NovelToon NovelToon
Sistem Harem Putri Mahkota Iblis

Sistem Harem Putri Mahkota Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Fantasi / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kend 13

Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masalah Armor Pelindung

Sekitar jam empat sore, Tomi kembali mengendarai motor bututnya. Tujuan nya sekarang mengarah ke utara.

"Kita mau ngapain ke kota, Jay?" Tanya Tomi penasaran.

"Ke dealer motor matic, Tom! Gue mau beli motor. Takut ngerepotin Bibi sama lu." Jawab Jay memberi tahu tujuan nya pada temannya itu.

"Lha! Motor lu kan masih baru?"

Jay memukul pelan helm yang bagian belakang yang dikenakan Tomi. "Lu lupa, kaki gue udah nggak normal lagi?" Jelas Jay dengan ketus.

"Hehe. Sorry! Gue benar-benar lupa." Balas Tomi sambil terkekeh pelan. Mengetahui bahwa motor baru yang dimiliki Jay sejenis motor Sport.

***

"Semuanya sudah beres. Kalau begitu, gue pamit ya, Jay! Makasih gajinya, kawan." Ucap Tomi setelah mereka kembali, dan kini berada di depan pagar rumah Aida.

"Lu nggak mampir dulu?" Tanya Jay setelah memarkirkan motor matic yang baru saja di belinya itu di sebelah motor Shitta.

"Udah malam nih. Takutnya nyokap sama kakak gue khawatir. Soalnya batrai ponsel gue abis." Jawab Tomi sambil mencoba menyalakan mesin motor nya yang cukup rewel itu.

Jay tersenyum melihat ketulusan sahabat nya itu. Padahal tadi dia sudah memberikan uang yang lebih. Malah dia hanya mengambil tiga lembar saja. "Ini udah lebih daripada gue nguli seharian." Katanya.

"Kok sekarang lu jadi rewel, boy?" Tomi jadi kesal. Motor nya belum juga menyala.

"Bawa motor itu aja, tuh!" Ucap Jay sambil menunjuk motor sport nya yang terparkir di garasi. "Sekarang udah malam. Lagian, motor lu juga nggak ada lampunya, kan?" Imbuhnya.

Namun, Tomi tidak menggubris nya. Dia terus saja berusaha menyalakan mesin motor nya.

Karena ada suara keributan diluar, bibi Aida yang berada di dalam rumah pun keluar. "Ada apa, Jay?" Tanya Aida mengetahui Jay lah yang berada di halaman pagar rumah nya.

"Ini, bi. Motor Tomi rewel. nggak mau nyala lagi. Orang nya juga bawel." Jawab Jay sekenanya.

"Eh, bu kepsek! Maaf nih, malam-malam bikin keributan." Ucap Tomi basa-basi melirik Aida sekilas sambil ngos-ngosan setelah nggak berhasil menyalakan mesin motor nya.

"Lu sih, bawel amat jadi orang! Tinggal pake motor itu aja." Ketus Jay.

Aida yang telah mengetahui permasalahannya pun jadi mengerti. Gegas dia kedalam rumah untuk mengambil kunci motor sport milik Jay. "Nih, kuncinya!" Ucap Aida menyerah kan kunci motor Sport milik Jay pada Tomi. "Motor mu bawa masuk gih!" Lanjut nya menyuruh Tomi.

Tomi menoleh pada Aida. Dia jadi melongo melihat penampilan ibu kepala sekolah nya itu. Tadi dia tidak terlalu memperhatikan Aida. Karena hanya melihat nya sekilas, dan posisi Aida tak sedekat sekarang.

Kini, dia begitu jelas melihat daster rumahan yang melekat di tubuh wanita yang sudah berkepala empat itu.

"Buruan, Tom!" Melihat Tomi yang menatap bibinya dengan pandangan lapar seperti itu, Jay memukul kruk nya dengan sedikit keras pada paha Tomi.

"Sakit anying.!" Tomi mengusap-usap paha yang tadinya di pukul oleh temannya itu.

Aida yang melihat itu hanya terkekeh pelan dengan keakraban mereka berdua. "Sudah, sudah! Buruan gih! Udah malam nih." Ucap Aida setelah Tomi menerima kunci motor itu. "Jay, ntar pagarnya langsung di kunci saja ya!" Lanjut nya. Kemudian dia pun melangkah menuju bangunan rumah. Karena saat itu mereka bertiga memanglah berada di jalan, depan pagar rumah.

Tomi masih saja melihat pergerakan ibu kepala sekolah nya itu. Matanya tertuju pada bongkahan pantat Aida yang bergoyang-goyang mengikuti langkah kaki nya.

"Tom! Mata lu!" Geram Jay.

"Hehehe." Tomi hanya cengengesan mendapatkan suara geraman sahabat nya itu. Kemudian dia mendorong motor bututnya kedalam garasi rumah, "gue titip si boy disini dulu ya!" Ucapnya pada Jay. Setelah itu diapun berlalu dengan membawa motor sport kepunyaan Jay.

Jay memasuki rumah setelah semua nya sudah dikerjakan. Kini dia merasa tenang, merasa tidak akan merepotkan bibinya itu lagi. Karena kini dia sudah membeli motor yang bisa di kendarainya sendiri.

Di dalam rumah sudah hening. Jam di dinding sudah menunjukkan lebih pukul sepuluh malam. Memasuki kamar nya, Jay tertegun. Karena ada pergerakan di dalam kamar mandi yang berada di kamar itu.

"Eh, bibi?" Karena penasaran, Jay pun mendapati Aida lah berada di kamar mandi tersebut.

"Kamu kok lama banget kekota nya? Sampe malam begini baru nyampe.? Apa membeli motor selama itu?" Ucap Aida, memberondong pertanyaan pada Jay tanpa menoleh. Karena saat ini di sedang membelakangi pemuda itu. Sambil menungging membersihkan bathup yang ada di kamar mandi itu. Karena malam ini barulah dia menyempatkan waktu untuk membersihkan kamar mandi pribadi Jay.

"Ehm. Tadi keasyikan ngobrol dulu sama Tomi, jadi lupa waktu deh!" Jawab Jay dengan sedikit canggung. Bagaimana tidak canggung? Posisi Aida saat ini begitu menantang. Apakah disengaja, atau memang tidak tahu? Bibinya itu memperlihatkan area kewanitaannya dengan jelas. Karena di balik daster nya yang super minim itu dia tak mengenakan apapun lagi. Apalagi posisi nya sekarang sedang menungging. Pantas saja Tomi tadi seperti itu.

"Kamu udah makan malam kan, Jay?" Tanya Aida kembali yang masih saja sibuk membersihkan bathup itu.

"Su, sudah bi!" Jay tergagap menjawabnya.

Merasa ada yang aneh dengan suara Jay, Aida tersentak. Baru menyadari kecerobohannya saat ini. Dia meraba ke arah pinggul bagian belakang nya. Merasakan daster nya itu sudah ketarik sebatas pinggangnya. Gegas dia menegakkan tubuh nya itu. Jantung nya berdegup kencang seketika. Dengan tak sengaja dia mempertontonkan alat kewanitaannya pada Jay, keponakan nya sendiri.

"Maaf, bi!" Jay menundukkan kepala nya. Merasa bersalah karena telah menatap bagian yang seharusnya tidak boleh di lihat itu.

Aida jadi canggung dengan keadaan konyol seperti ini. Semua nya sudah terjadi. Tak pernah sedikit pun unsur kesengajaan dalam kejadian absurd ini. Wajahnya memerah dalam sekejap. Dia adalah wanita yang terhormat, bagaimana pun juga. Belum ada yang melihat itu, selain suaminya dan dokter yang membantu dalam persalinan anak-anak nya.

Melihat Aida yang hanya terus berdiam diri dengan wajah memerah. Dengan menundukkan kepala, Jay pun beranjak keluar dari kamar mandi itu. Dia takut jika bibinya itu akan memarahinya. Bisa-bisa di usir nantinya.

Beberapa menit kemudian, Aida pun keluar dari kamar mandi. Tanpa berkata-kata, dia langsung keluar dari kamar pribadi keponakan nya itu dengan menunduk.

Jay menghela nafas panjang setelah Aida hilang dibalik pintu kamar nya. Dengan jalan terpincang-pincang, tanpa menggunakan kruk, dia masuk kamar mandi untuk membersihkan diri nya yang sudah merasa tidak nyaman, karena kegiatan sehari tadi.

Setelah mengenakan pakaian, Jay melihat ada beberapa pesan pada ponselnya yang berada di nakas sebelah tempat tidur.

Tomi : gue udah nyampe rumah. Kak Tika nitip salam, katanya 'makasih udah beliin susu ibu hamil untuk nya.' nyokap juga berpesan 'jangan terlalu boros ngasih uang ke gue' hehe.

Jay tersenyum melihat isi pesan sahabat nya itu.

Jay : salam juga buat kak Tasya, bilangin jangan sampai terlalu kelelahan! Jaga dedek bayi agar selalu sehat didalam sana.

Tomi : beres!

Jay kaget, melihat respon kilat sahabat nya itu. Namun dia tak terlalu mempedulikan nya. Karena lebih kaget lagi saat pemberitahuan ponsel nya menerima beberapa pesan berikutnya secara beruntun.

Bibi Aida : lupakan kejadian di kamar mandi tadi!

Bibi Aida : jangan bahas besok!

Bibi Aida : kok nggak dibalas?

Bibi Aida : Jay!

Bibi Aida : balas dong!

Jay terkikik geli melihat pesan bibinya itu. Dilihat nya bibinya itu masih online. Mungkin masih menunggu balasan, fikir Jay.

Bibi Aida : (emoji marah)

Jay pun akhirnya membalas pesan itu.

Jay : (emoji senyum sumringah)

Bibi Aida : kamu ketawain bibi?

Jay : nggak!

Bibi Aida : terus, kenapa ngirim emoji senyum yang menyebalkan itu?

Jay : bibi lucu, kayak anak muda!

Tak ada lagi balasan dari bibi nya itu. Cukup lama Jay menunggu. Akhirnya.

Jay : tenang aja, bi. Aku nggak akan bilang apa yang aku liat tadi kok. Cuma....

Bibi Aida : cuma apa?

Secepat kilat Aida menanyakan pesan menggantung yang dikirim keponakannya itu.

Jay tersenyum melihat antusias bibi nya itu. Dia sangat ingin menjahili bibi nya itu seperti dulu. Namun sekarang, dia akan sedikit lebih berani.

Jay : kebayang bentuknya. Bersih, mulus banget lagi.

Jay dengan percaya diri mengirim pesan itu. Namun, beberapa menit menunggu. Tak ada balasan dari bibi Aida. Dia tau persis, pesan itu sudah dibaca oleh bibi nya itu.

Karena kelamaan menunggu balasan, akhirnya Jay pun tertidur.

*****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!