"Mas, kamu harus tau. Mantan suamiku dulu, dia sempat menyesal karena mengambil keputusan terlalu cepat dan dalam keadaan emosi."
Menghirup nafas lebih dalam, Rey menyadari kesalahannya. "Dan itu sama dengan yang Mas lakukan ke kamu?"
"Iya,"
Rey menyesali ucapan talaknya yang diucapkan satu kali. Lantas apa yang membuat Fitri hampir dicerai lagi oleh suami keduanya?
Kesalahan apa yang dilakukannya dimasa lalu yang menyebabkan hidupnya di penuhi sejuta luka?
(adult romance)
Jangan lupa siapin tisu sebelum membaca dari bab awal 😢
@ana_miauw
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terdahului
Beberapa minggu kemudian.
"Aduh cantiknya menantuku, Ibnu pasti pangling denganmu nak." Puji Umii Arni kepadaku. Aku membalasnya dengan senyuman. Ummi begitu baik, seperti anaknya. Ahh aku beruntung mendapat keluarga seperti mereka.
Ini adalah hari dimana aku melepaskan status lajang. Berada di kamar pengantin, aku sudah di make up tebal dengan hijab syar'i berwarna putih yang cantik menjuntai ke bawah. Senada dengan jas yang mas Ibnu kenakan.
Telah hadir juga ibu dan ayah tiriku beserta anak-anaknya, juga keluarga dan kerabat dekat.
Bercerita mengenai ibu.
Tadinya aku berpikir perlakuan ibu terhadapku tidak bisa kumaafkan. Bohong kalau aku tidak membencinya, tapi yang kutangkap justru lain. Ternyata kasih sayangku kepadanya begitu besar hingga melupakan kekesalan itu sendiri. Dan seiring berjalannya waktu kami bisa saling menerima. Kami sudah berkomunikasi seperti biasanya seperti tidak pernah ada permasalahan sebelumnya. Yakin dengan damai hatiku akan lebih tenang.
***
Terdengar suara mas Ibnu melantunkan surat ar rahman sebagai mahar yang dia berikan. Juga terdengar teriakan "sah" dari semua saksi dan para hadirin yang datang.
Dengan dituntun ummi, aku melangkah kedepan, bersanding dengan mas Ibnu. Yang mulai hari ini, detik ini, statusnya menjadi suamiku.
Semua orang melihatku dengan kekaguman. Bukan hanya fotografer yang mengabadikan potretku, namun juga banyak yang mengabadikannya dengan kamera ponsel mereka pribadi.
Mereka semua tidak tahu apa yang kurasakan sekarang didepan orang banyak. Gugup, malu, bahagia, sedih bercampur jadi satu. Bahagia karena punya keluarga baru, tapi juga sedih karena sosok ayah yang tidak dapat aku lihat. Dari mimpiku saat kecil, aku ingin ayah sendiri yang menikahkanku. Tapi Allah berkehendak lain, hingga pernikahanku akhirnya diwakilkan oleh wali hakim.
Aku dibimbing untuk mencium punggung mas Ibnu dan mas Ibnu mencium keningku kilas. Lembut dan nyaman. Jika dapat ku ekspresikan, aku begitu bahagia bertemu dengan orang yang tepat.
Acara itu dilanjut menandatangani berkas-berkas pernikahan dan serangkaian acara lainnya sampai selesai.
***
Hari telah menunjukkan pukul sebelas malam. Semua tamu dan keluarga yang datang sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Sisa-sisa pesta pernikahan sudah dibersihkan oleh tetangga dan keluarga. Hanya tersisa tenda yang masih terpasang dan rencananya akan dibongkar esok hari.
Sebenarnya aku ingin turut membantu, tapi ummi melarangku dan malahan menyuruhku istirahat dikamar.
Dan mas Ibnu, belum terlihat batang hidungnya sama sekali. Mungkin dia sedang menjamu teman-temannya yang tadi telat hadir karena perjalanannya cukup jauh, dari luar kota.
Perasaanku berdebar tak menentu, jantungku terasa ingin melompat keluar dari tempatnya. Ada yang ku khawatirkan saat ini, yaitu tentang hubungan badan kami jika mas Ibnu memintanya malam ini.
Entah bagaimana nanti respon suamiku yang nanti akan mengetahui kalau aku sudah tidak perawan. Apakah dia akan menanyakannya? atau justru lebih dari itu?
Ahh tidak-tidak.
Aku tepis pikiran buruk itu, aku yakin mas Ibnu pria baik-baik yang bisa menerimaku apa adanya. Nggak mungkin mas Ibnu menceraikanku hanya karena aku tidak suci lagi. Syarat pernikahan bukan diukur atas dasar kesucian.
Kemungkinan kecewa pasti ada, tapi mungkin hanya sebentar. Mas Ibnu adalah orang yang paling lembut memperlakukanku. Iya, mas Ibnu pasti akan memaafkanku dia adalah laki-laki yang paling baik yang pernah kukenal.
Duhhh, gak bisa bayangkan rasanya, jantungku kian berdebar, berdetak lebih kencang. Ingin rasanya aku menghindari saja malam ini. Tapi mau sampai kapan aku menyembunyikannya? Lambat laun pasti mas Ibnu akan mengetahui.
"Kreet"
Mas Ibnu sudah masuk kedalam, senyumnya mengembang menatapku. Kulihat pakaiannya sudah berganti menjadi piyama tidur. Aku balas senyum meskipun sedikit aku paksakan. Aku harus apa? Aku harus bagaimana?
Mas Ibnu ikut duduk ditepi ranjang menghadapku. "Keliatannya istriku sangat gugup,"
Ya ampun, aku tidak berani menatap matanya. Aku hanya bisa menunduk.
"Duuh sini-sini, Istriku ini sangat pemalu ya," Mas Ibnu mengangkat daguku hingga pandangan kami saling menatap dan hanya ber jengkal beberapa cm saja.
"Mulai sekarang kamu harus terbiasa tidur bersamaku."
"I-iya Mas,"
"Jangan menunduk terus sayang Cup." Satu kecupan mendarat di keningku.
Kenapa raut wajahnya sangat bahagia? Berbalik dengan apa yang kurasakan. Aku takut dia kecewa!
"Mas ingin melakukan kewajiban mas sekarang, apa kamu siap?"
Deg!
"Si-siap Mas, la-lakukan saja."
Mas Ibnu memulainya dengan membacakan doa dan mengusapkannya pada ubun-ubunku. Lalu memulai dengan mencium kening, memeluk dan menanggalkan pakaianku.
Dapat kurasakan perlakuannya begitu lembut mulai dari mencium kening, pipi, mata, hidung, bibir, semua yang ada padaku tak terlewatkan olehnya.
*CUT*
Beberapa menit berlalu.
"Siapa yang sudah lebih dulu melakukannya selain aku Fitri?"
Deg!
Suara Mas Ibnu terdengar berat, tangannya mengepal kuat. Kulihat dia segera beringsut memakai celana pendeknya.
Inilah yang aku takutkan, inilah yang kuhawatirkan semenjak tadi. Perasaan takut ini sudah tidak bisa aku bendung lagi, aku semakin terisak.
"Kalau itu bekas kecelakaan aku memakluminya. Sekarang, katakan dengan jujur!"
"Maafin aku Mas, hiks..."
Aku menggeleng kuat, dan segera menarik selimut guna menutup tubuh polosku.
"Siapa kamu sebenarnya Fitri? Jawab aku! Tatap aku ketika aku bicara!"
"Ma-maafkan aku Mas, hiks..."
"Pantas saja tubuhmu gemetaran sebelum kita memulai, kamu bukan takut karena akan merasa sakit, tapi takut karena kamu sudah tidak suci lagi !!"
"Jangan marah dulu Mas, biar aku jelaskan."
"Apa yang akan kamu jelaskan? Kalau kamu janda aku masih bisa memaklumi karena kamu pernah jadi seorang istri. Tapi kalau itu karena hal lain, maaf. Aku tidak bisa terima."
To be continued.
pemeran utama pria selalu salah, dia dibohongi ujung2 dia juga yang salah, dia pergi kerja lama dia juga salah, dua ujuga yang dibuat menyesal, mengemis2 maaf, pemeran utama pria di novel selalu dibuat karakter bodoh yang Terima saja diperlakukan apapun dan pada lahir dia dibuat mengemis2 pada istrinya
pemeran utama wanita selalu akan dibenarkan, dia membohongi suami dengan kebohongan yang sangat menyakitkan tapi ujung2 pemeran utama pria juga yang salah dan mengemus maaf, pemeran utama wanita pergi dari rumah dan buat suami kayak pengemis dan menderita novel anggap biasa saja bukan kesalahan yang perlu dibesar2kan dan tidak perlu minta maaf tapi pemeran utama pria pergi karena kerja yang sangat penting udah dibuat jadi kesalahan fatal dan dapat hukuman dan diremehkan pria lain
vano lelaki lain yang suka pada pemeran utama pria terlalu diistimewakan dan tidak pernah dianggap salah dan bisa merasakan tubuh pemeran utama wanita dan bebas memprovokasi pemeran utama pria, kesalahan sangat banyak, meleceh wanita, memaki jalang pada peran utama wanita, menghancurkan rumah tangga adiknya tapi karena tidak dianggap salah dana tidak perlu dapat balasan