"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
Dada Aurora sesak, bukan hanya karena napasnya yang memburu setelah dipaksa mengelap lantai dengan seragamnya sendiri, tapi karena tatapan mata orang-orang di koridor. Mereka tidak menatapnya dengan simpati, melainkan dengan pandangan merendahkan—seolah-olah Aurora adalah hama yang memang pantas diinjak oleh kaki Arvin.
Dengan seragam yang kini kotor, basah, dan berbau karet sepatu, Aurora berjalan menuju kelasnya. Ia mencoba menutupi noda besar di lengan dan bagian depan bajunya dengan tas punggung, namun aroma lembap itu tidak bisa disembunyikan.
"Aduh, bau apa ini?"
Suara melengking itu berasal dari Kaila Ranisatya. Sang Ketua OSIS itu berdiri di depan pintu kelas XI-A bersama beberapa pengikutnya. Kaila menatap Aurora dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan jijik yang amat nyata.
"Kamu anak baru yang tadi bikin keributan di loker, kan? Aurora?" Kaila melangkah mendekat, sengaja menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra. "Sekolah ini punya standar kebersihan dan kedisiplinan, Aurora. Kamu datang dengan seragam kotor seperti ini, itu namanya menghina institusi."
"Maaf, Kak... tadi ada kecelakaan," bisik Aurora, matanya menatap lantai.
"Kecelakaan atau sengaja cari perhatian Arvin?" Kaila mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Aurora dengan nada yang sangat tajam.
"Dengar ya, anak ingusan. Aku tahu kamu sengaja bikin masalah supaya Arvin terus-terusan memperhatikan kamu. Tapi asal kamu tahu, Arvin itu benci sama orang lemah dan kotor seperti kamu."
"Aku nggak bermaksud begitu, Kak..."
"Diam!" bentak Kaila, membuat beberapa siswa baru yang lewat berjengit.
"Karena kamu melanggar aturan kerapihan, poin kamu saya potong lagi dua puluh poin. Dan sebagai tambahan, kamu dilarang masuk ke kantin selama jam istirahat. Kamu harus diam di gudang belakang aula untuk merapikan kursi-kursi yang berantakan."
Aurora tersentak. "Tapi Kak, aku belum sarapan..."
"Itu bukan urusanku. Pergi sekarang sebelum saya tambah hukumannya!"
Gudang belakang aula itu gelap, berdebu, dan pengap.
Aurora sendirian di sana, mencoba menggeser kursi-kursi besi yang berat. Perutnya mulai melilit perih. Rasa lapar yang berpadu dengan rasa sakit di sikunya yang belum sempat diobati membuat pandangannya sesekali mengabur.
Ia duduk di atas salah satu kursi kayu tua, menyandarkan kepalanya ke dinding tembok yang dingin. Air matanya jatuh lagi. Di rumah, ia tidak punya ruang untuk bernapas. Di sekolah, ia tidak punya tempat untuk bersembunyi.
"Kenapa kalian semua jahat sama aku?" rintihnya pelan. "Ma, jemput Aurora... Aurora capek."
Tiba-tiba, pintu gudang terbuka sedikit. Cahaya matahari masuk menusuk mata Aurora yang sembap. Ia melihat sebuah bayangan berdiri di sana. Jantungnya berdegup kencang, takut jika itu adalah Arvin yang datang untuk menyiksanya lagi.
Namun, yang muncul adalah Bimo. Pemuda itu masuk dengan langkah ragu-ragu, membawa sebuah roti lapis yang dibungkus plastik dan kotak susu cokelat.
"Nih," Bimo meletakkan makanan itu di samping Aurora. "Gue tahu Kaila itu berlebihan. Makanlah, sebelum lo pingsan dan bikin Arvin makin ngamuk karena harus urus mayat lo."
Aurora menatap makanan itu dengan ragu. "Terima kasih, Kak Bimo. Tapi kalau Kak Arvin tahu..."
"Dia nggak akan tahu. Dia lagi sibuk di kantin sama yang lain," jawab Bimo pendek. Ia menatap Aurora sejenak—melihat seragamnya yang kotor dan wajahnya yang pucat. Ada sesuatu yang mengganjal di hati Bimo, namun ia segera menepisnya. Ia tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan "masalah pribadi" keluarga Tenggara, meskipun ia tahu rahasia yang mereka sembunyikan.
"Lo... sebaiknya jangan terlalu kelihatan di depan Arvin. Dia lagi sensi banget kalau ingat soal Mamanya. Dan lo itu pengingat paling jelas buat dia," tambah Bimo sebelum berbalik pergi.
Aurora memegang roti lapis itu dengan tangan gemetar. Pengingat. Kata itu terus bergema. Jadi, di mata kakaknya, dia bukan manusia. Dia hanya sebuah monumen kesedihan dan kematian.
Aurora memakan roti itu perlahan, meskipun setiap kunyahannya terasa hambar. Ia harus bertahan. Ia harus kuat sampai babak ini berakhir. Namun, jauh di lubuk hatinya, Aurora mulai merasa bahwa mungkin saja kematian yang sering dituduhkan padanya adalah satu-satunya jalan agar ia bisa benar-benar "pulang" dan dicintai.
Ia tidak tahu bahwa di luar gudang, Arvin sebenarnya berdiri bersandar di balik tembok, mendengar setiap isakan Aurora. Arvin meremas kotak rokok di tangannya hingga hancur. Ia benci melihat Aurora lemah, tapi ia lebih benci lagi pada dirinya sendiri yang tidak bisa berhenti menyakiti adik yang menurut ayahnya adalah alasan kehancuran hidup mereka.
"Mati saja lo sekalian, Ra," gumam Arvin dengan suara serak yang penuh kebencian, namun matanya memerah menahan sesuatu yang ia sendiri tak mau akui.
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹