Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(REVISI) BAB 6
Hari ketiga Kim Ae Ra di Aegis Corp dimulai bahkan sebelum matahari benar-benar terbit.
Jam delapan kurang lima belas, langit masih berwarna kebiruan pekat dengan sedikit sentuhan jingga muda di ufuk timur. Ia berdiri di depan gedung perusahaan yang menjulang tinggi, secangkir kopi murah dari warung dekat halte di tangannya. Gelas plastik terasa lembap di genggamannya, uap panas kopi mengelilingi wajahnya yang masih membeku karena udara pagi. Ia menyedot perlahan kopinya pahit namun hangat, membantu ia mengumpulkan keberanian sebelum masuk.
Udara pagi terasa dingin dan segar, namun pikirannya jauh lebih ramai daripada jalanan yang baru mulai dihiasi oleh orang-orang bergegas ke tempat kerja.
Semalam ia pulang hampir tengah malam karena makan malam bisnis bersama Hyun Jae Hyuk. Undangan datang mendadak saat jam kerja hampir berakhir—acara dengan klien utama perusahaan logistik. Ia hampir tidak berbicara sepanjang acara, hanya mencatat setiap poin penting dan tersenyum kaku setiap kali diperkenalkan sebagai sekretaris baru CEO.
Beberapa tamu melihatnya dengan rasa ingin tahu, yang lain hanya mengangguk sebelum kembali fokus pada pembicaraan bisnis. Makan malam yang seharusnya santai terasa seperti ujian tak terjadwalkan, membuatnya tetap tegang dari awal hingga akhir.
Tatapan orang-orang masih sama, penasaran, menilai, dan sedikit meremehkan. Beberapa karyawan di koridor menyembunyikan wajah atau mengubah arah jalan ketika melihatnya mendekat. Seolah takut atau tidak ingin terlihat berhubungan dengan seseorang yang dianggap “tidak pantas berada di sini”. Ae Ra menarik napas panjang.
“Aku harus bertahan…”
Pintu kaca terbuka otomatis saat ia melangkah masuk, disertai suara mekanis lembut. Udara dalam gedung hangat dan berbau parfum pewangi ruangan mahal. Lantai granit mengkilap mencerminkan cahaya lampu plafon yang sudah menyala penuh.
Pagi itu suasana kantor terasa lebih sibuk dari biasanya. Beberapa staf berkumpul di dekat ruang rapat utama lantai lima, membicarakan sesuatu dengan suara pelan namun penuh kegembiraan atau kekhawatiran yang tidak jelas. Mereka berkerumun dekat pintu ruangan, tangan kadang menyentuh layar ponsel atau bergerak ketika menjelaskan sesuatu.
Begitu Ae Ra melewati mereka, percakapan langsung berhenti. Suara yang tadinya seperti gumaman jauh kini hilang total, digantikan keheningan yang sedikit menjijikkan. Beberapa memalingkan wajah atau mulai berbicara tentang cuaca atau jadwal rapat mingguan. Ia pura-pura tidak menyadari, melangkah mantap menuju mejanya di luar ruang kerja CEO. Saat duduk, Yoo Min Ji segera datang membawa setumpuk dokumen tebal yang baru dicetak.
“CEO akan menghadiri rapat darurat pukul sembilan,” katanya cepat, nada serius tanpa basa-basi.
“Perusahaan pesaing mulai bergerak di proyek pelabuhan Busan yang sudah kita garap selama hampir setahun.”
Ae Ra mengangguk sambil menerima berkas. Nama proyek—“Proyek Pelabuhan Baru Busan Phase II”—terasa asing. Namun nada serius Min Ji membuatnya ikut tegang. Belum sempat membaca lebih jauh, pintu ruang CEO terbuka dengan cepat.
Hyun Jae Hyuk keluar dengan langkah cepat, jasnya terpasang rapi dan dasinya tidak kusut. Wajahnya serius, matanya terfokus ke arah ruang rapat.
“Sekretaris Kim, ikuti aku.”
“Iya, baik!” Ia segera mengambil tablet dan mengikuti dengan langkah cepat agar tidak tertinggal. Jantungnya mulai berdebar lebih cepat.
Ruang rapat dipenuhi eksekutif senior. Direktur keuangan, operasional, dan beberapa manajer divisi utama. Mereka sudah duduk di sekitar meja bundar besar, laptop dan dokumen di depan masing-masing. Suasana jauh lebih kaku dibanding rapat sebelumnya. Di layar besar dinding depan, terpampang grafik pertumbuhan pasar, peta lokasi pelabuhan, dan laporan rinci perkembangan bisnis daerah tersebut.
“Grup Haesung mulai masuk ke sektor distribusi kita,” ujar salah satu direktur dengan suara kekhawatiran.
Ia menunjuk ke grafik di layar, menunjukkan bagaimana pangsa pasar perusahaan mulai sedikit menurun sejak beberapa minggu terakhir. “Mereka menawarkan harga lebih rendah dan waktu pengiriman lebih cepat ke beberapa klien utama kita.”
Ae Ra mencatat cepat dengan jari-jarinya yang melesat di layar tablet, meski tidak sepenuhnya memahami semua istilah bisnis atau implikasi setiap poin yang dibahas. Otaknya bekerja keras untuk menangkap setiap kata, takut melewatkan detail penting. Jae Hyuk berdiri di ujung meja, kedua tangannya bersilang di depan dadanya, ekspresinya tenang namun tajam.
“Kalau mereka ingin bermain cepat, kita percepat dua langkah,” katanya singkat, nada tegas jelas terdengar di seluruh ruangan.
Ia mengambil pena dari saku jasnya dan menunjuk ke bagian tertentu pada peta pelabuhan. “Kita fokus pada pembangunan fasilitas penyimpanan baru yang lebih besar dan memperkuat kerja sama dengan perusahaan pelayaran lokal. Tim keuangan akan menyusun proposal anggaran tambahan dalam waktu dua hari.”
Nada suaranya berubah menjadi lebih dingin, tegas, dan sangat berbeda dari pria yang memberinya sandwich kemarin saat ia terlupa makan siang. Saat itu ia tampak lebih hangat dan perhatian, namun sekarang ia adalah sosok pemimpin penuh keyakinan dan kekuasaan. Untuk pertama kalinya, Ae Ra benar-benar melihat sisi CEO-nya yang dikenal seluruh perusahaan. Dan ia merasa sedikit terintimidasi.
Rapat berlangsung hampir dua jam. Setiap orang memberikan pendapat dan laporan, sementara Jae Hyuk memberikan arahan cepat dan tepat. Tidak ada kata yang sia-sia keluar dari mulutnya. Ae Ra terus mencatat dengan giat, catatannya penuh dengan informasi terorganisir dan beberapa komentar kecil untuk diri sendiri.
Saat semua orang keluar, Ae Ra masih duduk di kursi sudut ruangan, mencoba merapikan catatan yang berantakan di kepalanya dan menyusun kembali semua informasi menjadi urutan yang lebih jelas. Kepalanya sedikit berat karena terlalu banyak informasi yang masuk sekaligus.
“Kau baik-baik saja?” Suara Jae Hyuk dari belakangnya membuatnya menoleh dengan cepat.
“Iya… hanya sedikit pusing,” jawabnya dengan suara lemah. Ia berdiri terlalu cepat dan hampir kehilangan keseimbangan, tubuhnya sedikit menyamping ke arah meja.
Refleks cepat, Jae Hyuk menangkap lengannya dengan tangan kirinya, mencegahnya dari jatuh. Tangan pria itu terasa hangat dan kuat di kulitnya yang masih dingin.
Sentuhan itu singkat namun cukup membuat Ae Ra membeku. Jantungnya berdebar kencang, wajahnya merasa sedikit panas.
“Kau belum terbiasa,” katanya pelan, tatapannya melihat ke arah wajah Ae Ra dengan ekspresi sulit ditebak, ada kekhawatiran tersembunyi namun juga rasa harapan yang jelas.
Ae Ra menarik tangannya cepat. “Aku akan belajar.”
Jae Hyuk menatapnya beberapa detik sebelum mengangguk perlahan. “Aku tidak mempekerjakanmu untuk gagal.” Kalimat itu terdengar keras… namun anehnya memberi dorongan.
Siang hari berlalu lebih cepat dari yang ia kira. Setelah rapat darurat, Ae Ra menghabiskan waktunya mengolah catatan rapat, mencari informasi tentang Proyek Pelabuhan Busan, dan membantu menyusun dokumen untuk tim keuangan. Ia hanya menyantap roti kecil di kantin sambil tetap bekerja. Namun tekanan tidak berhenti.
Beberapa staf mulai terang-terangan menguji dirinya, memberikan dokumen mendadak yang harus segera diproses, meminta konfirmasi berulang tentang hal yang sudah jelas, bahkan sengaja berbicara terlalu cepat saat menjelaskan prosedur kerja. Mereka tampak ingin melihat seberapa jauh ia bisa bertahan atau kapan ia akan menyerah. Ae Ra tahu persis apa yang mereka lakukan, namun memilih untuk tidak membalas. Ia hanya bekerja dengan lebih giat.
Menjelang sore, ketika jarum jam menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit, ia akhirnya menghela napas panjang. Bahunya terasa pegal, matanya sedikit perih. Hari ini terasa seperti ujian tanpa akhir. Namun meskipun begitu, ia merasa sedikit bangga karena bisa melewatinya tanpa kesalahan yang terlalu besar.
Malam datang, dan seperti refleks selama tiga hari terakhir, langkahnya kembali menuju toserba kecil di sudut jalan setelah turun dari bus. Udara malam sudah mulai dingin, namun hatinya merasa lebih tenang. Bel pintu berbunyi lembut saat ia membukanya—
klining…
Suara yang selalu membuatnya merasa seperti pulang ke rumah.
Seo Jun sedang duduk di balik kasir, membaca buku kecil dengan sampul warna coklat tua. Cahaya lampu neon putih menerangi wajahnya dengan lembut. Ia mengangkat kepala segera setelah mendengar suara bel pintu.
“Kau terlihat lebih hidup daripada kemarin,” katanya dengan suara tenang dan sedikit tersenyum.
Ae Ra tertawa lemah, menyandarkan tubuhnya ke kursi kecil dekat kasir. “Kalau hidup berarti hampir pingsan karena terlalu banyak pekerjaan, mungkin benar.”
Seo Jun menutup bukunya dan menaruhnya di atas kasir. “Kopi?”
Ae Ra mengangguk dengan senyum kecil. Ia memperhatikan bagaimana pria itu menyiapkan minuman dengan gerakan tenang dan terampil, tidak terburu-buru, tidak memberikan tekanan apapun. Berbeda sekali dengan dunia kantor yang selalu penuh kecepatan dan tuntutan tinggi.
“Aku merasa seperti orang lain di sana,” kata Ae Ra pelan. “Seolah aku harus menjadi seseorang yang bukan aku sendiri hanya untuk diterima.”
Seo Jun menyerahkan cangkir kopi hangat. “Bukan kau yang berubah terlalu cepat,” jawabnya lembut namun pasti. “Lingkungannya saja yang belum mengenalmu dengan baik. Mereka hanya melihat apa yang mereka ingin lihat, bukan siapa dirimu sebenarnya.”
Ae Ra terdiam, mencerna kata-katanya yang sederhana namun menenangkan. Ponsel Seo Jun kembali bergetar. Ia melirik layar sebentar, melihat nomor tak dikenal, lalu mematikannya tanpa membaca.
“Kau sering dapat telepon akhir-akhir ini,” katanya dengan rasa ingin tahu.
“Hanya spam,” jawabnya santai, segera mengambil sapu tangan dan mulai membersihkan permukaan kasir yang sudah cukup bersih. Ia mengganti topik dengan cepat.
“Besok masuk pagi lagi?”
Ae Ra mengangguk. “Iya, mulai pukul delapan pagi sampai sore.”
“Kalau begitu pulang lebih cepat,” ujarnya dengan nada lembut, hampir seperti perintah halus namun penuh perhatian.
Ae Ra tersenyum kecil tanpa sadar.
Di tempat lain, Hyun Jae Hyuk duduk sendirian di mobilnya yang berhenti di lampu merah dekat persimpangan utama. Mobilnya tenang dan sunyi, sementara di luar banyak kendaraan berlalu lalang. Pikirannya kembali pada ekspresi Ae Ra saat tersenyum melihat ponsel kemarin seolah ia sedang melihat pesan dari seseorang yang sangat ia sayangi atau percayai. Ia mengerutkan kening. Kenapa hal kecil itu mengganggunya? Ia bahkan tidak tahu siapa orang yang mengirim pesan itu.
Lampu lalu lintas berubah hijau, tapi mobilnya tetap diam beberapa detik sebelum akhirnya melaju. Tanpa sadar, arah yang ia ambil bukanlah jalan menuju kediamannya. Sebaliknya, ia mengemudi menuju area tempat Ae Ra tinggal.
Di kediaman Hyun Jin Suk, laporan baru kembali masuk.
“Grup Haesung bergerak lebih cepat dari prediksi,” ujar Do Hyun melalui panggilan.
Jin Suk tersenyum tipis. “Menarik.”
Ia menatap layar tablet yang menampilkan foto-foto aktivitas perusahaan. Salah satunya memperlihatkan Ae Ra berjalan keluar gedung Aegis sore tadi.
“Kadang,” gumamnya pelan, “perubahan besar selalu dimulai dari orang yang tampak paling biasa.” Ia menutup layar.
Permainan yang awalnya sederhana kini mulai melibatkan lebih banyak pihak.
Malam semakin larut. Di depan toserba, Ae Ra melambaikan tangan sebelum pulang. Seo Jun berdiri memperhatikannya sampai sosok itu menghilang di tikungan.
Beberapa detik kemudian, sebuah mobil hitam melintas pelan di jalan yang sama. Seo Jun menatapnya tanpa ekspresi. Tatapannya berubah menjadi tajam, waspada. Seolah ia mengenali sesuatu.
Namun detik berikutnya, ia kembali masuk ke dalam toko, mengambil lap kain, dan melanjutkan pekerjaannya seperti biasa.
Di bawah lampu neon yang sederhana, ia terlihat tidak berbeda dari pekerja paruh waktu lainnya.
Padahal, tanpa disadari siapa pun… garis antara tiga kehidupan kini mulai saling bersilangan.