Cinta itu harus menghadapi banyak halangan.
Ibu Imah menganggap Zack terlalu tua bagi anak gadisnya. Pekerjaan Zack menuntutnya untuk selalu berada jauh dari Imah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RADISYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Zack Seorang Pilot
Apakah aku membuat mu jemu? " tanya Imah terus terang.
Ia merasa tak enak bila Zack merasa bosan saat bersamanya.
Ia merasa seolah zack mengusirnya, dan Imah merasa takut jika Zack tersinggung karena ia telah mengajak Zack untuk berdansa.
" Ah.. Bukan begitu..! " kata Zack sambil tertawa. Ia malu telah mengatakan hal itu pada Imah. Tidak ada maksud Zack untuk mengusir Imah.
Sejujurnya, ia sangat senang bisa berlama-lama mengobrol dengan Imah.
Sebenarnya Zack jauh lebih terbiasa dengan hanggar pesawat terbang dari pada ruang dansa.
Ia sangat menikmati setiap kebersamaannya bersama Imah.
" Kau sama sekali tidak membosankan. Aku hanya berfikir mungkin kau ingin berdansa bersama teman-teman mu.! "
Denis dan Zack punya kesamaan, mereka sama-sama tidak bisa dan tidak suka berdansa.
" Aku sudah berdansa bersama teman-teman ku tadi..
Apa yang suka kau lakukan diwaktu senggang mu? "
" Bersantai, menghabiskan waktu dirumah. " jawab Zack sambil tersenyum malu.
Rasanya begitu nyaman saat duduk bersama Imah, dan membicarakan pesawat terbang, topik yang dikuasainya.
" Bagaimana dengan mu, apa yang kau lakukan diwaktu senggang mu? "
" Aku senang bertamasya, membaca, berenang dan menulis.
Terkadang aku ikut berkuda bersama ayah ku. Saat masih kecil, aku senang bermain skate. "
" Semua itu kegiatan yang bagus dan sangat menyenangkan. "
" Apakah kau bisa menyetir mobil? "
Tanya Zack sambung menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Sejenak fikiran gila menyelinap dibenak nya, apakah Imah mau belajar terbang.
Imah hanya tersenyum mendengar pertanyaan Zack.
" Aku sudah mendapatkan surat izin mengemudi setahun yang lalu, saat aku berusia 17 tahun, tapi ayah ku tidak suka aku mengendarai mobil.
Jika berpergian, aku selalu bersama sopir."
Zack hanya mengangguk dan sedikit terkejut dengan apa yang Imah sampaikan.
" Berapa usia mu sekarang? "
Zack sudah yakin bahwa Imah berusia diatas dua puluhan.
Imah kelihatan begitu dewasa dan pandai bergaul.
" Delapan belas tahun. Aku akan berusia delapan belas tahun dalam beberapa bulan lagi. Memang kau fikir berapa umur ku saat ini? "
Imah merasa heran saat melihat Zack sedikit terkejut.
" Perkiraan ku, saat ini kau berusia sekitar 22 atau 23 tahun, atau bahkan 25 tahun.
Seharusnya remaja seperti mu tidak mengenakan pakaian yang seperti itu.
Kau membuat pria dewasa seperti ku menjadi bingung.! "
Imah merasa bahwa Zack tidak terlihat tua, apalagi saat ia terlihat tengah merasa malu dan canggung seperti anak kecil.
Dalam beberapa waktu, ia kelihatan seperti salah tingkah, tidak enak hati dan membuang muka, lalu ia akan berusaha memandang wajah Imah.
Imah menyukai sikap Zack yang pemalu, sikap yang bertentangan dengan kemahiran terbangnya, dan itu menandakan kerendahan hati.
Zack dan Denis merupakan pilot yang hebat.
Zack sudah memecahkan rekor secara konsisten dalam tahun-tahun belakangan ini, bahkan beberapa pakar penerbangan menganggap Zack pilot yang hebat.
Zack dan Denis saling mengagumi dan mereka bersahabat.
" Berapa usia mu, Zack? "
" Dua puluh delapan, hampir dua puluh sembilan. Aku sudah mulai terbang sejak usia dua puluh dua tahun.
Aku bertanya dalam hati, apakah suatu hari nanti kau mau terbang bersama ku?
Tapi ku fikir orang tua mu tak akan mengizinkan."
" Ibuku tak akan mengizinkan, tapi ayahku akan menganggap itu menyenangkan.
Apakah kau memiliki pesawat pribadi yang bisa kau terbangkan sendiri? "
" Mungkin suatu hari aku bisa mengajarimu terbang.
Iya, aku memiliki pesawat terbang sendiri, hanya pesawat kecil. "
Saat Zack mengatakan akan mengajari Imah terbang, matanya penuh dengan impian. Ia belum pernah mengajari seorang gadis untuk terbang, meskipun ia kenal cukup banyak pilot wanita.
Ia bersahabat dengan Amalia sebelum wanita itu menghilang dua tahun yang lalu.
Ia juga sudah terbang bersama Rena, teman Denis selama beberapa kali.
Menurut Zack, wanita itu hampir sama mengesankannya dengan Denis.
Rena sangat menyukai Zack.
Tapi Zack tidak memiliki perasaan apapun pada nya.
Setiap wanita yang berada didekatnya, Zack hanya menganggap mereka teman.
Zack merasa nyaman dengan kesendiriannya, dengan kesibukannya terbang ke seluruh wilayah nusantara, bahkan sesekali terbang ke luar negeri.
" Apa kau sedang melanjutkan kuliah? " tanya Zack dengan ekspresi ingin tahu.
Zack sudah berhenti mengikuti pendidikan formal sejak usia dua puluh dua tahun, sisa pendidikan selanjutnya ia dapatkan dalam pesawat terbang.
Imah mengangguk,
" Akun akan mulai kuliah tahun ini. " jawab Imah santai.
" Apa kau sudah mendapatkan kampus yang kau inginkan? "
" Aku telah mengikuti ujian masuk Perguruan tinggi dan aku tinggal menunggu kabar, apakah aku diterima atau tidak.
Aku ingin kuliah di Yogya, tapi ibu tidak mengizinkan, jadi aku cari kampus yang ada di Jakarta.
" Apakah suka tinggal di sebuah kota besar, seperti Jakarta?"
" Entahlah, aku tak begitu yakin.
Aku berasal dari kota kecil, terbiasa dengan kehidupan yang damai.
Walaupun aku sering ke kota-kota besar dan menginap disana pada saat istirahat tapi waktu ku banyak aku habiskan diatas pesawat.
Pada saat aku libur, maka aku akan menemui keluarga ku di sebuah kota kecil di Surabaya."
Zack memang berasal dari kota kecil, tapi sesuatu pada diri Zack telah melampaui kehidupan kota kecil, lebih dari pada apa yang disadarinya.
Ia telah menjadi bagian dari dunia yang jauh lebih luas, hanya saja Zack belum menyadarinya, tetapi Imah telah merasakan semua itu.
Mereka masih asyik bercakap-cakap, ketika ayah Imah berjalan mendekati mereka, dan Imah memperkenalkan ayahnya pada Zack.
" Saya mohon maaf karena sudah terlalu lama berbincang dengan putri tuan, seolah-olah saya telah memonopoli dan menguasainya sendiri." kata Zack merasa tak enak hati pada ayah Imah.
Zack khawatir ayah Imah akan marah padanya, karena mengingat usia Imah yang masih sangat muda.
Tapi bagi Zack berbincang-bincang dengan Imah terasa sangat menyenangkan.
Tak terasa, mereka sudah berbincang hampir dua jam hingga ayah Imah menyusul ke meja tempat mereka berbincang.
" Aku tak bisa menyalahkan mu." kata ayah Imah ramah.
" Imah memang teman mengobrol yang sangat menyenangkan.
Aku tadi mencarinya, dan aku melihat dia tengah baik-baik saja. "
Ayah Imah memandang Zack, menurutnya Zack tampak cerdas dan sopan.
Ketika mendengar nama Zack, ayah Imah sangat terkejut.
Dari apa yang dibacanya dalam berita-berita di media, ayah Imah tahu bahwa Zack seorang pilot yang cukup tangguh.
Ia heran, mengapa Zack bisa berbincang akrab bersama Imah, apakah Imah tahu siapa Zack?
Selain Denis, Zack adalah salah satu pilot terbaik, mesti tidak se terkenal rekannya itu tapi Zack tidak berbeda jauh.
" Zack menawarkan kita untuk sesekali ikut terbang bersama pesawat nya.
Menurut ayah, apakah ibu akan setuju dengan hal ini atau akan menolaknya? "
" Menurut ayah, kurang lebih akan seperti itu. "
Ayah Imah tertawa. " Tetapi, mungkin ayah bisa membujuk ibu untuk bisa ikut dalam penerbangan tersebut. "
Lalu ayah berbicara pada Zack, " Tawaran mu bagus sekali, Zack.. Aku menyukai cara mu. Aku mengenalmu dan mengetahui semua prestasi mu.
Kau termasuk pilot terbaik dan bisa diandalkan. "
Zack kelihatan malu mendengar pujian yang disampaikan ayah Imah.
Ia merasa senang, ketika ayah Imah mengenalnya.
Tidak seperti Denis, Zack berhasil menghindari sorotan sebisa mungkin, tapi sudah semakin sulit setelah banyak prestasi yang banyak mencuat akhir-akhir ini.
ke ceritaku👃👃
Semoga Imah bisa kembali pulih setelah mengalami pendarahan. 🙏
Yg sabar ya Imah, semua merupakan cobaan dlm kehidupan mu. 🙏🙏
Semoga Imah dan bayinya baik" saja setelah kejadian itu. 🙏