Ini kisah seorang gadis cantik, Sheilla Abraham namanya. Seorang gadis nakal, pembuat onar yang akhirnya memutuskan untuk berubah.
Namun, ternyata keputusan Sheilla untuk berubah malah membuat nya menjadi bahan bullyan di sekolah baru nya.
Lalu, akankah Sheilla melawan? atau membiarkanmu dirinya menjadi bahan bullyan murid-murid di SMA Raharja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizkook lovers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Six
Sudah beberapa hari ini Love dan kawan-kawan tak ada henti-hentinya mendekati Sheilla, mereka masih berharap jika gadis berkacamata pemilik mata biru itu mau menjadi teman mereka.
Segala cara telah mereka lakukan, tak jarang mereka terlihat memohon pada Sheilla hingga seluruh murid SMA Raharja di buat shock oleh mereka.
"Ayolah Shei, masa lo gak tertarik sama sekali sih buat jadi teman kami? kami ini cantik loh, famous, punya pengaruh, dan yang pasti kami ini gak munafik. Masa lo masih gak mau jadi temen kami?" Rengekan Nana pagi itu kembali terdengar, sama seperti pagi biasanya.
Sheilla hanya menatap datar, karena justru itu yang membuat ia enggan berteman dengan mereka. Mereka itu famous dan memiliki kuasa di sekolah ini, jika Sheilla berteman dengan mereka, maka otomatis ia akan ikut terkenal, dan ia tak ingin hal itu terjadi.
Lagipula berteman dengan mereka yang populer ini juga pasti akan membuat Sheilla lebih banyak mendapatkan bully-an dan berakhir dengan ia yang tidak tahan lalu membantai seluruh sekolah, itu akan membuat ia tak jadi mendapatkan hadiah dari sang kakak; Nathan.
"Sudah aku katakan berulang kali, aku tidak tertarik," Acuh Sheilla, kemudian pergi meninggalkan mereka.
Ara tak mau tinggal diam, ia segera menyusul langkah Sheilla. "Shei, tunggu dulu, dengerin aku dul_"
"ARA, AWAS!!" Teriak Love dari belakang.
Ara yang terkejut mendengar teriakan Love pun sontak berhenti, ia menoleh kesamping dan seketika mematung ketika sebuah bola basket melayang ke arahnya.
HAP...
"Kalau main bola hati-hati!"
"Iya sorry, boleh minta bolanya balik gak?"
Ara sibuk terpaku pada Sheilla yang baru saja menangkap bola itu, dan melempar balik ke pemilik nya, sampai-sampai ia tak menyadari jika gadis itu tengah menanyakan keadannya.
"Ra, gapapa kan?" Tak ada jawaban dari si lawan bicara.
"Ra?" Gadis itu masih termenung.
Nana dan Love segera menghampiri, "Ra, lo gapapa kan?" Love menyentuh bahu sahabatnya itu, menyadarkan Ara dari lamunan nya."A_ah, aku gapapa kok. Tapi tadi, Sheilla..."
Kini semua mata menatap Sheilla, sesaat suasana terasa hening hingga tiba-tiba suara Nana memecahkan keheningan keempat gadis itu. "GILA SHEI, LO HEBAT BANGET TADI! GILAK GILAKK GILAKKKKK"
Suara memekakkan telinga Nana berkumandang dengan sungguh luar biasa hingga Sheilla harus menutup kedua lubang telinga nya.
Plak...
Love memukul bahu Nana pelan, "Suara lo lebih gila, Na."
"Aww, Love lo kok kasar banget sih. Ini namanya kdrt."
Sheilla melirik jengah, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan para gadis gila itu. Bisa ikutan gila dia kalau deket-deket sama mereka.
•
•
•
Byur...
Oh s*al, sekarang seluruh pakaian yang Sheilla kenapa telah basah karena air, dan lebih si*alnya lagi ia tak membawa baju ganti.
"Woah, lihatlah teman-teman, sepertinya si cupu merasa gerah sampai mandi di di depan pintu masuk kamar mandi." Lagi-lagi oknum bernama Amanda Morlena, sepertinya perempuan itu memang memiliki dendam pribadi kepada Sheilla.
Rasanya tiada hari tanpa membully gadis cantik berkacamata itu.
Sheilla menatap tajam Amanda dan sekawanan nya, ia tak bisa lagi menyembunyikan emosinya yang terasa sudah di ujung tanduk.
"Owh, kenapa menatap ku seperti itu? marah hmm?" Dicengkram nya kedua pipi tembam Sheilla hingga bibir gadis itu pun ikut mengerucut.
"Lo dengerin gue baik-baik ya... jangan pernah lo berani deketin Ryan atau cowok famous di sekolah ini," ucapnya tepat di depan wajah Sheilla.
Hey! Sheilla juga gak sudi kalik deketin cowok-cowok narsis kayak Ryan dan sekawanan nya itu. Mereka nya aja yang suka banget gangguin Sheilla, terutama laki-laki kelahiran Jepang dengan nama asli Nakamoto Yuta itu.
"Kenapa hanya diam?! jawab dong!" Gadis blasteran Indo-Amrik itu mendorong bahu Sheilla hingga tubuh gadis itu membentur dinding kamar mandi.
Amanda melirik teman-teman nya, memberikan mereka kode dengan kedipan mata.
Teman-teman Amanda yang mengerti pun dengan sigap memegang tangan Sheilla, ada juga yang pergi untuk mengunci pintu kamar mandi.
Sheilla menatap bingung gadis di hadapan nya, sebenarnya hal gila apa lagi yang akan gadis itu lakukan?
"Aku kemarin baru saja belajar tinju, dan aku memberikan kehormatan pada mu untuk menjadi samsak tinju pertama ku." Gadis itu menyeringai sedangkan Sheilla sudah membelalakan matanya. Bisa kebakaran markas ARMI kalau nanti princess mereka datang dengan muka penuh lebam.
Sheilla mulai memberontak ketika Amanda mulai mengangkat kepalan tangannya, namun teman-teman Amanda menahan tubuhnya.
Sheilla bisa saja menyingkirkan mereka dengan sekali tendangan, tapi ia tak mungkin melakukan itu jika masih ingin penyamaran nya aman.
Bugh...
Satu pukulan mendarat pada pipi kanan Sheilla tidak begitu sakit, tapi tetap menimbulkan bekas di sana.
"Owh... itu pasti sakit," Salah satu teman Amanda meringis.
Namun sayangnya, Sheilla tak menunjukkan ekspresi apapun dan itu membuat Amanda kurang puas. Ia ingin melihat gadis itu memohon dan menangis di hadapan nya, karena sungguh, selama ia membully Sheilla, gadis itu tak pernah bereaksi dan terus saja mempertahankan wajah datar nya.
Bugh...
Satu pukulan kembali mendarat di pipi Sheilla, namun kali ini pipi kirinya lah yang mendapatkan bagian.
"Gue bakal mukulin lo terus, sampai lo bersujud dan minta ampun sama gue."
•
•
•
Ryan menatap bangku di samping nya dengan tatapan khawatir, bel masuk sudah berbunyi, guru pun sudah datang, namun gadis berkacamata yang menjadi teman sebangku nya sama sekali belum kembali ke kelas.
"Kemana perginya gadis itu?" Gumamnya.
Guru memulai absensi sebelum memulai pelajaran, satu persatu nama murid telah ia sebutkan, hingga sampai dimana lah waktunya absen terakhir.
"Sheilla Graneta A?"
Tidak ada suara murid yang menyahut, membuat sang guru harus memperhatikan seluruh kelas untuk memastikan bahwa muridnya telah lengkap.
"Dimana Sheilla? apakah dia tidak masuk hari ini?" Tanya guru bertubuh gemuk, berkacamata itu.
"Pagi ini dia masuk kok Bu, gak tau deh kenapa sekarang belum balik. Mungkin sengaja mau bolos," Ucap salah seorang siswi.
"Benar-benar gadis pindahan itu." Sang guru menggelengkan kepala, merasa sedikit geram dengan murid baru itu.
"Parah banget si Sheilla, padahal tadi gue liat dia masuk ke kamar mandi. Gue kira mau buang air, ternyata bolos." Bisik salah seorang murid pada temannya yang di dengar oleh Ryan.
Kamar mandi? oh, kenapa tiba-tiba perasan Ryan semakin tak enak saja?
Laki-laki itu mengangkat tangan, meminta izin ke kamar mandi. Ia perlu segera menemui Sheilla karena sungguh, ia sangat khawatir.
Klak... Klek... Klek...
Ryan mengerutkan kening, kenapa pintu kamar mandi susah banget di buka? apakah ada seseorang yang menguncinya?
"Hey! apakah ada orang di dalam?!"
DOR... DOR... DOR...
Ryan menggedor pintu kamar mandi, namun tak ada jawaban dari sana selain suara ringisan seseorang yang ia dengan.
Tanpa pikir panjang lagi, Ryan langsung mendobrak pintu kamar mandi karena ia tahu jika di dalam sana ada seseorang yang sepertinya membutuhkan bantuannya.
BRAK...
Setelah pintu kamar mandi terbuka, Ryan langsung di sambut dengan keberadaan Sheilla yang tengah meringkuk di bawah wastafel dengan keadaan yang tidak bisa di katakan baik. Wajah penuh lebam, baju yang basah, tali dasi yang sudah copot serta rambut yang acak-acakan.
Dan satu hal lagi yang membuat Ryan semakin shock, gadis itu, gadis yang biasanya terlihat sangat tegar dengan tegas itu hari ini menangis.
Perlahan-lahan Ryan membawa langkahnya mendekat Sheilla, berjongkok di hadapan Sheilla.
"Hey, ada apa?" Tangan Ryan terulur untuk mengusap kepala Sheilla, namun gadis itu segera menghindar ketakutan.
"Enggak, daddy tolong hiks... daddy... Lala gak mau di bawa pergi sama mereka hiks... gak daddy... Lala gak mau hiks... tolong, mommy... Kak Nathan... Kak Mahen hiks..." Gadis itu terlihat kacau, ia meracau tak jelas meminta pertolongan pada siapa saja yang ia ingat.
Ryan rasa, sepertinya Sheilla memiliki trauma, dan trauma gadis itu sedang kambuh. Entah apa penyebabnya, Ryan pun tak tahu.
Tanpa pikir panjang lagi, Ryan menggendong Sheilla di depan, tak peduli dengan gadis itu yang terus saja meronta meminta untuk di lepaskan.
"Yak orang jahat, lepaskan!! lepaskan aku! hiks lepaskan...aku tidak ingin ikut dengan mu hiks..." Di pukulnya dada bidan si lelaki tanpa tenaga, jadi tentu saja tak berasa.
Tubuh Sheilla lemas, sepertinya trauma nya yang kambuh membuat energinya terkuras hingga akhirnya ia pingsan di tengah jalan menuju UKS.
Ryan melirik gadis di gendongan nya dengan tatapan sendu, merasa prihatin dengan gadis yang beberapa saat lalu memukuli dadanya sambil beracau pilu.
Perjalanan nya menuju kantin tentu saja melewati beberapa kelas yang perhatian seluruh muridnya langsung tersita pada si kapten tim Basket tampan SMA Raharja.
Beberapa siswa perempuan ada yang menjerit histeris, ada juga yang menyumpah serapahi Sheilla, apalagi ketika Ryan melewati kelas 12D yang di mana itu adalah kelas Amanda and the genk.
Gadis berambut pirang itu sudah mengepalkan tangan kesal, dalam hatinya ia berjanji akan membuat keadaan Sheilla jauh lebih parah daripada ini.
•
•
•
Ryan membaringkan Sheilla di atas ranjang, di lihat nya seluruh ruangan itu untuk mencari dokter yang bertugas. Namun, nihil di sana tidak ada siapa pun.
Pas sekali, saat itu salah satu anak PMR datang membawa beberapa obat untuk di taruh di UKS.
"Hey, kamu!" Panggil nya pada murid perempuan itu.
"Ya kak, ada apa?" Gadis itu segera mendekat.
"Dimana dokter yang bertugas?"
"Hari ini yang bertugas adalah Bu Ratna, beliau sedang berada di lab bersama profesor Antoni. Ingin aku panggilkan kak, Bu Ratna nya?" Ryan memberikan anggukan pada gadis itu, "Ya, dan cepat lah."
Gadis itu segera meletakkan obat yang bawa ke atas meja, lalu segera pergi untuk memanggilkan sang dokter.
Ryan kembali mengalihkan perhatiannya pada Sheilla yang masih terbaring tak sadarkan diri, tangannya terulur untuk mengusap kepala si gadis.
"Jangan sakit, orang tua mu bakal khawatir nanti."
ikutan sedih,,,soal ny penjahat asli ny lom tahu ad dendam ap sma sma sheilla trus kn kayak sembunyi d balik layar gthu,,,,
ryan keren,dh kayak pangeran berkuda besi ajj,,,🤭🤭🤭