Ada sebuah kepercayaan pada legenda 'pamali' di kampung kebun jeruk nipis. yang dimana para gadis yang belum menikah dilarang keluar malam hari, duduk di depan pintu, potong kuku malam hari, gunting rambut pas malam hari.
Namun ada, sekelompok remaja yang melanggar aturan itu dan berujung malapetaka bagi dirinya sendiri. Dari mereka diganggu setan di rumah sampai dibuat tersesat di hutan belakang rumah.
Apakah Anda bisa menyelesaikan pamali yang telah mereka langgar dan pergi dari pamali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Samsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Sesampainya mereka di pasar lebuk. Semua keranjang hasil panen langsung diserahkan kepada Bu Maya pemilik toko buah yang cukup besar.
“Akhirnya dapet duit kita”kata para murid dengan raut wajah yang senang menerima upah dari hasil panen.
Dan sebagian hasil nya akan diberikan ke warga saat pulang dari pasar. “Kalian kalau mau jajan. Silahkan, tapi jangan jauh jauh yah” ujar Bu Windy
“Baik Bu” jawab serempak para murid. Semua murid langsung berpencar mencari sesuatu yang ingin mereka beli.
Putri terdiam kebingungan melihat wajah bunga terlihat pucat, seperti sakit. “Bunga kamu sakit?” Tanya putri
“Santai aja gue gak sakit, ini cuaca emang panas makanya kelihatan pucat muka gue.” Jawab bunga ia melirik kearah Cantika yang dari tadi ikut melihat nya.
Mendengar jawaban bunga, putri mengangguk kecil. “Oke, ayo mau gabung gak? Kita mau beli aksesoris sekolah di sana”
Cantika langsung terkejut mendengar putri mengajak bunga untuk ikut dengan nya. “Yaudah gua ikut”
Mereka pun berjalan bersama menuju toko yang menjual aksesoris perlengkapan sekolah.
Di sisi lain Alfin, Farhan, Bagas dan dimas bingung harus membeli apa dengan uang yang mereka dapatkan ini.
“Rokok” sahut Bagas langsung kena pukul oleh farhan di Lengan nya.
“Gila, lu. Yang ada kita kena amuk pak yahman nanti” ujar farhan yang tidak habis pikir dengan ucapan teman nya itu.
“Eh, Cok. Liat itu deh masa zaman
sekarang masih ada yang kayak gitu” seru alfin menunjuk ke arah pohon besar samping jalan dekat toko buku usang.
Alfin, Bagas dan dimas langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Farhan. Dan disana ternyata ada nampan berisi dua gelas air kelapa, dupa yang dibakar dan ada tiga jeruk.
“Sesajen itu mah” seru Alfin, Bagas dan dimas secara kompak.
“Hah? Sesajen?” Mendengar itu Farhan terdiam sejenak ia tidak mengerti maksud ucapan teman teman nya. “Sesajen apaan jir? Baru denger”
“Kalo kata emak gue itu tuh biasa digunakan untuk semacam media persembahan sama makhluk halus”
Jelas Bagas yang sebenarnya ia juga tidak begitu mengerti. Hanya saja Mama nya lah yang paham hal seperti itu.
“Ouh, jadi gak boleh dimakan yah?” Tanya Farhan yang tidak tahu hal hal semacam itu.
“Yap, itu tidak boleh dimakan”
“kuno, gak sih lu pada. Nih gua ambil juga gak bakal ada apa apa” dengan sombong Alfin mengambil jeruk di dekat pohon besar itu.
“Lah, malah di ambil si bocah. Lu aja yang makan gua kagak suka jeruk” kata Bagas menolak tawarannya Alfin.
“Ouh, iya lu emang gak suka jeruk. Sorry cuy lupa” Alfin pun menghabisi jeruk tersebut dengan nikmat. Sedangkan Bagas, Farhan dan dimas hanya diam menatap kedua nya.
“Pengecut lu berdua masa masih percaya sama hal kayak gitu” ledek Alfin
Farhan yang melihat itu hanya menghela nafas berat. “Lebih ke menghormati untuk hal kayak gitu sih, kita emang gak percaya hantu”
“Tapi untuk yang satu itu enggak deh, lagipula masih banyak makanan yang bisa dimakan” timpal Dimas tidak marah dengan ucapan Alfin.
Setelah kenyang mereka berempat kembali ke tempat parkir mobil mereka. Menunggu para cewek murid selesai belanja.
Di saat sedang menunggu ada beberapa warga yang lagi jualan sayur menatap tajam ke arah mereka.
“Iya, bu saya juga lihat mereka makan sesajen di pinggir jalan tadi” bisik Bu Lastri yang sudah memperhatikan gerak-gerik mereka.
“Ini kalo di kampung kita ada apa-apa, mereka sih yang harus tanggung jawab” seru nek wekar.
“Betul itu Mak, dan semenjak tiga hari kedatangan mereka tuh yah. Aku ngerasa hawa kampung jadi pengap gitu kalo malam hari mak” keluh kesah leskar yang tidak nyaman dengan suasana kampung akhir akhir belakang ini.
Mendengar keluhan leskar itu Mak wekar, Mak Erot dan bu lestari jadi cemas serta takut terjadi apa-apa dengan warga di kampung.
“Ouh, mungkin itu karena ada salah satu murid cewek yang keluar magrib pas hari kedua. Kalo gak salah namanya Risma deh” Sahut Mak Erot ia ingat jelas Risma keluar magrib waktu itu untuk membeli jajan.
“Astaga, udah melanggar pamali kampung kita itu namanya” ujar Mak wekar tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Mana aku liat si Risma ini juga beli softex gitu, berarti dia mau datang bulan itu”
Mendengar itu sontak semua langsung tegang dan terdiam. Di tengah ketegangan itu.
Para murid cewek yang sudah selesai belanja pun langsung naik lagi ke mobil pick.
“Semua nya udah naik kan? Gak ada yang ketinggalan nih yah” tanya Bu Windy memastikan murid nya sudah naik mobil pick semua nya.
“Sudah Bu” jawab serempak mereka.
pada pukul 11 siang mereka sampai di villa kembali dengan selamat tepat waktu sebelum waktu shalat Jumat untuk para laki laki.
Semua langsung turun dan masuk kedalam villa istirahat dari kegiatan yang cukup melelahkan. Untuk murid laki-laki langsung bersih bersih agar langsung ke masjid.
Tapi Alfin merasa seperti ada yang memperhatikannya dari kejauhan dan saat ia menoleh ke belakang. Ia tidak melihat apa apa disana.
“Mungkin cuma halusinasi karena kecapean aja nih, dah lah mending sholat terus habis itu istirahat deh”
Kembali ke sisi para guru cewek yang lagi istirahat. Kini mereka sedang kumpul di ruang tamu beserta para murid cewek yang ikut menyimak dengan tenang.
“Jadi seperti itu Bu, banyak warga yang mengeluh soal keadaan kampung jadi aneh karena kedatangan kita ini”
Mendengar penjelasan Bu Yanti para guru jadi terdiam. Karena setahu mereka semua kegiatan ini dilakukan untuk bentuk amal bakti sosial.
“Kalo boleh tau memang kenapa yah bisa suasana kampung jadi aneh karena kedatangan kita?” Tanya Bu Windy.
“Kalo untuk ikut, para warga menolak untuk bicara Bu. Jadi saya tidak tahu alasannya. Coba besok kita bikin tes kesehatan gratis di depan villa”
Usul Bu Yanti mencoba agar warga tidak merasa terganggu dengan kegiatan bakti ini.
Setelah dipikir-pikir bu nana dan Bu Windy setuju dengan usulan Bu Yanti. “Kayaknya boleh juga usulan nya bu, siapa tau setelah kegiatan itu warga jadi suka dengan kedatangan kita”
__________________________________
“Akhirnya enak juga udah mandi, udah sholat Dzuhur” ujar ayu dengan perasaan lega dan nyaman.
Entah mengapa ayu selalu merasa damai setiap hari Jumat, seperti ada berbeda di hari Jumat.
“Iya, aku juga ngerasain hal itu tau” sahut putri yang baru selesai sholat Dzuhur.
“Nah bener kan hari Jum'at tuh kayak beda dari yang lain. Hawa di hari Jumat tuh kayak adem, damai” timpal dini duduk santai di kursi samping ranjangnya.
Tok tok tok …
“Permisi, numpang ikut nimbrung guys” ujar Tia sambil tersenyum tipis.
Melihat itu putri, dini, ayu, Risma dan Cantika langsung menyambut Tia dengan senang hati.
“Masuk aja lah, makin rame makin seru” ujar ayu mempersilahkan tua duduk di sebelah nya.
Suasana yang tadinya hening kini dipenuhi gelak tawa riang dari mereka berenam. Sampai tidak terasa jam menunjukkan pukul dua siang.
“Eh, aku mau tanya nih. Kalian pasti inget sama pamali yang di kasih tau Bu Yanti saat pertama kali datang” kata ayu ia ingat bertanya lebih banyak soal pamali.
“Iya, kita semua masih ingat kok” ujar putri dan yang lain ikut mengangguk kecil.
“Nah, pas hari kedua waktu itu kita gak sengaja melanggar pamali nya kan. Nah itu jadi nya gimana?” Tanya ayu dengan perasaan penasaran.
Mendengar pertanyaan itu semua langsung terdiam, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Sampai akhir Tia buka suara. “Itu kita secara tidak sadar melanggar nya, jadi dikategorikan tidak masalah. Asal tidak diulangi lagi”
Melihat teman teman nya memahami penjelasan nya, Tia kembali bicara. “Kecuali, memang sengaja banget melanggar nya. Sudah sangat pasti akan ada konsekuensi yang ditanggung”
“Makasih banyak banget, aku jadi ngerti sekarang dan lega gak melanggar lagi” kata ayu dengan ekspresi yang lega.
“Sama aku juga kan keluar malam waktu itu yah, emang kepepet banget sih itu. Aku beli softex doang kok, tapi gak keluar malam lagi setelah itu” sambar Risma yang sadar akan kesalahannya waktu itu.
“Nah, kalian kan memang tidak sengaja jadi masih tidak apa apa. Yang penting jangan di langgar lagi pamali nya”
Ucap Tia mengingatkan teman teman nya itu agar selalu mematuhi dan menghargai adat istiadat di tempat baru.
__________________________________
Suasana malam ini lebih sejuk dari biasanya membuat semua orang lebih memilih rebahan di kasur setelah makan malam.
“Fin, lu ngapain di luar kamar? Ini hawa nya dingin banget tau” tegur Bagas melihat Alfin duduk di depan pintu kamar.
Mendengar itu Alfin hanya terkekeh kecil. “Badan gue hawanya kayak gerah gitu tau, bukan dingin. Aneh kan”
“Hah? Gerah? … Sedingin ini lu bilang gerah?” heran Bagas mendengar jawaban dari Alfin.
Farhan yang kebingungan melihat teman nya itu ngoceh Mulu, ia langsung bangkit dari kasur dan menghampiri Alfin.
“Woy, Cok ngomong sama siapa lu?” Tanya Farhan menoleh ke arah samping kanan dan kiri nya, melihat tidak ada siapa siapa.
“Lah gua ngomong sama si-” Alfin langsung terdiam saat ia hendak menunjukkan ke arah pintu kamar sebelah nya.
‘lah, anjir tadi di Bagas mana. Gak mungkin pasti dia sudah masuk duluan nih’ batin Alfin tidak percaya.
“Tadi tuh gua ngomong sama Bagas Cok” jawab Alfin dengan suara yang tidak santai.
Farhan mengerutkan keningnya ia melihat sekitar lagi, dan tidak melihat Bagas. Ia malah melihat bagas lagi tidur di kasur.
“Sini lu masuk dulu” Farhan dengan cepat menarik lengannya Alfin masuk kedalam kamar.
Ia langsung menunjuk ke arah ranjang tidur, ada Bagas dan ridho yang lagi tidur di kasur mereka masing-masing.
Melihat itu Alfin seketika diam, ia benar benar tidak percaya dengan yang terjadi. Melihat Alfin bengon, Bagas langsung menyuruh nya untuk istirahat aja.
“Halusinasi itu lu, kan lu kecapean tadi cuy” ujar Bagas naik kasur bagian atas.
“Kayaknya sih iya” tidak mau mengambil pusing Alfin langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Walaupun badan nya seperti semakin panas yang tidak masuk akal bagi nya.
‘gak, benar gua yakin jir ini pasti halusinasi gua karena terlalu kecapean sama kebanyakan dengerin soal pamali sialan itu’ gerutu Alfin dalam hati nya.
Ia meringkuk di atas kasur bukan karena dingin tapi karena hawa panas yang membakar badan nya.