"Sekarang topinya dulu, besok hatinya." Ucap El pada Diska.
AWAS SENYUM SENYUM SENDIRI DAN JADI BAPER!!
Cerita cinta ditahun 90'an.
Yg kangen cerita 90an silahkan merapat dan mengenang bersama masa-masa cinta monyet dan cinta pertama.
Diska Adalah Seorang Remaja Yang Ceria, senang membaca buku dan hobi membeli banyak buku dan Pandai membuat puisi Sementara Eldirga atau yang biasa dipanggil El Seorang Pria Cool dan Galak yang mempunyai hobi bermain gitar dan menciptakan lagu.
Diam Diam Mereka Saling Jatuh Cinta Namun Saling Gengsi.
Bagaimana Kelanjutannya? Simak Terus Kelanjutannya Ya.
Mohon Kritik dan Saran Yang Membangun Untuk Penulis Agar Lebih Berkreatif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan
Langkah kaki Diska terdengar pelan di sepanjang trotoar yang mulai basah oleh rintik hujan sore itu. Payung kecil yang biasa dibawanya tertinggal di rumah Airin. Langit abu-abu tampak menggantung rendah, seolah menahan tangis yang siap pecah kapan saja. Ia memeluk erat tas selempangnya, sedikit menunduk saat angin sore menerpa wajahnya.
Namun langkahnya terhenti begitu saja saat matanya menangkap sosok yang familiar di ujung jalan—seorang cowok berseragam putih biru yang tertutup hoodie, duduk di kursi halte, menatap kosong ke arah jalanan.
“El…?” gumam Diska pelan, nyaris tak percaya.
Sosok itu menoleh cepat, dan begitu menyadari siapa yang memanggil, ia berdiri sambil melangkah ke arahnya dengan ekspresi kesal.
“Lama banget sih lo!” serunya dengan nada tinggi, alisnya menukik tajam.
Diska spontan mengerutkan kening. “Lo ngapain di sini?” tanyanya heran.
“Nanya lagi—ya nunggu lo lah,” jawab El, nada suaranya masih sama tinggi.
Diska membalas dengan nada kesal, “Siapa suruh lo nungguin gue? Gue gak nyuruh lo nungguin gue.”
El menarik napas panjang, berusaha menahan nada suaranya agar tak semakin meninggi. “Lo mau balik gak?” tanyanya akhirnya, lebih tenang, seolah ingin mengakhiri adu mulut kecil itu.
“Ya balik lah,” jawab Diska cuek sambil menatap arah seberang jalan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, El meraih pergelangan tangan Diska. Sentuhannya hangat di tengah udara dingin sore itu. Dengan gerakan tenang tapi tegas, ia menuntunnya menyeberang menuju halte di seberang jalan. Diska nyaris tak sempat berkata apa pun, hanya bisa menatap tangan El yang menggenggam pergelangannya—ada sesuatu yang membuat dadanya berdebar aneh.
Tak lama kemudian, butiran hujan turun lebih deras. Suara derasnya berpadu dengan klakson kendaraan yang berlalu lalang. Angkot yang lewat satu per satu selalu penuh, tak satu pun berhenti untuk menjemput mereka.
El diam sebentar, lalu tanpa banyak bicara ia melepaskan hoodie yang dipakainya, menyerahkannya kepada Diska.
“Pake nih,” katanya singkat.
Diska mengerutkan dahi. “Ntar lo pake apa?” tanyanya tak enak.
El mengedikkan bahu. “Gue cowok. Daya tahan tubuh gue dua kali lipat dari cewek.”
Nada datarnya seolah biasa saja, tapi entah kenapa kalimat itu terasa hangat di telinga Diska.
Diska sempat ragu, tapi akhirnya menerimanya juga. El membantu memegangi tas Diska sementara gadis itu mengenakan hoodie abu-abu miliknya. Aroma lembut parfum cowok yang khas langsung menyergap hidung Diska—aroma yang entah kenapa menenangkan.
Setelah hoodie terpasang rapi di tubuhnya, El mengulurkan tas itu kembali. Ia lalu melangkah ke tepi jalan, mencoba memberhentikan angkot yang melintas. Hujan makin deras, menetes di rambutnya yang mulai basah, tapi El tak peduli.
Beberapa kali ia melambaikan tangan, sampai akhirnya sebuah angkot berhenti di depan mereka.
“Bang, turunin di Jalan Permata ya,” katanya pada sopir. Sopir itu hanya mengangguk.
“Gue duluan ya, El,” ucap Diska sambil melangkah masuk ke dalam angkot dan duduk di pojok dekat jendela.
El hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, lalu melangkah mundur, kembali menyebrang di tengah hujan untuk mencari angkot lain ke arah rumahnya.
Dari balik kaca jendela yang buram oleh embun, Diska memperhatikan punggung El yang basah kuyup, langkahnya cepat tapi tenang. Ada sesuatu di dada Diska yang tiba-tiba terasa hangat sekaligus sesak.
“Buat apa si El nungguin gue di ujung jalan?” gumamnya dalam hati.
⸻
Sesampainya di rumah, Diska langsung masuk ke kamarnya. Ia menggantung hoodie milik El di balik pintu, lalu menatapnya beberapa detik.
“Wanginya… kalem banget,” gumamnya sambil tersenyum kecil. “Parfum khas anak cowok.”
Ia merebahkan diri di kasur, tapi matanya tak bisa terpejam. Bayangan El yang berdiri di tengah hujan terus menghantui pikirannya.
⸻
Malamnya, ponselnya bergetar. Notifikasi dari Airin muncul di layar.
Airin:
Dis, besok jadiin olahraga di stadion?
Diska:
Jadi, Rin. Sekalian mau ada yang gue ceritain.
Airin:
Oke Dis, sampe ketemu besok ya.
Diska:
Sipp.
Diska tersenyum kecil, lalu memandangi hoodie abu-abu yang masih tergantung. “Besok gue ceritain deh ke Airin,” gumamnya pelan.
⸻
Keesokan harinya, suasana stadion ramai oleh orang-orang yang berolahraga. Diska menunggu Airin di dekat tribun, memakai topi biru muda kesukaannya. Tak lama kemudian, terdengar suara nyaring dari kejauhan.
“Disss!” panggil Airin sambil melambaikan tangan.
Diska menyipitkan mata. “Lama banget sih, Rin,” omelnya begitu Airin tiba.
“Susah dapet angkot,” jawab Airin sambil nyengir dan menggaruk kepala yang tak gatal.
“Uhh dasar!” Diska mentoyor kepala Airin ringan, membuat keduanya tertawa.
Mereka pun berjalan santai mengelilingi stadion sambil mengobrol.
“Lo kemarin nyampe rumah jam berapa? Dimarahin nyokap gak?” tanya Airin.
“Nyampe hampir jam lima. Ibu gak marah, gue kan bilang main di rumah lo.”
Airin mengangguk. “Bagus deh. Katanya lo mau cerita, emang mau cerita apa?”
Diska baru membuka mulut, tapi tiba-tiba terdengar suara lain memanggil dari arah tribun.
“Airin! Diskaaa!”
Bima melambai sambil berjalan bersama Ryan dan Rizky.
Diska spontan melirik tajam ke arah Airin. “Kalian janjian, ya?” tanyanya sinis.
Airin tersenyum canggung, jari-jarinya memelintir ujung rambutnya.
“Lo kalo mau pacaran, ya pacaran aja sih. Ngapain ngajak gue,” gumam Diska kesal.
“Bukan gitu, Dis. Dari pada lo bete di rumah, gue ajak aja ke sini,” kata Airin sambil memeluk bahunya manja.
Diska hanya mendengus kecil. Tapi matanya langsung mencari-cari seseorang.
“El mana?” tanyanya. “Biasanya kalian berempat.”
Bima menghela napas. “Sakit dia.”
Diska spontan menoleh. “Sakit apa?”
Ryan langsung menimpali dengan nada menggoda, “Ciyeee, ada yang khawatir!”
“Apa sih, Yan?” gerutu Diska, wajahnya memerah.
“Katanya sih lagi pusing. Pas gue telepon tadi, suaranya berat banget, kayak orang flu,” jelas Rizky.
Diska diam. Pikirannya langsung melayang ke sore kemarin—El yang berdiri di bawah hujan tanpa hoodie, memaksanya memakai milik El sendiri. Mungkin… gara-gara itu.
Mereka duduk di pinggir lintasan setelah berkeliling tiga putaran. Diska lalu melirik Ryan yang duduk di sebelahnya.
“Kemarin kalian pulang jam berapa?” tanyanya datar.
“Sebelum jam empat. El bilang ada urusan, jadi kita duluan,” jawab Ryan.
“Urusan?” ulang Diska pelan, menatap jauh.
Ryan mengerling penasaran. “Emang kenapa?”
Diska menggeleng cepat. “Enggak, nanya aja.”
Ryan tersenyum tipis, lalu berbisik, “Si El sakit, lo gak nengokin?”
Diska terdiam beberapa detik.
“Ayolah, bareng gue nanti,” bujuk Ryan.
“Yang lain?”
“Lo mau yang lain tau kalau lo khawatir?” bisiknya lagi, menggoda.
Diska mendecak pelan. “Ntar gue malah diomelin si El.”
“Udah sih, dia tuh cuma galak di luar doang,” sahut Ryan sambil nyengir. “Gimana? Kalo gak mau, gue cabut ke rumah Rizky aja.”
Diska akhirnya menyerah. “Oke. Tapi jangan bilang siapa-siapa.”
Ryan terkekeh. “Cinta tapi gengsi,” katanya sambil menahan tawa.
⸻
Di antara hembusan angin dan gerimis yang masih menetes, Diska sadar—ada sesuatu dalam dirinya yang mulai berubah. Hatinya tak lagi sebatas kagum, tapi mulai hangat, waspada, dan… ingin lebih dekat dengan El.