Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.
Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.
Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.
Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
Di desa, buk Lily yaitu ibunya Nadira sedang terlihat khawatir, perasaannya tidak enak sejak Nadira pergi ke kota. Firasatnya merasakan ada hal buruk yang terjadi pada putrinya.
Lily menatap ke luar jendela di malam itu dengan penuh kekhawatiran, ia tak bisa tidur walaupun sudah memaksakan diri. " Ya Allah, lindungilah anakku. Jangan biarkan dia kenapa napa." Buk Lily menengadahkan tangannya sambil berdoa.
Ia meraih ponselnya, sudah beberapa hari ini nomor Nadira tak bisa di hubungi.
Kegelisahan buk Lily tak berujung, rasanya ia tak akan tenang sebelum mendengar suara putrinya. Buk Lily kembali batuk batuk, ia memutuskan untuk duduk dan berbaring di atas ranjang.
***
Di kediaman Adiprana, terlihat Nadira mulai membuka matanya perlahan. Tubuhnya bergetar hebat, keadaannya sangat lemah. Nadira merasakan nyeri di punggungnya, Nadira ingat kejadian sebelum ia pingsan.
" Sudah sadar?."
Suara berat itu kembali Nadira dengar membuatnya menggigil gemetar. Perlahan ia menoleh ke arah suara. "Kamu..." ujarnya dengan penuh kebencian.
" Jangan berpura pura lemah di hadapanku! Aku tidak memiliki belas kasih!."
Deg
Nadira menatap tajam ke arah Mahesa. " Bunuh saja aku! Bunuh aku sekarang!." ujarnya putus asa.
"Belum saatnya kamu mati!."
Nadira berusaha untuk berdiri namun tenaganya tak cukup kuat. " Kalau begitu, aku sendiri yang akan mengakhiri hidupku!." Nadira meraih pisau buah di atas nakas yang berada tepat di sampingnya.
Mahesa yang melihat Nadira akan bunuh diri langsung sigap merebut pisau buah itu. " Kamu sudah gila? Jangan bunuh diri di depanku!."
" Kenapa? Bukankah kematianku adalah hal yang kamu inginkan? Lalu kenapa kamu tidak membiarkanku mengakhiri hidupku?." ujar Nadira dengan lemah. Air matanya kembali luruh.
Mahesa terdiam, ia bisa melihat keputusasaan dari manik Nadira. Mahesa menyimpan pisau buah itu di tempat yang tak bisa di jangkau Nadira.
" Aku memang menginginkan kematian mu, tapi aku ingin kamu mati di tanganku sendiri, bukan di tanganmu!." ucap Mahesa dingin.
Nadira tertawa konyol, " Kamu bukan Tuhan! Kamu tidak berhak mengatur hidup dan matiku!." Ujar Nadira.
" Kamu sepertinya mulai gila!." Mahesa memutuskan untuk tidak berdebat lagi. Keadaan Nadira sekarang sangat kacau.
Nadira menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, hingga memperlihatkan bra merahnya. Belahan Nadira terlihat jelas. Terlalu padat hingga membuat Mahesa gagal fokus. Mahesa menggeleng.
" Tunggu di sini, kamu tidak boleh mati terlalu cepat!." Mahesa keluar dari ruangan itu, meninggalkan Nadira yang mulai kehilangan kewarasan nya.
Nadira tak memperdulikan apapun lagi, mentalnya benar benar tertekan. Ia bahkan tak sadar dengan tubuhnya yang tak mengenakan baju. Nadira menangis berusaha turun dari ranjang, ia terjatuh di lantai sambil menangis.
" Ibu...Nadira mau pulang..." tangisnya terdengar sangat memilukan.
Mahesa yang masih ada di luar pintu dapat mendengarnya. Hatinya seolah merasakan sesuatu yang tak ia mengerti.
" Pelayan! Berikan makanan pada wanita itu, pastikan dia makan dengan benar. Bila perlu bantu dia!." perintah Mahesa pada seorang pelayan wanita.
Mahesa pergi ke ruang kerjanya, ia duduk dan memijat pelipisnya. " Wanita itu mau bunuh diri, dia seperti kehilangan kesadarannya dan sangat tertekan. Tatapan matanya penuh dengan keputusasaan. Dia seperti orang yang kehilangan harapan. Dia selalu memanggil nama ibunya."
Mahesa membuka ponselnya, kemudian ia menghubungi Dion. Tak lama sambungan telepon tersambung.
" Dion, cari tahu informasi lengkap tentang wanita pembunuh itu. Aku tunggu hingga malam ini!."
Mahesa mematikan sambungan telepon. Ia kembali memijit pelipisnya, ia tak mengerti kenapa ia jadi begini. Hatinya bisa merasakan keputusasaan Nadira.
***
Hari sudah pagi, Mahesa terbangun di ruang kerjanya. Semalam ia menunggu informasi dari Dion sampai ia tertidur. Namun saat ia mengecek ponselnya belum ada informasi apa apa dari Dion.
Mahesa berjalan menuju kamarnya, saat membuka pintu ia melihat sosok Nadira sedang tidur nyenyak di atas ranjang. Ia melangkah dengan pelan seolah tidak ingin membuat wanita itu terbangun.
Nadira terlihat sudah mengenakan piyama dan raut wajahnya terlihat lebih baik dari semalam.
Mahesa keluar kamar, tak lupa ia menutup kembali pintu kamar.
" Pelayan!." panggilnya.
Tak berselang lama seorang pelayan datang menghadap. " Iya tuan."
" Apa dia makan semalam?." tanya Mahesa dingin.
" Iya tuan, saya sudah menyuapinya makan. Dia terlihat sangat lapar. Dan saya juga sudah mengganti bajunya dengan baju saya tuan. karena saya tidak berani memberikan baju nyonya padanya..." ujar pelayan wanita itu takut takut.
" Pergilah!." titah Mahesa pada pelayan wanita itu setelah mendengar penjelasannya.
Mahesa kembali masuk ke dalam kamar. Namun saat pintu terbuka, ia malah kena pukulan tiba tiba yang mendarat tepat di dadanya.
Mahesa menggenggam tangan Nadira yang mengepal, "Kamu sangat berani!." Mahesa menatap tajam pada Nadira.
Namun Nadira tak takut, ia malah melayangkan pukulan baru dari tangan sebelahnya tepat mengenai lengan Mahesa. Namun Mahesa sama sekali tak merasakan apa apa.
" Lepaskan aku! Aku bukan pembunuh! Ibuku sendirian di rumah!. Aku harus pulang!" Nadira terus melayangkan pukulan bertubi-tubi pada lengan kekar Mahesa.
Mahesa hanya diam, ia kembali melihat tatapan putus asa dari manik Nadira.
" Hentikan!." Mahesa menggenggam kedua tangan Nadira hanya dengan satu tangan. Ia mendorong tubuh Nadira pada pintu dan mengangkat kedua tangan wanita itu ke atas.
" Beraninya kamu melakukan itu padaku! Kamu tidak takut mati?." suara Mahesa terdengar dingin. Jarak mereka sangat dekat sekarang.
Nadira menatap Mahesa dengan putus asa" Aku mohon lepaskan aku! ibuku sendirian. Aku ingin menghubungi ibuku!" Air mata Nadira kembali menetes pada pipinya.
Mahesa menatap dingin ke arah Nadira. Kemudian ia melepaskan tangan Nadira. Mahesa menarik Nadira kembali masuk ke dalam kamar. Ia kembali mengunci pintu kamar dan memasukkan kuncinya ke dalam kantong celana.
Mahesa menepiskan perasaan anehnya, ia kembali ingat bagaimana Nayla terbunuh oleh gadis yang bernama Nadira itu.
" Bersujud di depan foto istriku! Jangan berhenti sampai aku memberikan perintah untuk berhenti!." Mahesa mendorong tubuh Nadira tepat di hadapan foto mendiang istrinya.
Nadira tersungkur ke lantai, rasa sakit di punggungnya kembali berdenyut.
" Bersujud sekarang!." Ucap Mahesa dengan tatapan dingin.
" Aku mohon tuan, tolong berikan kesempatan padaku untuk bicara dengan ibuku! Dia sedang sakit dan hanya sendirian di rumah!."
Mahesa kaget saat melihat Nadira malah menyentuh kakinya. Semalam wanita itu terlihat sangat membencinya bahkan barusan juga memukulnya, dan sekarang ini ia malah memohon padanya.
"Tuan, kamu adalah orang besar dan punya kekuasaan. aku tahu kamu sangat membenciku dan menganggap ku sebagai pembunuh, tapi aku mohon izinkan aku bicara dengan ibuku sekali saja tuan. Aku ingin memastikan dia baik baik saja!." Isak tangis Nadira mengisi kamar besar itu.
Mahesa terdiam, lagi lagi rasa iba itu muncul dalam hatinya. "Keadaannya sendiri sedang tidak baik baik saja, tapi dia lebih mengkhawatirkan ibunya."
Mahesa menarik nafas panjang. " Lakukan apa yang aku perintahkan! Setelah itu aku akan memikirkan kembali tentang permintaan mu!."
Mahesa menarik kakinya yang sedang di sentuh oleh Nadira.
Mahesa duduk di sofa yang ada di kamar itu. tatapan tajam ia layangkan ke arah Nadira. Perlahan gadis itu mulai membungkuk dan bersujud di hadapan foto Nayla dengan bahu bergetar.
" Wanita ini benar benar menyita perhatianku! Tatapannya sangat dalam, aku bisa merasakan keputusasaan dan kekhawatiran di sana. Sial!."