NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Genggaman Mafia

Cinta Dalam Genggaman Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / CEO / Pengasuh / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia / Tamat
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: adelita

Liburan seharusnya menjadi pelarian bagi Cassandra Evans setelah dipecat secara tidak adil dari pekerjaannya. Ia hanya ingin menjauh dari masalah, melupakan tuntutan keluarganya yang terus mendesaknya untuk segera menikah, dan menikmati sedikit kebebasan di Roma, Italia. Namun, siapa sangka? Satu kesalahan kecil justru menyeretnya ke dalam dunia yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan—dunia mafia. Rafael “Rafe” Montenegro bukan sekadar pria kaya dan berpengaruh. Di balik ketampanannya yang dingin, ia menyimpan rahasia gelap. Duda dengan seorang putra kecil ini menjalankan bisnisnya dengan tangan besi, menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Tidak ada tempat untuk kelemahan dalam hidupnya—terutama setelah dikhianati oleh istri dan sahabatnya sendiri. Ketika Cassandra tanpa sengaja masuk ke dalam kehidupannya, Rafe tidak punya pilihan selain menahannya di sisinya. Awalnya, hanya untuk mengasuh putranya. Namun, semakin lama, Cassandra bukan sekadar pengasuh biasa. Ia menantang, membangkang, dan menghadirkan sesuatu yang sudah lama hilang dalam hidup Rafe—kehangatan. Tapi dunia Rafe bukan dunia yang aman. Dan Cassandra? Ia terlalu polos untuk terjebak dalam kekacauan ini. Namun, semakin ia mencoba melepaskan diri, semakin dalam ia jatuh ke dalam genggaman sang mafia. Di antara bahaya, rahasia, dan batas-batas yang tak boleh dilanggar, Cassandra harus memilih: tetap berjuang untuk keluar, atau menyerahkan hati pada pria yang bisa menghancurkannya kapan saja. Karena ketika mafia menginginkan sesuatu, mereka tidak akan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Tak lama, mobil akhirnya melambat, memasuki area yang tampak lebih eksklusif dan jauh dari keramaian kota. Cassandra meneguk ludahnya saat melihat gerbang tinggi dari besi tempa yang berdiri kokoh di depannya. Ukiran lambang keluarga Montenegro menghiasi bagian tengahnya, dengan ukiran daun emas yang berkilauan saat tertimpa cahaya lampu taman.

Dua penjaga berbadan tegap dengan setelan jas hitam berdiri di kedua sisi gerbang. Tanpa banyak bicara, mereka langsung mengisyaratkan sesuatu ke arah pos keamanan, dan dalam hitungan detik, gerbang raksasa itu terbuka perlahan, menampakkan jalan panjang menuju sebuah kediaman yang bahkan dalam bayangan terliarnya pun Cassandra tidak pernah membayangkan akan melihatnya secara langsung.

Begitu mobil mulai melaju masuk, pemandangan di sekelilingnya semakin membuatnya terkesima. Jalan yang mereka lalui adalah jalur berbatu halus yang ditata sempurna, membentang lurus diapit oleh taman luas di kedua sisinya.

Lampu taman berbentuk klasik berjajar rapi di sepanjang jalur, memberikan penerangan temaram yang menciptakan suasana dramatis dan elegan. Pohon-pohon zaitun tua menjulang tinggi di beberapa sudut, daunnya berdesir pelan tertiup angin malam.

Di antara pohon-pohon itu, berbagai jenis bunga eksotis tumbuh subur, menebarkan aroma yang lembut dan menenangkan. Air mancur dengan desain klasik berdiri di tengah taman, airnya mengalir pelan, memantulkan cahaya lampu-lampu di sekitarnya.

Ketika mobil semakin mendekat ke bangunan utama, Cassandra hampir kehilangan kata-kata.

Di hadapannya berdiri sebuah mansion megah bergaya neoklasik, dengan pilar-pilar putih besar yang menopang balkon lantai atas. Setiap detail arsitekturnya begitu sempurna—ukiran rumit di pilar, jendela-jendela tinggi dengan bingkai emas, dan atap megah dengan hiasan patung marmer di setiap sudutnya.

Dinding eksterior bangunan ini terbuat dari batu marmer putih yang berkilauan, membuatnya tampak seperti istana yang diambil langsung dari halaman sejarah Eropa. Pintu utama yang menjulang tinggi memiliki ukiran detail dan pegangan dari emas murni, memberikan kesan kemewahan yang tak terbantahkan.

Tangga lebar dari batu marmer dengan lampu-lampu kecil di setiap anak tangganya mengarah ke pintu masuk utama, diapit oleh dua patung singa dari batu yang berdiri gagah di kedua sisinya.

Di depan mansion, terdapat area parkir luas yang dipenuhi dengan mobil-mobil mewah yang diparkir rapi, masing-masing terlihat lebih mahal daripada bayaran Cassandra seumur hidup.

Cassandra masih belum bisa memproses semuanya ketika mobil akhirnya berhenti tepat di depan tangga utama.

"Turun," suara Rafael terdengar, memecah kekagumannya.

Cassandra buru-buru membuka pintu dan melangkah keluar, tetapi begitu kakinya menyentuh lantai marmer di halaman depan, ia merasa seperti baru saja masuk ke dunia yang sama sekali berbeda.

Matanya masih berkeliling, menyerap setiap detail kemewahan yang hampir tidak nyata ini. Jika sebelumnya ia hanya melihat rumah-rumah seperti ini di film atau majalah arsitektur mahal, kini ia benar-benar berdiri di salah satunya.

Tanpa menunggu lebih lama, Rafael berjalan menaiki tangga menuju pintu masuk, dan Cassandra buru-buru mengikutinya.

Begitu pintu utama terbuka, interior mansion itu tak kalah mencengangkan.

Lantai di dalamnya sepenuhnya terbuat dari marmer putih dengan pola emas yang berkilauan di bawah cahaya lampu kristal raksasa yang tergantung di langit-langit tinggi. Langit-langit itu sendiri dihiasi dengan lukisan klasik bergaya Renaissance, memberikan kesan seperti memasuki museum seni Eropa.

Dinding-dinding ruangan dipenuhi dengan ornamen emas dan cermin besar yang memantulkan cahaya dengan indah. Karpet merah tebal membentang dari pintu masuk hingga ke tangga utama yang melingkar ke lantai atas, dengan pegangan dari kayu mahoni yang diukir dengan detail luar biasa.

Di sisi kiri ruangan, terdapat ruang tamu luas dengan sofa kulit berwarna krem, meja kaca dengan ukiran emas, dan rak buku tinggi berisi koleksi buku-buku antik.

Di sisi kanan, terdapat ruang makan dengan meja panjang yang bisa menampung lebih dari dua puluh orang, dihiasi dengan lampu gantung kristal lainnya yang sama mewahnya.

Rumah? Ini bukan rumah. Ini istana!

Cassandra merasa seolah sedang berjalan di dalam istana bangsawan.

Semua ini... terlalu luar biasa.

"Selamat datang di kediaman Montenegro," ujar Rafael datar.

Cassandra masih ternganga.

Cassandra keluar dengan langkah hati-hati, masih sibuk mengamati sekeliling.

Rafael berjalan melewatinya tanpa banyak bicara. "Ikut aku."

Cassandra buru-buru mengikuti, mencoba menyesuaikan langkah dengan pria itu yang jauh lebih tinggi dan panjang langkahnya.

Mereka melewati lorong dengan marmer putih yang mengkilap, lampu kristal bergantung di langit-langit tinggi, memberikan suasana seperti di film mafia kelas atas.

Setelah beberapa saat berjalan, Rafael berhenti di depan sebuah pintu besar dan membukanya.

"Cassandra," panggilnya.

Cassandra melangkah masuk dan langsung membeku.

Di dalam ruangan, ada seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun.

Anak itu memiliki rambut hitam tebal seperti Rafael, tetapi matanya lebih bulat dan cerah. Ia duduk di sofa dengan boneka kecil di tangannya, menatap Cassandra tanpa ekspresi.

"Ini anakku," Rafael memperkenalkan. "Nathan, dan yang satunya sepertinya sudah tidur usianya 3 tahun."

Anak itu tidak berkata apa pun, hanya menatap Cassandra seakan menilainya dari ujung kepala hingga kaki.

"Kau akan menjadi pengasuhnya mulai sekarang," lanjut Rafael. "Mereka butuh seseorang yang menjaganya 24 jam sehari. Dan sekarang, itu tugasmu."

Cassandra menatap bocah itu, lalu menatap Rafael, lalu kembali ke bocah itu.

Otaknya masih mencoba memproses semuanya.

"Ya Tuhan... aku masuk ke dunia macam apa ini?"

...➰➰➰➰...

Setelah pertemuan dengan putra Rafael, Cassandra masih sedikit kaku dan belum bisa memahami sepenuhnya situasi yang ia hadapi. Bocah empat tahun itu—dengan mata tajam yang mirip ayahnya—hanya menatapnya sekilas sebelum kembali bermain dengan mainan mobilnya di atas karpet mahal yang tampak lebih bersih daripada kasur di kosannya dulu.

Rafael, yang berdiri tak jauh darinya, akhirnya angkat bicara.

"Bibi Merry," panggilnya dengan suara rendah namun tegas.

Seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan berwarna hitam dan apron putih segera maju dengan sikap hormat.

"Ya, Tuan," jawabnya.

"Tunjukkan kamar dan semua kegiatan yang perlu dia ketahui. Pastikan dia paham apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di sini," perintah Rafael, matanya sama sekali tidak melirik Cassandra yang masih berdiri canggung di sampingnya.

Cassandra yang dari tadi sibuk meraba-raba kenyataan bahwa dirinya kini adalah pengasuh bayi seorang mafia kaya raya, akhirnya tersadar dan buru-buru mengangkat tangannya.

"Uh, Tuan... tapi bagaimana dengan barang-barang saya?" tanyanya ragu-ragu.

Akhirnya, Rafael meliriknya. Tatapan matanya begitu dingin dan tajam, membuat Cassandra sedikit menciut di tempat.

"Barang-barangmu?" tanyanya, nada suaranya terdengar nyaris seperti mengejek.

"Ya, maksud saya... koper saya, paspor saya, dompet saya, dan... uh... hotel tempat saya menginap?" Cassandra menjelaskan dengan sedikit panik.

Rafael mendesah pelan, lalu menoleh ke arah seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka. Salah satu asisten pria yang sejak tadi diam langsung mengangguk sebelum berjalan pergi, seolah memahami instruksi Rafael tanpa perlu kata-kata.

"Kau tidak perlu khawatir. Asistenku akan mengurus semuanya," ucap Rafael datar.

"Tapi—"

Tatapan maut itu kembali datang.

Cassandra langsung kicep.

Sorot mata Rafael begitu tajam, seolah-olah memberi peringatan tak tertulis bahwa satu kata protes lagi, mungkin nyawanya yang akan diurus, bukan barangnya.

Ia buru-buru menelan semua kata yang hendak keluar dari mulutnya dan hanya bisa mengangguk patuh.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, Rafael berbalik dan melangkah pergi.

Langkahnya mantap, tegap, dan tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.

Cassandra hanya bisa memandang punggungnya yang semakin menjauh, merasa seperti seseorang yang baru saja menandatangani kontrak dengan iblis tanpa sadar.

Belum sempat ia menghela napas, tiba-tiba bibi Merry menyerobot ke sampingnya.

"Mari, Non, saya antar ke kamar," katanya dengan senyum tipis, seolah tidak peduli bahwa Cassandra baru saja hampir kena serangan jantung karena intimidasi majikannya sendiri.

Cassandra hanya bisa mengangguk lemas dan mengikuti langkah pelayan itu, sementara pikirannya masih sibuk mencerna bagaimana caranya ia bisa terjebak dalam kehidupan ini.

1
Elizabeth Zoe
sekolah minggu? tadi di bab 1 ada kalimat "jangan lupa solat di negara orang". kocak🤣
Fara Rasta
ceritanya bagus banget
Irabiya
kelamaan baru ad lanjutan x,,lelah nunggu x/Facepalm/
merry jen
jhtt bgtt rafe ngejerat Casandra bgtuu ,,ngmgyy Casandra bhongg pdhll diabyg culik paksa sekpp casandraa tgll drmhh dia ,,skrg jlkinn Casandra ddpn orgtua y lgg ,,
merry jen
kshh Casandra jdii twnnn ,,pdhll sstss bukn pekerjaan Isti atauu pun budakk ,,aneh mafia satu inn
merry jen
apa nntii Casandra gk truma ya atas kjdian yg menimpa yy🤔🤔
merry jen
si amorr itu sapa yaa pnsrann ygg sm ed
merry jen
kshnn sandraa jdii tahannn pdhll dia ajj di culikk dr fareal
Tara
kuberikan secangkir coffee hangat kak. Semangat!!!
Mari kita berdoa berjamaah semoga dapat suami yg kaya, gagah, setia dan mencintai kita selamanya. Amin🤔🤗🥰👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!