Tepat di usia pernikahan yang ke lima, diceraikan oleh suami yang selama ini dicintainya hanya karena tidak bisa hamil. Namun dia tiba-tiba hamil setelah perceraian itu datang...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La-Rayya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Mau Pulang
Aku merasa seolah aku tengah tertidur.
"Selamat ulang tahun Ma." Ucap ku dengan suara yang tercekat di tenggorokanku saat Mama terlihat duduk di sebuah kursi yang ada di depanku tampak tersenyum begitu ceria dengan wajahnya yang tampak sangat cantik dan tubuhnya yang juga begitu sehat.
"Kenapa Mama harus meninggalkan aku? Tidak bisa kah Mama ada disini di sampingku?" Ucapku lagi.
Kehangatan dari telapak tangan Mama mengenai pipiku dan mengusap air mataku.
"Jika kau akan memetik bunga di taman, yang mana yang ingin kau petik?" Tanya Mama.
"Aku mau memetik yang paling cantik." Balas ku.
"Itulah kenapa Mama pergi sayang. Jiwa yang indah akan diambil dengan cepat oleh Tuhan. Jadi mereka tidak perlu berusaha untuk bertahan dalam kesakitan yang lama di dunia ini." Balas Mama.
"Aku mau pergi bersama Mama." Ucapku lagi memegang tangan Mama dengan erat dan tidak mau membiarkan Mama untuk pergi.
"Akan ada waktunya nanti sayang, kau akan bersama Mama lagi." Bisik Mama lalu mencium kening ku.
Kehangatan terasa menyelimuti hatiku. Rasa sakit yang ada di dalam diriku tiba-tiba menghilang dengan begitu ajaib.
"Mama mencintaimu sayang." Bisik Mama terakhir kali dan kemudian menghilang ke arah cahaya yang menyilaukan mataku.
Aku akhirnya membuka mataku....
Hal pertama yang menyambut penglihatan ku adalah tatapan Mas Al dengan matanya yang tampak memerah. Mas Al memalingkan wajahnya saat dia menyadari bahwa aku tengah menatap dirinya.
"Kau sudah tidak sadarkan diri selama dua hari." Ucap Mas Al bahkan tidak melihat ke arahku, membuatku berpikir bahwa dia tengah marah padaku. "Jantung mu benar-benar berhenti berdetak saat itu."
Ucapan terakhir Mas Al tampak jelas terdengar suaranya yang bergetar dan aku berpikir apakah itu hanya ilusi ku saja, dimana aku bisa mempercayai nya.
Tapi, bagaimana aku bisa mempercayai bagaimana ekspresinya itu. Aku memikirkan rasa sakit yang ada dalam diriku. Jadi aku tidak mau melihatnya lagi. Mengetahui bahwa dia masih berdiri di dekatku, hal itu semakin membuatku merasa sakit apalagi saat aku tahu dia bukanlah milikku lagi. Dan dengan memikirkan bahwa dia tidak akan pernah menjadi milikku, merupakan siksaan yang lainnya bagiku.
"Pergilah Mas Al." Bisik ku dan aku mendengar dia berbalik menatapku.
Aku dapat merasakan tatapannya yang sangat tajam di arah belakangku.
" Putri...."
Aku kembali mendengar suara Mas Al yang begitu lembut. Tapi aku tidak mau menjadi orang yang naif lagi untuk mengasihani seorang penghianat.
"Aku bilang pergilah, menjauh dariku. Aku tidak mau melihatmu lagi." Ucapku menyela ucapan Mas Al.
Dia pasti sudah bisa membaca keputusan final yang aku buat dari suaraku. Hal itu memang membuatnya tidak mau berargumen lagi denganku karena sepertinya dia yang mengetahui aku tengah dalam kondisi begitu lemah yang bisa membuat hidupku dalam bahaya.
Saat aku mendengarkan suara pintu ditutup, aku akhirnya kehilangan kontrol diriku dan air mataku jatuh dengan begitu deras ke pipiku.
Aku tiba-tiba berharap bahwa jantung ku berhenti berdetak.
'Kenapa harus melanjutkan hidup dalam rasa sakit saat aku bisa mati dan melarikan diri dari rasa sakit ini dengan mudah?'
Aku punya begitu banyak penyesalan dalam hidupku. Aku berharap bahwa aku tidak pernah menggoda Mas Al pada malam itu. Aku berharap aku tidak memaksanya untuk menikahi aku karena hal itu. Aku berharap aku tidak jatuh cinta padanya, jadi aku bisa menghindari kesalahan pertama dan kedua yang aku lakukan.
Andai saja aku bisa mengubah takdirku, aku tidak akan pernah jatuh cinta pada pria seperti dirinya. Pria pertama yang membuatku patah hati, dan dia juga yang telah mencabik hatiku menjadi berkeping-keping.
Aku akhirnya bisa keluar dari rumah sakit di hari berikutnya.
Awan hitam menghiasi langit pagi itu, saat aku melihat ke atas. Cuaca seperti itu seolah menggambarkan bagaimana mendung nya hatiku dan aku menutup mataku untuk menghirup udara yang terasa begitu dingin hingga menusuk ke tulang ku.
Mas Al mengeluarkan jaketnya untuk melindungi aku dari udara dingin. Tapi itu tidak berarti apapun bagiku. Itu tidak merubah fakta bahwa dia adalah pria yang sama yang memaksa untuk menceraikan aku di malam ulang tahun pernikahan kami yang kelima.
Aku tidak melihat kearah Mas Al dan pandanganku tetap lurus ke jalanan.
Saat aku mulai melangkahkan kakiku tiba-tiba badai mulai datang dan angin bertiup dengan sangat kencang. Hujan langsung turun dengan begitu deras jatuh ke arah semen jalanan saat Mas Al memegang payung menaruhnya diatas kepalaku untuk melindungi kondisiku agar tidak menjadi lebih buruk lagi.
Kami melangkah melewati jalanan yang basah. Tangan Mas Al yang melindungi aku, memeluk pinggangku dan aku tidak bisa melakukan apapun karena hujan terus turun dengan begitu deras sampai air mulai menggenangi di area parkir. Dan kami akhirnya tiba di mobil Mas Al yang ter parkir di area parkir itu.
Mas Al membuka pintu depan mobil dan aku dengan cepat masuk ke dalam untuk menghindari udara yang begitu dingin. Aku hampir saja terjatuh ke arah sebuah potongan kain berwarna merah tua yang ada di lantai mobil saat aku masuk ke dalam mobil.
Mas Al langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudian mulai menghidupkan mesin mobil. Tatapan ku secara tidak sengaja melihat kearah Mas Al dan yang membuatku terkejut. Dia tampak begitu basah kuyup karena hujan. Pakaiannya yang berwarna abu-abu menempel ke tubuhnya yang membuat otot dari tubuhnya tampak begitu jelas.
Bibirku sedikit menganga karena terkejut, dimana rasa dalam diriku berubah menjadi kasihan dan aku mulai menelan ludah ke tenggorokanku. Bagaimanapun rasa simpati muncul begitu saja dalam diriku.
Tapi aku kembali pada kesadaran ku saat melihat kain berwarna merah tua yang berada di lantai mobilnya adalah merupakan renda dari sebuah ****** ***** wanita. Aku tidak mengatakan apapun, aku langsung mengalihkan perhatian ku dari ****** ***** itu dan merasa jijik akan hal itu.
Aku tidak mau berargumen tentang hal itu karena aku tidak punya kekuatan. Kehilangan akan kematian membuat jantungku lemah dan berhenti berdetak dan aku juga merasa kehilangan kekuatanku. Sampai sekarang, aku bahkan belum bisa menyembuhkan nya.
Aku tidak yakin jika aku akan bisa menyembuhkan diriku sejak kematian Mama yang mengambil sebagian dari hatiku pergi. Dan sebagian hatiku yang masih ada, sudah terbagi menjadi potongan kecil berkeping-keping karena pria yang aku cintai malah meninggalkan aku sendirian, dan tanpa tujuan untuk melanjutkan hidupku.
"Aku tidak mau pulang ke rumah." Ucapku dengan suara yang terdengar dingin.
Mas Al langsung menatapku, wajahnya berubah padam dan rahang nya juga tampak mengeras. Dia membuka mulutnya untuk mulai berargumen denganku. Tapi dia tampak mengubah pikirannya dan menutup mulutnya lagi setelah melihat tatapan balasan yang aku berikan padanya.
Ini adalah pertama kalinya dia melihat ekspresi yang seperti ini dari diriku yang berarti dia akan mengikuti apa yang aku katakan atau akan ada pertumpahan darah diantara kami berdua.
Dia lantas mengendarai mobilnya ke hotel terdekat. Di mana hotel itu merupakan hotel bintang lima yang sangat mewah. Aku bahkan tidak akan pernah bisa membayar biaya sewanya dengan uang yang aku punya dengan hanya berprofesi sebagai pekerja resepsionis di sebuah hotel kecil.
Hotel itu berdiri dengan begitu gagah dan mewah di jantung kota. Itu adalah salah satu bisnis memilih keluarga Mas Al yang merupakan anak tertua dari keluarga Greyson. Seorang pria kaya dan pekerja keras yang membangun perusahaannya dari bawah.
Mobil mercedes benz berwarna hitam menepi di area parkir hotel itu. Aku tidak menunggu Mas Al untuk membuka pintu. Sikapnya yang begitu gentleman membuatku merasa tidak nyaman dan sangat marah.
Bersambung.....