Kang Han-jun adalah pria yang terbiasa diabaikan oleh dunia hingga sebuah truk mengakhiri hidupnya yang monoton. Namun, kematian bukanlah akhir. Ia terbangun di Kuil Kehampaan, sebuah titik antara dimensi Bumi dan Alura, di mana Planet Ridokan berada.
Diberi kesempatan kedua oleh Sang Dewi sebagai penyeimbang dimensi, Han-jun dikirim ke Ridokan dengan satu misi: mengumpulkan 6 Prasasti Elemen sebelum Ras Iblis dari Benua Hitam menelan seluruh kehidupan. Meski dibekali kekuatan tanpa batas, Han-jun hanya ingin satu hal: hidup santai. Namun, takdir menyeretnya melintasi lima benua, membangun persahabatan yang tak terhancurkan, dan menghadapi kengerian dari tiga Dewa Iblis yang haus darah. Ini bukan sekadar perjalanan pahlawan; ini adalah kisah tentang pria yang mencari arti rumah di dunia yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Tembok Valeria dan Keangkuhan dibalik Seragam
Matahari Ridokan yang memancarkan pendaran keemasan kini telah naik sepertiga jalan di ufuk timur, mengusir sisa-sisa embun dari padang rumput yang terbentang luas di depan gerbang Kerajaan Valeria. Antrean untuk memasuki kota raksasa itu mengular panjang, menyerupai seekor ular naga raksasa yang tersusun dari ribuan makhluk bernapas. Debu jalanan mengepul setiap kali roda kayu dari kereta gandum berderit maju, ditarik oleh Gryph-horse—kuda berotot ganda dengan paruh menyerupai elang yang sesekali mengeluarkan pekikan serak.
Ajil berdiri di tengah antrean itu bagai sebuah karang hitam di tengah arus sungai yang bising. Posturnya tegap, kedua tangannya tersembunyi di dalam saku jaket trench coat kelas SS miliknya yang menyerap panas matahari, menjaga suhu tubuhnya tetap sejuk di angka ideal. Wajahnya sedingin gletser, sama sekali tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk dan bau menyengat yang menguar di udara.
Di sekelilingnya, simfoni peradaban Ridokan berbunyi nyaring. Di sebelah kirinya, seorang pedagang bertubuh gempal dengan kulit bersisik hijau—seorang Lizardman—tengah mengipasi tungku arang. Di atas panggangan besi itu, berjejer tusukan daging merah tebal berlumuran bumbu kuning kental yang meletup-letup. Aromanya perpaduan antara kayu manis, belerang, dan lemak gurih.
"Sate Kadal Gurun bumbu rempah api! Hanya tiga keping tembaga untuk perut yang kenyang seharian!" teriak pedagang itu, menjajakan dagangannya kepada para petualang yang kelelahan.
Di sebelah kanannya, sekelompok kurcaci (dwarf) berjanggut tebal yang dihiasi cincin-cincin besi sedang duduk di atas tong kayu, menenggak cairan keemasan berbuih dari cangkir perak yang tampak kotor. Bau alkohol yang sangat tajam, mirip dengan fermentasi gandum dan getah pinus, menyengat hidung siapa pun yang lewat. Mereka tertawa terbahak-bahak, saling memukul bahu hingga zirah baja tebal yang mereka kenakan berdentang keras.
Ajil menatap semua itu dengan pandangan kosong. Sistem di matanya sesekali berkedip kuning saat ia menatap orang-orang di sekitarnya.
[SISTEM: Menganalisis... Ras Dwarf, Level 34. Ras Lizardman, Level 18. Tidak ada ancaman terdeteksi.]
Tidak ada ketertarikan di matanya terhadap keajaiban dunia fantasi ini. Bau daging panggang yang menggugah selera bagi penduduk lokal itu hanya mengingatkannya pada aroma sate ayam kesukaan Arzan di depan gang rumah mereka. Suara tawa para kurcaci itu hanya mengingatkannya pada tawa renyah Dara saat ia mengangkat putrinya tinggi-tinggi ke udara. Semakin ramai tempat ini, semakin Ajil merasa terasing. Dadanya terasa sesak oleh kerinduan yang membatu menjadi kemarahan dingin.
"Keramaian adalah ilusi paling kejam bagi hati yang kesepian. Di tengah ribuan suara yang bersahutan, telingamu hanya mencari satu gema yang telah lama hilang," gumam Ajil di dalam hatinya.
Sementara itu, jauh di atas tembok gerbang Valeria yang tingginya mencapai tiga puluh meter, terbuat dari susunan batu granit kelabu yang diperkuat dengan sihir pelindung, sesosok bayangan bertengger di balik patung Gargoyle raksasa.
Erina, sang High Elf, duduk dengan sebelah lutut ditekuk, menumpukan dagunya di telapak tangan. Mata zamrudnya yang tajam tidak sedikit pun lepas dari sosok pria berjaket hitam di tengah antrean ribuan orang di bawah sana. Jubah hijaunya berkibar pelan, menyatu sempurna dengan lumut yang tumbuh di sela-sela bebatuan tembok.
[SISTEM (Mode Pengintai): Peringatan, entitas tidak dikenal (Erina) masih berada dalam jarak pandang. Status: Mengamati.]
Ajil melihat notifikasi itu, namun hanya mengabaikannya. Selama telinga runcing itu tidak mengacungkan busurnya, Ajil tidak punya waktu untuk bermain kucing-kucingan.
Erina mendecakkan lidah. "Manusia yang aneh. Seharusnya dia menyadari tatapanku, tapi dia bertingkah seolah aku hanyalah seekor burung gereja yang lewat. Pakaian hitamnya itu... tidak memancarkan fluktuasi mana sedikit pun, tapi instingku mengatakan ada sihir kuno yang melapisinya."
Erina telah melihat ratusan pahlawan dan bangsawan manusia. Mereka semua berjalan dengan dada membusung, memamerkan pedang berlapis emas atau zirah mengkilap untuk menarik perhatian, terutama perhatian wanita. Tapi Ajil? Pria itu berjalan menunduk, menyembunyikan tangannya, dan menyebarkan aura kematian yang begitu pekat hingga orang-orang di sekitarnya secara tidak sadar memberi jarak setengah meter darinya.
Antrean perlahan menyusut. Setelah hampir dua jam berdiri tanpa ekspresi, Ajil akhirnya tiba di depan gerbang utama. Gerbang itu terbuat dari kayu besi purba selebar lima belas meter, dilapisi pelat baja tebal dengan paku-paku raksasa. Di bawah lengkungan gerbang, terdapat sebuah pos pemeriksaan yang dijaga oleh selusin prajurit Kerajaan Valeria.
Mereka mengenakan zirah rantai (chainmail) berlapis pelat dada (breastplate) yang terbuat dari perak kusam, dengan lambang singa emas terukir di dada kiri mereka. Tombak bersayap yang mereka pegang tampak terawat, memantulkan sinar matahari pagi. Namun, raut wajah mereka jauh dari kata ksatria pelindung rakyat.
Dua orang penjaga yang bertugas di jalur Ajil adalah prajurit bertubuh tinggi besar dengan bekas luka melintang di wajah. Penjaga pertama, seorang pria berambut cepak bernama Garret, menatap Ajil dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. Penjaga kedua, Kael, sedang memutar-mutar kepingan tembaga di sela-sela jarinya dengan senyum licik.
Ajil menatap tepat ke atas kepala Garret.
[Nama: Garret]
[Ras: Manusia]
[Level: 28]
[Kelas: C (Prajurit Tombak)]
"Berhenti di sana, Gelandangan," tegur Garret dengan suara berat dan serak, menyilangkan tombaknya dengan tombak Kael, menghalangi langkah Ajil. "Identitas. Kartu Guild, Gulungan Bangsawan, atau Surat Pedagang. Keluarkan."
Ajil menatap ujung tombak yang berjarak hanya beberapa sentimeter dari dadanya. Wajahnya tidak menunjukkan riak emosi sekecil apa pun. "Aku tidak punya."
Kael mendengus kasar, lalu tertawa mengejek. Ia meludah ke aspal batu di dekat ujung sepatu Ajil. "Tidak punya? Jadi kau pengembara tanpa status? Atau jangan-jangan kau buronan dari kerajaan tetangga? Pakaian kulit hitammu itu terlihat lusuh dan mencurigakan."
Padahal, jika Kael memiliki mata sihir tingkat tinggi, ia akan menyadari bahwa pakaian yang ia sebut 'lusuh' itu adalah artefak kelas SS yang harganya bisa membeli separuh ibu kota Valeria.
"Aku hanya pengembara. Buka jalan," jawab Ajil singkat, suaranya datar, sedingin angin musim salju.
Garret memajukan wajahnya, mencoba mengintimidasi Ajil dengan tinggi badannya. "Buka jalan kau bilang? Dengar, Tikus Tanah. Kerajaan Valeria tidak menerima sampah tanpa identitas. Kecuali... kau bisa membayar 'Pajak Keamanan Khusus'." Garret menggosokkan ibu jari dan telunjuknya. "Pajak masuk biasa adalah dua keping perunggu. Tapi untuk orang tanpa identitas sepertimu... dua keping perak. Bayar, atau kami akan menyeretmu ke penjara bawah tanah karena tuduhan mata-mata Iblis."
Pemerasan terang-terangan. Antrean di belakang Ajil mulai berbisik-bisik, namun tidak ada satu pun yang berani membela. Para penjaga gerbang memang terkenal korup, sering memeras petualang level rendah atau pengungsi yang tidak memiliki pelindung guild.
Di atas tembok, Erina menyipitkan matanya. Busur panjang di punggungnya berdengung pelan, merespons amarah tuannya terhadap ketidakadilan ras manusia yang selalu memuakkan baginya. "Apa yang akan kau lakukan, Algojo? Membantai mereka di sini dan menjadi musuh kerajaan?" batin Erina, menanti dengan antusias.
Ajil terdiam. Pikirannya melayang kembali ke masa lalu. Ke proyek bangunan yang berdebu. Ke wajah mandor gempal yang sering memotong upah hariannya dengan alasan 'biaya keamanan alat'. Orang-orang berkuasa, baik di Bumi yang modern maupun di dunia sihir ini, ternyata memiliki bau busuk yang sama. Keserakahan.
"Kekuasaan yang diletakkan di tangan orang kerdil tidak akan melahirkan keadilan, ia hanya akan menciptakan monster-monster kecil yang kelaparan akan pengakuan," batin Ajil, matanya mulai menggelap.
Ajil memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya, menyambungkannya dengan Cincin Ruang Tak Terbatas miliknya. Ia tidak memiliki kepingan perak, perunggu, atau tembaga. Ia belum sempat menukarkan barang jarahannya. Yang ia miliki hanyalah material monster dan Kristal Sihir Tingkat Rendah yang ia dapatkan dari Serigala Tanduk Besi semalam.
Ajil menarik tangannya keluar dan membuka telapak tangannya. Di sana, tergeletak sebuah kristal seukuran kelereng besar yang memancarkan cahaya ungu redup, berdenyut dengan energi sihir liar.
Mata Garret dan Kael seketika terbelalak lebar. Mulut mereka sedikit terbuka. Kepingan perak bernilai lumayan, tapi Kristal Sihir Tingkat Rendah dari monster Hutan Terlarang? Nilainya setara dengan tiga keping emas murni! Itu adalah gaji mereka selama berbulan-bulan.
"K-Kristal Sihir?" gagap Kael, matanya diselimuti kabut keserakahan yang pekat. Ia buru-buru menelan ludah. Orang miskin berpakaian serba hitam ini ternyata membawa harta karun!
Garret dengan cepat mengubah raut wajahnya menjadi jauh lebih bengis. Jika pengembara ini bisa memiliki kristal sihir, mungkin ia punya lebih banyak di sakunya. Dan karena pria ini tidak punya identitas, merampoknya di sini dan membuang mayatnya ke selokan kota tidak akan menimbulkan masalah panjang.
"Dari mana kau mendapatkan benda itu, Pencuri?!" bentak Garret keras-keras, sengaja menarik perhatian penjaga lain di pos. "Kristal sihir ini pasti hasil curian dari pedagang guild! Berikan benda itu, dan serahkan seluruh sakumu untuk disita sebagai barang bukti!"
Garret mengulurkan tangannya yang kasar dan kotor, hendak mencengkeram kerah jaket panjang Ajil dengan kasar.
Namun, sebelum jari-jari kotor itu sempat menyentuh kain Malam Abadi, suhu udara di sekitar gerbang anjlok drastis ke titik beku.
Udara seolah tersedot habis. Kuda-kuda Gryph-horse di antrean belakang tiba-tiba meringkik panik, beringsut mundur dan menundukkan kepala mereka hingga menyentuh aspal, gemetar ketakutan. Keramaian yang bising seketika senyap bagai kuburan.
Mata Ajil, yang sebelumnya kosong dan datar, kini menatap lurus ke dalam pupil mata Garret. Tidak ada kilatan sihir di mata Ajil, tidak ada mantra yang dirapalkan. Hanya sebuah niat membunuh murni, sebuah tatapan dari entitas yang telah kehilangan segala bentuk empati. Tatapan seorang ayah yang siap menghancurkan dunia jika dunia menghalangi langkahnya pulang.
BZZZTT...
Sebuah percikan kecil petir berwarna ungu gelap memercik di ujung jari telunjuk Ajil yang masih memegang kristal. Hanya percikan kecil sebesar semut, nyaris tak terlihat. Namun, tekanan yang dihasilkannya menghancurkan mental kedua prajurit itu.
[SISTEM: Tekanan Aura Pembunuh (Pasif) diaktifkan. Target terkena efek 'Fear' (Ketakutan Ekstrem).]
Garret merasa seolah ada sebuah gunung es berduri yang dijatuhkan tepat di atas dadanya. Paru-parunya menolak bekerja. Tangan yang hendak meraih kerah Ajil membeku di udara, gemetar tak terkendali. Dalam pandangan Garret, pria berjaket hitam di depannya ini bukan lagi seorang manusia miskin, melainkan dewa kematian yang siap mencabut kepalanya hanya dengan satu tarikan napas.
"A-A-Apa..." Kael, yang berdiri di sebelahnya, kehilangan tenaga di lututnya. Tombaknya terlepas dari genggaman, jatuh berdenting keras di atas aspal batu. Wajahnya pucat pasi, peluh dingin mengucur deras dari dahinya. Bau pesing perlahan merembes dari celana zirahnya. Ia mengompol.
Ajil melangkah setengah langkah ke depan. "Ini bayarannya," ucap Ajil pelan, suaranya terdengar seperti gesekan dua bilah pedang di telinga Garret. "Ambil. Atau aku yang akan memasukkannya paksa ke dalam tenggorokanmu."
Garret terkesiap. Ia menarik tangannya secepat kilat, mundur terhuyung-huyung hingga punggungnya menabrak dinding kayu gerbang. Ia menggelengkan kepalanya dengan ngeri, tidak berani sedikit pun menyentuh kristal di tangan Ajil.
"T-T-Tidak perlu, Tuan! A-Anda... Anda bisa masuk! Silakan! B-Bebas pajak!" teriak Garret terbata-bata, membungkukkan badannya hingga sembilan puluh derajat, sama sekali membuang harga diri prajuritnya.
Ajil mendengus pelan, meremehkan. Ia kembali mengepalkan tangannya, memasukkan kristal sihir itu ke dalam sakunya, dan seketika tekanan aura pembunuh yang mencekik itu lenyap tak berbekas. Udara kembali mengalir. Kuda-kuda yang ketakutan perlahan mulai tenang meski masih merengek pelan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Ajil berjalan melewati kedua penjaga yang masih gemetar hebat. Sepatu botnya melangkah dengan tenang membelah gerbang raksasa, meningggalkan hiruk-pikuk antrean di belakangnya, melangkah masuk ke dalam perut Kerajaan Valeria.
Di atas tembok, Erina menahan napasnya. Jantungnya berdegup kencang, sebuah sensasi yang sudah ratusan tahun tidak ia rasakan. Meskipun ia berada tiga puluh meter di udara, tekanan aura petir ungu yang dilepaskan pria itu sedetik tadi sempat menyapu kulitnya, membuat bulu romanya meremang.
"Luar biasa..." bisik Erina, pipinya yang putih pualam memunculkan rona merah tipis. "Dia tidak membunuh mereka, tapi dia menghancurkan jiwa mereka hanya dengan satu tatapan. Petir ungu itu... aku belum pernah membaca atau melihat elemen sihir dengan warna dan tekanan semengerikan itu seumur hidupku. Siapa sebenarnya kau, Algojo?"
Erina tersenyum, sebuah senyuman sejati yang jarang sekali terukir di wajah arogannya. Dengan lincah, ia melompat turun dari tembok raksasa itu, menggunakan mantra elemen angin untuk memperlambat jatuhnya, dan mendarat mulus di atap sebuah penginapan di dalam kota, kembali menjadi bayangan yang mengikuti sang pria misterius.
Begitu melewati lorong gerbang yang gelap, cahaya matahari kembali menyambut Ajil, menampakkan isi dari kota Valeria yang sesungguhnya.
Jalanan utama terbuat dari susunan batu granit putih yang tertata rapi, cukup lebar untuk dilewati empat kereta kuda berjajar. Bangunan-bangunan di kiri dan kanannya berdiri megah; terbuat dari kayu ek merah dan batu alam bata, dengan atap genteng melengkung berwarna biru tua. Kaca-kaca jendela memantulkan sinar matahari.
Di sebelah kiri, Ajil melihat deretan toko senjata. Suara dentingan palu pandai besi amatir terdengar bersahutan. Asap mengepul dari cerobong-cerobong batu. Berbagai pedang baja, kapak bermata ganda, dan perisai berjejer di depan etalase. Di sebelah kanan, terdapat restoran-restoran bertingkat yang menebarkan aroma kaldu iga sapi dan roti mentega yang manis. Para pelayan wanita dengan celemek putih mondar-mandir melayani petualang yang kelaparan.
Lebih jauh ke dalam kota, Ajil bisa melihat tanda-tanda tempat pelelangan pasar gelap yang tersembunyi di gang sempit, penginapan mewah bertanda bintang emas, hingga tempat pemandian air panas umum yang mengeluarkan uap tebal ke udara. Valeria adalah pusat perputaran ekonomi dan pertarungan di Benua Barat. Sebuah tempat di mana nyawa bisa dibeli dengan sekantong emas.
Tapi Ajil tidak tertarik pada restoran atau toko senjata. Pedang di dalam Cincin Ruangnya sudah melampaui batas nalar dunia ini, dan perutnya tidak lapar untuk makanan fantasi. Langkahnya stabil, matanya memindai papan-papan penunjuk jalan yang ditulis dalam bahasa Ridokan—yang secara otomatis diterjemahkan oleh Sistem di kepalanya menjadi bahasa yang ia pahami.
[SISTEM: Mendeteksi kata kunci 'Guild Petualang'. Mengarahkan rute: 500 meter ke arah utara dari alun-alun utama.]
Ajil melihat ke arah utara, di mana sebuah bangunan paling besar setelah kastel raja menjulang tinggi. Bangunan itu berbentuk bundar dengan lambang sepasang pedang raksasa bersilang yang terbuat dari kristal merah di puncaknya. Itulah pusat dari segalanya; tempat untuk mendapatkan uang, identitas resmi, dan yang paling penting: informasi tentang penyihir, iblis, dan Prasasti Dimensi.
"Aku datang," gumam Ajil dingin, merapatkan kerahnya dan berjalan membelah keramaian kota, tanpa menyadari bahwa takdirnya akan segera bersilangan dengan orang-orang yang nantinya akan menyebutnya sahabat, dan wanita yang kelak akan menghangatkan hatinya yang membeku.