Bukan salahmu karena kamu lahir dari seorang wanita yang belum menikah.
Tapi takdir begitu kejam. Hanya karena tidak punya Ayah, hampir semua orang mencemoohnya.
Saat mengetahui dia lahir dari pemerkosaan, Syahida bertekad untuk mencari keadilan buat ibunya yang selama ini telah berjuang sendiri merawat dan membesarkan dirinya..
Bisakah Syahida membuktikan kalau ibunya wanita baik-baik yang tidak mendapatkan keadilan
Dan bagaimana pula perjalanan cintanya?..
Yuuuk ikuti kisahnya di novel ini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Di rumah besar Kevin.
"Lapor nyonya, tuan Kevin membawa seorang wanita ke apartemennya," ucap orang suruhan Gita ibu Kevin.
"Bukankah itu sering? Itu bukan kabar baru,"
"Bukan begitu nyonya, tuan Kevin akan menikahi wanita itu pagi ini di kediaman wanita itu, tenda-tenda juga sudah berdiri di kediaman wanita itu,"
"Apa?!! Berani sekali dia menikah tanpa meminta restuku, siapa wanita itu?"
"Data-data nya akan saya kirim sebentar lagi," seru orang di seberang telepon.
Setelah panggilan berakhir sebuah pesan masuk, berisikan foto wanita itu dan alamatnya.
"Syahida …?" Lirih Gita penasaran.
"Kamu berani sekali mencoreng namaku, menikah dengan putraku tidak segampang ini biduan murah*n," gerutu Gita.
****
Apartemen Kevin.
"Ayo kita pergi," seru Kevin saat melihat Syahida baru keluar dari kamar.
"Pergi? Kemana?" Syahida bingung.
"Pagi ini kita akan menikah, ayo kita ke salon untuk menyulap dirimu menjadi pengantin tercantikku," seru Kevin.
"Secepat ini? Aku ingin hasil dari perjanjian kita dulu baru menikah," seru Syahida.
"Menikah dulu, dengan begitu dendam kita mudah terbalas," seru Kevin.
Syahida pasrah karena Kevin lah yang berkuasa.
***
Di kediaman Syahida.
Kinar heran melihat tenda yang berdiri megah di arena rumahnya. Semua orang suruhan Kevin bekerja cepat. Sebuah poster membuat mata Kinar melotot.
"Syahida? Menikah?" Kinar masih bengong.
Semua orang sekitar rumah Syahida merasa heran dan takjub. Tidak ada kabar yang berhembus kalau akan ada pesta, tiba-tiba tenda berdiri megah di area mereka. Tepat jam 10 pagi semua pekerjaan para buruh selesai. Catering pun mulai mengisi meja-meja prasmanan untuk para undangan yang akan datang
***
Sedang Syahida tengah dirias di sebuah salon kecantikan, dia nampak cantik mengenakan gaun pengantin. Sedang Kevin mengenakan tuxedo yang selaras dengan gaun pengantin yang di kenakan Syahida.
Ponsel Kevin berbunyi. Dia tengah berbicara dengan orang di seberang telepon.
"Zein, kamu antar Syahida lebih dulu ketempat acara aku ingin menyelesaikan urusanku," ucap Kevin.
Setelah Syahida selesai dengan riasannya dia dan Zein langsung menuju kediaman Syahida.
Sampai di sana semua orang pangling melihat Syahida turun dari mobil mewah. Syahida memandangi area rumahnya.
"Sejak kapan kalian melakukan persiapan ini?" Tanya Syahida pada Zein.
"Sejak pagi," jawab Zein dingin.
"Syahida … ini kamu?" Kinar tidak percaya dengan apa yang dia lihat
"Anak ibu menikah," ucap Syahida lirih.
"Pernikahan bukan mainan sayang, kamu yakin menikah secepat ini?" Kinar ragu dengan jalan yang Syahida ambil.
"Yakin bu,"
Beberapa orang dari kantor KUA juga sudah siap di meja akad nikah.
Zein naik ke atas panggung yang akan di pakai oleh band untuk mengisi acara nanti,
"Selamat pagi semua, hari ini kami sengaja mengadakan resepsi di tempat ini, karena bos saya jatuh hati sama bidadari yang tinggal di sini, Syahida, dia calon istri bos saya, semua orang yang mendengar acara ini di undang, siapa saja yang berkenan kalian semua di undang," ucap Zein.
Waktu terus berjalan, hari juga semakin siang. Para petugas KUA saling berbisik karena pengantin prianya belum juga datang.
"Kamu yakin bos kamu ingin memberiku kehormatan bukan penghinaan?" Syahida mulai takut karena Kevin tidak juga datang.
"Sebentar, aku akan telepon tuan muda," ucap Zein.
Syahida merasa malu melihat para tamu yang berada di tenda itu saling berbisik.
Zein kembali dengan wajah cemas.
"Syahida … ini di luar kendali kami, Kevin di culik," ucap Zein cemas.
"Di culik? Di culik apa lari? Kalian membuat aku terbang dalam satu waktu tapi tiba-tiba kalian menghempaskan aku lagi ke tanah dengan kasar, dimana aku menaruh wajahku jika pernikahan ini batal!!!" Ucap Syahida geram sambil menahan suaranya agar tidak terlalu keras.
Bersambung.
Bagaimana dengan pernikahan dadakan Syahida?
Akankah takdir hidup Syahida kembali menguji dia?