[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]
[FOLLOW AKUN IG; SUGIATIDAHLAN]
[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU!]
Kisah tentang;
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri mulai lelah dengan kesabaran ku."
@Annisa Az-Zahra
Bagaimana jika seandainya kalian adalah siswi berhijab satu-satunya di sekolah kalian? bagaimana jika seandainya kalian tidak sengaja melakukan tingkah konyol yang menjerumuskan kalian ke dalam masalah?
Hidup Zahra yang mulai di tumbuhi bunga-bunga berwarna-warni kini kembali terlihat hampa saat sebuah RAHASIA BESAR berhasil merubah segalanya.
®picturebypinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6. Penasaran
Seorang pemuda tengah bersandar di samping mobil sport merah miliknya. Penampilan yang mampu membuat para gadis-gadis mimisan. Celana levis yang robek bagian lutut, dengan jaket hoodie yang lengannya ia gulung hingga siku, dipadukan dengan sepatu alstars.
Pemuda itu adalah Verrel. Verrel sesekali menatap malas arloji hitam yang melingkar di tangan kirinya, dan juga menatap malas gerbang menjulang tinggi di hadapannya.
Verrel sekarang tengah berada di depan rumah seorang gadis. Terlihat dari raut wajahnya yang masam menandakan ia telah lama menunggu. Tapi, seseorang yang di tunggunya tak kunjung datang membuat Verrel jengah sendiri.
"Hai sayang, kamu udah lama nunggunya?" seru seorang gadis yang baru saja muncul dari balik pagar rumahnya.
Gadis itu mengenakan kaos polos berwarna biru dengan jaket kulit luarannya, memakai sepatu biru yang agak tinggi dan tas selempang warna senada miliknya. Dan jangan lupa rambut panjangnya yang ia gerai dengan sedikit bergelombang bagian ujungnya. Ia adalah gadis yang di tunggu-tunggu Verrel, ia adalah Shasha Nadiva Eliz.
"Ck ... lama lo! Udah buruan!" bentak Verrel setelah melihat gadis itu. Verrel berjalan memutari mobil dan saat hendak membuka pintu mobil suara rengekan gadis itu memekik telinganya.
"Bukain pintu dulu dong," rengek Shasha dengan ekspresi imut yang di buatnya.
Verrel menautkan alisnya, benar-benar jengah akan tingkah Shasha yang semakin menjadi-jadi. "Buka sendiri kan bisa!" bentak Verrel membuat gadis itu merenggut.
"Iya-iya sorry!" pasrah Shasha dan berjalan untuk membuka pintu mobil itu sendiri.
Selama perjalanan, dua insan itu hanya diam memperhatikan keadaan Jakarta saat malam hari. Verrel yang fokus menyetir dengan ekspresi datar dan gadis di sampingnya hanya melirik ke luar jendela. Shasha merasa bosan dalam keheningan pun berusaha mencari topik untuk di bahas.
Shasha menghela nafas bosan dan menoleh ke arah Verrel yang sedang fokus menyetir. "Woyy!!" pekik gadis itu dengan nada bosannya.
Verrel menoleh sekilas.
"Hm?" sahut Verrel sekenanya.
"Kita mau kemana?" tanya Shasha, memutar badannya agar dapat melihat wajah Verrel dengan jelas.
"Lo nanya gue? Bukannya lo yang ngajak jalan," sahut Verrel tidak terima.
Lagi-lagi Shasha memberengggut kesal, merasa pilihannya jalan dengan Verrel adalah pilihan yang salah. Shasha bahkan merasa sedang bersama patung hidup yang tampan. Entahlah, tapi Shasha berfikir demikian.
"Ck ... nyebelin lo yah!!" gerutu Shasha. "Bagaimana kalo kita ke Dyarel cafe?" lanjut Shasha, antusias.
Verrel mengangguk.
Shasha tersenyum senang saat melihat Verrel mengangguk karena itu artinya Verrel setuju dengan tempat yang di ajukannya.
Hening!
Kini mereka berdua telah sampai di tempat tujuan, Dyarel Cafe. Cafe milik keluarga Radeya, salah satu cafe terkenal di Indonesia. Dyarel Cafe sendiri di ambil dari singkatan nama Widya dan Verrel.
"Lo turun duluan gue markir mobil dulu," perintah Verrel.
"Ok," sahut Shasha dan langsung turun dari mobil sport itu.
Tanpa menunggu Verrel, gadis itu masuk ke cafe terlebih dahulu. Membuat seisi cafe menatap kagum ke arahnya. Semua pelayan restoran menyambut dengan ramah Shasha karena telah mengenal siapa Shasha sebenarnya.
Shasha masuk dengan senyum merekah, membuat orang-orang yang melihatnya enggan untuk hanya mengedipkan mata.
"Gini nih kalo cewek cantik kayak gue jalan sendiri," ujarnya percaya diri dan berjalan ke salah satu meja cafe yang kosong. Shasha berjalan sesekali melempar senyum kepada orang-orang yang tengah menatapnya.
Merasa geli karena tingkahnya sendiri, Shasha memutuskan mempercepat langkahnya dan menunggu Verrel dimeja yang akan di hampirinya.
Saat Verrel ingin memasuki cafe itu, manik matanya menerawang jauh menatap seorang gadis yang tengah duduk sambil mengayunkan-ngayunkan kakinya di bawah pohon rindang depan cafe. Sesekali gadis itu menatap ke arah pintu masuk cafe semakin membuat Verrel yang melihatnya bingung. Verrel yang mempunyai sikap bodo amat pun hanya mengangkat bahunya acuh.
"Selamat datang tuan ...," sapa salah satu pramusaji dengan menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
"Silahkan tuan ..." Sopan pramusaji cafe yang lainnya mempersilahkan Verrel masuk. Mereka mengetahui bahwa cafe ini milik Verrel sebagai hadiah ulang tahun dari mamanya tahun lalu.
Verrel memandang suasana cafe dengan malas, lantaran mencari seorang gadis yang bersamanya. Ternyata gadis itu duduk disalah satu meja dekat jendela kaca yang tembus ke jalan raya.
Verrel menarik nafas gusar dan melangkahkan kakinya untuk menghampiri gadis yang mengajaknya kesini.
"Buruan lo pesan makanan, waktu gue nggak banyak!" perintah Verrel spontan setelah mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Shasha.
"Nggak seru lo, ah," desis Shasha.
"Nggak ada romantis-romantisnya kek di film-film," tambahnya lagi dengan wajah memelas.
Verrel mendelik. "Lo makan apa gue tinggal?" bentaknya penuh penekanan.
"Iya iya bang, jand galak-galak napah kasian cewek cantik menggoda iman di depan lo ini," gerutu Shasha.
Kini Shasha tengah sibuk dengan buku menu di tangannya membuat Verrel melotot ke arahnya.
"Lo itu udah ratusan kali ke sini, masa' milih menu lama banget," ujar Verrel gregetan dengan Shasha. Shasha mendelik mendengar ujar-ujaran Verrel yang tidak sabaran.
"Ya udah pesan menu biasa aja," sahut Shasha pasrah.
Verrel mengangkat tangannya dan menepuknya dua kali sebagai kode untuk pramusaji cafe ini. Beberapa pramusaji datang menghampiri mereka. Verrel pun menyebutkan beberapa pesanan dari gadis di depannya ini. Setelah mengerti, pramusaji cafe itu pun pergi meninggalkan mereka.
Tiba-tiba Verrel mengingat akan gadis yang di lihatnya di depan cafe. Pemuda itu kini beralih menatap ke arah pohon rindang yang tak jauh di depan cafe dan ternyata gadis itu masih ada disana.
Saat gadis itu menoleh ke arah pintu masuk cafe, Verrel memicingkan matanya ingin menatap jelas rupa gadis itu. Verrel melihatnya, dan saat itu juga ia menautkan alisnya merasa tidak asing dengan wajah polos gadis yang dilihatnya.
"Bukannya dia Zah--ra," cicit Verrel membuat Shasha berkerut bingung.
Shasha bergidik ngeri melihat Verrel yang menatap keluar cafe. Shasha yang bingung akan apa yang sedang di lihat Verrel pun seketika membuat aura-aura ke-kepo-annya membara.
"Lo kenapa?" tanya Shasha.
"Kepo," sahut Verrel sekenanya.
Shasha mendengus kesal.
"Setanlah bang!" umpatnya yang di balas pelototan tajam dari Verrel. Verrel menatap Shasha merasa tidak terima dengan umpatan Shasha yang mengatainya setan.
Shasha cengengesan. "Maksud gue setan kali itu bang, hehe," elak Shasha karena merasa ngeri akan tatapan itu.
Verrel kini kembali menatap keluar jendela dan memfokuskan penglihatannya ke arah Zahra.
Setelah lama menunggu, akhirnya pesanan mereka pun datang sepiring steak, waffle ice cream coklat dan dua gelas jus jeruk.
Shasha langsung memakan makanannya dengan senyum merekah. Sekali-kali melirik ke arah Verrel yang hanya fokus dengan ponsel di tangannya.
"Lo nggak makan?" tanya Shasha sambil mendongakkan kepalanya.
"Nggak," sahut Verrel cuek.
Shasha hanya mengangkat bahu acuh dan kembali fokus dengan makanan di depannya.
Sedangkan, Verrel meletakkan ponselnya dan menyeruput es jeruk yang di pesannya. Entah kenapa, Verrel merasa ingin mengetahui apa yang di lakukan Zahra di depan cafe miliknya. Hingga Verrel kini kembali memandang ke luar jendela, dimana Zahra sedang berbicara dengan seseorang salah satu pelayan cafe ini.
Tapi, Verrel tidak tahu apa yang dua orang itu bicarakan karena orang yang menghampiri Zahra berdiri di depan Zahra dan memunggunginya.
####
#Zahra POV
Setelah pulang sekolah, tidur beberapa menit, aku memilih untuk mengunjungi kafe tempat kak Rai bekerja. Rasa bosan selalu saja menghantuiku saat berada dirumah.
Sudah 30 menit aku menunggu, tapi kak Rai belum menampakkan batang hidungnya. Hingga aku mendengar deheman seseorang dan aku yakin itu Kak Rai.
"EKHEEM!!" Dehemam seseorang yang cukup keras. Sontak membuatku menoleh ke arahnya.
Dengan sigap aku berlari ke arah Kak Rai dan memeluknya dengan erat, ingin mengeluarkan unek-unek yang aku rasakan hari ini.
"Dekk ...," ujar Kak Rai, dengan mencium puncak kepalaku yang di baluti dengan hijab berwarna biru. Aku tidak masuk ke kafe untuk menemui kak Rai langsung dan lebih memilih menunggu diluar di bawah pohon rindang dikarenakan aku memakai baju tidur ke kafe ini.
Aku mendongak menatap Kak Rai dengan posisi masih memeluknya. "Kak? Zahra rasa nggak berbakti tau nggak jadi Adek. Zahra di rumah sedangkan kakak banting tulang untuk biaya sekolah Zahra," celutukku yang membuat Kak Rai mencubit pipiku yang sedikit berisi membuatku meringis.
"Nggak dek, tugas adek itu belajar yang rajin biar cepat sukses," ujar kak Rai menasehati dengan mengelus puncak kepalaku.
Aku merasa sangat nyaman di perlakukan seperti ini dengan kak Rai yang selalu memanjakan ku meski kita berdua bertengkar, saling berdebat. Tapi, rasa sayang di antara aku dan kak Rai tidak pernah berkurang bahkan selalu bertambah setiap harinya.
Aku yang mendengar jawaban Kak Rai merasa kesal, karena masih saja kak Rai mengucapakan jawaban yang sama. Tapi aku tidak akan menyerah. "Kak, Zahra mau bantu kak Rai kerja. Zahra bisa bagi waktu Zahra pagi sampai sore Zahra sekolah dan belajar, malamnya Zahra bisa bantuin kak Rai kerja di tempat ini, " usulku panjang lebar, aku sangat berharap kak Rai meng-iyakan keinginan ku.
Kak Rai memegang kedua bahuku dan tersenyum tipis. "Nggak bisa, Zahra nggak perlu kerja biar kakak yang kerja. Zahra hanya perlu ----"
"Belajar yang rajin biar cepet sukses," potong aku cepat. Aku tau hal ini tidak sopan memotong ucapan kak Rai akan membuat kak Rai merasa kecewa, tapi aku yakin dengan membantah sedikit Kak Rai akan luluh. Tapi ternyata tidak ekspektasi tak sesuai realita.
Kini tangan kak Rai yang berada di atas bahuku kian menurun membuatku merasa bersalah. Kak Rai tersenyum entah senyum apa itu aku bahkan tidak bisa mendefinisikannya. Pandangan Kak Rai menatap ke arah jalan raya mengabaikan ku yang masih berdiri di depannya.
"Sekarang Zahra boleh pulang. Kakak mau melanjutkan pekerjaan kakak," titah Kak Rai tanpa menatap kearah ku membuat hatiku kian teriris.
Aku terdiam.
Aku menatap nanar kepergian kak Rai. Aku hanya ingin membantu mu kak apa itu salah? Tanpa aba-aba setetes bulir bening lolos di pelupuk mataku.
Aku menyeka air mataku dengan cepat. "Kak--maa-fin Zahra, bukan maksud Zahra ingin mengecewakan kak Rai. Tapi, Zahra rasa nggak adil kak, Zahra sekolah sedangkan kak Rai banting tulang untuk Zahra."
####
#Author POV
Verrel yang melihat itu dari balik kaca tembus pandang, merasa aneh dan timbul pertanyaan di benaknya. Tapi sikap tidak peduli dalam dirinya mendorong jauh-jauh rasa ingin tahu itu. Verrel hanya penasaran kenapa Zahra menangis setelah kepergian orang yang tak di kenalnya.
Verrel ingin menghampiri Zahra kala itu, hanya sebagai teman kelas tidak lebih. Verrel juga tidak ingin tahu banyak, ia hanya ingin mengetahui apa tujuan Zahra ke kafe miliknya ini. Tapi suara Shasha menghentikan niatnya.
"Bang, gue udahan nih," seru Shasha.
"Ya udah Sya, kita pulang!" jawab Verrel tak ingin berlama-lama.
Shasha berdecak sebal dan menatap Verrel dengan tatapan tajam yang di buat-buatnya. "Bang Verrel nih, nggak seru. Kalo gitu Shasha ajak bang Farhan aja tadi," rengek Shasha dramatis sambil mengusap matanya seakan-akan sedang menangis.
Malam ini adalah malam terakhir Shasha di Indonesia, karena besok pagi Shasha akan kembali ke London untuk melanjutkan sekolahnya. Shasha adalah sepupu dari Verrel anak dari saudara mamanya. Verrel sangat menghormati mamanya Shasha yang ia anggap sebagai mamanya sendiri.
Verrel bahkan bersikeras menolak permintaan aneh Shasha untuk kencan dengannya. Tapi Shasha mempunyai seribu satu cara untuk mewujudkan keinginannya.
Melihat Shasya dramatis begini membuat Verrel harus ekstra sabar karena gadis di depannya ini sangat cengeng dan suka skali mengerjainya.
"Ok! sekarang Shasha mau apa?" bujuk Verrel dengan nada menenangkan miliknya.
Shasya yang mendengar pertanyaan itu mendongakkan kepalanya dan menatap Verrel berbinar. "Gue mau minta nomor hp bang Daniel, " pekik Shasha antusias dengan senyum merekahnya, sambil menyodorkan ponselnya ke arah Verrel.
Verrel yang mendengarnya berdecak sebal "Untuk?"
"Uh-m Shasha su--ka sama bang Daniel," ujar Shasha jujur, tapi sedikit gugup. Berharap Verrel tidak menertawainya atau bahkan Shasha ingin Verrel memenuhi keinginan terakhirnya sebelum benar-benar pergi dari negara ini.
Dan sebenarnya itulah alasan Shasha mengajak Verrel keluar malam ini, jika bukan karena itu Shasha tidak akan mau pergi malam-malam begini dengan patung hidup seperti Verrel, benar-benar menyebalkan.
Verrel tersenyum membuat Shasha membulatkan matanya, mulutnya sedikit terbuka saking bahagianya. Gadis itu yakin bahwa Verrel akan memberikan nomor Daniel, orang yang akhir-akhir ini disukainya, banyak yang Shasha suka dari Daniel Shasha suka ganggu Daniel, suka bikin Daniel marah, suka bikin Daniel kesal.
Verrel yang melihat ekspresi antusias Shasha tersenyum miring setelahnya. "Nggak," jawab Verrel santai sambil beranjak dari duduknya.
Shasha melongo mencerna jawaban dari Verrel. Senyum merekahnya kian surut begitu saja, menampilkan ekspresi cemberut dan kesal akan jawaban Verrel.
"DASAR SEPUPU LAKNAT, PATUNG HIDUP UNTUNG GANTENG KALO ENGGAK SHASHA NGGAK BAKALAN AKUIN BANG VERREL SEPUPU SHASHA, KESEL SHASHA TUH CUIIHH BANG VERREL DASARR PELIT!!!!" jerit Shasha berapi-api.
Para penghuni kafe bukannya marah malah menahan tawa melihat ekspresi kesal Shasha yang terlihat lucu.
Verrel menghiraukan jeritan Shasha, bahkan Verrel menutup telinganya untuk menghindari jeritan-jeritan Shasha jika gadis itu sudah menyusulnya.