-TAMAT-
Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.
Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.
Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.
Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 6 - Pencarian Gadis Bertirai
Sesampainya di pelataran Masjid dekat rumah Ilham, Ilham dan Gus Faizpun turun dari motor. Gus Faiz meletakkan helm lalu pergi bergegas mencari gadis yang ditemuinya di mal tadi. Pikirannya hanya satu, dia harus menemukan Gadis Tirai itu.
“Lo nyariin siapa si, Is, sebenernya?” tanya Ilham.
“Saya mencari seorang gadis. Dia masih SMP tapi saya tidak tahu dia kelas berapa.” kata Gus Faiz.
“Mukanya kayak gimana?” tanya Ilham.
“Saya tidak tahu. Saya belum pernah melihat wajahnya.” kata Gus Faiz.
“Bener-bener ya lo. Kalo belum liat mukanya gimana caranya lo bisa tahu kalau itu gadis dan masih SMP?” tanya Ilham frustasi.
Ponsel Ilham bordering, Ilham buru-buru mengambil ponselnya.
Melihat nama Akbar di layar ponsel. Membuat dia buru-buru mengangkat.
“Sini, lo. Gue ama Faiz di Masjid deket rumah gue.” seru Ilham, lalu langsung mematikan sambungan telepon.
Gus Faiz tidak mengacuhkan Ilham yang terus menatapnya frustasi.
“Balik aja yuk ke rumah gue, Is.” ajak Ilham.
“Tidak mau, saya mau mencari gadis itu.” kata Gus Faiz.
“Is, kalo kejar-kejaran gini bagusnya di anime bukan di dunia nyata.” kata Ilham.
“Ke mana dia pergi ya?” tanya Gus Faiz.
Pertanyaan ini lebih tertuju pada dirinya sendiri. Dia mengabaikan kata-kata Ilham.
“Istighfar pele. Istighfar!” kata Ilham.
Mendengar kata-kata Ilham membuat Gus Faiz tersadar. “Astaghfirullah al azim.” katanya seraya mengusap wajahnya.
Melihat Gus Faiz yang begitu peduli terhadap gadis yang ntah ada atau tidak ada itu, membuat Ilham semakin yakin kalau Nindy bisa bahagia dan aman bila bersama Gus Faiz. Gus Faiz sangat bertanggung jawab.
“Ya Allah, apa yang sedang saya lakukan? Saya seperti bukan saya.” kata Gus Faiz.
“Lo suka sama cewek itu, Is?” tanya Ilham.
“Dia gadis pertama yang berani menyentuh pipi saya. Ah, tidak. Maksud saya, saya tidak suka. Hanya saja saya merasa tidak tega kalau dia harus mencari-cari saya.” kata Gus Faiz.
“Maksudnya gimana si? Gue belum paham.” kata Ilham
“Tadi ada seorang gadis menabrak saya sampai ponsel saya rusak. Lalu, di konter tadi saya melihat dia sedang mencari ponsel yang sama dengan ponsel saya, dia berniat mengembalikan ponsel itu.” kata Gus Faiz. “Saya harus menemukan dia secepatnya, karena sore ini saya harus kembali ke pesantren.” lanjut Gus Faiz.
“Kenapa lo tadi gak bilang aja langsung, Malih?” Akbar tiba di antara mereka.
“Saya tidak bisa menyelak pembicaraan dia dengan pelayan toko tadi.” kata Gus Faiz.
“Yaudah makan dulu dah yok, ke rumah gue.” kata Ilham.
“Tapi, bagaimana kalau gadis itu ke sini dan tidak ada saya?” tanya Gus Faiz.
“Duuuh, nih, gue bilangin ya, tuh cewek gak bakalan cepet ke sini kali, kata lo dia lagi cari hape yang sama persis sama hape lo di mal, jadi dia pasti masih buruh waktu lagi ke sini.” kata Ilham.
Gus Faiz pun menurut. Mereka bertiga pun menuju rumah Ilham. Melihat putra dan kedua temannya datang, Yeni langsung menyuruh mereka ke meja makan. Yeni dengan cekatan mengeluarkan makanan dan di bantu Linda.
Tentu saja, Linda hanya caper (cari perhatian) pada Gus Faiz. Sesuatu yang sangat sia-sia.
“Ini, Gus.” kata Linda.
Akbar yang mendengar Linda memanggil Gus Faiz dengan sebutan Gus merasa bingung.
“Gus?” tanya Akbar.
“Faiz anak Kyai ternyata, Bar. Kan kalo anak Kyai di panggilnya, Gus.” kata Ilham.
“Lha, demi apa lo anak Kyai Is?” tanya Akbar.
“Untuk apa saya bohong?” tanya Gus Faiz.
Linda terus memandangi Gus Faiz. Dalam hati dia sangat bahagia bisa melihat wajah Gus Faiz. Sikap Faiz yang sopan, dingin, dan kaku seakan memiliki pesona sendiri untuk dirinya.
Kini Gus Faiz, Ilham, Akbar, Yeni, dan Linda, makan bersama.
“Nak Faiz?” panggil Yeni.
“Iya, Tante?” tanya Gus Faiz.
“Minggu besok kamu mau kan antarkan kami ke Pesantren Abah kamu?” tanya Yeni.
“Baik, Tan.” kata Gus Faiz.
Selesai makan, Gus Faiz pamit untuk kembali ke Masjid, menunggu Azan Asar. Diapun sekalian pamit untuk kembali ke pondok pada Yeni.
Singkat cerita setelah berpamitan hingga salam, Gus Faiz, Ilham, dan Akbar kembali ke Masjid.
“Sumpah, kok gue mau aja ngikutin lo ya, Is? Hahaha.” kata Ilham.
“Iya ege. Bisa gitu ya?” kata Akbar.
“Coba sesekali gunakanlah kata-kata yang baik.” kata Gus Faiz.
“Elu si.” kata Ilham langsung menoyor kepala Akbar.
Merasa tak terima, Akbar memiting Ilham.
“Heh, susah-sudah.” kata Gus Faiz. Gus Faiz berusaha melerai mereka berdua.
Mendengar kalimat Gus Faiz, mau tak mau Akbar melepaskan Ilham, lalu mereka berdua saling berpandangan llau tertawa terbahak-bahak.
“Saudara Muhammad Ilham Ramadhan, apakah anda mendengar apa yang di katakan oleh saudara Faiz?” tanya Akbar.
“Ya betul, rekan kerja. Saya denger apa yang dikatakan saudara Faiz?” kata Ilham.
“Dengar bodoh, dengar. Bukan denger!” kata Akbar. “Astaga rekan kerja.” kata Akbar, tangannya menoyor Ilham.
Ilham dan Akbarpun saling toyor-menoyor. Melihat kelakuan kedua tamannya, mau tak mau Gus Faiz tersenyum.
Meski ketika sahabat ini berbeda latar belakang namun, persahabatan mereka sangat tulus. Akbar dan Ilham banyak belajar kebaikan dari Gus Faiz dan Gus Faiz banyak belajar mengenai sesuatu yang tidak diajarkan di pesantren pada teman-temannya ini.
Ilham apalagi Akbar memang tidak bisa dikatakan sealim Gus Faiz, namun mereka bisa menempatkan diri. Mereka tidak pernah menjerumuskan Gus Faiz pada hal-hal nakal yang sering dilakukan mereka di luar.
“Eh, hape lo mana, Is?” tanya Akbar.
Gue Faiz pun mengambil ponselnya di jok motor. Lalu kembali dan menyerahkan ponsel itu kepada Akbar.
“Wih, bisa juga lo milih hape, Is. Speknya mantul.” kata Akbar.
“Coba gue liat.” kata Ilham.
Ilham mengambil ponsel itu. Membawanya ke serambi Masjid. Mereka bertiga duduk di sana.
“Iya bagus, gak suka ngeblank inimah. Kata temen gue kemaren begitu.” kata Ilham.
Teman yang di maksud Ilham adalah Nindy. Nindy adalah salah satu teman Ilham yang melek ponsel. Melek dalam artian mengetahui persis mengenai banyak ponsel. Walau kadang gaptek.
Gus Faiz hanya tersenyum mendengar teman-temannya memuji ponselnya. Diam-diam dia berterima kasih pada Gadis Tirai itu. Ternyata pertemuan itu cukup berguna juga.
“Kenapa lo, Is senyum-senyum begitu?” tanya Ilham.
“Apa ada peraturannya kalau senyum itu dilarang?” kata Gus Faiz.
“Hahahahaha kicep kan lo.” kata Akbar pada Ilham.
“Siake lo ah.” kata Ilham.
“Wah, Is. Parah, Is, temen lo toxic!” kata Akbar. Sengaja memanas-manasi.
Tujuannya Akbar adalah membuat Gus Faiz memberikan ceramah pada Ilham. Gus Faiz terkekeh sambil menggeleng. Dia benar-benar tak tahu harus berkata apa. Gus Faiz tahu kedua temannya sedang bercanda.