NovelToon NovelToon
KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Penyelamat / Tamat
Popularitas:439
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Lumpuh di hari pernikahan.
Dibuang keluarga sendiri.
Mereka bilang hidupku sudah tamat.

Tapi demi Nisa…
aku akan bangkit dan membuktikan kalau masa depanku belum suram.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Vonis Bu Indah di Depan Kandang

Hujan turun deras sore itu, seolah langit ikut menangis melihat nasib Raka. Surat pemecatan dari bos kandang masih terlipat rapat di tangan Raka yang gemetar. Kertas itu sudah kusut, terkena air mata dan cipratan lumpur, tapi tetap ia genggam erat—seolah itu adalah satu-satunya bukti bahwa ia pernah mencoba bertahan.

Nisa duduk meringkuk di sudut kandang yang kini terasa semakin sempit dan dingin. Dinding bambu yang dulu melindunginya dari angin malam, kini berderit lemah diterpa badai. Di luar, petir menyambar-nyambar, menerangi wajah pucat adik kecilnya yang menggigil.

"Kak... kita mau makan apa sekarang?" tanya Nisa lirih, suaranya hampir tertutup suara guruh. Perutnya keroncongan pelan, tapi ia tahu kakaknya sedang sakit hati. Ia tidak ingin memberatkan.

Raka menatap adiknya, lalu menatap kosong ke arah pintu kandang yang terbuka lebar. Angin hujan masuk membawa aroma tanah basah dan daun-daun busuk. Ia ingin menjawab, tapi lidahnya kelu. Bagaimana ia bisa menjanjikan makanan, padahal besok saja belum tentu ada?

Belum sempat Raka membuka mulut, sebuah mobil sedan berwarna putih berhenti mendadak di depan pagar kandang yang reyot. Ban mobil itu menyemburkan lumpur ke segala arah, mengotori dinding kandang yang sudah rapuh. Seorang wanita turun, menerobos genangan air tanpa peduli cipratan lumpur mengotori roknya. Itu Bu Indah.

Wajah Bu Indah merah padam, bukan karena marah, tapi karena menahan tangis. Matanya berkaca-kaca saat melihat Raka yang duduk lemas di kursi rodanya, bajunya basah kuyup, rambutnya acak-acakan. Lalu ia menatap bos kandang yang sedang berteriak memerintah karyawan untuk mengusir mereka, seolah Raka dan Nisa adalah sampah yang harus dibuang.

"Bapak tidak punya hati!" teriak Bu Indah, suaranya lantang membelah hujan. Air hujan mengalir di pipinya, bercampur dengan air mata yang akhirnya tumpah juga. "Anak ini cacat, tapi otaknya jenius! Bapak pecat dia hanya karena takut ketahuan mempekerjakan anak di bawah umur? Malu Bapak tidak sama Tuhan? Tidak sama diri sendiri?"

Bos kandang tertawa sinis, sambil merokok di bawah atap teras rumahnya yang megah. Asap rokoknya mengepul ke udara, seolah mengejek penderitaan Raka. "Urusan saya sama Tuhan urusan nanti, Bu Guru! Urusan saya sekarang adalah bisnis. Anak lumpuh ini cuma bikin rugi dan cari sensasi! Viral sana-sini, akhirnya saya yang repot!"

Bu Indah melangkah maju, langkahnya tegas meski sepatu hak tinggilnya tenggelam dalam lumpur. Ia berdiri tepat di antara bos kandang dan Raka, seperti perisai hidup yang melindungi muridnya dari dunia yang jahat.

"Dengar baik-baik," kata Bu Indah, suaranya rendah namun penuh wibawa, membuat bahkan bos kandang itu diam sejenak. "Hari ini Bapak mungkin merasa menang. Bapak pikir dengan memecat mereka, Bapak bisa menghentikan mimpi mereka. Tapi saya bersumpah, saya akan buktikan pada seluruh dunia bahwa yang suram itu bukan masa depan Raka, tapi hati orang-orang seperti Bapak yang buta oleh uang, tuli oleh kemanusiaan, dan mati oleh keserakahan!"

Suara Bu Indah bergema di tengah hujan, seolah alam pun mendengarkannya. Beberapa tetangga yang tadinya hanya intip-intip dari balik jendela, kini keluar rumah, menyaksikan adegan itu dengan mata terbelalak. Ada yang tersenyum simpul, ada yang menggeleng prihatin, ada pula yang pura-pura tidak lihat.

Bu Indah berbalik, kemudian berlutut di depan Raka, memegang erat tangan pemuda itu yang dingin dan basah. Sentuhan hangatnya menyentuh jiwa Raka yang beku.

"Raka, Nisa... ikut Ibu," katanya lembut, tapi tegas. "Kita tidak akan tidur di sini malam ini. Kita akan tidur di teras sekolah. Di sana, tidak ada yang berhak mengusir mimpi kalian. Di sana, tidak ada yang berani membakar harapan kalian. Dan di sana, Ibu janji, kita akan mulai membangun kembali semuanya."

Raka menatap Bu Indah, lalu menatap Nisa yang sudah berdiri, matanya berbinar-binar. Untuk pertama kalinya sejak dipecat, Raka merasa ada cahaya kecil yang menyala lagi di dadanya. Bukan cahaya besar, bukan api yang membakar, tapi lilin kecil yang cukup untuk menerangi langkah berikutnya.

Perjalanan ke sekolah berlangsung lambat. Bu Indah mendorong kursi roda Raka melewati jalanan berlumpur, sementara Nisa berjalan di sampingnya, memegang payung tua yang bocor di beberapa bagian. Hujan belum juga reda, tapi mereka tidak lagi merasa sendirian.

Di sepanjang jalan, Raka memperhatikan rumah-rumah warga. Beberapa lampu menyala, beberapa lainnya gelap. Ia membayangkan siapa yang sedang tidur nyenyak di dalam, siapa yang sedang makan bersama keluarga, siapa yang sedang berdoa. Ia tidak iri. Ia hanya bertanya-tanya: *Apakah suatu hari nanti, aku juga akan punya rumah seperti itu? Rumah yang aman, hangat, dan penuh cinta?*

Sesampainya di sekolah, teras kelas tampak basah dan dingin. Lantai keramik licin, atapnya bocor di beberapa titik, menciptakan genangan-genangan kecil di pojok-pojok. Tapi bagi Raka, ini adalah istana. Ini adalah tempat di mana ia masih dihargai, masih dipercaya, masih dianggap manusia.

Bu Indah membantu Raka turun dari kursi rodanya, lalu membantunya duduk di atas bangku kayu panjang yang biasa dipakai siswa istirahat. Nisa langsung melepas sepatunya yang basah, lalu duduk di lantai, memeluk lututnya.

"Ibu, terima kasih," bisik Raka, suaranya parau. "Kalau bukan karena Ibu, aku nggak tahu apa yang akan terjadi pada kami."

Bu Indah tersenyum, usap-usap kepala Raka seperti seorang ibu. "Jangan bilang terima kasih, Nak. Kamu nggak berhutang apa-apa padaku. Yang kamu punya adalah hak untuk bermimpi, dan aku hanya sekadar membantumu menjaganya."

Malam itu, di bawah atap teras sekolah yang bocor, Raka menatap Bu Indah yang sedang mengeringkan rambut Nisa dengan handuk tipis. Api kecil di dada Raka kini mulai membesar. Ia tahu, ini bukan akhir. Ini adalah awal dari babak baru. Awal dari perjuangan yang sebenarnya.

Dan di kejauhan, di balik awan hitam, bulan mulai muncul sedikit demi sedikit—seperti janji bahwa setelah hujan, pasti ada cerah. Setelah kegelapan, pasti ada fajar.

Raka menutup matanya, dan untuk pertama kalinya dalam seminggu terakhir, ia tidur tanpa mimpi buruk.

1
Ray Penyu
Makasih banyak ya sudah jadi pembaca setia novel ini 😊
Author benar-benar menghargai setiap like dan hadiah yang kamu kasih 🙏 Semoga cerita ini selalu bisa nemenin harimu, dan jangan bosan ikut perjalanan mereka sampai akhir ya ✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!