NovelToon NovelToon
Layu Sebelum Mewangi

Layu Sebelum Mewangi

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Single Mom / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: miss tiii

" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.

Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akar yg Mencari Air

Pagi itu, Arumi bangun sebelum matahari sempat menyapa gang sempit di depan rumah mereka. Mual di perutnya masih ada, tetapi rasa lapar yang melilit bayinya terasa lebih nyata. Ia menatap Baskara yang masih meringkuk di bawah selimut kusam—pria itu seolah tidak punya beban meski hari ini adalah batas akhir pengusiran mereka.

Arumi berdiri di depan cermin retak di kamar mandi. Ia mengusap perutnya yang masih rata dengan gerakan lembut, namun tegas.

"Ibu tidak akan membiarkanmu layu bersama Ibu di sini," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri. Matanya yang sembab kini menyorotkan sesuatu yang sudah lama hilang: tekad.

Ia keluar ke ruang tamu, membuka tas tua miliknya, dan mengeluarkan satu-satunya harta yang tersisa—sebuah ijazah SMA yang sudah agak menguning dan keberanian yang baru saja ia pupuk semalam.

Baskara terbangun, duduk di pinggir ranjang sambil menguap lebar. Ia melihat Arumi sudah berpakaian rapi, sesuatu yang jarang terjadi.

"Mau ke mana?" tanya Baskara datar, tanpa menoleh.

"Aku mau cari kerja, Mas," jawab Arumi pendek sambil memakai sandalnya yang sudah tipis.

Baskara terdiam sebentar, lalu mendengus kecil—suara yang terdengar seperti ejekan halus. "Kerja apa? Kamu tidak pernah keluar rumah. Kamu tidak tahu apa-apa tentang dunia luar. Di rumah saja, urus dirimu yang sedang hamil."

Arumi berhenti di ambang pintu. Ia berbalik, menatap suaminya dengan tatapan yang membuat Baskara sedikit tersentak. Tidak ada lagi ketakutan di sana.

"Kalau aku di rumah saja, anak ini tidak akan punya masa depan, Mas. Dia butuh makan, bukan butuh ayah yang cuma bisa menyuruh 'sabar' sambil melihat istrinya kelaparan."

"Nanti juga ada rezekinya, Rum. Jangan keras kepala," gumam Baskara lagi, kembali merebahkan diri seolah percakapan itu membuang energinya.

"Rezeki itu dicari, Mas, bukan ditunggu sambil tidur!" Suara Arumi tenang, namun tajam seperti sembilu. "Mas boleh memilih untuk mati dalam diam di rumah ini, tapi aku tidak. Anak ini berhak untuk hidup. Kalau Mas tidak mau berusaha menjadi ayah, maka aku yang akan menjadi ayah sekaligus ibu untuknya."

Baskara hanya menarik selimutnya lebih tinggi, menutupi telinganya. "Terserah kamu. Paling nanti juga pulang sambil menangis karena ditolak orang."

Arumi tidak membalas lagi. Ia menutup pintu depan dengan bunyi klik yang mantap. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berjalan menyusuri gang, keluar menuju jalan raya yang bising dan asing.

Asap knalpot menyambutnya, suara klakson memekakkan telinganya, tapi Arumi tidak mundur. Ia berjalan menuju sebuah warung makan di ujung jalan yang memasang kertas kecil: Butuh Tenaga Cuci Piring.

"Permisi, Bu... apakah lowongannya masih ada?" tanya Arumi pada pemilik warung. Tangannya gemetar, tapi suaranya tetap tegak.

"Masih. Tapi kamu sanggup? Kelihatannya kamu sedang hamil," tanya ibu pemilik warung sangsi.

Arumi tersenyum kecil, sebuah senyum yang mengandung pahit sekaligus harapan. "Saya sanggup, Bu. Saya sangat butuh ini demi anak saya. Saya akan kerja dua kali lebih keras dari siapa pun."

Hari itu, untuk pertama kalinya, Arumi merasakan tangannya kasar terkena sabun dan air kotor. Punggungnya pegal luar biasa, tapi saat ia menerima upah harian pertamanya—lembaran uang lusuh yang tidak seberapa—ia merasa lebih hidup daripada saat ia menjadi istri yang patuh di rumah.

"Kita akan bertahan, Nak," bisiknya sambil mengelus perutnya di bawah lampu jalan yang remang-remang saat perjalanan pulang. "Ibu tidak akan membiarkanmu lahir di tanah yang kering. Kita akan mencari air sendiri."

1
Diana Bellusi
bagus ceritanya q suka💪
miss tiii: halooo kakk, jangan lupa vote yaaa , salam kenalll🙏🤭
total 1 replies
Emily
dah baskara gak usah harap Arumi lagi pigi kerja jadi kuli buat ngisi perutmu
Emily
kerja baskara jangan ngintipin arumi aja
Emily
lha baskara itu pernah berjuang apa
Emily
nah gitu dong Rumi
Emily
ah ngomong aja kau Rumi..makin banyak kau ngomong makin mentiko lakikmu
Emily
si Arumi kan udah pernah ngomong begitu jgn sampe berkali kali ngomong begitu tapi tetap masih mengharap laki mokondo
Emily
lha Arumi di tinggal saja laki begitu..malah balik lagi
Emily
baskara kerja apa kok modelnya begitu.. bpak nya Arumi juga salah kenapa menjodohkan anaknya dgn leleki gak jelas
Emily
semangat
Yuli Yanti
sbetulnya nama anaknya Bayu apa Kinan. bingung aku
miss tiii: Kinan Buu , episode berapa yg masih nama Bayu biar saya ganti , makasihh atas komentarnya 🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!