"Akan ku gunakan kekuatanku untuk melindungi orang-orang. Meskipun aku harus meminjam kekuatan dari iblis sekalipun."
Bercerita tentang seorang yang menjalani reinkarnasi disebuah dunia fantasi dimana sihir, legenda, dan mahluk mitologi adalah sebuah hal yang biasa ditemui sehari-hari.
Dengan harapan menjalani kehidupan yang aman dan nyaman, ia menjalani hari sebagai pahlawan tanpa tanding, seseorang yang "tak terkalahkan".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Atmareja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6 Reinkarnasi | Sihir | Upacara
#6 Reinkarnasi | Sihir | Upacara
Hari berganti dan tahun berlalu, hari ini usiaku telah menginjak 10 tahun. Di dunia ini, ini adalah saatnya bagi kami untuk menjalani upacara pemberkatan. Pada usia ini kami mulai menapaki jalan kehidupan kami, seperti anak burung yang untuk pertama kalinya keluar dari sarangnya untuk melakukan penerbangan perdana. Begitulah yang terjadi.
Setelah melewati beberapa bulan berlatih, sekarang aku dapat mengatakan aku siap menghadapi pertarungan dengan apapun didunia ini. Beberapa penyesuain pin dilakukan, seperti pemanggilan sena,asisten virtual ku yang sebelumnya harus menyebut namanya, sekarang cukup dengan menjentikan jari ku maka secara otomatis dia akan merespon.
Dan Setelah mengetahui kekuatanku pada waktu itu, Windy sepertinya menyerah untuk menjadi seorang yang lebih kuat dan lebih memilih untuk mempelajari pekerjaan rumahan. Dengan ekspresi percaya diri dia pernah berkata padaku "aku akan belajar supaya siap untuk menjadi istri yang baik untuk mu". Sebuah ucapan yang waktu itu aku anggap hanya sebagai lelucon belaka, namun nampaknya dia benar-benar serius dengan itu.
Sekarang penampilannya telah berubah, dia sekarang lebih terlihat seperti gadis manis rumahan yang ramah dan baik hati.
**********************************************************
Jalanan desa mendadak riuh ramai dengan hiruk pikuk orang-orang yang mengantarkan anak-anak mereka menuju kuil. Beberapa orangtua yang mengantarkan anak-anak mereka terlihat sangat bahagia. Begitupun dengan orangtua ku.
Ayahku yang melankolis terus saja merengek kepada ibuku, dia masih menutupi matanya sambil terisak. Sementara ibuku hanya tersenyum manis seperti biasa. Sungguh pemandangan yang aneh.
"Heeyyy alfred, sudahlah. Kenapa kau menangis. Putramu adalah laki-laki terkuat di desa. Dia akan baik-baik saja."
Seorang laki-laki tiba-tiba menepuk bahu ayahku dari belakang sambil mencoba menenangkannya. Dia adalah paman Owen, ayahnya Windy. Bersama dengan ibunya,bibi Linda, windy dengan tenang berjalan di belakang.
"Hikkss hikss hikks,,,."
Ayahku tidak bergeming dengan perkataan paman Owen.
"Aahhh, dasar."
Paman Owen terlihat menarik nafas dan menggelengkan kepala.
"Selamat pagi Owen, linda juga Windy sayang."
Seperti biasa ibuku yang cantik menunjukan keceriaannya lagi.
"Selamat pagi Carisa, sepertinya kau sedikit kesulitan?."
Bibi Linda menjawab dengan sedikit pertanyaan.
"Begitulah."
"Windy,,, selamat pagi"
Aku memutuskan menyapanya terlebih dahulu. Karena Windy yang ku kenal sekarang bukan lah dia yang dulu yang mana akan tiba-tiba menyerangku dengan senyum di wajahnya Windy yang sekarang terlihat malu-malu dan menahan diri. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi jujur saja aku merindukan dia yang dulu.
"Selamat pagi Leon."
Dia juga memanggilku dengan nama Leon, entah kenapa aku merasa sedikit tidak suka.
"Kau terlihat cantik Windy."
Aku sedikit memujinya untuk mencairkan suasana. Mendengar itu wajahnya memerah. Dan dengan suara yang rendah dia menjawab dengan terima kasih.
"Terimakasih."
"Araa,, Milo ternyata sangat romantis."
Ibuku langsung bereaksi, yang jelas membuatku malu. Dasar.
"Mereka terlihat sangat serasi."
Bibi Linda menambah kehancuranku. Wajahku semakin memerah, begitu juga dengan Windy.
"Hahaha,,, betul-betul. Aku tidak sabar melihat mereka menjadi pengantin."
Sebuah tusukan kembali menyerangku, kali ini dari paman owen. Windy menundukan wajahnya yang semakin memerah.
"Menikah? Milo menikah? Uaahhhh."
Ayahku yang mendengar itu kembali meraung. Entah apa yang dipikirkan ayahku, sangat menyebalkan.
Dilain pihak tiga orang lainnya tertawa bersamaan.
**********************************************************
Akhirnya kami pun sampai di depan kuil. Disana sudah berkumpul banyak orang. Bangunan yang tampak seperti gereja di dunia asalku ini sedikit membuatku nostalgia.
Beberapa teman ayahku menyambut kami. Kata-kata seperti "windy terlihat mania hari ini" atau "Milo kau tampak seperti keluarga Leon sungguhan" menyambut ku dan Windy. Aku tidak keberatan dengan itu, mereka adalah warga desaku, orang-orang baik dan ramah.
Lonceng kuil berdentang, sebuah tanda bahwa upacara akan segera dimulai. Para orangtua beserta anak-anaknya mulai memadati ruangan kuil.
Mataku menjelajahi seisi kuil. Kulihat beberapa orang yang kukenal.
Suara berisik terdengar di setiap sudut kuil, sementara beberapa menunjukan wajah gugup mereka.
Tak lama menunggu, sebuah suara dari penjaga kuil dengan lantang menyambut kedatangan imam besar kuil.
"Imam besar segera memasuki altar."
Tiba-tiba saja segala riuh rendah menjadi sebuah kesunyian. Aku terkejut dengan apa yang terjadi.
Segera para orangtua melakukan pose berlutut. Diikuti dengan kami para anak-anak.
Suara langkah kaki terdengar berjalan dari pintu sebelah kanan altar. Aku sedikit mengangkat kepala karena ingin mengetahui apa yang terjadi.
Dari sana, sesosok wanita muda pertengahan dua puluhan memakai gaun warna putih dengan memegang tongkat yang dihiasi permata warna biru di atasnya melenggang dengan penuh pesona.
Setelah menghadap ke arah kami dia pun memberikan perintah kepada kami.
"Angkat lah kepada kalian, aku tak pantas menerima penghormatan ini!"
Sebuah kata-kata yang cukup berat menurutku.
Kami pun melakukan apa yang diminta.
Beberapa orang mulai berbisik 'nona Cordelia terlihat sangat cantik.' 'yang mulia nona Cordelia'. Kata seperti itu mulai kudengar.
Sebelumnya aku memang tidak mengetahui siapa dirinya. Menurut cerita dari ibuku, imam besar datang dari ibu kota khusus untuk upacara pemberkatan hari ini. Dan setiap tahun dialah yang ditugaskan untuk datang ke desa ini.
"Yang mulia, sudah saatnya." Pria yang ada di sampingnya mengingatkan.
"Baiklah. Mari Kita mulai upacaranya!"
Kemudian dia kembali menghadap altar dan bersujud di depannya. Segera setelah beliau melakukan hal tersebut, para peserta mulai menirukan apa yang dilakukannya.
Kemudian dia berdiri dan kembali memerintahkan kami mengangkat kepala. Setelah itu dia menggerakkan tangannya dan mengucapkan mantra sihir yang tak ku mengerti bahasanya.
Kemudian sebuah lingkaran sihir muncul di hadapannya dan mengangkat lantai keatas sebatas perut. Kemudian dia mengambil sebuah benda dari atas altar. Benda tersebut adalah bola kristal berwarna hitam sebesar bola basket.
Sesaat aku teringat dengan anime dari dunia asal ku tentang mengumpulkan tujuh bola naga. Aahhh sebuah nostalgia.
Setelah selesai mengucapkan mantra, bolanya bersinar menjadi warna ungu yang terus memancarkan sinar keunguan disekitarnya.
Sebuah keriuhan tiba-tiba muncul, para peserta upacara mengeluarkan suara decak kagum. Tampaknya ini adalah hal baik bagi kami.
Kemudian dia berbalik dan memberi tanda kepada asisten nya kemudian duduk di kursi di samping altar. Sang asisten kemudian maju ke hadapan bola tersebut kemudian berkata. "Baiklah,, kita mulai dengan anak yang pertama.
Satu demi satu nama anak-anak akan dipanggil sebagaimana yang tertulis di buku yang ia pegang.
"Rollan Edward. Majulah!" Anak Pertama dipanggil dan dengan gugup menjawab panggilannya.
Sang anak memegang bola tersebut kemudian bola tersebut mengeluarkan sinar. Setelah itu dia melepaskannya kembali.
Seperti bias, suara decak kagum terdengar di sana sini.
Di tempat lain sang imam besar memegang sebuah buku, ketika sang anak memegang bola tadi, buku tersebut terbuka dan mengeluarkan sinar yang sama. Kemudian sebuah lembaran kertas yang digulung dengan pita keemasan muncul di atasnya. Ia lalu mengambilnya kemudian menyerahkan kepada salah satu asistennya yang lain. Sang asisten kemudian menyerahkan gulungan tersebut kepada anak yang di panggil.
Rupanya, bola tersebut memiliki semacam mekanisme pembacaan status kemudian mentransfer hasilnya ke buku yang dipegang sang imam. Hal ini mirip dengan dunia asalku. File yang diunduh kemudian di cetak lewat mesin pencetak. Kemudian kertas keluar dari mesin pencetak dan menunjukan apa yang kita unduh tadi.
Nama demi nama berlalu, termasuk juga Windy. Setelah menerima gulungan nya, dia terlihat senang.
Tiba saatnya giliranku. Namaku dipanggil terakhir.
Aku maju dan melakukan apa yang sudah orang lain lakukan sebelumnya.
Aku memegang bolanya. Namun tidak terjadi apa-apa. Sang asisten terkejut dan melirik kepada sang imam. Aang imam yang sama terkejutnya kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Anak muda, siapa namamu?"
"Aku Milo Leon."
"Heemmmppp,, apakah kau dari keluarga leon yang itu?"
Aku mengerti maksudnya dan segera menganggukkan kepalaku.
"Begitu."
"Yang mulia, hal ini tak pernah terjadi sebelumnya. Apa yang harus kita lakukan?"
Sang asisten terlihat khawatir dengan keadaan ini.
"Kita ulang. Kali ini aku sendiri yang akan mengawasi. Kau taruh buku itu disini."
Setelah perintah itu, sang asisten mengambil buku tersebut dan menyimpannya di dekat bola warna ungu.
Sementara wajah keluargaku dan juga windy tampak khawatir dan juga bingung, mereka saling melirik satu sama lain tanpa berkata apa-apa.
Kemudian atas perintahnya aku kembali memegang bola tersebut dan dan hal yang sama terjadi lagi,bola nya tidak menunjukan reaksi apa-apa.
Dia mengulanginya lagi, membaca mantra dan menyuruhku menyentuh bolanya. Dan hal yang sama masih terjadi.
Terlihat rona wajahnya berubah. Nampaknya ia berpikir keras untuk menyelesaikan hal ini.
Aku yang juga mengalami kebingungan tiba-tiba teringat akan Sena, kemudian aku menjentikan jariku pelan-pelan agar tidak di lihat oleh orang lain.
"Tuan memanggil saya?"
Suara Seorang perempuan pertengahan dua puluhan bergema di kepalaku. Ya,itu adalah suara Sena, asisten virtual ku.
"Apakah kau tahu apa yang terjadi?"
"Saya tidak bisa menjawab dengan pasti tuan."
"Lantas?"
"Sepertinya bola itu tidak sanggup mendeteksi status tuan karena status tuan terlalu tinggi."
"Jadi begitu. Apakah ada yang bisa kita lakukan?"
Masih dalam pikiranku, aku berbicara dengan Sena.
Sebelum sempat aku mendapat jawaban. Sang imam besar tampaknya sudah menyerah.
"Maafkan saya, anda sepertinya tidak memiliki bakat sihir, bahkan lebih buruknya anda tidak memiliki aliran sihir sama sekali."
Dia mengambil keputusan.
"Salah!!! Milo sangat kuat. Dia memiliki sihir yang sangat hebat, dia penyihir hebat!"
Tiba-tiba dari belakang punggungku suara seorang gadis yang sudah tak asing lagi di telingaku mengejutkan kami semua.
"Windy!!!"
Paman Owen mencegah windy.
"Maafkan ketidak sopanan akan kami yang mulia."
Paman owen mengambil belakang kepala windi dan mendorong nya ke bawah, begitu juga dirinya, menunjukan permintaan maaf.
"Apakah kau punya buktinya wahai gadis cilik?"
Sang imam bertanya pada windy.
"Anuu,,,."
Windy nampak kebingungan, kemudian menggelengkan kepalanya.
Sang imam berganti menatap kepadaku.
"Apakah kau bisa menggunakan sihir anak muda?"
Sejenak aku termenung, aku tak tahu harus menjawab apa.
"Ya aku bisa."
Aku menjawab dengan tegas. Aku tak mau memberikan jawaban sebaliknya karena akan membuat windy seperti seorang pembohong di hadapan semua orang.
Bagi yg suka novel fantasi & romance mampir yuk,,,,
“That Time One Summoned Class In The Another World”
PREMIS:
Mengenai dunia paralel. Mc dibenci oleh Heroine, tapi si Heroine lama-kelamaan suka sama Mc. ]