NovelToon NovelToon
DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:937
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Reno Wijaya, CEO muda yang tampan, kaya, dan sangat dingin. Baginya, semua perempuan itu sama saja: matre dan cuma mengincar hartanya. Karena keras kepala dan selalu menolak dijodohkan, Ayah menghukumnya dengan mengirim Reno masuk ke Pesantren Al-Falah di pedalaman Kalimantan.

Awalnya Reno benci sekali, menganggap tempat ini neraka dan isinya orang kampung semua. Sikapnya masih sombong, angkuh, dan meremehkan semua orang. Sampai ia bertemu Zahrana, anak Kyai yang cantik sederhana, lembut, dan tulus. Untuk pertama kalinya, Reno bertemu perempuan yang sama sekali tidak peduli siapa dirinya dan apa kekayaannya.

Perlahan rasa benci berubah jadi penasaran, lalu tumbuh jadi cinta yang mengubah hidupnya total. Reno belajar menjadi rendah hati, berprinsip, dan setia. Meski kembali memimpin perusahaan besar dan dikelilingi banyak wanita cantik, hatinya tetap utuh hanya untuk Zahrana.

Dulu dikirim sebagai hukuman karena sifat buruknya, ternyata justru di sanalah Reno menemukan jati dirinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

Keesokan paginya, sinar matahari menembus celah-celah kecil di jendela kayu dan jatuh lembut tepat di wajah Reno yang sedang terlelap. Perlahan namun pasti, kelopak matanya yang berat itu terbuka. Dan untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di Pesantren Al-Falah hampir sebulan yang lalu, ia bangun bukan dengan perasaan kesal, marah, atau berat hati seolah sedang dipaksa melakukan pekerjaan paling menjijikkan sedunia. Badannya memang masih terasa sedikit lemas dan pegal-pegal, sisa dari serangan demam tinggi yang sempat menyiksanya semalam, namun rasa panas yang membara, nyeri yang menusuk tulang, dan sakit kepala yang terasa seperti disuntik jarum itu telah hilang sepenuhnya. Ia menggerakkan tangan dan kakinya perlahan, merasakan aliran darah yang lancar, napas yang terasa jauh lebih lega, dan paru-parunya yang kini bisa mengembang penuh menghirup udara bersih tanpa rasa sesak sedikitpun.

Saat ia menoleh ke sisi samping kasur kapuk tipisnya, pemandangan yang dilihatnya membuat hatinya seketika terasa hangat, lembut, dan penuh rasa haru yang aneh namun menyenangkan. Di atas meja kayu kecil yang semalam terlihat kosong, berdebu, dan tak bernyawa, kini tersusun rapi selembar kain lap bersih yang sudah dilipat sempurna, segelas air putih hangat yang masih mengepulkan uap tipis ke udara, dan sepiring bubur nasi hangat yang baunya semerbak, harum, dan menggugah selera. Di sampingnya, terbungkus rapi dengan kain perca bermotif bunga sederhana, ada bungkusan kecil berisi ramuan obat dan rempah yang sudah disiapkan sedemikian rupa agar mudah diminum. Dan di tengah-tengah semua itu, tertulis tulisan tangan yang sangat rapi, indah, dan melengkung di atas selembar kertas buku tulis bekas yang warnanya sudah agak kekuningan: “Minumlah obatnya teratur, makan pelan-pelan agar tenaga cepat pulih dan kuat kembali. Jangan terlalu banyak bergerak dulu, istirahatlah sampai benar-benar enak badannya. Semangat ya, Mas Reno. - Dari Zahrana.”

Membaca tulisan tangan itu, jantung Reno berdegup pelan namun terasa begitu dalam dan kuat di rongga dadanya. Ia mengusap permukaan kertas itu perlahan dengan jari telunjuknya yang kasar dan penuh kapalan, seolah-olah sedang menyentuh langsung jantung dan jiwa penulisnya. Di kota besar, di lingkaran elitnya, ribuan wanita mungkin setiap hari mengirimnya pesan-pesan manis, pujaan yang berlebihan, janji setia sampai mati, dan kata-kata indah yang mendayu-dayu. Namun tak ada satu pun dari semua pesan itu yang membuatnya merasa sehangat, sebahagia, dan seberharga seperti saat membaca tulisan sederhana ini. Di sana, semua kata-kata itu terasa seperti kewajiban, seperti transaksi dagang, seperti alat untuk memancing keuntungan dan perhatiannya. Tapi tulisan ini? Tulisan ini terasa seperti sentuhan jiwa yang murni, tulus tanpa pamrih sedikitpun, dan diberikan kepada orang yang bahkan selama sebulan ini selalu bersikap kasar, dingin, sombong, dan tidak pernah baik padanya.

“Zahrana…” gumamnya pelan, nama itu keluar dari mulutnya bukan lagi dengan nada meremehkan, penasaran, atau penuh keraguan seperti yang biasa ia lakukan di dalam pikirannya, melainkan dengan nada yang lembut, penuh rasa hormat, dan kekaguman yang mulai tumbuh kuat.

Dengan susah payah namun penuh semangat, ia duduk bersandar di dinding kayu yang kasar dan keras itu. Ia lalu mengambil piring berisi bubur itu, menyantapnya perlahan-lahan sesendok demi sesendok. Rasanya sangat sederhana, hanya beras yang direbus lama hingga lembek, sedikit garam, sepotong kecil tahu, dan taburan daun bawang yang dipetik segar dari kebun. Tidak ada bumbu rumit, tidak ada daging mahal, tidak ada saus impor, dan jauh dari rasa mewah yang biasa ia santap setiap hari di restoran berbintang lima atau di meja makan besar rumahnya dulu. Namun bagi lidah Reno yang sedang dalam masa pemulihan, rasanya menjadi makanan paling lezat, paling nikmat, dan paling menenangkan yang pernah ia telan seumur hidupnya. Setiap suapan yang masuk ke kerongkongannya terasa mengalir hangat memenuhi seluruh rongga dadanya, membawa rasa nyaman yang meneduhkan dan kekuatan yang perlahan meresap ke dalam setiap sel tubuhnya.

Sepanjang hari itu, Reno tidak langsung bangkit dan kembali melakukan kegiatan kerja bakti fisik berat seperti biasanya. Saat Kyai Ahmad datang menjenguk sebentar, beliau dengan bijaksana mengizinkan Reno istirahat total di dalam kamar sampai kondisinya benar-benar pulih sempurna dan tenaganya kembali utuh. Namun, kesempatan waktu luang yang panjang dan sepi ini justru tidak digunakan Reno untuk tidur, melamun, merokok, atau mengumpat nasib seperti yang biasa ia lakukan. Justru, ia duduk bersandar di dinding, menatap keluar jendela ke arah rimbunnya pepohonan dan aliran sungai yang tenang, dan menggunakan waktu ini untuk melakukan hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: ia duduk merenung, berpikir, dan meninjau kembali seluruh hidupnya yang selama ini ia jalani.

Di dalam kesunyian kamar itu, pikirannya melayang jauh kembali ke kejadian semalam, saat ia terbaring lemah tak berdaya, saat rasanya ia adalah manusia paling malang dan paling kesepian di muka bumi ini. Ia mengingat-ingat setiap gerak-gerik Zahrana, setiap kata yang keluar dari mulutnya, setiap tatapan matanya yang teduh dan tenang, serta setiap sentuhan tangannya yang begitu halus dan menenangkan. Dan di antara semua itu, ada satu kalimat yang diucapkan Zahrana saat ia mengaku siapa dirinya sebenarnya, kalimat yang seolah menancap kuat, menusuk tepat ke pusat hatinya, dan tak mau hilang dari ingatannya barang sedetik pun: “Harta itu milik Tuhan, titipan yang dipinjamkan. Kalau sudah mati nanti, tidak dibawa ke liang kubur. Yang dibawa cuma perilaku dan hati yang dibersihkan.”

Kalimat itu berputar terus berulang kali di dalam benaknya, menyeruak masuk ke celah-celah paling tersembunyi, paling dalam, dan paling keras dari egonya yang selama ini tertutup rapat dan tak tersentuh siapa pun. Selama dua puluh empat tahun hidupnya, Reno Wijaya dididik dan hidup dengan keyakinan mutlak yang tertanam kuat di otaknya: Bahwa uang adalah segalanya. Bahwa uang adalah sumber kekuatan, sumber kebahagiaan, sumber perlindungan, sumber cinta, dan sumber segalanya di dunia ini. Ia merasa dirinya hebat, merasa dirinya berharga, merasa dirinya di atas manusia-manusia lainnya semata-mata karena angka di rekening banknya yang berjajar panjang, karena nama besarnya, dan karena kekuasaan yang dipegangnya. Ia selalu berpikir, tanpa uang, ia bukan siapa-siapa. Tanpa kekayaan, ia hanyalah debu yang sama persis dengan orang-orang biasa yang ia remehkan.

Tapi semalam, saat ia sedang terbaring sakit, saat ia sedang lemah, saat ia sedang tidak punya apa-apa dan tidak punya kuasa apa-apa, ia merasakan sesuatu yang jauh lebih kuat, jauh lebih berharga, jauh lebih menenangkan, dan jauh lebih memuaskan daripada apa pun yang pernah dibelinya dengan uang triliunan rupiah. Ia merasakan ketulusan. Ia merasakan perhatian yang murni. Ia merasakan kasih sayang yang tulus. Dan hal itu diberikan kepadanya bukan karena ia anak orang kaya, bukan karena ia ganteng, bukan karena ia pemimpin perusahaan besar, melainkan semata-mata karena ia adalah manusia biasa yang sedang sakit, sedang kesusahan, dan sedang butuh pertolongan. Hal itu diberikan oleh seorang gadis yang hidup sederhana, yang jauh dari kemewahan, dan yang sama sekali tidak memandang rendah atau tinggi seseorang berdasarkan apa yang mereka miliki.

“Selama ini aku salah… aku sangat salah besar…” gumamnya pelan, suaranya bergetar karena rasa haru dan rasa malu yang mulai menyeruak keluar. “Aku pikir aku punya segalanya, aku pikir aku paling beruntung. Tapi ternyata aku yang paling miskin. Aku punya segunung uang, tapi aku kosong. Aku dikelilingi jutaan orang, tapi aku kesepian parah. Aku punya segalanya, tapi aku tidak pernah punya satu hal yang paling berharga ini: ketulusan.”

Hari itu, dinding tinggi, tebal, dan kokoh yang selama ini ia bangun mengelilingi hatinya mulai retak perlahan namun pasti. Pandangannya tentang dunia, tentang kehidupan, tentang manusia, dan terutama tentang wanita perlahan mulai bergeser, berubah, dan runtuh perlahan digantikan oleh pemahaman yang baru. Untuk pertama kalinya, Reno sadar betul bahwa pendapatnya selama ini bahwa “semua wanita itu sama dan matre” adalah sebuah kesalahan besar dan ketidakadilan yang nyata. Di sini, di pedalaman hutan Kalimantan, ia menemukan sosok yang membuktikan bahwa ada wanita yang jauh lebih mahal, jauh lebih berkelas, dan jauh lebih mulia daripada wanita-wanita bermewah-mewah yang ia temui di kota. Dan sosok itu adalah Zahrana.

Sore harinya, saat tenaganya sudah mulai pulih cukup baik dan rasa lemasnya sudah berkurang, Reno memberanikan diri untuk bangkit dari pembaringan. Ia membenahi pakaiannya, menyisir rambutnya yang berantakan, lalu berjalan perlahan keluar kamar dengan langkah yang jauh lebih ringan dan tenang dibanding biasanya. Ia berjalan menuju halaman depan rumah Kyai Ahmad, tempat di mana ia tahu Zahrana biasanya berada saat jam sore begini. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena rasa penasaran atau tantangan ego, melainkan karena rasa gugup yang aneh, rasa hormat, dan rasa ingin melihat wajah itu lagi.

Dari kejauhan, ia melihat Zahrana sedang duduk di beranda rumah kayu yang luas, sedang sibuk menyortir dan menjemur hasil panen rempah-rempah dan tanaman obat. Cahaya matahari sore yang keemasan menyinari sosoknya, membuat bayangannya tampak lembut dan bersinar. Saat Reno melangkah mendekat, langkah kakinya terasa ragu-ragu dan takut, sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Di depan ribuan rekan bisnis, di depan ribuan karyawan, di depan siapa pun, Reno selalu tegap, berani, dan penuh percaya diri. Tapi di depan gadis sederhana ini, ia merasa dirinya kecil, merasa dirinya masih penuh kekurangan, dan merasa dirinya harus berhati-hati.

“Assalamualaikum…” sapa Reno pelan, suaranya terdengar jauh lebih lembut dan sopan dibanding suara keras dan kasar yang biasa ia gunakan.

Zahrana mengangkat wajah, dan begitu melihat Reno yang sudah bangun dan berdiri di sana, senyum indah dan tulus itu kembali menghiasi bibirnya. Senyum yang mampu mencairkan ketegangan apa pun dalam sekejap mata.

“Waalaikumsalam, Mas Reno. Wah, sudah bangun dan sudah keluar kamar? Bagaimana rasanya badan? Sudah enakan kan?” tanyanya dengan nada ceria dan peduli, ia langsung meletakkan pekerjaannya dan berdiri menyambut.

Reno mengangguk pelan, menatap mata bening itu lekat-lekat. “Iya, sudah jauh lebih baik. Bahkan jauh lebih sehat dan segar daripada sebelumnya. Semua karena kamu, Zahra. Terima kasih. Terima kasih banyak untuk semuanya. Untuk semalam, untuk pagi ini, dan untuk semuanya. Aku… aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Aku tidak punya apa-apa di sini.”

Zahrana tertawa kecil, suara tawanya renyah dan indah seperti aliran air sungai. “Mas Reno bicara apa sih? Memang kalau mau berbuat baik harus menunggu punya apa-apa dulu? Tidak perlu balasan apa-apa kok. Saya senang kalau Mas sudah sehat dan bisa beraktivitas lagi. Itu sudah cukup jadi bayarannya.”

Kalimat sederhana itu kembali menampar hati Reno. Di dunia luar sana, semua transaksi, semua kebaikan, semua pertolongan selalu dihitung nilainya, selalu ditukar dengan keuntungan yang sepadan. Tapi di sini? Di sini konsepnya berbeda total.

“Zahra… aku mau minta maaf,” kata Reno tiba-tiba, membuat senyum di wajah Zahrana sedikit menahan bingung. “Aku minta maaf karena selama ini aku sombong, aku kasar, aku menganggap rendah tempat ini dan semua orang di sini. Aku minta maaf karena aku sering bicara sembarangan dan menyakiti hati kalian. Aku sadar, aku orang yang buruk, orang yang sombong, dan orang yang bodoh. Tapi… aku janji, aku mau berubah. Aku mau belajar. Aku mau belajar jadi orang yang lebih baik, jadi orang yang tahu bersyukur, dan jadi orang yang tahu menghargai orang lain. Aku mau belajar dari kalian… dan belajar darimu.”

Zahrana terdiam sejenak, matanya menatap Reno dalam-dalam, melihat ketulusan yang baru pertama kali terpancar jelas dari balik sepasang mata yang biasanya dingin dan tajam itu. Perlahan, ia tersenyum makin lebar, kali ini senyum yang tampak lega dan bahagia luar biasa.

“Tidak ada manusia yang lahir langsung sempurna, Mas. Dan tidak ada manusia yang tidak bisa berubah. Selama hatinya masih mau dibuka dan masih mau belajar, selamanya pintu perbaikan itu terbuka lebar. Saya senang sekali mendengarnya. Dan saya yakin, di dalam diri Mas Reno sebenarnya sudah ada benih kebaikan itu, hanya saja tertutup debu tebal kesombongan dan duniawi. Di sini, debu itu perlahan akan terkikis dan hilang. Dan Mas Reno yang asli, yang baik, yang mulia, akan muncul bersinar.”

Mendengar itu, Reno tersenyum. Sebuah senyum tulus, senyum bahagia, dan senyum yang membawa harapan baru, senyum yang mungkin sudah bertahun-tahun tak pernah menghiasi wajahnya. Di saat itu, di beranda rumah kayu ini, di bawah langit Kalimantan yang biru, Reno sadar sepenuhnya. Ia tidak lagi merasa dikurung, tidak lagi merasa dihukum, dan tidak lagi merasa menderita. Ia justru merasa beruntung luar biasa. Ia merasa Ayah sebenarnya tidak mengirimnya ke sini untuk menyiksanya, tapi untuk menyelamatkannya. Dan alasan terbesar rasa syukurnya saat ini adalah kehadiran sosok gadis di hadapannya ini.

Sore itu menjadi awal dari perubahan nyata yang terjadi pada Reno Wijaya. Ia mulai melihat segala sesuatu dengan kacamata yang berbeda. Ia mulai melihat pesantren ini bukan lagi sebagai neraka, tapi sebagai tempat tumbuh. Ia mulai melihat santri-santri lain bukan sebagai orang kampung yang bodoh, tapi sebagai saudara yang tulus. Dan ia mulai melihat Zahrana bukan lagi sekadar anak Kyai yang unik, tapi sebagai wanita yang menjadi pelita hatinya, wanita yang perlahan tapi pasti telah merebut seluruh ruang hatinya yang beku itu, mengisinya dengan rasa cinta yang suci, hangat, dan tak akan tergantikan oleh apa pun.

1
Rima R P
katanya anak kiyai dan pesantren ko ga pake hijab ka di liatin cowo bukan nya buru" nyari hijab ini santuy aja 🤣
T28J
baiklah 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!