NovelToon NovelToon
Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.

Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.

Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.

Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.

Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.

Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."

Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.

Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.

Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.

Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:

"Aku mau pergi utuh."

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: KULIT KAKI MULAI MENEBAL DAN PECAH

 

Usia dua belas tahun. Bukan anak kecil lagi. Tapi juga bukan dewasa. Di tengah. Di tempat yang tidak punya tempat.

Mahesa duduk di beranda. Memandangi kaki kanan yang terbaring di bangku kayu. Bukan lagi hanya bengkak. Bukan lagi hanya besar. Lebih dari itu sekarang. Lebih buruk. Lebih menghancurkan.

Kulit menebal. Dari tahun-tahun pembengkakan. Dari tekanan yang terus-menerus. Dari cacing filaria yang menghancurkan sistem limfatik dari dalam. Mengeras. Seperti kulit kayu. Seperti kulit gajah. Seperti nama yang selalu dipanggil—kaki gajah. Sekarang benar-benar jadi.

Berkerut. Tidak lagi halus. Tidak lagi normal. Tidak lagi kulit manusia. Garis-garis dalam mengikuti bentuk bengkak, seperti peta topografi di atlas yang pernah ia lihat di sekolah dulu. Dulu, sebelum berhenti.

Gelap. Menggelap. Dari warna normal menjadi kecoklatan. Menjadi kehitaman di beberapa bagian. Menjadi yang salah. Yang asing. Yang menakutkan bahkan untuk dilihat sendiri.

Pecah-pecah. Di bagian bawah. Di tumit. Di tempat yang menahan beban setiap kali ia berjalan. Di tempat yang paling terluka. Retak-retak dalam, seperti tanah kering di musim kemarau. Dalam. Berwarna kemerahan di dasar.

Gatal luar biasa. Dari dalam. Dari kulit yang meregang. Dari kulit yang mati. Dari yang tidak bisa dijangkau. Gatal yang membuat ingin merobek kulit sendiri. Gatal yang tidak bisa dijelaskan pada orang yang tidak pernah merasakan.

Tapi tidak bisa digaruk. Terlalu tebal. Terlalu kasar. Terlalu keras. Kuku tidak mempan. Hanya membuat permukaan tergores tanpa meredakan.

 

Mahesa bergeser. Dari beranda ke dalam rumah. Waktu sudah malam. Kakek tidur di kamar. Suara napasnya berat, kadang terputus batuk-batuk kecil.

Mahesa duduk di lantai kamarnya. Sendiri. Gelap. Hanya cahaya bulan dari jendela kecil.

Kaki kanan digosok ke tembok. Tembok kasar dari semen. Tidak halus. Tidak nyaman. Tapi bisa. Bisa menggantikan kuku. Bisa menggantikan jari. Bisa menggaruk.

Keras. Berlawanan arah. Membuat kulit yang sudah mati terkikis sedikit. Lega. Sangat lega. Untuk beberapa detik.

Tapi terlalu keras. Kulit pecah. Yang sudah mengeras. Yang sudah menebal. Pecah. Terbuka.

Darah. Merah segar. Muncul dari celah-celah. Mengalir pelan. Di tengah kulit gelap. Di tengah kulit mati. Di tengah segalanya.

Mahesa berhenti. Napas tersengal. Melihat darah. Tapi lega. Gatal berkurang. Sementara. Hingga besok. Hingga luka mengering dan gatal datang lagi.

Ia ambil kain bekas. Membalut. Sederhana. Seperti biasa. Seperti selalu.

 

Pagi. Mahesa lupa menyembunyikan. Atau mungkin sudah tidak peduli. Bangun dengan balutan baru di kaki. Yang basah oleh darah dan cairan bening.

Kakek sudah bangun. Duduk di kursi dapur. Melihat Mahesa keluar dari kamar. Melihat balutan itu. Melihat cara Mahesa berjalan—lebih pincang dari biasanya.

"Mahesa," panggil kakek. Suara berat. "Kesini."

Mahesa mendekat. Berdiri di depan kakek.

Kakek menunjuk bangku di depannya. "Duduk. Buka balutannya."

Mahesa ragu. Tapi menurut. Duduk. Membuka balutan perlahan.

Kaki kanan terlihat. Kulit yang mengeras. Retak-retak yang dalam. Dan luka baru di beberapa tempat. Bekas gesekan dengan tembok. Darah masih membasahi.

Kakek melihat. Lama. Tidak berkata apa-apa. Tapi matanya... matanya berkaca-kaca.

Lalu kakek menangis. Tangis yang tidak biasa. Bukan isak kecil. Bukan air mata yang ditahan. Tapi tangis yang keluar. Tangis yang hancur. Tangis yang sudah lama dipendam.

"Maafkan kakek," kakek berkata. Suara tersedak. Pecah. "Maafkan kakek. Kakek tidak bisa kasih obat. Kakek tidak bisa sembuhkan. Kakek... gagal."

Mahesa terpaku. Melihat kakek menangis. Orang tua yang selama ini menjadi batu. Yang selalu kuat. Yang selalu tersenyum. Sekarang hancur di depannya.

Bukan salah kakek. Bukan kakek yang membuat kaki begini. Bukan kakek yang membuat cacing berpesta di dalam tubuhnya. Bukan kakek yang salah.

Tapi kakek minta maaf. Kakek menangis. Kakek merasa gagal.

Mahesa berlutut di depan kakek. Memegang tangannya yang keriput. Tangan yang sudah bekerja keras. Yang sudah menjual sawah. Yang sudah tidak tidur demi menjaganya.

"Kek," Mahesa berkata. Suara bergetar. "Jangan nangis. Bukan salah Kakek. Ini bukan salah siapa-siapa."

Tapi kakek terus menangis. Bahunya bergetar. Air mata jatuh di pipi keriput.

Mahesa memeluknya. Memeluk kakek yang rapuh. Yang selama ini menjadi tempatnya bersandar. Sekarang bersandar padanya.

"Kek, aku kuat," bisik Mahesa. "Aku bisa. Asal Kakek tetap ada."

Kakek membalas pelukan. Tubuh tua itu menggigil.

Mereka berdua. Di dapur. Di pagi yang sunyi. Berpelukan. Menangis. Saling menguatkan.

 

Sore. Kakek sudah lebih tenang. Duduk di beranda. Mahesa di sampingnya di lantai.

"Mahesa," kata kakek. Suara serak. "Tadi malam... kamu gosok kaki ke tembok?"

Mahesa diam. Tidak bisa bohong.

"Kakek dengar," kakek melanjutkan. "Dari kamar. Kakek tahu."

Maaf, Kek," bisik Mahesa. "Tapi gatalnya..."

"Aku tahu." Kakek memotong. "Kakek tahu gatalnya. Tapi jangan sembunyi-sembunyi. Jangan sendirian. Kalau gatal, bangunkan kakek. Kita cari cara lain."

"Cara lain apa, Kek? Obat tidak ada. Uang tidak ada."

Kakek diam. Lalu berkata, "Kita coba ramuan nenek. Dari buku itu. Yang untuk gatal-gatal. Mungkin bisa."

Buku nenek. Catatan tanaman obat. Yang selama ini hanya menjadi bacaan. Belum pernah dicoba.

Malam itu, mereka membaca buku bersama. Di bawah lampu minyak. Kakek membaca. Mahesa mendengar.

"Daun sirih," kata kakek. "Untuk gatal. Tumbuk, tempelkan."

Besok pagi, kakek pergi cari daun sirih. Di kebun tetangga. Minta sedikit. Pulang dengan daun hijau di tangan.

Mahesa menumbuk. Kakek mengajari. Lalu menempelkan di kaki. Di kulit yang tebal dan pecah-pecah.

Dingin. Segar. Gatal berkurang. Tidak hilang. Tapi berkurang.

"Lega, Kek," kata Mahesa. Tersenyum. Pertama kali hari itu.

Kakek tersenyum balik. "Syukurlah."

 

Minggu-minggu berikutnya, mereka rutin pakai daun sirih. Juga daun lain dari buku nenek. Untuk luka. Untuk gatal. Untuk mencegah infeksi.

Tidak sembuh. Tidak akan pernah sembuh. Tapi gatal berkurang. Luka lebih cepat kering. Infeksi tidak datang.

Mahesa belajar meracik sendiri. Kakek hanya mengawasi. Tangan tua itu semakin lemah. Semakin sering batuk. Tapi matanya masih bisa melihat. Mulutnya masih bisa mengajari.

Suatu malam, kakek berkata, "Kakek bangga sama kamu."

Mahesa menoleh. "Kenapa, Kek?"

"Kamu tidak menyerah. Kamu belajar. Kamu kuat. Seperti ayahmu."

Mahesa diam. Memikirkan ayah. Yang pergi terlalu cepat. Yang bekerja keras sampai mati.

"Aku hanya ingin Kakek tetap ada," katanya pelan.

Kakek tersenyum. "Kakek akan ada selama bisa. Tapi kalau nanti kakek pergi, kamu harus terus. Jangan berhenti."

Mahesa mengangguk. Tapi dalam hati, ia takut. Takut membayangkan tanpa kakek.

 

Malam semakin larut. Kakek tidur di kamar. Mahesa di tikarnya.

Kaki masih gatal. Tapi tidak separah dulu. Ramuan nenek bekerja.

Ia memegang buku nenek di tangan. Membaca resep-resep. Belajar. Menghafal.

Besok, ia harus cari daun lagi. Mungkin ke hutan kecil di belakang kampung. Kakek tidak bisa lagi. Sudah terlalu lemah. Sekarang gilirannya.

Kaki kanan digosok pelan ke lantai. Hanya pelan. Tidak perlu tembok lagi. Ramuan cukup membantu.

Ia memejamkan mata. Membayangkan besok. Jalan ke hutan. Cari daun. Kembali. Meracik. Untuk kakek. Untuk dirinya.

Hidup sederhana. Tapi ada tujuan. Ada yang bisa dilakukan.

Kaki masih besar. Masih tebal. Masih pecah-pecah. Tapi malam ini, gatal reda. Luka mulai mengering.

Dan yang paling penting, ada kakek di kamar sebelah. Ada yang peduli. Ada yang bersama.

Itu cukup. Untuk malam ini. Untuk kulit yang menebal. Untuk luka yang mengering. Untuk semua rasa sakit.

Itu cukup.

Karena ia tidak sendiri. Karena ada yang mengajari. Karena ada yang bangga padanya.

Malam ini, itu cukup.

 

1
sandra
novel yg luar biasa kk😍 sangat menyentuh cerita nya
di tunggu up nya kk.. semangat
Ayaelsa: terima kasih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!