NovelToon NovelToon
LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.

Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Murka Sang Penguasa Lentera

Lorong-lorong Paviliun Lentera Abadi biasanya merupakan tempat di mana keheningan dipuja sebagai bentuk kesucian yang mutlak. Namun, kehadiran arwah-arwah baru yang tidak tahu tata krama telah mengubah atmosfer tempat itu menjadi ujian kesabaran yang menyiksa bagi Bian Zhi. Bukan hanya Xiao Bo yang cerewet, kini muncul beberapa arwah dari sekte-sekte kecil yang tewas di gerbang luar. Bukannya meratapi nasib, mereka justru terus-menerus melontarkan kutukan dan ejekan dari balik jeruji energi yang mulai bergetar karena emosi mereka yang tidak stabil.

"Asisten pengecut! Kau hanya berani menyerang dari balik kabut tebal itu! Jika kau memang pria sejati, lepaskan segel ini dan hadapi aku tanpa pedang hitammu! Hihihi," seru seorang arwah mantan pendekar yang kini hanya berupa gumpalan asap merah yang berisik, terus-menerus menabrakkan diri ke jeruji sel.

Bian Zhi berdiri tegak di tengah aula bawah tanah, tangannya menggenggam hulu pedang hingga buku-buku jarinya memutih dan mengeluarkan suara gemertak. Aura membunuh yang terpancar darinya sudah cukup untuk membuat lantai kristal di bawah kakinya retak halus, memancarkan hawa dingin yang sanggup membekukan sumsum tulang. Namun, arwah-arwah itu—yang sudah kehilangan akal sehat karena kematian yang mendadak dan tragis—tidak lagi mengenal rasa takut akan kehancuran abadi.

"Diamlah, kalian semua. Sebelum aku sendiri yang menghapus eksistensi kalian dari dunia ini," desis Bian Zhi. Suaranya rendah, namun mengandung tekanan tenaga dalam yang membuat udara di lorong itu terasa semakin tipis dan sesak.

"Kenapa, Kakak Jenderal? Apa telingamu mulai panas mendengarkan kebenaran? Hihihi. Lihat dia, wajahnya yang kaku seperti batu itu mulai memerah. Mungkin dia memang selemah itu sampai butuh bantuan He Xueyi hanya untuk membungkam mulut arwah rendahan seperti kami!" timpal Xiao Bo yang melayang dengan santai di langit-langit aula, menikmati setiap detik penderitaan mental yang dialami Bian Zhi.

Satu per satu arwah lain ikut tertawa, menciptakan simfoni suara yang melengking, tumpang tindih, dan memekakkan telinga. Suara-suara itu bukan sekadar kebisingan; mereka mengandung resonansi negatif yang mulai mengganggu aliran Qi di dalam ruangan tersebut, memicu ketidakseimbangan energi Yin yang sangat berbahaya bagi stabilitas paviliun.

Bian Zhi mengangkat pedangnya sedikit, niat untuk melepaskan tebasan membabi buta hampir tak tertahankan lagi. Namun, ia tahu bahwa satu serangan ceroboh di sini akan merusak segel-segel kuno yang telah dibangun tuannya selama berabad-abad. Ia berada di ambang batas kewarasannya, terjebak antara tugas menjaga dan keinginan untuk menghancurkan.

Tepat saat amarah Bian Zhi hampir meledak, sebuah pendaran cahaya biru yang amat terang menyambar dari arah tangga melingkar. Suasana aula seketika membeku. Suara tawa yang tadi memekakkan telinga lenyap dalam sekejap, digantikan oleh kesunyian yang begitu berat dan padat hingga seolah-olah waktu sendiri berhenti berputar.

He Xueyi turun dari tangga dengan gerakan yang sangat lambat, namun setiap langkahnya memancarkan tekanan spiritual yang masif, membuat arwah-arwah di dalam sel merangkak mundur ke sudut paling gelap. Jubah putihnya berpendar dengan cahaya perak yang dingin, dan lentera di tangannya mengeluarkan api biru yang menari-nari dengan ganas, seolah-olah lapar akan jiwa-jiwa yang membangkang.

"Bian Zhi," ucap He Xueyi. Suaranya tidak keras, namun bergema dengan otoritas yang tak terbantahkan di setiap jengkal dinding batu paviliun. "Pedangmu diciptakan untuk memotong musuh yang memiliki raga dan kehormatan, bukan untuk digunakan berdebat dengan sampah yang sudah kehilangan jiwanya."

"Hamba mohon maaf, Tuan. Hamba telah gagal menjaga ketertiban di bawah pengawasan hamba," ucap Bian Zhi sambil berlutut rendah, kepalanya menunduk dalam di atas lantai kristal yang dingin. Tubuhnya bergetar bukan karena takut, melainkan karena rasa malu yang mendalam karena telah membiarkan emosinya terpancing.

He Xueyi melangkah ke tengah aula, tepat di bawah posisi Xiao Bo yang kini gemetar hebat hingga asap hijaunya nyaris pudar. Sang penguasa lembah mengangkat lenteranya perlahan. Seketika, rantai-rantai cahaya biru pucat keluar dari dalam lentera tersebut, melesat seperti ular-ular lapar ke arah setiap sel dan melilit mulut para arwah yang berisik tadi dengan segel keabadian yang menyakitkan.

"Kesunyian adalah hukum tertinggi di Lembah Sunyi ini," He Xueyi menatap satu per satu arwah itu dengan mata yang berkilat kejam dan tanpa ampun. "Siapa pun yang berani merusaknya, tidak akan hanya dikurung selamanya. Aku sendiri yang akan melebur esensi kalian menjadi minyak dasar untuk lenteraku. Apakah ada yang masih ingin mencoba bersuara lagi?"

Tidak ada satu pun arwah yang berani bergerak, bahkan untuk sekadar berbisik. Xiao Bo sendiri langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan transparannya, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun, bahkan suara napas gaibnya pun ia tahan.

He Xueyi memutar tubuhnya menghadap Bian Zhi yang masih berlutut. "Berdirilah. Fokuskan kembali pikiranmu ke tempat yang seharusnya. Musuh yang membawa jimat penyegel dari Sekte Awan Putih sudah melewati perbatasan hutan terluar. Mereka membawa cahaya palsu untuk mencoba memadamkan kegelapan kita. Jika kau membiarkan arwah-arwah tak berguna ini mengusik ketenanganmu, kau akan menjadi sasaran empuk bagi mantra-mantra pembersih mereka."

"Baik, Tuan. Hamba akan segera membereskan mereka di depan gerbang," sahut Bian Zhi. Ia berdiri dengan sikap yang jauh lebih tenang, namun niat membunuhnya kini telah terasah kembali menjadi lebih tajam dari sebelumnya.

He Xueyi menatap pintu aula yang menuju ke permukaan. "Biarkan mereka masuk sedikit lebih dekat ke wilayah inti. Aku ingin melihat sejauh mana keberanian para kultivator suci itu saat mereka menyadari bahwa cahaya mereka tidak akan pernah bisa menembus kedalaman Lembah Sunyi."

Bian Zhi mengangguk patuh, lalu melesat pergi meninggalkan aula bawah tanah yang kini kembali sunyi total. He Xueyi tetap berdiri di sana sejenak, menatap sel-sel arwah dengan pandangan dingin. Ia meniup pelan api di lenteranya, membuat seluruh aula tenggelam dalam kegelapan yang sempurna, menyisakan ketakutan yang mencekam bagi siapa pun yang berani menantang otoritas sang Penguasa Lentera.

1
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Wah, sudah disuguhi pemandangan kayak gini awal-awal 😭
Diah nation: eh itu baru awalan lho tapi nanti pas tengah tengah bab bakal ada kejutan 😂😂baca aja dulu seru kok hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!