"Kamu Kriminal" Ucap gadis itu ketus dengan tangan diikat.
" Saya bukan kriminal." Ucap Pria itu tegas.
Mereka saling bertatapan dalam situasi hening dan penuh ketegangan. Alih - alih merasa takut, Gadis itu terus menatapnya tajam.
"Kau monster." Celetuknya.
Senyum menyeringai. " Aku bukan monster,... Aku Vampir." Ucap pria itu pelan berbisik ditelinga gadis yang ia sekap.
Bukannya jeritan rasa takut yang didengar, Pria itu merasa heran gadis dihadapannya malah tertawa puas.
Kesal tak kunjung percaya, Pria itu menunjukan taring dan mata merahnya.
Sontak gadis itu terdiam mematung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon laliza_xiexie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keanehan Yang Diabaikan
Eyden tersenyum dan berjalan mendekati Kiara lalu mendorongnya ke mobil dan mengangkat dagu Kiara menghadap wajahnya.
“ Aku tidak tau, wajahmu menghipnotisku untuk mempercayaimu.” Ucap Eyden lembut.
Mereka saling bertatapan, wajah mereka sangat dekat hingga akhirnya Eyden tiba – tiba mendekatkan bibirnya ke bibir Kiara. Kiara hanya pasrah dan menutup matanya. Eyden tersenyum dan membuka pintu mobil, Kiara membuka matanya dan melihat Eyden tersenyum padanya. Ia tersadar Eyden menyuruhnya memasuki mobil, sesegera mungkin Ia masuk ke dalam mobil dan langsung duduk mematung.
Eyden hanya tersenyum sembari menyetir. Kiara sangat gugup dan enggan melihat wajah Eyden.
“ Apa yang Dia lakukan tadi, Kenapa Aku diam saja?” Ucap Kiara dalam hati.
Mereka tampak diam tidak mengobrol satu sama lain.
Akhirnya mereka sampai Di Penginapan. Kiara turun dari mobil dan tercengang.
“ Edward House, Eyden ini Penginapan atau Apartemen? Megah sekali!” Tanya Kiara tak percaya.
Eyden hanya tersenyum dan berjalan masuk membawa barang Kiara.
“ Kamu mau ikut masuk atau diam mematung disitu.” Teriak Eyden lanjut berjalan masuk.
“ Ehh.. tunggu Aku.” Teriak Kiara berlari mengikuti Eyden dari belakang.
Kiara merasa Ia diperlakukan seperti seorang putri, saat masuk Pak Satpam membukakan pintu untuk mereka. Kiara tersenyum pada Pak Satpam namun tak ada respon. Penginapannya memanglah sangat mewah namun juga sangat aneh, orang – orang disini sangatlah dingin tak bergairah.
Eyden mengantar Kiara masuk ke kamarnya, saat masuk Kiara mematung terdiam.
“ Eyden ini bukan kamar, ini rumah. Disini sangat lengkap ada ruang tamu, ruang santai, ruang kerja, bahkan ada dua kamar. Lebih bagus dari rumahku.” Ucap Kiara terpesona.
Eyden menyimpan barang Kiara di sofa, lalu berpamitan pergi.
“ Secepat ini?” Tanya Kiara.
“ Kamu ingin menghabiskan waktu denganku disini? Kamu yakin?” Tanya Eyden berjalan mendekati Kiara.
“ Tidak… Tidak pulang saja.” Ucap Kiara mendorong Eyden keluar dan langsung menutup pintunya.
Eyden diluar hanya tersenyum melihat tingkah Kiara. Kiara baru tersadar Ia belum mengucapkan terima kasih dan memutuskan membuka pintu kembali. Eyden terlihat berdiri bersandar kedinding sembari menyilangkan tangan didadanya disamping pintu kamar Kiara. Eyden berbalik melihat Kiara dan menggodanya dengan ekspresinya.
“ Eyden terima kasih untuk semuanya.” Ucap Kiara gugup.
“ Santai saja, ini kuncinya dan ini kartu namaku. Disini ada nomor ponselku, jika kamu perlu sesuatu hubungi saja Aku.” Jelas Eyden lembut.
Kiara menerima semuanya, dan Eyden pergi meninggalkannya. Kiara masuk dan langsung istirahat.
Sebelum istirahat Kiara mengganti bajunya, dan setelah itu naik ke ranjang untuk tidur. Saat Ia mulai terlelap tidur tiba – tiba.
“ Arrrrhhh.” Suara misterius.
Seketika Kiara terbangun dan mencari sumber suara, namun suara itu seketika hilang dan Kiara kembali memutuskan tidur.
Sore hari Ia terbangun dan duduk melamun diranjang sembari ditemani pemandangan yang indah dibalik jendela.
“ Aku hanya punya waktu tiga bulan untuk mencari uang membayar penginapan ini. Jika Aku tetap tinggal disini nanti apa mungkin aku bisa membayar penginapan ini, harga makanan Di Resto pun sangat mahal apalagi tempat ini.” Gerutu Kiara.
Kiara memutuskan mandi dan akan mencari kerja, setelah selesai Ia langsung turun ke lantai dasar dan keluar dari Penginapan itu. Diluar Ia bingung harus berjalan kemana, Kotanya sangat besar dan membuat Ia bingung. Ia teringat dengan nomor ponsel yang Eyden berikan apa mungkin Kiara akan meminta bantuannya mencari kerja, tapi Kiara merasa sudah terlalu merepotkannya hingga akhirnya mulai berjalan dan mencari kerja. Tidak ada Toko atau perusahaan yang membuka lowongan kerja, Kiara mulai putus asa dan duduk dikursi dipinggir jalan.
Tiba – tiba ada mobil yang tidak asing berhenti dihadapannya.
“ Eyden…” Ucap Kiara langsung berdiri setelah melihat orangnya keluar dari mobil.
Eyden tampak berjalan mendekati Kiara dengan setelan baju kerja abu muda dan memakai kaca mata hitam. Kiara tak berkedip melihat ketampanan Eyden.
“Sedang apa kamu sendiri disini?” Tanya Eyden membuyarkan lamunan Kiara.
“ A- aku sedang mencari kerja.” Jawab Kiara gugup.
Tanpa basa basi Eyden menarik Kiara masuk mobil dan mebawanya dengan melesat, tidak butuh waktu lama sekitar 5 menit mereka sampai disuatu tempat. Kiara hanya duduk mematung karena terkejut dengan kecepatan mobil yang Eyden kendarai.
Eyden menggenggam tangan Kiara dan menariknya kedalam gedung perusahaan. Tampak semua orang memperhatikan dengan raut wajah datar dan dingin.
Sekarang mereka berada disatu ruangan, yaitu ruangan Manajer. Eyden langsung duduk dikursi Manajer menatap Kiara, Kiara menatap kembali Eyden dengan kebingungan sembari berjalan menuju Eyden dan duduk didepannya.
“ Kamu Manajer?” Tanya Kiara penasaran.
Eyden hanya mengangguk tersenyum pada Kiara.
“ Bolehkah saya melihat berkas lamaranmu?” Tanya Eyden serius.
Kiara langsung memberikan Map lamaran kerjanya dan memperhatikan Eyden yang tampak serius mengecek Mapnya.
“ Oke kamu diterima.” Ucap Eyden membuat Kiara terkejut.
“ Apa? Diterima? Serius?” Tanya Kiara tak percaya.
Eyden hanya mengangguk, sedangkan Kiara matanya berkaca – kaca terharu.
“ Kamu kerja dibagian administrasi, dan gaji kamu 50 juta perbulan. Cukupkan?” Tanya Eyden membuat Kiara tak bisa berkata – kata.
“ LI – LIMA PULUH JUTA? Kamu serius? Tanya balik Kiara tak percaya.
“ Kurang?” Tanya Eyden.
“ Lebih dari cukup.” Ucap Kiara tersenyum bahagia dan mengulurkan tangannya.