Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Tarian Angin Pemotong Tulang
Tantangan terbuka Zeng Niu yang diucapkan dengan nada datar namun penuh Niat Membunuh itu membuat Arena Langit mendadak hening.
Puluhan ribu murid menahan napas. Sebagian besar menganggap pemuda berjubah hitam itu sudah gila karena berani memprovokasi Wakil Kepala Akademi di depan umum. Namun, mereka yang pernah merasakan aura Zeng Niu tahu bahwa ia tidak pernah sekadar menggonggong.
Di atas tribun kehormatan, Tetua Agung Gui Huan tertawa. Tawanya melengking, memecah kesunyian, namun sama sekali tidak mencapai sepasang matanya yang sedingin bisa ular.
"Keberanian yang luar biasa, Zeng Niu! Akademi sungguh beruntung memiliki murid dengan semangat tempur sepertimu menjelang perang," ucap Gui Huan, suaranya dilapisi Qi yang terdengar bijaksana, menyembunyikan niat kejinya. "Namun, ini adalah Seleksi Garda Depan, bukan arena pembantaian barbar tempatmu berasal. Akademi memiliki aturan agung yang harus ditegakkan."
Gui Huan berdiri dari kursinya. Ia mengibaskan lengan jubah emasnya, dan seketika, sebuah monumen batu giok raksasa muncul melayang di atas arena. Di atas batu giok itu, ratusan nama murid dari Pelataran Dalam dan elit Pelataran Luar bersinar terang.
"Seleksi ini bertujuan untuk mencari komandan muda untuk medan perang," suara Gui Huan menggelegar mengumumkan aturan. "Pertarungan akan dilakukan satu lawan satu secara acak melalui Papan Undian Langit. Pemenang akan maju ke babak berikutnya, sementara yang kalah... akan dinilai apakah mereka pantas masuk ke dalam pasukan cadangan atau dibuang ke barisan depan sebagai prajurit biasa."
Mata sipit Gui Huan melirik ke arah Zeng Niu. "Penggunaan senjata, pil pemulih, dan artefak tingkat bawah diizinkan. Pertarungan berakhir jika lawan menyerah, pingsan, atau terlempar dari arena. Membunuh secara sengaja dilarang keras..." Gui Huan menyeringai tipis, "...namun, pedang tidak memiliki mata, dan kecelakaan fana di atas arena adalah hal yang wajar dalam seleksi."
Aturan itu diucapkan dengan indah, namun semua orang yang paham intrik politik sekte tahu maknanya: Jika murid dari faksi Gui Huan 'tidak sengaja' membunuh pihak lawan, tidak akan ada hukuman.
"Zeng Niu, aku tahu kau ingin segera membuktikan dirimu," dengus Tetua Jian Kuang dari kursi sebelahnya. "Tapi kau harus menunggu giliranmu. Di mata akademi, kau hanyalah satu dari ratusan peserta yang harus merangkak dari bawah."
Zeng Niu menarik kembali Pedang Nisan Hitamnya dan memanggulnya santai. Ia melangkah mundur, bergabung bersama Tetua Mo Yin dan Zhao Ying di area tunggu faksi Pedang Bayangan.
"Rencana busuk," bisik Mo Yin, wajahnya gelap. "Papan Undian Langit itu jelas dikendalikan oleh Gui Huan. Dia tidak akan membiarkanmu langsung melawan Kuang Ren. Dia akan mengirim murid-murid tangguh untuk menguras energi Qi-mu secara perlahan di babak-babak awal. Ingat, kau baru Foundation Establishment Awal, Qi-mu belum cukup stabil untuk pertarungan panjang."
Zhao Ying menatap papan giok di langit dengan sorot mata perak yang tajam. "Jangan paksakan dirimu. Biarkan pedang besarmu yang melakukan pekerjaan berat, simpan energimu," pesannya pada Zeng Niu.
WUUUNG!
Papan Undian Langit mulai mengacak nama-nama. Cahaya keemasan berkedip cepat sebelum akhirnya berhenti pada pasangan pertama.
Pertarungan pun dimulai. Puluhan murid bergantian naik ke atas ring batu. Bao Tu yang bersemangat mendapat giliran di babak ketiga. Dengan palu godam emasnya dan kultivasi Foundation Establishment Awal, pemuda gemuk itu berhasil mementalkan lawannya dalam sepuluh jurus, membuat Faksi Pedang Bayangan bersorak. Lin Xiaoyu pun menang dengan elegan di babak kelima berkat ilmu pedangnya yang luar biasa cepat.
Akhirnya, pada babak kesembilan, nama yang ditunggu-tunggu muncul di atas papan giok.
[Zeng Niu (Paviliun Pedang Bayangan) VS Ma Teng (Paviliun Angin Puyuh)]
Melihat nama lawannya, raut wajah Lin Xiaoyu sedikit berubah. "Ma Teng... Dia adalah murid elit peringkat lima dari Pelataran Dalam. Kultivasinya telah mencapai Foundation Establishment Tahap Menengah. Dia dikenal sebagai 'Burung Hantu Angin' karena kelincahan dan teknik gerak kakinya yang nyaris tak terlihat."
"Gui Huan langsung mengirim ahli Tahap Menengah untuk ujian pertamamu," geram Mo Yin. "Dia benar-benar ingin mengurasmu."
Zeng Niu tidak menjawab. Ia melangkah maju dengan tenang, menaiki anak tangga batu menuju arena. Bobot Pedang Nisan Hitam di punggungnya membuat setiap langkahnya meninggalkan jejak retakan halus di tangga batu keras tersebut.
Di seberang arena, Ma Teng telah berdiri. Ia adalah seorang pemuda kurus berwajah tirus, mengenakan jubah hijau ketat yang dirancang khusus untuk meminimalkan hambatan angin. Di tangannya, ia memegang sepasang belati spiritual melengkung yang memancarkan aura angin yang tajam.
"Zeng Niu," sapa Ma Teng dengan nada mengejek. "Kudengar kau bisa mengangkat batu rongsokan seberat gunung di punggungmu itu. Sangat mengesankan untuk pameran sirkus fana. Sayangnya, kekuatan sebesar apa pun tidak ada gunanya jika kau tidak bisa menyentuh musuhmu."
Zeng Niu menatap Ma Teng dengan pandangan setengah bosan. Ia menarik Pedang Nisan Hitamnya dan menancapkannya ke lantai arena, satu tangannya bertumpu pada gagang tumpul tersebut.
"Bicaramu terlalu banyak," balas Zeng Niu. "Mulai saja."
Mata Ma Teng menyipit marah karena diremehkan.
SWUUUSH!
Begitu wasit menjatuhkan bendera tanda mulai, sosok Ma Teng seketika menghilang dari pandangan! Angin puyuh kecil tercipta di titik tempatnya berdiri tadi.
Perbedaan antara Foundation Establishment Awal (Zeng Niu) dan Tahap Menengah (Ma Teng) terlihat jelas pada kepadatan Qi yang menggerakkan tubuh mereka. Dalam sekejap mata, Ma Teng muncul tepat di titik buta Zeng Niu di belakang kiri bahunya dan menebaskan belatinya ke arah leher.
Zeng Niu tidak memutar tubuhnya. Ia hanya memiringkan lehernya sedikit, sementara tangan kanannya mengangkat Pedang Nisan Hitam untuk menangkis.
TRANG!
Bunga api memercik keras saat belati tingkat bumi itu berbenturan dengan pedang meteorit Zeng Niu. Meski belati Ma Teng jauh lebih tajam, bobot Pedang Nisan Hitam membuat tangan Ma Teng mati rasa sesaat.
"Lambat!" ejek Ma Teng. Ia menggunakan gaya tolak dari benturan itu untuk melompat ke udara, memutar tubuhnya seperti gasing, dan melepaskan lusinan bilah angin berwarna hijau.
[Teknik Angin Puyuh: Hujan Pisau Seribu Sayap!]
Bilah-bilah angin itu melesat layaknya badai, menghujani posisi Zeng Niu. Menghadapi serangan jarak jauh yang masif dari kultivator setingkat di atasnya, Zeng Niu memutar Pedang Nisan Hitam di depannya, mengandalkan otot Tulang Besi Berkarat-nya untuk mengubah pedang seberat dua ribu lima ratus kati itu menjadi perisai putar.
BAM! BAM! BAM! CRASH!
Sebagian besar bilah angin hancur menabrak pedang raksasa itu, namun karena kepadatan Qi Ma Teng lebih tinggi, beberapa bilah berhasil lolos dan menggores lengan serta kaki Zeng Niu, merobek jubah hitamnya dan meninggalkan luka sayat tipis yang mengeluarkan darah.
"Zeng Niu terluka!" seru beberapa murid dari faksi Gui Huan dengan gembira. "Sudah kuduga, kekuatan barbarnya tidak berguna melawan murid sejati Pelataran Dalam!"
Di tribun, Gui Huan tersenyum puas. Taktiknya berhasil. Ia tidak butuh Ma Teng untuk menang, ia hanya butuh kelincahan Ma Teng untuk membuat Zeng Niu terus bergerak dan menguras Dantiannya.
Di atas arena, Zeng Niu menunduk melihat luka sayat di lengannya. Darahnya menetes ke lantai batu. Namun, alih-alih panik atau marah, senyum tipis sang algojo justru perlahan mekar. Rasa sakit fana ini menstimulasi insting bertarungnya.
"Begitu," gumam Zeng Niu. "Jadi begini rasanya bertarung normal tanpa memaksakan Niat Membunuh murni."
Selama ini, ia terbiasa membantai lawannya dalam satu tebasan dengan Bilah Penebas Tulang berkat efek psikologis senjata tersebut. Kini, dengan pedang meteorit tanpa Qi ini, ia dituntut untuk benar-benar menggunakan teknik bela dirinya.
Ma Teng tidak membiarkan Zeng Niu bernapas. Ia terus bergerak mengelilingi Zeng Niu seperti bayangan hantu, melancarkan tebasan cepat dan mundur sebelum pedang raksasa Zeng Niu sempat membalas. Taktik "serang dan lari" ini membuat Zeng Niu terus berada dalam posisi bertahan.
"Kenapa diam saja?!" ejek Ma Teng dari jarak lima tombak, napasnya sedikit teratur karena ia sangat ahli dalam menghemat Qi. "Apakah pedang batumu itu terlalu berat untuk diangkat?!"
Zeng Niu menutup matanya. Ia berhenti mengayunkan pedangnya secara membabi buta. Ia membiarkan napasnya melambat, meresap masuk ke dalam pemahaman yang ia dapatkan di dasar kawah Makam Asura.
Biji Dao: Resonansi Kehampaan.
Bukan hanya untuk menembus ruang, Dao Ketiadaan juga berarti memahami di mana sesuatu "tidak ada".
Zeng Niu tidak lagi mencari di mana tubuh Ma Teng berada. Ia memusatkan Persepsi Roh-nya pada aliran angin di arena. Di mana ada kecepatan tinggi, di situ ada ruang hampa udara yang ditinggalkan oleh pergerakan tersebut.
Ma Teng mendengus meremehkan melihat Zeng Niu menutup mata. "Menyerah? Kalau begitu matilah! [Teknik Angin Pemusnah!]"
Ma Teng menyatukan kedua belatinya di depan dada, mengubah seluruh tubuhnya menjadi putaran angin raksasa yang melesat dengan cepat, mengarah lurus untuk menembus jantung Zeng Niu. Kepadatan Qi Tahap Menengah membuat udara di sekitar putaran itu berdesir tajam.
Tepat saat ujung angin itu berjarak satu jengkal dari dada Zeng Niu... mata hitam pekat pemuda itu mendadak terbuka!
Zeng Niu tidak menghindar ke belakang atau ke samping. Ia justru melangkah satu tindak maju menyongsong pusaran angin tersebut.
Sambil melangkah, ia memutar pinggangnya dan menggunakan kekuatan otot Tingkat Pertama Teknik Naga Tempur, memfokuskan seluruh tenaga murni ke kedua lengannya. Ia tidak menebas ke arah Ma Teng, melainkan menghantamkan Pedang Nisan Hitam dengan kekuatan penuh ke lantai arena di titik buta tepat di sisi kanan lintasan Ma Teng!
BLAAAAAAM!
Pedang seberat dua ribu lima ratus kati yang dihantamkan dengan kekuatan naga menciptakan ledakan gempa lokal yang luar biasa dahsyat. Lantai giok arena hancur berkeping-keping.
Lebih mengerikan lagi, hantaman itu menciptakan gelombang kejut (ruang hampa sesaat) yang mengganggu aliran udara!
Pusaran angin Ma Teng seketika kehilangan keseimbangan akibat hancurnya tekanan udara di sekitarnya. Tekniknya buyar di tengah jalan, membuat tubuh pemuda kurus itu terhuyung keluar dari pusaran anginnya sendiri tepat di depan Zeng Niu.
Ma Teng membelalakkan matanya ngeri. "A-Apa—!"
Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan kata-katanya.
Zeng Niu menggunakan momentum pantulan dari lantai untuk menarik kembali pedangnya. Tanpa menggunakan Niat Pembunuhan surgawi, ia hanya memukulkan sisi tumpul Pedang Nisan Hitam lurus ke arah dada Ma Teng layaknya memukul bola.
KRAAAAK!
Suara tulang rusuk yang patah terdengar nyaring ke seluruh arena. Ma Teng memuntahkan darah segar dari mulutnya. Tubuhnya melayang seperti layang-layang putus, terpental sejauh dua puluh tombak melintasi udara, sebelum akhirnya menabrak dinding pelindung arena hingga tak sadarkan diri.
Sorakan yang sebelumnya diserukan oleh faksi Gui Huan mendadak mati, tergantikan oleh keheningan.
Zeng Niu berdiri di tengah kawah yang ia ciptakan di atas arena. Ia menghela napas panjang, sedikit keringat menghiasi dahinya, membuktikan bahwa pertarungan ini tidaklah semudah menjetikkan jari. Foundation Establishment Tahap Menengah ternyata memiliki fondasi Qi yang kuat.
Zeng Niu menoleh ke arah tribun kehormatan, matanya menatap tajam ke arah Gui Huan yang kini memiliki ekspresi sejelek memakan lalat mati.
"Satu lalat selesai," ucap Zeng Niu santai, memanggul kembali pedangnya. Ia menunjuk Kuang Ren yang berdiri di barisan depan dengan ujung jarinya. "Kirim yang lebih besar ke sini."