NovelToon NovelToon
Cinta Sesuai Takdir

Cinta Sesuai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.

Sampai suatu malam…

orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.

Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.

Namun di malam yang sama—

dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.

Lorenzo Moretti.

Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.

Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.

Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—

dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.

Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.

Dia salah.

Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.

Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 — Dunia yang Berbeda

Bab 5 — Dunia yang Berbeda

Malam menyelimuti desa kecil itu dengan sunyi yang menenangkan.

Suara jangkrik terdengar samar dari halaman belakang rumah kayu milik Amelia Santoso, sementara angin malam berhembus pelan melewati celah-celah dinding tua.

Namun malam itu…

hati Amelia sama sekali tidak tenang.

Ia duduk di lantai kamar sambil memandangi sebuah tas kecil yang sudah ia siapkan sejak sore.

Isinya sangat sederhana.

Beberapa pakaian.

Foto lama bersama neneknya.

Dan sedikit uang hasil tabungan bertahun-tahun.

Hanya itu yang ia miliki.

Tatapan Amelia perlahan berubah sendu.

Ia tidak pernah pergi jauh dari desa sebelumnya.

Bahkan kota terdekat saja jarang ia kunjungi.

Tetapi sekarang…

ia akan pergi ke tempat asing demi mempertaruhkan hidupnya.

Semata-mata demi menyelamatkan neneknya.

Amelia tidak tidur malam itu.

Ia hanya duduk di depan jendela kamar sambil memandangi hujan yang turun perlahan di luar rumah.

Pikirannya kacau.

Semakin ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja…

semakin besar rasa takut di hatinya.

Tok.

Tok.

Suara langkah pelan terdengar dari pintu kamar.

“Nak…”

Amelia langsung menoleh.

Nenek Hana berdiri di sana sambil membawa selimut tipis.

“Kau belum tidur?”

Amelia tersenyum kecil.

“Belum mengantuk.”

Padahal jelas terlihat ia sedang gelisah.

Nenek Hana berjalan mendekat lalu duduk di samping cucunya.

Wanita tua itu memandangi hujan beberapa saat sebelum akhirnya bicara pelan.

“Hatiku tidak tenang.”

Kalimat sederhana itu langsung membuat Amelia menunduk.

“Aku akan baik-baik saja.”

“Kau mengatakan itu sejak kecil.”

Nenek Hana tersenyum lemah.

“Padahal setiap kali kau takut… kau selalu menggigit bibirmu seperti sekarang.”

Amelia langsung terdiam.

Ia bahkan tidak sadar sedang melakukannya.

“Nenek…”

“Kalau pekerjaan itu terasa aneh…”

Nenek Hana menggenggam tangan Amelia perlahan.

“Pulanglah.”

Mata Amelia mulai terasa panas.

“Aku hanya ingin Nenek sembuh.”

“Aku lebih takut kehilanganmu.”

Suasana mendadak sunyi.

Hanya suara hujan yang terdengar pelan memenuhi rumah kecil itu.

Air mata akhirnya jatuh di pipi Amelia.

Sudah lama ia menahan semuanya sendirian.

Rasa lelah.

Takut.

Dan putus asa.

Nenek Hana langsung memeluk cucunya erat.

“Kau sudah terlalu kuat terlalu lama…”

Tangis Amelia pecah untuk pertama kalinya malam itu.

Dan entah kenapa…

perasaan Nenek Hana semakin buruk.

Seolah cucunya akan pergi sangat jauh.

Keesokan harinya.

Pagi terasa lebih dingin dari biasanya.

Amelia pergi ke pasar seperti biasa agar tidak membuat orang-orang curiga.

Ia tetap menjual bunga.

Tetap tersenyum kepada pelanggan.

Tetap terlihat tenang.

Padahal di dalam hatinya…

ketakutan terus tumbuh.

“Amelia!”

Suara familiar membuatnya menoleh.

Raka Pradipta berjalan cepat menghampirinya.

Wajah pria itu terlihat serius.

“Aku dengar kau benar-benar menerima pekerjaan itu.”

Amelia menggenggam ujung bajunya pelan.

“Iya.”

Raka langsung terlihat kesal.

“Kau bahkan tidak tahu pekerjaan macam apa itu!”

“Aku butuh uang.”

“Aku bisa membantu!”

“Tapi sampai kapan?”

Jawaban Amelia membuat Raka terdiam.

Amelia tersenyum kecil.

“Aku lelah terus merepotkan semua orang.”

“Kau tidak merepotkan.”

“Tapi aku merasa seperti itu.”

Raka menghela napas panjang sambil mengacak rambutnya frustrasi.

Ia benar-benar tidak suka ini.

Sama sekali tidak.

“Aku ikut denganmu.”

Mata Amelia membesar.

“Apa?”

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian.”

Amelia cepat menggeleng.

“Tidak perlu.”

“Amelia—”

“Aku akan baik-baik saja.”

Suara Amelia lembut.

Namun cukup tegas.

Raka mengepalkan tangannya.

Ia tahu Amelia keras kepala jika sudah mengambil keputusan.

Dan itu membuatnya semakin cemas.

Sementara itu…

di Palermo…

suasana mansion keluarga Moretti dipenuhi ketegangan.

Puluhan pria bersenjata berjaga di berbagai sudut bangunan.

Karena malam itu…

keluarga Moretti baru saja menerima ancaman pembunuhan.

Marco De Luca berjalan cepat memasuki ruang kerja Lorenzo.

“Bos.”

Lorenzo Moretti yang sedang duduk sambil membersihkan pistolnya mengangkat pandangan perlahan.

“Ada apa?”

“Kita menemukan mata-mata Romano di pelabuhan timur.”

Tatapan Lorenzo langsung berubah dingin.

“Hidup?”

Marco mengangguk.

“Untuk sekarang.”

Lorenzo berdiri perlahan.

Aura mengerikan langsung memenuhi ruangan.

“Bawa dia ke bawah.”

Marco diam beberapa detik sebelum bertanya pelan.

“Kau akan menginterogasinya sendiri?”

Lorenzo tersenyum tipis.

Namun senyum itu sama sekali tidak terlihat manusiawi.

“Sudah lama aku tidak bersenang-senang.”

Beberapa menit kemudian…

ruang bawah tanah mansion Moretti kembali dipenuhi suara jeritan.

Seorang pria terikat di kursi besi dengan wajah penuh darah.

Tubuhnya gemetar ketakutan.

“Tolong… aku hanya diperintah…”

Lorenzo berdiri di depannya tanpa ekspresi.

Tatapan abu-abunya sedingin es.

“Romano mengirimmu?”

Pria itu langsung mengangguk panik.

“Iya… iya…”

“Untuk apa?”

“Mereka ingin tahu jadwal pengiriman senjata…”

Lorenzo mengambil pisau kecil dari meja lalu memutarnya pelan di tangannya.

Gerakan sederhana itu saja sudah cukup membuat pria di kursi hampir menangis.

“Siapa lagi yang bekerja untuk Romano?”

“A-aku tidak tahu…”

Lorenzo langsung menusukkan pisau itu ke tangan pria tersebut.

“AARRGH!”

Jeritan memenuhi ruangan.

Namun ekspresi Lorenzo tetap datar.

Seolah rasa sakit orang lain tidak berarti apa-apa baginya.

Marco yang berdiri di samping hanya diam.

Ia sudah terlalu terbiasa melihat sisi gelap Lorenzo.

“Jawab pertanyaanku.”

Pria itu menangis ketakutan.

“Aku bersumpah aku tidak tahu!”

Tatapan Lorenzo berubah semakin dingin.

“Kalau begitu…”

Ia mencabut pisaunya perlahan.

“kau tidak berguna lagi.”

Mata pria itu membelalak panik.

“Tunggu! Tolong—”

Dor!

Suara tembakan menggema di ruang bawah tanah.

Dan semuanya kembali sunyi.

Lorenzo menyerahkan pistolnya pada anak buah di dekatnya lalu berjalan keluar tanpa ekspresi.

Baginya…

membunuh bukan lagi sesuatu yang berat.

Itu hanya bagian dari hidupnya.

Malam mulai turun ketika Amelia akhirnya kembali ke rumah.

Tas kecilnya sudah siap.

Dan mobil hitam asing perlahan memasuki jalan kecil menuju rumahnya.

Jantung Amelia langsung berdegup kencang.

Dua pria berpakaian rapi turun dari mobil.

Pria yang kemarin memberinya kartu tersenyum tipis.

“Senang kau membuat keputusan yang tepat.”

Amelia menggenggam tasnya erat.

Tatapan matanya sempat menuju rumah kecil di belakangnya.

Nenek Hana berdiri di depan pintu sambil menahan air mata.

Amelia tersenyum kecil untuk menenangkan wanita tua itu.

Meski sebenarnya dirinya sendiri sangat takut.

“Baiklah,” ucap pria itu sambil membuka pintu mobil.

“Mulai malam ini…”

“hidupmu akan berubah.”

Dan Amelia tidak tahu—

bahwa mobil hitam yang ia naiki malam itu…

sedang membawanya langsung menuju neraka dunia gelap. yang ia lakukan hanya untuk kesehatan neneknya tercinta.

Amelia, tahu kalau dunia luar terkadang sangat jahat dan menyeramkan.

Namun meskipun begitu ia tetap melangkahkan kakinya meninggalkan rumah yang penuh kenangan, dimana ia tumbuh dan di besarkan dengan kasih sayang.

Apakah langkahnya kali ini sudah benar atau hanya...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!