Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.
Disclaimer: ini cerita pendek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERANGKAP YANG TERBUKA DAN PERTARUNGAN YANG BELUM USAI
Suasana yang tadinya penuh kehangatan dan kebahagiaan, kini berubah seketika menjadi gelap dan mencekam. Cahaya api yang terlihat dari kejauhan semakin terang dan semakin besar, seolah menelan kegelapan malam itu sendiri. Suara teriakan dan kegaduhan makin terdengar jelas, membuat hati siapa saja yang mendengarnya terasa berdebar kencang.
Raka dan Alana berlari secepat yang mereka bisa, tangan mereka tetap saling tergenggam erat, seolah dengan begitu mereka bisa berbagi kekuatan satu sama lain. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara banyak, tapi dalam hati mereka sama-sama tahu, orang yang melakukan ini sengaja melakukannya di saat yang paling indah dalam hidup mereka. Ia ingin menunjukkan bahwa ia masih ada, bahwa ia masih bisa mengganggu dan merusak apa saja yang mereka miliki.
Sesampainya di tempat itu, mereka melihat bahwa yang terbakar adalah tempat penampungan anak yatim dan orang tua yang baru saja mereka bangun dan resmikan beberapa bulan yang lalu. Tempat itu bukan hanya bangunan biasa, tapi menjadi bukti usaha dan kebaikan hati mereka, tempat di mana orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal bisa mendapatkan perlindungan dan kasih sayang. Melihat tempat itu dilalap api, hati mereka terasa perih dan marah sekaligus.
“Kau lihat itu, Raka...” tunjuk Alana dengan suara yang bergetar, matanya berkaca-kaca menahan sedih dan marah, “Ia tidak menyerang tempat yang kosong atau yang tidak berharga. Ia sengaja menghancurkan hal-hal yang kita sayangi, hal-hal yang kita bangun dengan susah payah dan penuh ketulusan hati. Ia benar-benar tidak punya hati nurani sama sekali.”
“Ia melakukan itu karena ia tahu, itulah cara yang paling menyakitkan buat kita,” jawab Raka, rahangnya mengeras menahan emosi yang meluap, “Ia ingin kita merasa kalah, ingin kita merasa bahwa segala usaha kita tidak ada artinya. Tapi ia salah besar. Semakin ia berbuat begitu, semakin kuat tekad kita untuk menghentikannya selamanya.”
Orang-orang yang sudah datang lebih dulu sibuk berusaha memadamkan api dan menolong orang-orang yang ada di dalam. Berkat pertolongan yang datang cepat, semua penghuni tempat itu sudah berhasil diselamatkan, dan tidak ada yang terluka parah. Tapi bangunan itu sendiri sudah rusak parah, dan banyak barang-barang serta kebutuhan yang ada di dalamnya habis terbakar.
Saat mereka sedang sibuk memeriksa keadaan dan mengatur apa yang harus dilakukan selanjutnya, seseorang datang tergesa-gesa menghampiri mereka. Wajahnya pucat dan napasnya terengah-engah seolah baru saja berlari jauh.
“Tuan Raka, Nona Alana... ada hal yang buruk terjadi lagi!” lapor seseorang dengan suara yang bergetar karena ketakutan.
“Apa lagi ini? Cepat katakan saja!” seru Raka.
“Kami baru saja mendapatkan kabar... rumah tempat tinggal Gubernur William juga diserang. Dan yang lebih mengerikan lagi... Gubernur dan beberapa orang yang ada di sana sudah dibawa pergi oleh orang-orang yang tidak dikenal. Mereka meninggalkan surat ini untuk kalian.”
Orang itu mengulurkan selembar kertas yang agak kusam. Raka segera mengambil dan membacanya. Tulisan di sana terlihat tidak rapi dan dibuat dengan tergesa-gesa, tapi isinya jelas dan penuh dengan ancaman.
“Hai orang-orang yang merasa diri paling benar dan paling berkuasa. Kalian pikir kalian sudah menang dan bisa hidup dengan tenang serta bahagia? Kalian salah besar. Semua yang kalian miliki, semua yang kalian bangun, semuanya seharusnya milik kami. Dan sekarang, aku ambil salah satu orang yang kalian sayangi dan kalian percayai. Kalau kalian ingin melihatnya kembali dalam keadaan hidup dan selamat, datanglah ke tempat yang akan aku beritahukan. Datanglah hanya berdua saja, dan jangan bawa orang lain atau penjaga apa pun. Kalau aku melihat ada orang lain yang ikut atau mengikuti, maka nyawanya akan menjadi taruhannya. Aku tunggu kalian besok sore, di bekas tambang tua yang ada di sebelah utara kota. Jangan coba-coba menipu atau melanggar perintahku, karena aku tahu persis apa yang akan kalian lakukan. Rian.”
Setelah membaca surat itu, Raka meremas kertas itu di tangannya. Wajahnya terlihat sangat marah dan sedih sekaligus. Gubernur William adalah orang yang sudah dianggap seperti ayah sendiri oleh mereka, orang yang selalu ada, selalu menolong, dan menjadi tempat bergantung selama ini. Sekarang ia berada di tangan musuh yang tidak punya belas kasihan, itu berarti bahaya yang sangat besar sedang mengancam nyawanya.
“Rian benar-benar orang yang licik dan kejam,” seru Raka dengan suara yang berat, “Ia tahu betul siapa yang penting bagi kita, dan ia menggunakan mereka sebagai alat untuk memaksa kita melakukan apa yang ia inginkan.”
“Dan ia menyuruh kita datang berdua saja,” tambah Alana, “Itu jelas sekali adalah jebakan. Ia ingin kita datang ke tempat yang ia kuasai, dalam keadaan yang membuat kita lemah dan tidak berdaya, supaya ia bisa melakukan apa saja yang ia inginkan terhadap kita.”
“Tapi kita tidak punya pilihan lain kan?” Raka sambil menatap wajah Alana, “Kalau kita tidak datang, nyawa Gubernur William terancam. Ia sudah banyak berjasa bagi kita dan bagi banyak orang. Kita tidak bisa membiarkan sesuatu yang buruk menimpanya hanya karena kita takut atau ragu.”
Alana menggenggam tangan Raka dengan erat, matanya menatap dalam ke mata orang yang dicintainya itu.
“Aku tahu itu, dan aku juga tidak akan membiarkannya. Tapi Raka, kau harus ingat, ini orang yang sudah merencanakan semuanya dengan matang. Ia sudah mengamati kita begitu lama, ia tahu cara kita berpikir, cara kita bertindak, dan apa saja yang menjadi kelemahan kita. Ia pasti sudah menyiapkan segala macam jebakan dan bahaya di tempat itu. Kita harus benar-benar berhati-hati, dan kita harus berpikir cara yang tidak ia sangka-sangka.”
“Kau benar, sayangku,” pungkas Raka, lalu ia mencium punggung tangan Alana dengan lembut.
“Kita tidak akan bertindak gegabah. Kita akan menyusun rencana sebaik mungkin, supaya kita bisa menyelamatkan Gubernur William, dan sekaligus mengakhiri segala hal ini untuk selamanya. Dan satu hal yang harus kau ingat, apa pun yang terjadi nanti, kita akan selalu bersama. Tidak ada satu pun dari kita yang akan ditinggalkan, dan tidak ada satu pun dari kita yang akan menyerah.”
“Ya, kita akan selalu bersama,” jawab Alana dengan tegas, “Dan aku tidak akan membiarkan kau pergi sendirian ke tempat yang berbahaya itu. Aku akan ikut bersamamu, seperti yang selalu aku lakukan selama ini. Kita hadapi semuanya berdua.”
Malam itu mereka tidak tidur. Mereka duduk bersama, memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi, dan menyusun langkah demi langkah apa yang akan mereka lakukan. Mereka tahu bahwa perjalanan keesokan harinya akan menjadi yang paling berbahaya dari semua yang pernah mereka lalui. Rian bukan orang yang bertindak karena amarah saja seperti kakaknya, tapi ia bertindak dengan perhitungan yang matang dan hati yang sangat dingin. Ia tidak akan ragu melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya.
><><><><
Keesokan harinya, tepat pada waktu yang ditentukan, Raka dan Alana berangkat menuju ke tempat yang diminta. Seperti yang diperintahkan, mereka tidak membawa orang lain dan tidak terlihat ada yang mengikuti mereka. Tapi di balik itu semua, mereka sudah mengatur segalanya. Beberapa orang yang paling bisa dipercaya dan paling pandai bersembunyi sudah bergerak mendahului mereka, menempatkan diri di tempat-tempat yang tersembunyi dan strategis, siap bertindak kalau diperlukan. Tapi mereka juga sudah diingatkan untuk tidak terlihat sedikit pun, karena kalau sampai ketahuan, semuanya akan menjadi kacau dan nyawa orang yang mereka selamatkan akan terancam.
Perjalanan menuju ke sana terasa jauh dan melelahkan. Tempat itu terletak di daerah yang terpencil, jauh dari pemukiman, dan jarang ada orang yang datang ke sana. Jalan yang mereka lewati penuh dengan bebatuan dan semak belukar, dan semakin dekat ke tempat tujuan, suasananya semakin sepi dan mencekam. Hanya ada suara langkah kaki mereka sendiri dan suara angin yang berhembus kencang, seolah alam pun ikut merasakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi di tempat itu.
Sesampainya di depan bekas tambang yang sudah lama tidak terpakai itu, mereka berhenti sejenak untuk mengamati keadaan. Tempat itu dikelilingi oleh tebing-tebing yang tinggi dan curam, dan di dalamnya terlihat gelap dan lembab, membuatnya terlihat seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa saja yang masuk ke dalamnya.
“Mereka ada di dalam sana,” bisik Raka pelan.
“Hati-hati ya, sayang. Tetaplah di dekatku, dan jangan melakukan apa pun sebelum aku memberi isyarat.”
“Baik, aku mengerti,” jawab Alana dengan suara yang sama lembutnya.
Mereka melangkah masuk perlahan. Begitu melewati pintu masuk, cahaya matahari yang tadinya terang seketika hilang, dan suasana menjadi gelap dan sejuk. Hanya cahaya yang masuk dari celah-celah di atas sana yang menerangi sebagian kecil tempat itu, membuat bayangan-bayangan terlihat bergerak-gerak dan menakutkan.
Semakin mereka berjalan masuk ke dalam, akhirnya mereka sampai di ruangan yang cukup luas dan agak terang. Di sana, mereka melihat Gubernur William terikat di sebuah tiang besar, wajahnya terlihat lelah dan ada beberapa luka di tubuhnya, tapi ia masih sadar dan terlihat kuat. Dan di sekelilingnya, ada beberapa orang yang bersenjata, dan di bagian tengah berdiri seorang laki-laki yang wajahnya mirip dengan Darius, tapi tatapannya terlihat lebih tajam, lebih dingin, dan lebih penuh perhitungan. Itulah Rian.
Begitu melihat mereka datang, senyum yang sinis dan penuh kemenangan muncul di wajah Rian. Ia melangkah maju menyambut kedatangan mereka.
“Selamat datang... aku sudah menunggu kalian sekian lama,” sabutnya dengan suara yang tenang tapi juga penuh dengan ancaman, “Bagus sekali, kalian datang tepat waktu, dan seperti yang aku minta. Itu menunjukkan bahwa kalian benar-benar menghargai nyawa orang ini.”
“Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, kami sudah datang,” seru Raka dengan suara yang tegas dan tidak takut, “Sekarang lepaskan Gubernur William. Kita sudah ada di sini, jadi sekarang apa pun yang kau inginkan, katakan saja. Jangan libatkan orang yang tidak bersalah lagi dalam hal ini.”
Rian tertawa kecil, suaranya terdengar tidak enak didengar.
“Kau masih berani-beraninya memberi aku perintah? Kau lupa siapa yang berada di posisi yang berkuasa di sini sekarang? Kalian ada di dalam wilayahku, dikelilingi oleh orang-orangku, dan nyawa kalian ada di tanganku. Kalian seharusnya berbicara dengan nada yang lebih hormat dan lebih rendah, bukan dengan nada yang seolah-olah kalian yang memegang kendali.”
“Kau bisa saja merasa dirimu berkuasa sekarang,” sahut Alana.
“Tapi itu hanya sementara saja. Kau menangkap orang dengan cara yang tidak adil, kau menyerang tempat-tempat yang tidak berdaya, dan kau bersembunyi di balik jebakan-jebakan. Itu bukanlah tanda bahwa kau orang yang kuat dan hebat, tapi itu hanya menunjukkan bahwa kau orang yang pengecut, yang tidak berani berhadapan secara langsung dan adil.”
Kata-kata itu membuat wajah Rian berubah menjadi merah padam karena marah. Ia menatap tajam ke arah Alana.
“Kau berani menghina aku?! Kau pikir aku melakukan semua ini karena aku pengecut? Tidak! Aku melakukan ini karena aku tahu, dengan cara apa pun aku harus mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku! Selama ini kalian mengambil semuanya dari kami, kalian menghancurkan apa yang sudah kami bangun dengan susah payah, dan kalian berjalan bebas dengan menyebut diri kalian orang yang baik dan benar! Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!”
“Kakakmu dan orang-orang yang bersamanya itu bukan dihancurkan oleh kami, tapi oleh perbuatan mereka sendiri,” bela Raka.
“Mereka melakukan hal-hal yang salah, merugikan dan menyakiti orang lain. Dan kau melakukan hal yang sama persis seperti mereka. Kau tidak belajar dari kesalahan mereka, tapi kau malah mengikuti jejak yang sama, dan itu hanya akan membawa hal yang buruk buat dirimu sendiri juga.”
“Diam saja! Aku tidak mau mendengar omongan kosongmu itu!” bentak Rian, lalu ia menunjuk ke arah Gubernur William yang terikat.
“Lihat orang ini! Ia yang membantu kalian, ia yang memusnahkan kami. Ia pantas mendapatkan apa yang ia terima sekarang. Dan kalian juga sama! Kalian semua harus merasakan penderitaan yang sama seperti yang kami rasakan!”
Ia berjalan mendekat ke arah Raka dan Alana, matanya memandang mereka dengan pandangan yang penuh kebencian dan keinginan untuk menghancurkan.
“Selama ini aku mengamati kalian, aku tahu segalanya tentang kalian. Aku tahu bagaimana kalian saling mencintai, bagaimana kalian saling melindungi, bagaimana kalian selalu bahagia dan damai bersama. Dan itu yang paling membuatku marah dan iri. Kenapa kalian bisa mendapatkan semua itu, sedangkan aku tidak pernah mendapatkan apa-apa?! Kenapa hidup kalian selalu indah, sedangkan hidupku selalu penuh kesusahan dan penderitaan?!”
“Karena kita menjalani hidup dengan cara yang berbeda,” jawab Alana dengan suara yang tenang, “Kita berusaha berbuat baik, kita berusaha menolong orang lain, kita berusaha hidup dalam kebenaran. Sedangkan kau, kau hanya memikirkan dirimu sendiri, kau hanya ingin mengambil apa yang bukan milikmu, dan kau hidup dalam kebencian dan keserakahan. Itulah bedanya kita dan kau. Dan itu juga yang membuat kita berbeda nasibnya.”
“Omong kosong! Semua itu hanya alasan saja!” teriak Rian, dan amarahnya sudah tidak bisa ditahan lagi.
“Cukup sudah bicara! Aku tidak mau mendengar lagi! Hari ini semuanya akan berakhir! Kalian dan orang ini akan binasa bersama-sama, dan aku akan membangun segala sesuatu sesuai dengan keinginanku sendiri!”
Ia memberi isyarat, dan seketika itu juga orang-orang yang bersamanya mulai bergerak mendekat, siap untuk menangkap atau bahkan membunuh mereka sesuai perintah.
Tapi di saat yang sama, tepat ketika mereka bergerak, tiba-tiba dari berbagai arah orang-orang yang sudah disiapkan oleh Raka dan Alana keluar dan mengepung tempat itu. Mereka datang dengan jumlah yang cukup banyak, dan bergerak dengan cepat dan teratur. Ternyata, meski Rian sudah pandai menyusun rencana dan mengira ia sudah memikirkan segala kemungkinan, ia tetap tidak menyangka bahwa mereka juga sudah mempersiapkan segalanya, dan mereka juga sudah mengetahui banyak hal tentang dirinya.
Melihat hal itu, Rian terkejut dan marah sekaligus. Ia tidak mengerti bagaimana hal ini bisa terjadi, bagaimana rencananya yang ia anggap sempurna itu bisa gagal dan terbalik seperti ini.
“Bagaimana ini bisa terjadi?! Bagaimana kalian bisa tahu?!” teriaknya dengan suara yang parau dan tidak percaya.
“Kau tidak satu-satunya orang yang bisa mengamati dan menyusun rencana, Rian,” ujar Raka sambil melangkah maju.
“Selama ini kau mengira dirimu tersembunyi dan tidak terlihat, tapi kami juga sudah melihat dan mengetahui apa yang kau lakukan. Kami membiarkan kau bergerak dan melakukan apa saja yang kau inginkan, supaya kau menunjukkan dirimu dengan jelas, supaya kami bisa menghentikanmu selamanya. Kau pikir kau yang mengatur semuanya, tapi ternyata kaulah yang diatur oleh keadaan itu sendiri.”
Menyadari bahwa ia sudah terdesak dan tidak ada jalan keluar lagi, Rian menjadi orang yang sudah tidak berpikir jernih lagi. Ia melihat bahwa ia sudah tidak bisa menang, maka ia berniat untuk menghancurkan segalanya juga. Ia mengambil benda kecil yang ada di tangannya, dan bersiap untuk menyalakan alat peledak yang sudah ia pasang di seluruh bagian tambang itu.
“Kalau aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, maka tidak ada orang lain yang bisa mendapatkannya juga!” teriaknya dengan suara yang tidak waras, “Kita semua akan mati bersama-sama, dan semuanya akan hancur selamanya!”
Ia berusaha menyalakan alat itu, tapi sebelum ia sempat melakukannya, Raka sudah bergerak secepat kilat dan menabraknya sampai jatuh ke tanah. Alat itu terlepas dari tangannya dan terlempar ke tempat yang aman.
Keduanya kemudian terlibat dalam pertarungan yang sangat sengit. Rian bertarung dengan segala amarah dan keputusasaannya, ia menggunakan segala cara yang ada, baik yang adil maupun yang tidak, karena ia merasa ia sudah tidak punya apa-