NovelToon NovelToon
Dipaksa Suami Menerima Istri Siri!

Dipaksa Suami Menerima Istri Siri!

Status: tamat
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Poligami / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: niya_23

Alya, seorang wanita lembut dan setia, tak pernah membayangkan rumah tangganya yang terlihat sempurna harus terguncang oleh kenyataan pahit. Suaminya, Reza, yang selama ini ia percaya dan cintai sepenuh hati, tiba-tiba membawa wanita lain dan memperkenalkannya sebagai istri sirinya. Hancur dan terluka, Alya dipaksa menerima kehadiran orang ketiga dalam hidupnya, meski batinnya menolak keras.

Namun, hidup tak semudah menelan kenyataan
Alya harus menghadapi dilema antara mempertahankan rumah tangganya demi Ibunya atau memperjuangkan harga dirinya yang diinjak-injak. Perlahan, rahasia demi rahasia tentang rahasia istri sirinya mulai terungkap, membuka luka lama dan menguji batas kesabaran Alya. Mampukah cinta bertahan saat kepercayaan telah dikhianati? Ataukah Alya akan menemukan kekuatannya sendiri untuk berdiri dan memilih jalannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niya_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Pagi sekali Alya berdiri di depan cermin sedang mematut penampilannya ia merapikan blazer hitam yang telah lama tergantung di lemarinya. Hari ini adalah langkah besar baginya langkah untuk kembali ke dunia kerja yang pernah ia tinggalkan demi membangun keluarga, tetapi keluarga itu kini runtuh, dan ibunya adalah satu-satunya alasan Alya tetap berdiri tegak.

Setelah mendapat kabar dari Amel bahwa perusahaan lamanya membuka posisi penting, Alya tak pikir panjang ia segera menyiapkan CV dan portofolio lalu segera mengirimkannya ke email perusahaan itu karena Ia butuh banyak untuk biaya fisioterapi, obat, dan perawatan sang Ibu. Tidak ada waktu untuk menunggu Reza berubah. Ia pun tidak ada hutang budi lagi. Sebelum berangkat, untuk pergi wawancara ia mencoba untuk berbicara dulu dengan Reza. Sang suami  masih duduk di ruang makan, menatap ponselnya sambil menyeruput segelas kopi.

“Mas Reza, aku mau bicara sebentar,” ucap Alya tenang, tapi tegas.

Reza menoleh, sedikit heran melihat penampilan Alya yang rapi. “Mau ke mana kamu, Al?”

“Aku mau wawancara kerja, Mas. Di Perusahaan lama kebetulan sedang buka lowongan jadi aku melamar disana. Amel yang kasih info ada lowongan di kantor lama jadi aku putuskan untuk coba daftar dan dan hari ini jadwalku untuk wawancara,” jawab Alya langsung, yang sedang terduduk di seberang Reza.

Reza mengernyit. “Kamu kerja lagi? Terus bagaimana dengan Ibu siapa yang akan mengurusnya?”

“Untuk mengurus Ibu ada Rahma Mas, dan karena pemulihan Ibu butuh biaya besar seperti Fisioterapi, obat, kontrol rutin semuanya butuh uang. Aku nggak bisa hanya mengandalkan tabungan, apalagi uang dari kamu,” ucap Alya sambil menatap mata Reza dalam.

Reza meletakkan cangkir kopinya, lalu mengusap pelipis. “Al, kamu nggak perlu kerja. Aku masih bisa bantu.”

Alya menggeleng pelan. “Kamu sudah punya tanggung jawab lain sekarang, Mas. Aku nggak mau jadi beban. Ini tentang ibuku aku harus berbakti kepada beliau.

Reza menatap Alya cukup lama sebelum akhirnya berkata lirih, “Kamu masih marah sama Mas, Al?”

“Bukan itu intinya,” jawab Alya cepat. “Aku cuma ingin mandiri. Ini caraku bertahan.”

Reza akhirnya mengangguk, meski sorot matanya jelas menunjukkan kekecewaan. “Ya sudah. Hati-hati, Al.”

Alya berdiri, memandang suaminya lalu mencium tangan suaminya “Terima kasih, Mas. Sudah mengizinkan aku, doakan aku diterima.”

Ia pun melangkah keluar, dengan napas yang terasa lebih ringan. Dunia kerja menantinya kembali, ia harus berjuang dari titik nol lagi. 

Setelah berkendara selama  30 menit akhirnya ia sampai di gedung kaca tempat Alya dulu pernah berkarier gedung itu masih sama seperti dulu masih berdiri kokoh dan tampak lebih mewah. Perasaannya campur aduk antara gugup, rindu dan semangat Ia lalu mencoba menarik napas panjang, kemudian masuk ke dalam lobi, memberikan senyum terbaiknya dan berusaha percaya diri meski jantungnya berdegup kencang.

“Selamat pagi Kak, saya ada jadwal wawancara hari ini atas nama Alya Ramadhani,” tukas Alya kepada seorang resepsionis wanita. 

“Baik sebentar yah Kak, saya periksa dulu,” dengan sigap seorang resepsionis itu mengecek menggunakan komputer di depannya. 

“Iya betul anda ada jadwal wawancara dengan pak Dirga. Silahkan ke lantai 8 yah Kak,” ucap wanita itu. 

“Baik Terima kasih, Kak. Alya kemudian bergegas naik lift menuju lantai 8. Jantungnya mulai berdetak kencang perasaan gugupnya sulit ia kendalikan. “Bismillah,” gumamnya. 

Sementara itu di lantai atas, Dirga. Sang Direktur muda yang baru menjabat selama 6 bulan terakhir  tengah membaca CV-calon pegawai baru yang lolos seleksi tahap awal. Matanya sampai pada nama "Alya Ramadhani," ia sempat berhenti. Beberapa orang senior di perusahaan sempat menyebut nama itu eks karyawan cemerlang, dikenal piawai mencapai target besar, namun tiba-tiba mundur saat karirnya sedang berada di puncak. 

Seketika pintu diketuk. Membuyarkan konsentrasi Dirga. "Pak Dirga, pelamar berikutnya sudah datang untuk wawancara," ujar sekretarisnya Bu Nina. 

"Persilakan dia masuk," jawab Dirga sambil membereskan dokumen di mejanya.

Pintu ruangan Dirga terbuka, kemudian Alya masuk dengan langkah tenang. Dirga yang melihat sosok perempuan elegan itu langsung terpaku sesaat. Ada aura tenang, tapi tegas dari Alya yang membuatnya terkesan di detik pertama.

“Selamat pagi, saya Alya Ramadhani,” sapa Alya sambil mengulurkan tangan.

“Dirga Putra. Silakan duduk, Bu Alya,” jawab Dirga, membalas jabat tangan Alya dengan senyum samar.

Wawancara dimulai dengan pertanyaan umum, tapi Alya menjawab dengan lugas dan berwawasan. Ia menjelaskan latar belakangnya dengan lancar walaupun pada awalnya ia merasa gugup. 

Ia menjelaskan secara terperinci strategi-strategi lama yang pernah ia terapkan, hingga proyek-proyek yang pernah sukses ia pimpin. Dirga tampak semakin terkesan, bukan hanya karena prestasinya, tapi juga karena cara bicara Alya yang tenang dan penuh keyakinan.

"Kenapa anda sempat berhenti bekerja, Bu Alya?" tanya Dirga, nada suaranya lembut, tapi penuh rasa ingin tahu.

Alya menatap mata Dirga sejenak, lalu menjawab jujur, "Karena waktu itu saya sedang fokus menjalani program kehamilan. Tapi sekarang, saya kembali, karena saya tahu potensi dan pengalaman saya masih sangat bisa diandalkan diperusahaan ini."

Dirga mengangguk pelan, sedikit terpukau dengan kejujuran dan keberanian Alya. Ia membolak-balik berkas, lalu berkata, “Saya sudah dengar banyak soal Anda dari manajer senior kami. Jujur, saya penasaran seperti apa sosok Alya Ramadhani. Dan ternyata, kesan pertama saya sangat positif. Baik kalau begitu wawancara telah selesai. HRD akan mengirim email balasan untuk memberitahukan hasilnya.”

Alya tersenyum. “Baik Pak Dirga, Terima kasih kalau begitu saya tunggu kabar baiknya,” ucap Alya sopan namun kuat.

Alya lalu keluar dari ruangan Dirga ia tampak lega dengan wawancara yang ia lakukan karena ia merasa sudah maksimal dalam menjawab pertanyaan sang Direktur. Sebelum pulang tak lupa ia menyempatkan diri untuk menemui sahabatnya Amel. 

“Mel, lo dimana gue ada di lobby bawah,” Alya mengirimkan pesan singkat kepada Amel. 

“Tunggu Al, gue kesana,” Balas Amel cepat. 

Tak lama kemudian ia datang dengan berlari. “Alya..,” teriaknya hingga membuat orang-orang melihat ke arahnya. 

“Stt,” ucap Alya malu. 

“Sorry.. Sorry kelepasan,” jawab Amel. “Eh, Gimana tadi wawancara sama Pak Dirga?”

“Biasa aja, Gue optimis dengan hasilnya,” jawab Alya percaya diri. 

“Bagus.ini baru Alya yang gue kenal optimis dan percaya diri.”

“Btw Mel, Pak Dirga itu ternyata masih muda yah. Kok, bisa masih muda gitu udah punya jabatan mentereng!”

“Privilege Al, dia itu salah satu anak dari pemegang saham terbesar jadi dia bisa memimpin perusahaan ini.”

“Oh gitu, pantesan,” Alya mengangguk. 

“Tapi jangan salah biarpun dia punya privilege tapi kepemimpinannya bagus, dia juga pintar mengambil keputusan beberapa proyek yang dia pimpinan goal dan dapat banyak apresiasi. Dan yang paling penting tahu gak lo apa?”

“Apa?” tanya Alya penasaran. 

“Dia duren,” bisik Amel. 

“Maksud lo?”

“Iya, duda keren,” Jawab Amel. 

“Bisa aja lo Mel, kenapa gak lo gaet aja kalo gitu.”

“Gue sih mau yah Al, tapi dia yang gak mau sama gue,” ucap Amel sambil tertawa geli. 

“Dasar ya lo. Mel, kalo gitu gue balik dulu yah gue harus liat ibu di rumah sakit.” 

“Oke, Al hati-hati yah.”

“Iya Mel, thank you yah sampai ketemu lagi.” 

Alya langsung bergegas ke rumah sakit untuk bergantian dengan adiknya menjaga ibunya. 

“Rahma kamu istirahat dulu yah. Biar Mbak yang jaga ibu.” 

“Iya Mbak, Rahma ke mushola dulu.”

Dengan telaten Alya membersihkan tubuh ibunya mengelapnya  perlahan. Bu Meta masih belum bisa berbicara. Tapi matanya seolah bicara ia menatap Alya dalam seolah berterima kasih kepada anaknya itu. 

“Bu ibu cepat sembuh yah,” ucap Alya. Bu Meta hanya memberi respon dengan kedipan mata. 

Setelah Beberapa jam kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah email masuk dari HRD PT Perkasa Jaya

Subject: Congratulations, You're Hired.

“Alhamdulillah,” gumam Alya sambil tersenyum kecil. 

Guys jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan cara like, subs dan komen....🥰

1
Surati
bagus ceritanya 👍
Didin Wahidin
yg bener aja Thor, ada suster julid
evi carolin
dr awal sdh jelas mamanya Dirga ga suka sama kamu lbh baik ga usah diteruskan ckp hubungan kerja aja ,jelas jelas sifat mmnya Dirga spt itu lbh baik nikmatin hdp smp bertemu jodoh yg meratukan mu ,Dirga bucin ama kamu biar aja kan ada mmnya yg ngerecokin hdp anaknya seterusnya
evi carolin
selamat berbahagia Reza ,selamat atas segalanya , selamat menikmati hidup pilihan mu
evi carolin
perasaan aman tuh kawin lg taunya ketahuan,eh giliran mo dilepas kaya cacing kena abu 😜 panas panas deh rumah tangganya si Reza ama gundiknya apa lg ditambah bukti nikah dia yg terbaru .... yuhuuu .../Facepalm//Facepalm//Facepalm/
evi carolin
ya iyalah ,masak bisanya ngasih dr milik istri pertama ,keliatan banget ga mampu nafkahin istri kedua,mulai dr nol buat istri kedua ya .... bkn tinggal nyomot punya istri pertama /Joyful//Joyful//Joyful/
Rina Susilowati
poligami hampir semua diawali dengan selingkuh. seperti sewa pelacur, ketahuan baru bilang poligami 😆
Merry Marmut
seru thor
Ma Em
Akhirnya Alya bahagia bersama Dirga dan Arsya , setelah Alya banyak merasakan penderitaan dan berakhir dgn kebahagiaan , terima kasih Thor semoga author selalu sehat dan panjang umur sukses selalu 🤲🙏😘🥰
Lisa Yacoub
ceritanya bagus, thor .....dgn nasehat yg bijak dan menyentuh.
Arieee
bagus👍👍👍👍👍
Arieee
👍👍👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰bagus
cinta semu
Bu Rini makin berani .. semoga Alya & Dirga bisa mengatasi ny💪
partini
doa istri Solehah dan ibu itu wow sekali loh
Moms Putri
ceritanya acak adut
Ma Em
Alhamdulillah Alya sekarang sdh hamil , ternyata Alya tdk mandul tapi yg mandul mantan suaminya Alya , semoga Alya dan Dirga selalu bahagia apalagi beberapa blm lagi anaknya akan lahir , semoga pernikahan Alya dan Dirga langgeng .
Ma Em
Semangat Thor semoga anaknya segera sembuh dan sehat selalu 🤲🤲
Jue
Di dunia nyata soal jodoh maut ini terletak di tangan Allah SWT , Restu ibubapa itu hanya syarat untuk melengkapi sebuah bahtera perkahwinan atau lebih tepat perkataan restu itu sendiri datang dari bahasa Sanskrit lama ( Agama Hindu ) , Ketika sudah bertemu dengan orang yang kita rasa tepat maka boleh saja menikah tanpa restu dengan syarat ada wali hakim jangan sampai lari menikah di sempadan pula , Lalu perlahan-lahan ambil hati mentua dengan sikap diri kita yang baik dan ingatlah bahawa sesuatu yang datang pada kita di bawah aturan Allah SWT maka yang maha kuasa adalah sebaik-baik perancang hidup setiap makhluknya di muka bumi ini ..... 💪
Rieya Yanie
biar tahu rasa reza
Ma Em
Bu Desi tdk akan menyesal punya menantu Alya karena Alya orangnya baik , sabar serta penyayang dan pilihan Dirga itu tdk akan salah .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!