Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga Yang Datang Setiap Hari
Pintu ruang kerja itu terbuka tanpa perlu diketuk.
Kanaya tidak menoleh.
Ia sudah tahu siapa yang datang.
“Selamat sore, Kanaya.”
Suara itu terdengar santai, penuh percaya diri dan terlalu akrab
Kanaya tetap fokus pada dokumen di hadapannya, hanya menghela napas pelan.
Di sana, Viktor berdiri dengan setelan rapi, wajahnya tetap sama seperti yang ia ingat sejak dulu penuh keyakinan, sedikit arogan, dan… terlalu yakin bahwa dunia selalu berpihak padanya.
Di tangannya, seperti biasa
sebuah buket bunga besar.
Kanaya menatap bunga itu sekilas, lalu kembali menatap Viktor.
“kenapa baru datang"
"kenapa??,,rindu ya"ucapnya
"Kamu tidak pernah bosan?” tanya datar.
Viktor mengangkat bahu, lalu melangkah masuk lebih jauh.
“Tidak,” jawabnya. “Karena kamu juga tidak pernah berubah dalam hal menolak.”
Ia meletakkan buket bunga itu di meja Kanaya tanpa diminta.
“Anggap saja ini rutinitas,” lanjutnya santai.
Kanaya bersandar di kursinya, menatap bunga itu beberapa detik.
“Rutinitas yang tidak pernah aku minta,” katanya.
Viktor tersenyum tipis.
“Tapi kamu juga tidak pernah benar-benar menghentikannya,” balasnya.
Kanaya mengalihkan pandangan.
“Karena aku tidak ingin membuang waktu untuk hal yang tidak penting,” jawabnya dingin.
Viktor tertawa pelan.
“Kamu selalu punya jawaban untuk segalanya, ya.”
Sunyi sejenak.
Viktor memperhatikan Kanaya lebih lama.
Penampilannya hari ini sempurna rapi, elegan, dan penuh wibawa. Tidak ada lagi bayangan gadis SMA yang dulu ia kenal. Tidak ada lagi wanita yang pernah ia lihat terluka.
Yang ada sekarang… seseorang yang berdiri sendiri.
Dan kuat.
“Kamu terlihat lebih… luar biasa sekarang,” ucap Viktor akhirnya.
Kanaya tidak terlihat terpengaruh.
“Itu karena aku tidak lagi membuang waktuku untuk orang yang salah,” jawabnya.
Kalimat itu terdengar ringan.
Tapi maknanya jelas.
Viktor mengangkat alis sedikit.
“Termasuk aku?” tanyanya.
Kanaya menatapnya lurus.
“maaf Kalau kamu merasa tersinggung,” katanya tenang
Viktor tertawa kecil.
“Menarik,tapi aku harap kehadirannya tidak mengubah apapun” gumamnya.
"tidak akan pernah,dia adalah masa lalu dan akan selalu seperti itu"timpal Kanaya
Viktor berjalan santai mengitari ruangan, melihat sekeliling dengan santai seolah tempat itu bukan kantor, melainkan ruang yang sudah ia kenal lama.
Viktor mengangguk pelan.
“Aku tidak pernah meragukanmu,” katanya. “Sejak dulu.”
Kanaya tersenyum tipis.
“Lucu,” katanya. “Karena kamu tidak pernah benar-benar ada untuk melihat prosesnya.”
Kalimat itu membuat Viktor berhenti.
Ia menoleh.
“Tidak sepenuhnya benar,” katanya.
Kanaya mengangkat alis.
“Oh ya?”
Viktor melangkah mendekat lagi.
“Aku memang beberapa waktu menghilang karena dia,” katanya jujur. “Tapi bukan berarti aku tidak memperhatikanmu.”
Kanaya menatapnya tanpa ekspresi.
“Memperhatikan dari jauh tidak sama dengan hadir,” balasnya.
Sunyi.
Viktor menghela napas pelan.
“Kamu masih mengingat itu?” tanyanya.
Kanaya tersenyum tipis, kali ini lebih pahit.
“Hal seperti itu tidak mudah dilupakan,” jawabnya.
Viktor mengangguk.
“Aku muncul sekali,” katanya. “Dan itu justru membuat segalanya salah paham,aku tidak ingin terluka saat kamu di lukai olehnya"ucapnya
Kanaya menatapnya lebih dalam.
“Iya,” katanya pelan. “Salah paham yang cukup untuk menghancurkan segalanya.”
Viktor terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung punya jawaban.
“Aku tidak berniat membuat hidupmu lebih rumit waktu itu,tapi kenapa kamu membawanya kembali,menjadi sopir,yang akan hadir setiap hari, apakah kamu yakin kamu akan kuat” katanya akhirnya.
Kanaya tertawa kecil.
“Dia ada ataupun tidak ada,” jawabnya, “tidak akan mengubah apapun dan juga kehidupan ku”
kanaya berdiri dari kursinya, berjalan ke arah jendela.
“Dan sekarang…” lanjutnya, “kamu datang setiap hari. Dengan bunga. Dengan sikap seolah semuanya akan baik-baik saja.”
Ia berbalik, menatap Viktor.
“Kamu tidak merasa terlambat?”
Pertanyaan itu menggantung.
Viktor tidak langsung menjawab.
Ia menatap Kanaya lama.
“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” katanya akhirnya.
Kanaya menggeleng pelan.
“Itu berlaku untuk beberapa hal,” jawabnya. “Tapi tidak untuk semuanya.”
Viktor menyipitkan mata sedikit.
“Tidak masalah,Dulu aku salah langkah untuk mendapatkan mu,tapi tidak untuk masa kini” katanya.
Kanaya tersenyum tipis.
Sunyi lagi.
Viktor menghela napas panjang.
“Fatan…” katanya tiba-tiba.
Nama itu membuat Kanaya sedikit menegang, meski hanya sesaat.
“Aku bertemu dia di bawah,aku cukup terkejut dengan keadaannya ” lanjut Viktor.
Kanaya tidak menunjukkan reaksi berlebihan..
Kanaya tidak menjawab.
“Dunia memang lucu,” lanjut Viktor. “Dulu dia yang ada di atas. Sekarang…”
Ia tidak melanjutkan.
Kanaya menatapnya dingin.
“Jangan lanjutkan,” katanya tegas.
Viktor mengangkat tangan sedikit.
“Baik,” katanya santai.
Kanaya melangkah kembali ke mejanya.
“Kalau kamu datang hanya untuk membicarakan masa lalu,” katanya, “kamu bisa pergi.”
Viktor tersenyum tipis.
“Aku datang untuk kamu dan untuk masa depan kita,” jawabnya.
Kanaya terdiam.
“Sejak dulu,” lanjut Viktor, “aku tidak pernah benar-benar berhenti.”
Kanaya menatapnya, kali ini lebih lama.
“Masalahnya bukan kamu berhenti atau tidak,” katanya pelan. “Masalahnya… aku sudah selesai.”
Kalimat itu jatuh dengan tegas.
Viktor terdiam.
“Aku tidak lagi hidup di masa lalu,” lanjut Kanaya. “Aku tidak lagi menunggu siapa pun.”
Ia menunjuk buket bunga di meja.
“Termasuk itu.”
Sunyi panjang.
Viktor menatapnya dalam.
“Jadi… tidak ada kesempatan?” tanyanya.
Kanaya tersenyum tipis.
“Untuk saat ini?” jawabnya. “Tidak.”
Viktor mengangguk pelan.
Tidak marah.
Tidak memaksa.
Hanya… menerima.
“Baiklah,ayo kita pulang, berhenti bekerja ya nyonya Kanaya ,dirumah sudah di tunggu seseorang,” katanya akhirnya.
yang membuat Kanaya tertegun dan menatap Viktor yang membuat Viktor mengangkat alisnya
"baiklah,untuk dia aku tidak bisa menolak"ucap Kanaya menutup beberapa map dan laptopnya dan bangkit dari duduknya
"ayo"
"oke"timpal Viktor mengikuti langkah Kanaya dari belakang
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?