NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Pintu Ketiga

Mereka bergerak sebelum malam sempat turun lebih dalam.

Wira berjalan paling belakang sambil menggenggam kain berisi cincin tua dan lembaran naskah ibunya. Tangan kirinya masih terasa pegal akibat memanjat celah batu tadi, sementara kakinya sudah seperti dipenuhi pasir panas yang tak kunjung hilang. Namun rasa lelah itu kalah oleh satu hal: arah baru yang kini mereka pegang. Setelah berhari-hari hanya lari, kini mereka punya nama tempat, petunjuk, dan alasan untuk terus maju.

Ki Rangga memimpin di depan dengan langkah yang tetap tenang. Jaya berada di sampingnya, sesekali melirik ke belakang dan ke arah lereng bukit. Raden Seta berjalan di tengah, seolah ia yang paling hafal jalur lama di daerah itu. Panca berada tepat di samping Wira, wajahnya muram dan penuh kecurigaan pada setiap bayangan.

“Kalau pintu ketiga ini palsu, aku akan marah,” gumam Panca.

Wira menoleh sekilas. “Kepada siapa?”

“Semua orang,” jawab Panca. “Terutama pada kalian yang suka menyimpan rahasia lalu bilang itu demi keselamatan.”

Wira hampir membalas, tetapi ia urungkan. Dalam keadaan seperti ini, marah pada Panca hanya akan membuang tenaga. Lagi pula, keluhan sahabatnya ada benarnya. Semua yang mereka lalui memang dipenuhi setengah jawaban. Namun di balik itu, Wira tahu semua orang di rombongan ini juga sedang berjalan di atas tanah yang sama-sama berbahaya.

Raden Seta akhirnya berhenti di sebuah batu besar yang menjorok keluar dari lereng. Dari sana, jalur di depan bercabang dua. Satu menuju dataran terbuka di sisi timur bukit, satu lagi menurun ke lembah kecil yang dipenuhi ilalang tinggi.

“Lewat bawah,” kata Raden Seta.

Ki Rangga menatap lurus. “Aman?”

“Tidak,” jawab Raden Seta. “Tapi lebih sulit terlihat.”

Jaya mengangguk pelan. “Kalau begitu kita turun.”

Wira memandang ke bawah. Jalurnya curam dan gelap, nyaris tak terlihat selain garis samar tanah yang lebih lembek. Di bawah sana ada semacam cekungan alam dengan bebatuan besar dan semak rapat. Tempat itu tampak seperti jalur yang sengaja dihindari orang.

Mereka menuruni lereng dalam diam. Beberapa kali batu kecil menggelinding ke bawah dan membuat semua orang menahan napas, takut suara itu terdengar dari kejauhan. Namun sejauh yang mereka tahu, para pengejar masih sibuk menyisir area sekitar rumah singgah tua di bawah bukit. Malam memberi sedikit keuntungan, walau tidak cukup untuk membuat mereka merasa aman.

Setelah menempuh jalur licin itu, mereka tiba di dasar lembah kecil. Udara di sana lebih lembap, dan bau tanah basah membuat Wira sedikit lebih sadar bahwa mereka masih hidup. Di sekeliling mereka, ilalang tinggi bergerak perlahan tertiup angin. Di kejauhan, samar terlihat barisan batu lama yang berdiri seperti penanda yang sudah ditinggalkan.

Raden Seta menunjuk ke arah batu-batu itu. “Di sana.”

Panca menyipit. “Apa itu pintu ketiga?”

“Belum,” jawab Raden Seta. “Tapi jalurnya ada di sekitarnya.”

Wira menatap batu-batu yang dimaksud. Dari jauh bentuknya memang aneh, tersusun seperti sengaja ditempatkan berjajar. Saat mereka semakin dekat, Wira melihat bahwa salah satu batu memiliki ukiran tipis di permukaannya. Ukiran itu serupa dengan simbol yang sejak tadi terus muncul: garis melingkar dengan arah ke bawah.

Ki Rangga mendekat dan menyentuh ukiran itu dengan ujung jari. “Tanda lama.”

Raden Seta mengangguk. “Jalur menuju pintu ketiga dipandu oleh batu-batu ini.”

Panca menggeleng. “Kalian para orang lama benar-benar suka petunjuk yang tidak masuk akal.”

Jaya menatapnya. “Kau masih bisa mundur.”

“Tidak,” jawab Panca cepat. “Aku sudah terlalu jauh untuk tiba-tiba jadi orang bijak.”

Wira mendengus pelan, hampir tersenyum. Lalu ia melihat sesuatu di tanah dekat batu pertama: bekas langkah yang belum lama lewat. Ia langsung menunjuk ke sana.

“Ada jejak.”

Semua langsung menegang.

Ki Rangga menunduk, memeriksa bekas itu. “Baru.”

Jaya mengernyit. “Bukan bekas kita.”

Raden Seta memucat sedikit. “Mereka sudah lebih dulu sampai?”

Wira merasa tengkuknya dingin. Jika para pengejar sudah berada di sini, maka kemungkinan besar mereka memang mengetahui jalur lama atau mengikuti petunjuk dari orang dalam. Mereka tidak lagi selangkah di belakang. Mereka juga sedang menuju tempat yang sama.

“Berapa orang?” tanya Wira cepat.

Jaya menatap sekeliling, lalu menjawab, “Sulit dipastikan. Tapi cukup untuk membuat kita tidak nyaman.”

Panca merendahkan suara. “Aku sudah tidak nyaman dari tadi.”

Ki Rangga memberi isyarat agar mereka tetap diam. Ia menunjuk ke semak tinggi di sisi kiri. Di sana ada bekas gesekan, seperti seseorang baru saja lewat lalu bersembunyi.

Wira menahan napas. Mereka tidak sendiri.

Raden Seta bergerak pelan ke sisi batu dan memeriksa permukaan yang tertutup lumut. Dengan gerakan hati-hati, ia membersihkan bagian tertentu hingga tampak ukiran yang lebih besar. Ukiran itu bukan sekadar simbol, melainkan semacam peta mini. Ada garis yang mengarah ke celah batu di ujung baris. Raden Seta menatapnya lama.

“Ini dia,” katanya pelan.

Ki Rangga mengikuti pandangannya. “Batu terakhir.”

Raden Seta mengangguk. “Di baliknya ada pintu masuk tanah.”

Wira mendekat. “Pintu ketiga di bawah tanah lagi?”

“Ya.”

Panca mendecak. “Seperti kebiasaan buruk yang dipelihara turun-temurun.”

Jaya menoleh ke arah semak. “Ssst.”

Di balik ilalang, terdengar suara langkah pelan. Seseorang sedang bergerak mendekat. Bukan lari, tapi sengaja menyisir dengan hati-hati.

Ki Rangga langsung menempatkan tubuhnya sedikit di depan Wira. “Kalau mereka melihat kita, jangan panik.”

“Bagaimana mungkin aku tidak panik?” bisik Panca.

“Dengan tetap diam,” jawab Ki Rangga.

Wira merasakan napasnya pendek. Di kejauhan, bayangan samar bergerak melewati ilalang. Satu orang. Lalu satu lagi. Mereka menyisir wilayah itu dengan teratur. Jelas bukan orang sembarangan. Wira menatap Jaya, mencari petunjuk, tetapi lelaki itu hanya menatap tajam ke arah semak.

Raden Seta berbisik, “Kalau mereka menemukan jejak ini, kita harus cepat.”

Ki Rangga mengangguk. “Buka jalurnya.”

Raden Seta menekan bagian tertentu pada batu terakhir, tepat pada ukiran berbentuk lingkaran kecil. Awalnya tak terjadi apa-apa. Wira sempat mengira batu itu hanya penanda biasa. Namun tak lama kemudian, terdengar bunyi berat dari dalam tanah. Batu besar itu bergeser sedikit ke samping, menyingkap celah hitam yang cukup untuk dilalui satu orang.

Panca menghela napas pendek. “Nah. Itu baru masuk akal.”

Wira menatap celah itu. Dari dalam keluar udara yang lebih dingin dan kering. Aroma tanah tua kembali menyeruak, lebih kuat dari sebelumnya. Ia merasa seperti sedang berdiri di bibir rahasia yang lebih dalam lagi.

Ki Rangga memberi isyarat. “Masuk satu per satu.”

Jaya memimpin, lalu Panca, kemudian Wira. Raden Seta paling akhir. Lorong yang mereka masuki sempit dan menurun tajam. Dindingnya dipahat kasar, tetapi ada semacam keteraturan di sana, menunjukkan bahwa lorong ini dibuat dengan tujuan khusus. Wira menelusuri dinding dengan ujung jari sambil menahan napas. Jauh di bawah, samar terdengar gema air atau mungkin udara yang bergerak lewat rongga batu.

Lorong itu berakhir pada sebuah ruang kecil yang lebih terang daripada yang lain. Bukan karena cahaya lampu, melainkan pantulan dari batu putih yang menempel di dinding. Di tengah ruang terdapat pintu batu bundar yang tampak lebih tua dari seluruh bangunan di atas bukit. Pintu itu memiliki alur ukiran yang berputar ke dalam, seperti spiral yang mengarah ke inti.

Wira membeku.

“Itu pintunya?” tanyanya pelan.

Raden Seta mengangguk. “Ya.”

Panca menatap dengan wajah datar. “Aku berharap ini bukan pintu yang dibuka dengan teka-teki lain.”

“Bukan teka-teki,” jawab Raden Seta. “Lebih tepatnya pengesahan.”

Ki Rangga memandang pintu itu dengan mata tajam. “Kunci sudah lengkap?”

Raden Seta mengangguk ke arah Wira. “Sebagian.”

Wira mengangkat kain berisi cincin. “Yang ini?”

“Ya.”

Jaya menatap cincin yang terbungkus kain. “Kalau begitu letakkan.”

Wira berjalan pelan ke tengah ruangan. Ia membuka kain itu dan mengeluarkan cincin logam tua yang sejak tadi terasa berat di genggamannya. Benda itu dingin, nyaris seperti menyerap panas telapak tangannya. Di sekitar pintu batu, ada tiga cekungan kecil yang bentuknya serupa dengan simbol pada cincin, lempeng kayu, dan keping logam.

Wira menatapnya, lalu menoleh pada Ki Rangga. “Dua benda lain ada padamu.”

Ki Rangga mengangguk dan mengeluarkan lempeng kayu serta keping logam. Ia menyerahkannya kepada Wira.

“Letakkan semuanya,” kata gurunya.

Wira menahan napas. Dengan sangat hati-hati ia menempatkan lempeng kayu pada cekungan kiri, keping logam pada cekungan kanan, lalu cincin di bagian atas spiral tengah. Begitu benda terakhir menyentuh tempatnya, seluruh ruangan bergetar pelan.

Panca langsung menegakkan badan. “Nah, itu dia.”

Di depan mereka, pintu batu bundar mengeluarkan suara gesekan panjang. Gurat ukiran di permukaannya mulai menyala redup, bukan seperti api, melainkan seperti cahaya yang keluar dari celah batu yang lama tertutup. Wira melangkah mundur satu langkah. Jantungnya serasa berhenti sesaat.

Pintu itu perlahan terbuka.

Udara yang keluar dari baliknya jauh lebih tua daripada udara lorong tadi. Kering, dingin, dan membawa aroma kertas tua, logam, serta sesuatu yang menyerupai dupa yang sudah lama padam. Ruangan di balik pintu bukan ruangan biasa. Itu sebuah aula bawah tanah yang jauh lebih besar dari yang mereka duga.

Wira menatap masuk dengan napas tertahan.

Di dalam aula itu ada deretan pilar batu, meja-meja simpan, dan rak-rak tertata yang sebagian masih berisi gulungan kain, kotak-kotak kecil, serta benda-benda berukir. Namun yang paling mencolok adalah dinding utama di ujung ruangan. Di sana terukir nama besar yang sudah hampir pudar, tetapi masih terbaca.

Ki Rangga mendekat lebih dulu dan memicingkan mata. “Ini…”

Raden Seta melanjutkan dengan suara rendah, “Nama yang dihapus.”

Wira melangkah maju satu tapak, lalu satu lagi. Tulisan itu memang tua, tetapi masih jelas cukup untuk dibaca. Saat ia melihatnya, dadanya serasa diremas.

Di dinding itu tertulis nama yang tidak pernah ia dengar disebut terang-terangan sebelumnya.

Nama keluarganya.

Nama yang hilang dari cerita ibunya.

Nama yang kini terasa seperti pintu baru untuk dunia yang lebih besar.

Panca menatap tulisan itu lalu menelan ludah. “Jadi ini benar-benar tempat yang disembunyikan.”

Jaya mengangguk pelan. “Tempat yang seharusnya tidak ditemukan orang luar.”

Wira memandang nama itu lama. Ada rasa asing, tetapi juga akrab yang menyakitkan. Seolah ia berdiri di depan sesuatu yang pernah milik darahnya, lalu dipindahkan jauh darinya.

Ia menoleh pada Raden Seta. “Apa ini tempat ibuku lari dari?”

Raden Seta tidak segera menjawab. Ia berjalan mendekat ke dinding, lalu menunjuk ke bawah nama besar itu. Di sana ada tulisan lebih kecil, hampir tertutup debu.

“Bukan lari,” kata Raden Seta. “Lebih tepatnya tempat yang ia lindungi.”

Wira menatap tulisan kecil itu. Tangan kirinya mulai gemetar ketika ia membaca pelan.

“Jika pintu ini terbuka, maka waris yang hilang harus dipulangkan.”

Di bawah kalimat itu ada satu baris lagi, ditulis dengan huruf yang lebih goyah, tetapi justru lebih hidup.

“Anakku akan datang bila waktu tiba.”

Wira membeku.

Dunia seolah berhenti sebentar.

Ia menatap tulisan itu sekali lagi, lalu perlahan mengangkat wajah. Dadanya sesak, tenggorokannya kering, dan matanya terasa panas. Itu tulisan ibunya. Ia tahu itu sekarang. Tidak ada keraguan. Ibunya memang menulis bahwa ia akan datang. Ibunya sudah memperkirakan semua ini.

Panca menatap Wira dengan cemas. “Wira?”

Wira tidak menjawab.

Ki Rangga menepuk bahunya pelan. “Kau baik-baik saja?”

Wira menggeleng sangat kecil, tapi lebih seperti tidak tahu harus menjawab apa. Ia menatap tulisan itu lagi, lalu ke seluruh ruangan yang penuh peninggalan rahasia. Semua yang selama ini dicari, semua yang ia lari darinya, ternyata sudah dipersiapkan untuknya. Bukan karena kebetulan. Bukan pula karena nasib kosong. Ia memang ditunggu.

Tiba-tiba dari luar aula terdengar suara benturan keras.

Semua langsung menegang.

Jaya menoleh cepat ke pintu masuk. “Mereka menemukan jalan kita.”

Raden Seta memucat. “Tak mungkin mereka secepat itu.”

Ki Rangga menyambar tatapannya ke arah lorong. “Bisa kalau ada yang memberi tahu.”

Semua langsung saling memandang.

Panca yang paling cepat bereaksi. “Jangan lihat aku.”

Jaya menatap Raden Seta, lalu beralih ke Ki Rangga. “Kalau bukan kita, berarti orang yang memimpin mereka.”

Wira merasakan darahnya turun dingin. Berarti musuh mereka bukan hanya mengikuti jejak. Mereka dipandu. Dan kalau dipandu, berarti orang itu tahu persis ke mana mereka bergerak.

Benturan kedua terdengar lebih keras. Pintu batu kecil di lorong luar pasti sedang dicoba dibuka.

Ki Rangga menatap Wira. “Kita harus bergerak sekarang.”

Wira mengalihkan pandangannya dari tulisan ibunya. Dengan tangan masih gemetar, ia meraih cincin tua itu kembali. Benda itu terasa lebih berat dari sebelumnya. Seolah kini bukan hanya menjadi kunci, tetapi juga pengingat bahwa dirinya memang bagian dari sesuatu yang belum selesai.

Raden Seta cepat mengambil beberapa gulungan kain dari meja simpan terdekat. “Ada satu jalur keluar di ujung aula. Lewat sana kita bisa memotong ke sisi lain bukit.”

Panca langsung mengumpat pelan. “Bukit ini ternyata penuh jalan rahasia.”

“Dan masih ada yang belum kita lihat,” balas Jaya.

Ki Rangga tidak menunggu lagi. “Pergi.”

Mereka bergerak cepat ke ujung aula bawah tanah. Di belakang, suara benturan kembali terdengar, lebih dekat. Wira sempat menoleh sekali dan melihat pintu masuk yang mereka lewati tadi bergetar. Musuh sudah tiba. Mereka tidak punya waktu lagi untuk membaca semua yang ada di ruangan itu.

Namun sebelum benar-benar berlari, Wira berhenti sejenak di depan dinding bertulisan nama keluarganya. Ia menatap satu baris kalimat yang ditulis ibunya, lalu berbisik nyaris tanpa suara, “Ibu, aku sudah datang.”

Tidak ada jawaban.

Hanya gema langkah mereka yang terus bergerak ke dalam lorong berikutnya.

Dan saat Wira melangkah pergi dari aula itu, ia tahu satu hal yang kini tak bisa dibantah lagi: tempat ini memang milik masa lalu keluarganya, dan jalan untuk memulihkannya baru saja dimulai.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!