"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Kamar rawat VVIP itu tidak lagi terasa seperti ruang operasi yang mencekam. Tirai-tirai berat telah disingkap, membiarkan cahaya matahari pagi New York yang hangat membanjiri ruangan, memantul di atas vas bunga lili segar yang baru saja diganti oleh pelayan keluarga Valerio.
Harum obat-obatan yang tajam kini kalah oleh aroma roti gandum hangat dan buah-buahan segar yang tertata di atas meja.
Di tengah ruangan, Azeant Apolo-Valerio duduk di kursi samping ranjang. Penampilannya sudah jauh lebih rapi; ia sudah mencukur jambang tipis yang sempat tumbuh selama masa kritis, mengenakan kemeja biru muda yang santai. Namun, matanya tidak sedetik pun beralih dari sosok wanita yang kini tengah bersandar pada tumpukan bantal.
Veronica sudah sadar. Meskipun selang oksigen tipis masih melingkar di hidungnya dan tubuhnya masih terlihat sangat rapuh, binar di matanya telah kembali.
"Daddy! Daddy! Lihat! Mommy senyum!"
Suara cempreng Matthew memecah keheningan yang manis itu. Balita itu sedang duduk di atas ranjang—tentu saja setelah Azeant memastikan posisi Matthew tidak mengganggu selang infus ibunya.
Matthew tampak sangat bersemangat, kedua tangan mungilnya memegang sebuah mainan mobil-mobilan baru sambil sesekali menciumi pipi Veronica.
"Iya, Jagoan. Mommy sudah bangun karena dia dengar suara berisikmu yang seperti sirine ambulans itu," goda Azeant sambil mengusap puncak kepala Matthew.
Veronica terkekeh lemah, suaranya masih agak serak, namun itu adalah melodi terindah yang pernah Azeant dengar. "Dia tidak berisik, Azeant. Dia hanya merindukan Mommy-nya."
"Teyus... teyus, Mom! Kemalin Mattew mam roti banyaaak sekali sama Grandma! Mattew ndak tumpah-tumpah, Dad yang tumpah kopinya!" celoteh Matthew dengan lidah cadelnya, membuat semua orang di ruangan itu tertawa.
"Hey, kenapa Daddy yang jadi korban ceritamu?" protes Azeant sambil mencubit gemas pipi Matthew.
Matthew tertawa geli, lalu ia mendekatkan wajahnya ke telinga Veronica, berbisik namun suaranya tetap terdengar oleh Azeant. "Mommy... Daddy kemalin nangis telus. Malu ya, Mom? Daddi sudah besal tapi cengeng."
Veronica melirik suaminya dengan tatapan menggoda, sementara Azeant hanya bisa berdehem salah tingkah, menyembunyikan rona merah yang muncul di telinganya. "Matthew, sepertinya kau perlu segera diajak Grandma ke taman untuk melihat kelinci lagi."
Setelah Florence membawa Matthew keluar untuk memberinya ruang bagi pasangan itu, suasana berubah menjadi lebih intim. Azeant meraih tangan Veronica, mencium telapak tangannya yang kini mulai terasa hangat.
"Jangan menatapku seperti itu, Vea," bisik Azeant, suaranya berat dan penuh emosi. "Aku merasa seperti baru saja mendapatkan nyawaku kembali."
Veronica tersenyum tipis, berusaha menggerakkan jarinya untuk mengusap rahang tegas suaminya. "Maafkan aku karena membuatmu takut, Azeant. Aku tidak tahu jika..."
"Ssst," Azeant meletakkan jari telunjuknya di bibir Veronica. "Jangan minta maaf. Jangan bahas soal penyakit atau rumah lama itu lagi. Mulai detik ini, tugasmu hanya satu, menjadi cantik dan biarkan aku memujamu setiap hari."
Veronica merona, meskipun wajahnya masih pucat, semu merah itu terlihat sangat jelas. "Kau mulai lagi dengan gombalanmu, Tuan Valerio. Kau lupa istrimu ini sedang memakai baju rumah sakit, bukan gaun malam?"
Azeant mendekatkan wajahnya, menatap lekat-lekat mata cokelat Veronica. "Baju rumah sakit ini? Menurutku ini tren mode terbaik tahun ini karena dipakai olehmu. Kau tahu, Vea? Bahkan dengan wajah pucat dan tanpa riasan begini, kau masih terlihat jauh lebih berbahaya bagi kesehatan jantungku daripada racun mana pun di dunia ini."
"Azeant, hentikan... itu memalukan," tawa Veronica pecah, namun ia tidak bisa menyembunyikan binar bahagia di matanya.
"Aku serius, Sayang," lanjut Azeant, suaranya merendah menjadi bisikan yang menggoda di telinga istrinya. "Dokter bilang kau butuh banyak asupan nutrisi dan kebahagiaan. Jadi, jika kau butuh suplemen vitamin, aku siap memberikan ciuman setiap jam. Dan jika kau merasa kedinginan, pelukanku jauh lebih efektif daripada selimut pemanas mana pun di rumah sakit ini."
"Kau benar-benar tidak berubah ya? Masih saja percaya diri," ucap Veronica sambil menyandarkan kepalanya di bahu Azeant yang kokoh.
"Kepercayaan diriku adalah satu-satunya hal yang membuatku sanggup memilikimu, Vea. Dan mulai sekarang, aku tidak hanya akan menjadi suamimu, aku akan menjadi pelindungmu, perawat pribadimu, dan penggemar nomor satumu," Azeant mengecup kening Veronica dengan lembut dan lama. "Karena bagiku, senyummu pagi ini adalah satu-satunya alasan matahari berani terbit di New York."
Veronica terdiam, ia merasakan ketulusan yang luar biasa dari setiap kata-kata Azeant. Selama setahun di Tribeca, Azeant jarang mengeluarkan kata-kata manis seperti ini; ia lebih banyak menggunakan tindakan dan gairah. Namun sekarang, Azeant seolah ingin menebus setiap detik kesunyian yang pernah Veronica lalui dengan timbunan kata-kata cinta.
"Terima kasih, Azeant. Terima kasih sudah tidak menyerah padaku," bisik Veronica.
Azeant menarik napas panjang, ia memeluk Veronica dengan sangat hati-hati, seolah-olah istrinya adalah porselen yang paling berharga di dunia. "Aku tidak akan pernah menyerah pada jantungku sendiri, Vea. Dan kau adalah jantung itu."
Suasana di kamar itu penuh dengan kehangatan. Tidak ada lagi bayang-bayang Morana Garfield, tidak ada lagi rasa sakit yang menusuk perut. Yang ada hanyalah Azeant yang terus menggoda istrinya hingga tawa Veronica memenuhi ruangan, dan Matthew yang sesekali melongok dari pintu hanya untuk berteriak "Daddy jangan nakal sama Mommy!".
Keluarga Valerio telah kembali utuh. Meski perjuangan pemulihan fisik masih panjang, namun jiwa mereka telah sembuh. Di bawah langit New York yang cerah, Azeant bersumpah dalam hati bahwa mulai hari ini, tidak akan ada satu tetes air mata pun yang jatuh dari mata Veronica, kecuali itu adalah air mata bahagia karena terlalu banyak tertawa mendengar gombalannya yang tak masuk akal.
"Jadi, Nyonya Valerio," ucap Azeant sambil mengedipkan mata. "Kapan kau siap untuk kumanjakan di rumah? Aku sudah memesan seluruh toko bunga di Manhattan untuk menyambut kepulanganmu."
Veronica hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar. "Satu toko saja sudah cukup, Azeant."
"Tidak bisa. Untukmu, satu dunia pun terasa kurang."
Dan di dalam ruangan itu, cinta bukan lagi sekadar kata, melainkan sebuah kekuatan yang berhasil mengalahkan maut dan membawa kembali cahaya ke dalam hidup mereka yang sempat redup.
jd teh celup ka dia disana.... 😂