Tania seorang gadis manis dan ceria adalah anak seorang Profesor yang bernama Zakaria. Dia gagal menikah karena rombongan calon pengantin laki - laki mengalami kecelakaan dalam perjalanan.
Kejadian tersebut membuat ayah Tania terkena serangan jantung dan dirawat di rumah sakit. Takut Tania akan sendirian, sang ayah meminta mantan muridnya Galih untuk menikah dengan putri semata wayangnya. Galih adalah seorang pegawai kantoran yang introvert, culun dan pemalu.
Bagaimana kisah cinta Tania dan Galih selanjutnya? Ikuti kisah cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 06
"Hai aku Tania, namamu siapa?" tanya Tania mengulurkan tangannya.
Galih tampak berpikir, ternyata Tania tidak mengenalinya sama sekali dan itu membuatnya sangat bahagia. Sekaligus bisa menemaninya menari setiap hari.
"Namaku adalah Rendi. Kamu pasti pernah mendengar namaku dan juga tentangku." ucap Galih dengan gaya coolnya.
"Belum pernah." sahut Tania.
"Jangan khawatir, mulai saat ini kamu akan terus mendengar tentangku dan juga menyebut namaku dari sekarang." tukas Galih.
Tania hanya tersenyum kaku dan merasa risih dengan cowok di depannya itu.
"Baiklah, sampai jumpa besok dan selamat tinggal." ucap Tania.
"Oh tidak … tidak…! Jangan pernah mengucapkan kata selamat tinggal. Akan tetapi, selalu katakan kita berjalan di jalur cinta, di ujung jalan kita akan bertemu kembali." ucap Galih yang meluncur kata - kata itu dengan sendirinya.
"Oke Rendi."
Kemudian, Galih dan Tania berpisah. Tania pulang kerumah, sedang Galih pulang ke tempat Bobby di salon.
"Aku tidak mengerti Galih, kamu bilang akan melihat Tania menari lalu pulang kerumah dan mengejutkan dirinya bahwa aku telah merubah penampilan. Sekarang kamu memintaku untuk membuat kumis palsu ini?" heran Bobby pada Galih akan rencananya kali ini yang ikut kelas menari juga.
"Oh Bobby, kamu tidak tahu. Aku mendapat kesempatan untuk menari dengan Tania setiap hari dan kamu mau aku melepaskan kesempatan itu begitu saja?" tanya Galih yang juga bingung akan sikap sahabatnya itu.
"Bobby! Kamu pikir jika Tania tahu itu saya, mau tidak dia menari dengan orang culun sepertiku?" tanya Galih lagi pada Bobby.
"Tidak akan Bobby dan bahkan jika Tania mau, dirinya tidak akan jadi Tania yang sama seperti yang aku lihat hari ini." ujar Galih menjelaskan kepada Bobby.
"Apakah kamu mengerti sekarang?" tanya Galih.
"Aku tidak mengerti sama sekali." kata Bobby yang masih belum paham akan perkataan Galih.
"Haiis… Bobby. Galih mengingatkan Tania akan tragedinya, kesedihannya dan tidak akan bisa jadi Tania yang dulu jika didekat Galih." jelas Galih memberi pengertian kepada sahabatnya Bobby.
"Sekarang sebagai Rendi, aku memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua dengan Tania hanya dengan menari." sahut Galih.
"Katakan padaku, dari sekian banyak orang bagaimana bisa dia yang menjadi pasanganku?" tanya Galih.
"Bagaimana aku tahu kawan!" sahut Bobby.
"Aku beritahu kamu! Semua itu karena atas kehendak Tuhan. Jika Dia ingin, Dia bisa dengan mudah mengenaliku dalam sesaat. Tapi Tuhan tidak melakukannya. Kamu tahu mengapa sebabnya?" kata Galih saat menatap wajah Bobby seraya jari telunjuk menghadap ke atas.
Galih kemudian memutar kursi Bobby menghadap cermin dan mengatakan sesuatu hal yang membuat Bobby menangis haru akan kisah cinta sahabatnya itu.
"Begitulah kisah cintamu dimulai. Sekarang menarilah dengan Tania sepuasmu, untuk mengenal Tania lebih dekat dan membuatnya tertawa. Beri dia kebahagiaan sehingga melupakan semua kesedihannya dan menjadi Tania yang ceria serta mencintaimu selamanya. Sebagai Rendi, kamu bisa mengatakan padanya apapun di dalam hatimu. Semua yang tidak dapat dikatakan oleh Galih, sekarang pergi dan hidupkan kisah cintamu." jelas Galih seraya meneteskan airmata kesedihannya.
"Galih, kamu membuatku sedih lagi. Ini kumismu dan sekarang waktunya Galih kembali kerumah." ucap Bobby seraya memasang kumis Galih.
Kemudian Galih segera berpamitan kepada Bobby karena hari sudah larut malam.
Dirumah, Tania sedang menghafal gerakan tari seraya menunggu Galih pulang kerja.
Sesaat kemudian, Galih datang dan melihat Tania di meja makan.
"Maaf aku pulang terlambat dan mau ganti baju sebentar." ucap Galih yang merasa gugup sambil memegang kumis palsunya.
"Sini rantangnya aku ambil." pinta Tania menunjuk rantang yang ada di dekapan Galih.
"Ah iya … rantang. Ini ambilah." ucap Galih.
"Ada apa dengan lehermu?" tanya Tania.
"Tidak apa - apa! hanya keseleo saja. Aku pergi dulu ke kamar." tukas Galih yang berlalu pergi begitu saja.
Tania hanya merasa bingung dengan sikap suaminya yang sedikit aneh hari ini.
Galih berhenti sesaat di belakang pintu dan melihat apakah Tania mengikutinya atau tidak. Ternyata, Tania tidak tahu sama sekali soal penyamarannya tadi.
Jangan lupa like, komen dan hadiahnya yak. Terimakasih sudah mampir 😘
Selamat Membaca 🤗