Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 SUASANA KOTA BELTRUM
Raja Beltrum berdehem, mencoba mengalihkan perhatian dari ketegangan antara Zeta dan Lytia. "Baiklah, Manusia Dunia Lain. Sebelum kau memulai latihan neraka, maksudku latihan intensif bersama Lytia aku akan memperkenalkan struktur kekuatan pasukan kerajaan ini."
Raja menunjuk Lytia yang berdiri tegak. "Pertama, Jenderal Lytia. Dia adalah pemimpin tertinggi seluruh pasukan darat Beltrum. Kekuatannya dalam membelah barisan musuh tidak perlu diragukan."
Zeta menoleh ke arah Lytia, lalu manggut-manggut dengan wajah tanpa dosa. "Wah... hebat juga ya. Padahal tampang imut, mungil, gemesin begini, tapi ternyata bosnya pasukan darat. Kuat juga ya mental Jenderal Kecil?"
"BERANINYA KAU MENGEJEKKU!" teriak Lytia, wajahnya merah padam sampai ke telinga. "Dan lagi, apa kau tuli?! Dari tadi semua orang memanggilku Jenderal! Kau baru sadar sekarang?!"
Suasana aula yang tadinya kaku seketika pecah oleh tawa para kapten perang dan penasihat raja. Bahkan sang Raja pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Sudah, sudah, Lytia... sabarlah sedikit," lerai Raja sambil terkekeh. "Selanjutnya, ada Laksamana penakluk Namanya Airon. Dan kita juga memiliki 3 kesatria hebat yang saat ini sedang menjaga lembah nox."
Raja menatap Stella dengan penuh kasih. "Dan perlu kau tahu manusia dunia lain, seluruh komando pasukan ini berada di bawah kendali Putri Stella dia yang membuat strategi di wilayah lembah nox. Aku mempercayakan segalanya padanya."
“Lembah nox”? Tanya Zeta
“Iyaa Zeta Peperangan ini terjadi di Wilayah Iblis di lembah Nox Zeta” Balas Stella
Raja kemudian menatap Lytia dengan serius. "Lytia, aku percayakan manusia dunia lain padamu. Bawa dia ke tempat latihan. Tempa dia agar bisa bertahan hidup."
"Siap, Yang Mulia!" jawab Lytia tegas. Ia kemudian berbalik dan menyambar kerah baju Zeta. "Oi, Zeta! Ayo ikut aku!"
"Tunggu, tungguuu! Apa harus secepat ini?! Aku baru aja napas tenang semenit!" keluh Zeta sambil terseret langkah kaki Lytia yang bertenaga.
"Kita nggak boleh buang waktu! Musuh nggak bakal nunggu kamu siap!" balas Lytia ketus.
Sisi Lain Beltrum
Saat mereka berjalan keluar dari istana menuju area latihan di pinggiran kota, Zeta tertegun. Ini pertama kalinya dia melihat kehidupan masyarakat iblis secara langsung. Di sepanjang jalanan kota, ia melihat penduduk iblis yang jauh dari kesan "monster".
Mereka memiliki kulit putih pucat yang bersih, mata merah yang jernih, dan uniknya, mereka tidak bertanduk. Mereka saling melempar senyum, berdagang dengan ramah, dan suasana kota terasa sangat damai.
“Ternyata iblis di sini nggak seseram di game atau film... mereka malah kelihatan sangat baik dan... indah,” batin Zeta takjub.
Langkah Zeta melambat saat ia melewati sebuah taman kecil. Di sana, ia melihat sebuah keluarga iblis beranggotakan empat orang ayah, ibu, dan dua anak sedang belanja bersama sambil tertawa lepas.
Seketika, dada Zeta terasa sesak. Ingatannya terlempar kembali ke dunianya. Bayangan ayah dan ibunya yang selalu bertengkar, rumah yang dingin tanpa sapaan, dan keputusan mereka untuk berpisah yang meninggalkan luka dalam bagi Zeta.
Tak jauh dari sana, Zeta melihat seorang nenek iblis yang sedang duduk di kursi kayu. Wajah nenek itu mengingatkannya pada satu-satunya orang yang tulus menyayanginya di dunia asalnya : neneknya sendiri.
"Ada apa, Zeta?" suara Lytia memecah lamunan Zeta. Sang Jenderal berhenti melangkah dan menatap Zeta yang terlihat layu. "Kenapa kamu kelihatan sedih gitu? Takut latihan?"
Zeta tersentak, lalu membuang muka. "Enggak... bukan apa-apa. Aku cuma masih syok aja sama suasana di sini."
Lytia menatap Zeta lebih lama, tatapannya sedikit melunak. "Denger ya, kalau ada masalah atau sesuatu yang ngeganjel di hati, ngomong aja sama aku."
Zeta mendengus, mencoba mengembalikan mood-nya yang berantakan. "Cih... mungkin nanti. Palingan kamu cuma bakal ngetawain ku, Jenderal Mungil."
Lytia kembali nyengir lebar, menunjukkan taring kecilnya yang malah terlihat manis. "Hahaha! Tergantung apa yang kamu omongin nanti. Kalau ceritanya cupu, ya pasti aku ketawain!"
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍