Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darimana saja Nduk?
Menjelang magrib, hujan turun dengan sangat lebat mengguyur desa dan jalan-jalan setapak di sekitarnya.
Awan hitam bergelayut rendah di langit, menutupi cahaya sore yang tersisa.
Angin dingin berembus di antara pepohonan, membuat ranting-ranting bergoyang dan dedaunan berdesir tanpa henti. Suasana desa yang biasanya ramai menjelang petang kini tampak sepi.
Sebagian besar warga memilih bertahan di dalam rumah sambil menunggu hujan reda.
Pak Nanang yang baru saja pulang dari kebun jagung miliknya terpaksa berjalan lebih cepat sambil menutupi kepala dengan caping yang sudah tidak banyak membantu menahan derasnya hujan.
Celana dan bajunya sudah basah kuyup sejak beberapa menit yang lalu. Lumpur menempel di sepatu kerja dan betisnya.
Jalan setapak yang biasa dia lalui mulai berubah menjadi licin dan becek. Beberapa genangan air bahkan sudah menutupi sebagian jalan hingga sulit dibedakan mana tanah dan mana kubangan.
Langit yang semakin gelap membuat suasana sore itu terasa suram dan dingin.
Pak Nanang terus melangkah sambil sesekali menundukkan kepala untuk menghindari air hujan yang menerpa wajahnya. Namun di tengah perjalanan, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sesuatu di kejauhan.
Ada seseorang berdiri di tengah jalan setapak.
Diam dan tidak bergerak.
Awalnya Pak Nanang mengira itu hanya batang pohon. Namun, semakin lama dia memperhatikan, semakin jelas bahwa sosok itu adalah seorang manusia.
Seorang gadis.
Tubuhnya basah kuyup diguyur hujan tanpa perlindungan apa pun.
Rambut panjangnya menempel di wajah dan pakaiannya. Baju yang dikenakannya juga tampak sangat basah hingga mengikuti lekuk tubuhnya.
Anehnya, gadis itu hanya berdiri diam di tengah hujan deras seolah tidak merasakan dinginnya cuaca.
Pak Nanang memperlambat langkahnya.
Perasaan aneh tiba-tiba muncul di dalam hatinya.
Entah kenapa, wajah gadis itu terasa sangat familiar.
"Sekar..." Ucapnya pelan tanpa sadar.
Nama itu begitu saja keluar dari bibirnya.
Namun sesaat kemudian dia mengernyit.
Tidak mungkin.
Untuk memastikan dirinya tidak salah lihat, Pak Nanang mengusap matanya berkali-kali.
Air hujan yang terus menerpa wajahnya membuat pandangannya kabur.
Dia menatap lagi ke arah gadis itu.
Mencoba memastikan apakah yang dilihatnya benar-benar Sekar atau hanya permainan mata karena hujan yang begitu deras.
"Sekar?" panggilnya sedikit lebih keras.
Sosok itu tetap diam.
Pak Nanang menarik napas panjang, rasa penasaran akhirnya mengalahkan keraguannya.
Dia memberanikan diri melangkah mendekat.
Semakin dekat jarak mereka, semakin jelas pula wajah gadis itu terlihat.
Dan saat itulah jantung Pak Nanang serasa berhenti sesaat.
Benar, itu Sekar.
Gadis yang menjadi bahan pembicaraan seluruh kampung karena menghilang tepat sehari sebelum pernikahannya berlangsung.
Wajah Sekar tampak sangat pucat.
"Nduk, ngapain berdiri di hujan begini?" Tanya Pak Nanang dengan suara keras karena suara hujan begitu bising.
Sekar tidak langsung menjawab, dia hanya menatap Pak Nanang tanpa berkedip.
Tatapan itu membuat Pak Nanang merasa semakin tidak nyaman.
"Sekar!" Panggilnya lagi.
Kali ini lebih keras.
Beberapa detik berlalu.
Barulah bibir gadis itu bergerak perlahan.
"Dingin, Pak."
Suaranya lirih, nyaris tenggelam oleh suara hujan yang menghantam tanah dan dedaunan.
Pak Nanang mengangguk cepat.
"Ya sudah, ayo pergi dari sini."
Namun Sekar tidak bergerak, dia tetap berdiri di tempatnya.
Pak Nanang lalu melepas caping yang dikenakannya dan meletakkannya di kepala Sekar. Meski caping itu sendiri sudah basah dan nyaris tidak berguna lagi untuk menahan hujan.
"Ayo pulang, Nduk." Katanya lagi dengan nada lebih lembut.
"Kamu dicari-cari ibumu."
Sekar perlahan menundukkan kepala.
Air hujan terus mengalir dari ujung caping dan menetes ke wajahnya yang pucat.
Beberapa saat kemudian, gadis itu akhirnya melangkah pelan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Pak Nanang pun berbalik dan berjalan menuju desa.
Di belakangnya, Sekar mengikuti dalam diam.
Sementara hujan terus turun semakin deras, menelan suara langkah mereka berdua di jalan setapak yang mulai diselimuti gelapnya malam.
Langit sore pun semakin gelap, menandakan malam akan segera tiba. Hujan pun perlahan mulai mereda. Rintik-rintik air masih turun, namun tidak lagi sederas sebelumnya.
Pak Nanang dan Sekar berjalan menyusuri jalan setapak sepi.
Caping yang tadi diberikan Pak Nanang masih bertengger di kepala Sekar, meski keduanya tetap basah kuyup.
"Kamu ke mana saja, Nduk?" Tanya Pak Nanang sambil berjalan di sampingnya.
"Ibumu, bahkan kami semua mencarimu sebulan yang lalu."
Pak Nanang menoleh berharap mendapat jawaban.
Namun Sekar tetap diam.
Dia hanya berjalan pelan dengan pandangan lurus ke depan.
Tidak menoleh dan tidak juga menjawab.
Pak Nanang menghela napas kecil.
Dia mengira mungkin gadis itu merasa malu atau tidak nyaman membicarakan kepergiannya selama ini.
Karena tidak mendapat jawaban, Pak Nanang pun mencoba bertanya hal lain.
"Apa yang kau lakukan berdiri di sana tadi?"
Tetap tidak ada jawaban.
Pak Nanang kembali menoleh kepadanya.
"Apa ibumu sudah kamu temui?" Tanyanya lagi.
Kali ini Sekar sedikit mengangkat wajahnya.
Namun bukannya menjawab pertanyaan itu, dia hanya memandang ke arah jalan di depan mereka.
Beberapa saat mereka kembali berjalan dalam diam.
Langit kini semakin gelap, sementara sisa-sisa hujan masih turun tipis membasahi jalan setapak yang mereka lewati.
Tiba-tiba Sekar kembali bersuara.
"Pak... dingin."
Suaranya pelan dan lemah.
Pak Nanang langsung menoleh.
Dilihatnya gadis itu yang pakaian basah kuyup. Wajahnya juga terlihat semakin pucat di bawah cahaya senja yang mulai menghilang.
"Iya, Nduk. Sabar sebentar lagi ya." Kata Pak Nanang berusaha menenangkan.
"Kita sebentar lagi sampai." Sambungnya.
Meski sebenarnya arah rumah mereka berbeda, dia tidak berniat meninggalkan gadis itu sendirian.
Bagaimanapun juga, hari sudah hampir malam.
Dan setelah menghilang selama sebulan, Pak Nanang ingin memastikan Sekar benar-benar sampai dengan selamat ke rumahnya.
"Nanti bapak antar sampai rumahmu." Katanya.
Sekar tidak menjawab. Namun, langkahnya tetap mengikuti Pak Nanang.
Mereka pun berjalan menyusuri jalan-jalan kecil desa yang mulai sepi.
Sesekali terdengar suara jangkrik dari semak-semak dan suara anjing menggonggong dari kejauhan.
Pak Nanang sesekali menoleh ke arah Sekar.
Dia berharap gadis itu mau bercerita sesuatu.
Tentang ke mana perginya selama ini.
Tentang kenapa dia tiba-tiba muncul di tengah hujan seorang diri.
Namun Sekar tetap diam, dia hanya berjalan dengan kepala sedikit tertunduk.
Dia hanya terus melangkah pelan di samping Pak Nanang.
"Nanti sampai rumah, kamu bisa ganti baju kering." Lanjut Pak Nanang.
"Ibumu pasti senang sekali lihat kamu pulang."
Sekar kembali terdiam.
Hanya langkah-langkah pelan yang terdengar di jalan yang masih basah itu.
Pak Nanang kembali menatap ke depan. Dalam hatinya dia merasa lega karena akhirnya Sekar ditemukan.
Jalanan pun semakin gelap. Kabut tipis mulai turun bersama sisa-sisa hujan yang masih menetes dari dedaunan di pinggir jalan.
Pak Nanang melirik ke arah Sekar yang masih berjalan pelan di sampingnya.
Meski sebenarnya arah rumah mereka berbeda, dia tidak berniat meninggalkan gadis itu sendirian.
Lampu-lampu rumah warga mulai menyala satu per satu. Namun, tak ada warga di luar rumah, mungkin karena sudah hujan dan dingin, semua berada di dalam rumah.
Dan setelah menghilang selama sebulan, Pak Nanang ingin memastikan Sekar benar-benar sampai dengan selamat ke rumahnya.
Tak lama kemudian, dari kejauhan mulai terlihat rumah Bu Ratmini.
Rumah panggung sederhana itu berdiri di antara beberapa rumah warga lainnya.
Melihat rumah itu, Pak Nanang menghela napas lega.
"Sudah sampai, Nduk." katanya.
"Sebentar lagi ibumu bisa melihat kamu."
Namun Sekar tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Dia hanya memandang ke arah rumah itu dengan tatapan yang sulit diartikan.