamkan mata, menggigit daging dingin itu, dan menelannya dengan paksa. Rasanya amis, pahit, dan menjijikkan, membuat air matanya kembali jatuh.
"Jangan menangis! Air mata adalah pemborosan cairan tubuh!" bentak Mo Chen. Ia mendekat, lalu dengan kasar menyiram luka di bibir Yuan dengan sejenis cairan bening dari botolnya.
"AAARGH!" Yuan berteriak kesakitan. Rasanya seperti bibirnya sedang dibakar hidup-hidup oleh api neraka.
"Itu adalah racun kalajengking yang sudah dicairkan. Ia akan menutup lukamu, tapi ia juga akan membuat sarafmu mati rasa. Seorang pemanah tidak boleh merasakan sakit. Dia harus menjadi benda mati, sama seperti busurnya," ucap Mo Chen dingin.
Malam itu, Yuan tidak diizinkan tidur di dalam gua. Mo Chen menyeretnya keluar dan mengikat kedua tangan Yuan di dahan pohon yang tinggi, membiarkannya tergantung dengan kaki yang hanya ujung jarinya menyentuh tanah.
"Tahan posisi ini sampai fajar. Jika kau jatuh, ular-ularku di bawah sana sudah lapar," Mo Chen menunjuk ke arah tanah yang mulai dipenuhi oleh puluhan ular hitam kecil yang mendesis.
Yuan bergelantungan di bawah langit Hutan Hitam yang gelap. Bahunya terasa seperti mau copot, jari kakinya kram hebat. Namun, di tengah penderitaan yang tak tertahankan itu, hatinya justru semakin membatu.
"Aku akan bertahan..." bisik Yuan pada kegelapan. "Aku akan belajar cara meracuni kalian semua, seperti pria ular ini."
Mo Chen yang memperhatikan dari balik bayangan gua menyeringai tipis. Ia melihat sesuatu yang tidak dimiliki ayahnya, Song Yan. Ia melihat kegelapan yang murni di mata bocah itu. Song Yan melatih Yuan untuk melindungi, tapi Mo Chen? Ia akan menempa Yuan untuk menghancurkan.
Fajar menyingsing di Hutan Hitam, namun bagi Song Yuan, tidak akan ada lagi cahaya matahari. Hidupnya kini adalah tentang racun, rasa sakit, dan busur yang tidak akan pernah meleset lagi.
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏