NovelToon NovelToon
Mengandung Benih CEO Playboy

Mengandung Benih CEO Playboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cintapertama / Selingkuh
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aryani Ningrum

Demi untuk membalas budi pada seorang kakek yang menyelamatkan hidupnya, Viola rela menggantikan cucu si kakek yang masih belia untuk menjadi wanita penebus hutang- melayani lelaki yang membayarnya dengan harga yang tidak murah.

Tidak disangka Raja -CEO Playboy yang suka gonta-ganti wanita jatuh cinta pada wanita yang melayaninya malam itu.

Apakah Raja akan berhasil hidup bersama dengan wanita yang sudah mencuri hatinya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6

Raut wajah Raja seketika cerah kembali, harapan yang hampir pupus, kini kembali tumbuh lagi. Wajah para pegawai yang semula tegang pun kembali rileks melihat senyum di wajah Raja.

"Bagus, Satpam. Kau pantas dapat bonus 50 % gajian nanti." Semua mata pegawai melotot iri pada si satpam secara hanya memberi informasi seperti itu saja bisa mendapat bonus saat gajian nanti.

"Tapi ingat, jika wanita itu datang nanti kau harus mengantarnya ke ruang kerjaku! Apa kau paham?" Raja kembali bersuara sebelum ia pergi dari tempat itu dengan sesuka hatinya.

"Siap, Tuan. Saya tidak akan mengecewakan anda," sahut si satpam yang tersenyum sumringah karena akan mendapat bonus dari majikannya itu. Beberapa karyawan menatap iri pada si satpam. Hari ini si satpam ketiban Rizki nomplok, sebab hanya memberi tahu informasi tentang seorang wanita saja ia dapat bonus sampai lima puluh persen, sedangkan mereka untuk bisa mendapatkan bonus sebesar itu harus lembur beberapa hari agar target tercapai.

"Kenapa kalian melihatku seperti itu? Kalian iri ya? Makanya berangkat pagi biar dapet Rizki nomplok!" Si satpam dengan angkuhnya berjalan melewati semua pegawai yang menatap dirinya dengan tatapan rasa ingin menjitak tuh orang songong.

"Baru dapat bonus segitu saja sombong, Dasar Satpam!" celetuk salah satu pegawai yang bekerja di bagian marketing. Wanita cantik yang menaruh hati pada sang bos. Namun, ia tidak punya kesempatan untuk bisa mendekati Raja.

"Bodoh amat, daripada you yang sok cantik kecentilan tapi tidak pernah dilirik oleh tuan Raja!" ketus si Satpam mengejek wanita itu.

"Apa kau bilang?! Awas saja jika aku jadi istri tuan Raja orang yang pertama kali aku pecat adalah kamu, Satpam?!" sahut wanita itu penuh emosi.

Si satpam tidak menanggapi ia mengendikkan bahunya sambil berlalu begitu saja dari wanita itu.

"Sudahlah, Rosa. Jangan menanggapi satpam gak laku itu! Sebaiknya kita kembali bekerja. Kita harus kejar bonus bulan ini.

Seorang wanita yang merupakan teman si Rosa menarik tangan Rosa untuk kembali ke ruangan mereka.

Sementara itu Raja duduk di kursi kerjanya dengan tatapan kosong menatap layar monitor. Saat ini pikirannya kembali pada kejadian malam itu. Malam yang menurutnya paling indah di antara malam-malam sebelumnya.

Tuk ....

Tuk ....

"Tuan ... Tuan ...?" Tommy mengetuk meja kerja Raja, menyadarkan Raja dari lamunannya.

"Ekhem ... Ada apa Tommy?" tanya Raja melonggarkan dasinya agar bisa bernapas dengan lega sekaligus menutupi kegugupannya karena kepergok Tommy.

"Maaf, Tuan. Nanti siang tuan Lee Yuan dari Jepang akan datang bersama istrinya. Tuan Lee Yuan mengadakan jamuan bagi semua pemilik perusahaan yang akan mengikuti tendernya, tapiiii ...."

Raja mengerutkan kedua alisnya. "Tapi Apa, Tommy?! Jangan berbelit-belit!" Raja paling tidak suka jika Tommy berbicara dengan disertai jeda teka-teki.

"Yang mendapat undangan hanya mereka yang memiliki pasangan, Tuan. Anda belum punya pasangan jadi ... Anda sepertinya akan tereliminasi karena kejomloan akut anda!" Tommy sedikit menyindir tantang status Raja.

Alis tebal Raja bertaut menjadi satu, mata elangnya menatap horor ke arah lelaki tampan kulit sawo matang dengan kacamata bertengger di hidungnya.

"Kalau begitu kau cari wanita yang bisa kau bawa ke perjamuan itu. Sama sekali aku tidak berminat!" Raja memutuskan untuk tidak datang karena dia sendiri belum mau menikah. Trauma pernikahan pertamanya masih terasa sampai saat ini.

Tommy tersenyum kecut, pasalnya dia sendiri juga belum punya pacar ataupun istri. Kedua lelaki itu saling menatap.

"Tapi, Tuan. Ini adalah kesempatan emas untuk perusahaan kita di Jepang nantinya. Jika kita melewatkan kesempatan ini kemungkinan kita akan kalah bersaing dengan mereka yang menang tender!"

Tommy tidak rela jika kesempatan memenangkan tender proyek bersama tuan Lee Yuan dari Jepang terlewat begitu saja. Raja masih terdiam, ia juga merasa sayang sekali jika tender ini lewat begitu saja.

"Kau ada ide bagaimana kita bisa lolos undangan itu tanpa membawa pasangan?" Jemari Raja mengetuk-ngetuk meja, dan mata elangnya yang indah menatap tajam ke arah Tommy. Seakan pria itu tidak memberi celah pada Tommy untuk tetap mengusulkan agar dia membawa pasangan.

Tommy menggelengkan kepalanya, ia sudah mendapat kabar bahwa hanya mereka yang datang dengan pasangannya lah yang diperbolehkan masuk.

Keduanya terdiam lagi, lalu Tommy terlonjak girang karena dia menemukan ide. "Tuan, bagaimana kalau kita menyewa salah satu pegawai wanita di sini untuk menjadi istri anda?" ujar Tommy dengan senyum cerahnya.

Raja memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut dengan ide gila si Tommy. "Apa tidak ada ide gila lain yang kau miliki, Tom?" sahut Rajendra tanpa menatap ke arah Tommy.

"Itu ide terbaik saya, Tuan." Tommy pasrah karena itu adalah ide terakhir yang ia miliki.

"Hmm ...." Rajendra kembali terdiam. "Kira-kira siapa yang kau anggap cocok untuk menemaniku?" Lanjut Raja lagi.

Tommy belum menjawab, pintu ruangan diketuk oleh Rosa-- kepala tim marketing.

Tok ....

Tok ....

Raja dan Tommy saling bertukar pandang. "Masuk!" Tommy mendahului Rajendra.

"Maaf, Tuan. Ini adalah laporan bulanan dari tim marketing. Silakan anda cek dan setujui strategi marketing kami. Semua sudah ada di file, tinggal menunggu persetujuan dari Anda." Rosa berjalan mendekat ke arah meja kerja Raja lalu memberikan file berwarna biru.

"Terima kasih, Nona Rosa." Lagi-lagi Tommy yang berbicara mewakili Raja yang hanya diam menyaksikan.

"Baiklah, saya permisi dahulu, Tuan. Kami tunggu persetujuan dari Anda." Rosa membungkukkan badan memberi hormat lalu memutar badan hendak kembali ke ruangannya.

Setelah Rosa keluar dari ruangan, Tommy memiliki ide lagi.

"Tuan, bagaimana kalau kita meminta nona Rosa untuk menemani anda?" bisik Tommy setelah berjalan mendekat ke arah Raja.

"Apa?! Tidak ... Aku tidak mau dia!"

"Lantas siapa lagi, Tuan? Hanya dia pegawai yang terlihat menonjol baik penampilan dan juga kecerdasannya. Bulan ini ia mendapat promosi untuk naik jabatan karena hasil kerjanya memimpin tim marketing memuaskan. Perusahaan banyak mendapat keuntungan dari strategi marketingnya."

Tommy terus membujuk Raja agar mau menerima tawarannya. Namun Raja terlihat enggan karena ia tidak suka wanita yang terlalu mencolok seperti Rosa.

"Sudahlah, kita bahas lagi nanti. Ada yang harus aku selesaikan!" Raja merasakan pusing kepalanya, ia belum memutuskan akan pergi dengan siapa. Tommy pun pamit kembali ke ruang kerjanya di sebelah ruangan Raja.

***

Mendapati kantor yang ditunjuk oleh Madam Zoya masih belum buka, Vio pun kembali ke kos-kosannya dengan jalan kaki. Vio belum ada uang untuk membeli motor, uang yang akan ia gunakan untuk membayar hutang kemarin tidak bisa ia ambil karena rekening bank Vio sudah dibekukan oleh Boy. Boy sudah menguasai semua harta Vio.

Vio yang sudah sepenuhnya percaya pada. Boy semenjak pacaran hingga menikah kemarin dengan bodohnya menyerahkan surat kuasa pada Boy untuk mengelola semua perusahaan dan juga keuangannya. Memang jika wanita seperti Vio yang suka berpetualang jika sekali jatuh cinta maka akan rela memberikan segalanya pada orang yang ia cintai. Dan hal itulah yang Veo sesali. Ia bukan saja tidak mengindahkan nasehat kedua kakaknya, Vio juga sudah berani keluar dari rumahnya hanya untuk bisa hidup dengan orang yang ia cintai.

Tidak hanya itu saja, Veo juga berani meminta harta warisan pada kedua orang tuanya hanya demi seorang Boy. Untuk itulah Vio tidak berani kembali ke keluarganya. Dengan wajah menahan lelah, Veo melangkah ke kamarnya yang hanya berukuran tiga kali empat itu. Sekat antara kamar satu dengan kamar yang ada di sebelahnya hanya menggunakan triplek saja. Sehingga apapun yang dilakukan dan dikatakan bisa di dengar dari kamar sebelah.

Seperti saat ini, Vio mendengar hal yang mengingatkan dirinya di malam panas itu. " Sssh ... Hah .. Haah ...." Suara wanita tetangga kamarnya terdengar sangat jelas, ia tahu apa pekerjaan temannya itu. Rata- rata yang tinggal di kos itu adalah anak buah Madam Zoya.

"Baby ... Kau sangat memabukkan!" Suara itu terdengar lagi di telinga Vio. Vio menutup telinganya dengan bantal, namun tetap saja terdengar. "Astaga sudah hampir siang mereka masih melakukannya? Dasar gila semuanya!!" geram Vio menahan kesal.

Meskipun Vio kesal tentu saja tidak berpengaruh pada kegiatan percintaan dua orang yang ada di kamar sebelah. Bukannya suara dipelankan, tetangga kamar Vio malah semakin keras saja, karena mereka sedang berada di puncak. Ide usil pun memenuhi benak si Vio, dia melangkah mendekati tembok dari triplek lalu menirukan suara sirine polisi.

"Wiu .. wiu ... wiu ...."

Brak ....

Suara pintu ditendang terdengar dari kamar Vio, Vio tahu pasti lelaki yang sedang menikmati indahnya dunia lari tunggang langgang karena takut digerebek oleh pihak kepolisian.

"Hahaha ... Kapok kalian, Makannya jangan main di waktu orang sibuk bekerja!"

Vio tertawa terpingkal-pingkal. Hari ini rasa lelahnya terbayar dengan hiburan di pagi ini.

"Hmm ... pantas orang rela menghabiskan uangnya hanya untuk kesenangan dunia saja, kenyataannya memang seenak itu." Vio membayangkan malam panasnya bersama Raja.

Sentuhan dan liukan tubuh Rajendra yang membuatnya terbang tinggi, kembali melintas di memori Viola.

"Haish ... Vio, lupakan! Itu hanya kontrak satu malam. Walau niat hati ingin memberi pelajaran pada pria hidung belang pe-dopil, eeh ... Malah termakan sendiri!" gumam Viola merutuki kekhilafannya ikut menikmati permainan Raja.

Lelah berjalan membuat Vio tertidur untuk beberapa menit, hingga ponselnya berdering barulah Vio terbangun.

"Hallo? Vio kamu di mana?!" Suara Boy terdengar menggema di balik sana.

"Astaga ... Aku lupa memblokir lelaki gila ini!" Vio tidak menjawab, ia mematikan panggilan lalu memblokir mantan suaminya itu.

"Hoamm ... Astaga sudah hampir jam makan siang! Aku harus segera ke kantor itu lagi!"

Vio segera bersiap kembali ke kantor perusahaan Raja. Dengan memakai atasan kemeja, celana panjang hitam dan rambut dikucir belakang. Vio melesat pergi ke kantor Raja.

Tiiin ... Tiiin ....

Viola berlari dengan cepat hingga melewati beberapa mobil dan motor.

"Ada apa, Tom?"

"Ada wanita berlarian, Tuan. Bikin macet jalan saja!"

Raja membuka jendela mobilnya. Ia melihat keramaian yang ada. Beberapa pengemudi marah-marah karena hampir menabrak Vio.

"Tom ... Sepertinya aku pernah melihat wanita itu," ucap Raja melihat ke arah wanita yang berlari sambil minta maaf pada pengemudi yang jadi korban kemacetan karena ulahnya.

1
Muna Junaidi
Mareee kita baca💪💪
Anik
aku saflok sama "katakan kau masih gadis atau sudah janda ? " kaya lagunya siapa itu🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!