NovelToon NovelToon
Fake Boyfriend Real Husband

Fake Boyfriend Real Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / BTS
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Septiayani

bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi

itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia

ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kemana bella

Ruang tunggu rumah sakit malam itu terasa dingin… dan mencekam.

Lampu putih menyala terang, tapi tidak mampu mengusir rasa takut yang menggantung di udara.

Ayah dan ibu Yoga duduk berdampingan, wajah mereka tegang. Kania berdiri tidak jauh, mondar-mandir dengan gelisah. Sementara Rafi dan Andre berdiri di dekat pintu ruang penanganan, menatap lurus ke arah pintu yang masih tertutup rapat.

Semua diam.

Namun pikiran mereka… penuh.

“Bella masih nggak bisa dihubungi?” tanya ibu Yoga dengan suara gemetar.

Kania menatap ponselnya lagi, lalu menggeleng pelan. “Masih nggak aktif, Tante…”

Ibu Yoga langsung menutup mulutnya, air mata mulai jatuh. “Harusnya dia di sini…”

Ayah Yoga mengepalkan tangan. “Sekarang bukan soal itu… kita fokus ke Yoga dulu.”

Namun jelas…

semua orang memikirkan hal yang sama.

Di mana Bella?

Kenapa di saat seperti ini… dia menghilang?

Rafi menghela napas panjang, menatap ponselnya lagi. “Gue udah coba berkali-kali… tetap nggak bisa.”

Andre menyandarkan tubuh ke dinding. “Nggak biasanya Bella kayak gini…”

Kania menunduk. “Tadi siang dia masih ada… terus tiba-tiba nggak ada…”

Suasana kembali hening.

Detik demi detik terasa sangat lama.

Hanya suara detak jam dan langkah perawat yang sesekali lewat.

Hingga akhirnya—

pintu ruang penanganan terbuka.

Semua langsung berdiri.

Dokter keluar dengan wajah serius.

“Dokter… gimana anak saya?” suara ibu Yoga langsung pecah.

Dokter menatap mereka satu per satu sebelum akhirnya bicara.

“Kondisi pasien cukup parah.”

Kalimat itu langsung membuat semua jantung mereka seperti berhenti.

“Benturan yang dialami cukup keras, terutama di bagian kepala dan dada.”

Ibu Yoga langsung terhuyung, ditahan oleh Kania. “Ya Tuhan…”

Ayah Yoga menahan dirinya tetap tegar. “Sekarang bagaimana kondisinya, Dok?”

Dokter menarik napas. “Saat ini… pasien dalam kondisi kritis.”

Hening.

Sunyi.

Seolah semua suara menghilang.

Rafi langsung menatap tidak percaya. “Kritis…?”

Andre mengepalkan tangan. “Maksudnya…?”

Dokter melanjutkan dengan hati-hati. “Kami sudah melakukan penanganan awal. Tapi kondisi beliau belum stabil. Masih harus dipantau secara intensif di ICU.”

Air mata ibu Yoga jatuh tanpa henti. “Anak saya… Dok…”

Kania juga mulai menangis, menutup wajahnya. “Kak Yoga…”

Ayah Yoga menatap dokter dengan wajah tegang. “Apakah dia… sadar?”

Dokter menggeleng pelan. “Belum. Pasien masih tidak sadarkan diri.”

Kalimat itu…

benar-benar menghancurkan.

Rafi mengusap wajahnya kasar, menahan emosi. “Gila…”

Andre menunduk, rahangnya mengeras. “Dia tadi masih baik-baik aja…”

Dokter kembali bicara, “Kami akan melakukan yang terbaik. Tapi untuk saat ini… kita harus menunggu perkembangan kondisinya.”

Menunggu.

Kata yang paling menyiksa.

Dokter pun pergi.

Meninggalkan mereka dalam keheningan yang berat.

Ibu Yoga langsung menangis di bahu suaminya. “Aku nggak kuat…”

Ayah Yoga memeluknya, meski wajahnya sendiri terlihat hancur.

Kania terduduk lemas di kursi. “Kenapa bisa kayak gini…”

Rafi menatap kosong ke depan.

Lalu perlahan berkata, “Bella harus tahu…”

Andre langsung mengangguk. “Iya… dia harus tahu.”

Kania mengangkat wajahnya dengan mata merah. “Tapi dia di mana…”

Semua kembali terdiam.

Satu pertanyaan yang terus menggantung—

Di mana Bella?

Dan di saat yang sama—

orang yang paling ia cintai…

...----------------...

Malam itu suasana kampung terasa tenang.

Hanya suara jangkrik dan angin malam yang menemani.

Sebuah angkot berhenti di depan rumah sederhana milik Bella. Dengan langkah pelan, Bella turun sambil menarik koper di tangannya.

Wajahnya lelah.

Matanya sembab.

Langkahnya berat… seolah setiap langkah dipenuhi beban.

Pintu rumah terbuka.

Ibu Bella yang sedang di dalam langsung menoleh kaget.

“Bella?”

Bella terdiam beberapa detik.

Melihat ibunya.

Dan seketika—

semua yang ia tahan runtuh.

“Ibu…” suaranya bergetar.

Koper itu terlepas dari tangannya.

Bella langsung berlari dan memeluk ibunya erat.

Tangisnya pecah.

“Ibu…”

Ibu Bella langsung memeluk balik dengan kaget dan panik. “Ya Allah, kenapa, Nak? Kenapa kamu pulang tiba-tiba?”

Bella tidak bisa langsung menjawab.

Ia hanya menangis.

Menangis sejadi-jadinya.

Seolah semua luka yang ia pendam sejak siang akhirnya keluar.

Ibu Bella mengelus punggungnya pelan. “Sudah… sudah… tenang dulu…”

Namun Bella justru semakin erat memeluk.

“Bu… sakit…” ucapnya lirih di sela tangis.

Hati ibu Bella langsung teriris.

“Ada apa? Cerita sama ibu…”

Bella menggeleng, tapi tetap menangis.

Beberapa menit berlalu…

hingga akhirnya tangis itu sedikit mereda.

Ibu Bella menarik wajah anaknya, menghapus air matanya.

“Sekarang bilang… apa yang terjadi?”

Bella menunduk.

Tangannya gemetar saat mengambil ponsel dari tasnya.

Ia membuka foto itu.

Lalu menunjukkan ke ibunya.

Ibu Bella melihatnya.

Wajahnya berubah.

“Ini…” gumamnya pelan.

Bella langsung menangis lagi. “Dia bilang kerja, Bu… tapi malah sama perempuan lain…”

Suaranya pecah.

“Dia bohongin aku…”

Ibu Bella menatap foto itu lebih lama.

Lalu menghela napas pelan.

Ia kembali memeluk Bella.

“Dengar ibu…”

Bella hanya diam, menangis di pelukan itu.

“Belum tentu semua yang kamu lihat itu benar.”

Bella langsung menggeleng. “Tapi fotonya jelas, Bu…”

Ibu Bella mengusap rambutnya. “Foto bisa menipu, Nak…”

Bella terdiam.

“Ibu nggak bilang kamu salah… tapi jangan langsung ambil keputusan saat hati kamu lagi hancur begini.”

Bella menggenggam baju ibunya erat. “Aku nggak kuat, Bu…”

“Ibu tahu…”

Ibu Bella menahan air matanya sendiri.

“Kalau memang ini salah paham… Yoga pasti cari kamu.”

Bella diam.

Kalimat itu masuk ke dalam hatinya.

“Orang yang benar-benar sayang… nggak akan diam,” lanjut ibunya pelan.

Bella mengangkat wajahnya sedikit. “Kalau dia nggak datang?”

Pertanyaan itu… penuh ketakutan.

Ibu Bella tersenyum tipis, meski matanya berkaca-kaca.

“Kalau dia nggak datang… berarti kamu memang harus belajar melepaskan.”

Bella kembali menunduk.

Air matanya jatuh lagi.

Namun kali ini… lebih tenang.

Lebih dalam.

Ia kembali memeluk ibunya.

“Ibu di sini,” bisik ibunya.

Bella memejamkan mata.

Di pelukan itu…

ia mencoba menguatkan diri.

Tanpa ia tahu—

di waktu yang sama…

seseorang yang ia tunggu…

sedang berjuang keras…

bahkan hanya untuk membuka mata.

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!