NovelToon NovelToon
DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Di dunia di mana batas tertinggi manusia hanyalah Saint Rank, Sander Duster—putra ketiga keluarga militer terkuat di Elegrand Kingdom—dianggap gagal karena tidak memiliki bakat Life Energy seperti para ksatria lain. Namun takdirnya berubah saat ia menyelamatkan seekor kucing hitam misterius di tengah badai salju.

Kucing itu ternyata adalah Behemoth, salah satu Legendary Beast pemegang Hukum Devouring yang hampir memusnahkan dunia di masa lalu.

Melalui ikatan Soul Resonance yang tak disengaja, Sander perlahan memperoleh kekuatan fisik abnormal yang melampaui logika manusia biasa. Di balik kehidupan akademi, intrik politik bangsawan, ancaman perang antar kerajaan, dan kebangkitan monster legendaris mulai mengguncang dunia.

Saat semua orang memperebutkan kekuasaan, Sander justru berjalan menuju sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun dalam sejarah—

God Rank, ranah sang Dewa Perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Takdir di Bawah Pohon Es

Badai salju ekstrem tiba-tiba melanda wilayah luar Kastil Aethelgard dengan intensitas yang mengerikan. Langit sore yang semula abu-abu pucat kini berubah menjadi kegelapan total, tertutup oleh tirai putih raksasa yang ditiup oleh angin kencang berkecepatan tinggi. Jarak pandang menyusut drastis hingga hanya menyisakan beberapa meter ke depan. Lolongan angin yang melewati celah-celah tebing terdengar seperti jeritan mahluk buas yang sedang kelaparan, membawa serpihan es tajam yang sanggup menggores kulit terbuka.

Di tengah amukan alam tersebut, sebuah kereta kuda mewah berlambang klan Duster sedang berjuang keras untuk kembali ke kastil utama. Kereta tersebut baru saja menempuh perjalanan pulang dari kediaman klan Frost di kota bawah. Roda-roda kayu yang dilapisi besi berderit nyaring saat mencoba membelah tumpukan salju yang semakin meninggi di sepanjang jalan setapak perbukitan.

Tiba-tiba, sebuah suara dentuman keras terdengar dari arah depan, diikuti oleh ringkikan panik dari kuda-kuda penarik kereta. Kereta kuda itu tersentak hebat, memaksa kusir untuk menarik tali kekang dengan seluruh kekuatannya hingga kereta berhenti mendadak. Sebuah pohon es raksasa yang berada di tepi jalur perbukitan telah tumbang akibat tidak kuat menahan beban salju dan hantaman angin, melintang tepat di tengah jalan dan memutus jalur aman mereka.

Ren Cross yang berada di luar kereta langsung bertindak dengan efisiensi seorang pengawal profesional. Dia segera memberikan instruksi ketat kepada beberapa ksatria pengawal berbaju zirah yang mengendarai kuda di sekitar kereta. “Amankan perimeter! Dua orang bantu kusir untuk menstabilkan kuda, sisanya bantu aku untuk menyingkirkan batang pohon ini secepat mungkin! Tuan muda ada di dalam, kita tidak boleh membiarkan dia tertahan di tengah badai ini terlalu lama!” teriak Ren, suaranya bersaing dengan gemuruh angin malam.

Di dalam kereta yang hangat berkat lapisan isolasi sihir di dindingnya, Sander Duster duduk dengan tenang. Meskipun usianya baru sembilan tahun, dia tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun mendengarkan keributan di luar. Namun, perhatiannya mendadak teralih dari suara teriakan para pengawal ketika telinga kecilnya menangkap sesuatu yang sangat tidak biasa. Di antara jeda lolongan angin luar, terdengar sebuah suara erangan dengan frekuensi tinggi yang sangat halus, hampir tidak terdengar oleh manusia biasa.

Suara itu terdengar begitu menyakitkan, penuh dengan keputusasaan dan sisa-sisa napas terakhir yang hampir padam. Entah mengapa, jantung Sander berdegup kencang saat mendengar erangan tersebut. Ada sebuah dorongan aneh di dalam jiwanya yang memaksa dia untuk mencari tahu dari mana suara itu berasal. Sander menoleh ke arah jendela kereta, mencoba menembus ketebalan badai salju di luar melalui kaca tebal.

Tanpa berpikir panjang, Sander meraih gagang pintu kereta dan mendorongnya kuat-kuat. Begitu pintu terbuka, hantaman angin dingin langsung menerpa wajahnya, membuat napasnya sempat tercekat. Sander melompat turun dari kereta, kakinya langsung tenggelam hingga sebatas lutut ke dalam tumpukan salju yang membeku.

“Tuan Muda Sander! Apa yang Anda lakukan? Tetaplah di dalam kereta!” teriak Ren Cross yang terbelalak kaget melihat tuan mudanya keluar di tengah badai ekstrem seperti ini. Ren mencoba berlari mendekat, namun posisinya yang sedang menahan batang pohon besar membuatnya sedikit terlambat.

Sander tidak mendengarkan teriakan Ren. Mengikuti insting dan getaran halus yang entah bagaimana bisa dia rasakan di dalam dadanya, Sander berjalan dengan setengah merangkak membelah salju menuju ke arah semak-semak yang telah membeku menjadi kristal es di tepi jalan. Tangannya yang menggunakan sarung tangan wol mulai mengais dan menyingkirkan tumpukan salju tebal yang menimbun semak-semak tersebut.

Di sana, di dalam sebuah celah kecil di bawah akar pohon yang membeku, Sander menemukan sumber suara itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat melihat pemandangan di depannya. Sesosok makhluk kecil tergeletak dengan posisi meringkuk tak berdaya. Itu adalah seekor kucing hitam domestik yang masih sangat kecil. Namun, yang membuat Sander tertegun adalah seluruh permukaan tubuh kucing itu dipenuhi oleh retakan-retakan energi berwarna emas redup yang terus berkedip samar, seolah-olah menyemburkan sisa-sisa darah suci dari mahluk legendaris yang menguap karena hawa dingin.

Kucing hitam itu berada di ambang kematiannya, detak jantungnya begitu lambat hingga hampir tidak terasa lagi. Tanpa memedulikan badai yang bisa membekukan tubuhnya dalam hitungan menit, Sander segera melepaskan jubah bulu serigala tebal yang dikenakannya. Dia berlutut di atas salju, lalu dengan kedua tangannya yang kini mulai gemetar hebat karena hawa dingin langsung menyergap wajahnya, Sander mengangkat tubuh kecil kucing tersebut.

Sander mendekap kucing hitam yang sekarat itu erat-erat tepat di depan dadanya yang hangat, lalu membungkus tubuh hewan kecil itu dengan jubah bulunya. Tubuh Sander sendiri kini langsung menggigil hebat karena dia hanya mengenakan pakaian kain biasa di bawah amukan badai salju utara. Kulit wajah dan tangannya mulai memutih akibat gigitan es, namun cengkeraman tangannya pada tubuh si kucing sama sekali tidak mengendur. Dia menolak untuk melepaskannya, menggunakan kehangatan tubuhnya sendiri untuk menjaga agar detak jantung kecil si kucing tidak berhenti berputar.

“Bertahanlah... tolong bertahanlah,” bisik Sander dengan bibir yang sudah mulai membiru, menyandarkan dagunya di atas kepala kucing tersebut sembari terus menyalurkan sisa kehangatan tubuh fana miliknya.

Beberapa saat kemudian, Ren Cross akhirnya berhasil menembus tumpukan salju dengan wajah yang dipenuhi kepanikan luar biasa. Saat dia menemukan Sander, pelayan muda itu hampir terkena serangan jantung melihat kondisi tuan mudanya yang sedang berlutut tanpa jubah pelindung di tengah badai, memeluk sesuatu di dadanya dengan tubuh yang sudah gemetar di ambang hipotermia.

“Tuan muda!” Ren langsung menerjang maju, melepaskan mantelnya sendiri dan membungkus tubuh Sander dengan panik, lalu mengangkat tubuh anak itu ke dalam dekapannya untuk dibawa kembali ke dalam kereta kuda. “Kenapa Anda melakukan hal berbahaya seperti ini? Anda bisa mati membeku!”

Bahkan ketika Ren mengangkatnya dan membawanya kembali ke dalam kompartemen kereta yang hangat, Sander tetap bersikeras mengunci kedua lengannya di sekitar jubah bulu yang menyelimuti si kucing hitam. Di bawah kilauan lampu minyak kereta, Ren baru menyadari bahwa tuan mudanya sedang melindungi seekor hewan liar kecil yang tampak mengenaskan.

Ren segera mengambil selimut tebal dan handuk kering, dengan cepat menggosok tubuh Sander untuk mengembalikan sirkulasi darahnya. “Tuan muda, tolong lepaskan hewan itu, biarkan saya yang memeriksanya. Anda harus menyelamatkan diri Anda sendiri terlebih dahulu,” bujuk Ren dengan nada suara yang bergetar karena rasa khawatir yang mendalam.

Sander menggelengkan kepalanya dengan lemah namun penuh ketegasan yang tidak bisa dibantah. “Tidak, Ren. Jangan sentuh dia. Jika aku melepaskannya sekarang, kehangatan ini akan hilang dan dia akan mati. Biarkan dia seperti ini sampai kita tiba di kastil.”

Ren menatap mata hitam Sander yang memancarkan tekad absolut yang sangat mirip dengan pandangan mata Grand Duke Gabriel saat berada di medan perang. Menyadari bahwa dia tidak akan bisa mengubah keputusan tuan mudanya, Ren hanya bisa menghela napas panjang, lalu meningkatkan aliran sihir penghangat di dalam kereta secara maksimal untuk membantu menaikkan suhu tubuh Sander serta mahluk kecil misterius yang ada di dalam dekapannya.

Di dalam dekapan dada Sander yang hangat, di balik lapisan jubah bulu serigala, sepasang mata kecil berwarna emas redup milik sang kucing hitam perlahan terbuka seperseribu senti. Kesadaran Behemoth yang sempat tenggelam dalam kegelapan keabadian yang hancur, perlahan-lahan ditarik kembali ke permukaan oleh sebuah sensasi asing yang belum pernah dia rasakan sepanjang jutaan tahun hidupnya: sebuah kehangatan tulus dari makhluk fana yang bersedia mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya untuk menjaga detak jantungnya tetap berputar. Kereta kuda klan Duster itu pun kembali bergerak cepat menembus sisa badai, membawa dua jiwa yang baru saja dipertemukan oleh takdir di bawah pohon es utara.

1
Manusia Ikan 🫪
bagus bagus, aku kasih nawar untuk kamu/Chuckle//Rose/

folback aku yah ehehe
Argo Sujendro: termakasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!