Penyesalan selalu akan datang di akhir. Seperti yang sekarang aku rasakan. Awal nya setelah istri ku meninggal aku belum benar benar kehilangan nya. Bahkan saat dia meninggal dunia aku masih bisa tertawa dan merasa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5.
Akhirnya lamunan Marcell pun buyar, dia buru buru menyeka air matanya yang luruh membasahi kedua pipinya. Kala teringat perlakuan buruknya yang dia lakukan selama 2 tahun berturut turut menyakiti hati Renata semasa SMA.
Marcell pun mulai memasukan kunci mobil ke lubangnya.
Terlihat hembusan nafas keluar dari hidung Marcell. Ada sesuatu yang sekarang ini begitu menyesakkan dadanya. Semua tentang Renata.
Bukan hanya masalah masa lalu, tapi juga tentang sebuah vonis penyakit orang yang selama ini masih ada didalam lubuk hati Marcell yang terdalam.
Kala diri nya memeriksa semua hasil lab pemeriksaan yang di lakukan oleh Renata. Tapi akhirnya Marcell teringat, jika Renata sekarang berada diluar rumah sakit, dengan tubuh kedinginan dan wajah pucat.
Buru buru Marcell menghidupkan mesin mobil miliknya. Lalu menghampiri Renata yang sedang menunggu dilobi luar rumah sakit.
Saat Marcell ingin keluar dari dalam mobil, guna membantu Renata masuk dengan membukakan pintu mobil untuknya. Ternyata Renata sudah masuk sendiri ke dalam mobilnya yang hanya memiliki 2 bangku dan juga 2 pintu mobil.
Iya benar, Marcell kali ini mengguna
kan, mobil sport.
Kini Renata sudah duduk di bangku mobil tepat disampingnya.
Marcell menatap tangan dan lengan Renata, sampai tidak berkedip. Begitu kurus, pucat dan banyak sekali lebam lebam di tangan Renata. Tangan yang harusnya berwarna seputih kapas, sekarang nampak membiru dan ungu.
Dengan ekspresi wajah, yang terlihat tidak enak. Renata pun berkata, "Maaf dokter, gara gara saya. Mobil dokter kotor dan juga basah. Nanti selesai mengantar saya, saya akan membersihkan mobil pak dokter."
"Bu - bukan masalah hal itu Renata. Basah gak papa, nanti juga kering sendiri. Aku cuman khawatir kamu kedinginan. Soalnya baju kamu basa, ini pakai sweater saya," ucap Marcell sembari menyodorkan sweater miliknya.
Renata langsung menolak sweater itu, langsung mengembalikan swater itu saat Marcell menyerahkan sweater itu.
"Dokter ... Tolong segera antar saya pulang," ucap Renata dengan nada yang terdengar terbata bata. Karena perasaan gugup sekarang ini sedang menyelimuti hati Renata.
Hampir saja hati Renata goyah, karena menerima kebaikan dari Marcell.
Marcell sendiri malah memandang tubuh Renata tanpa berkedip. Bahkan pandangan Marcell terlihat mengarah kebagian tangan Renata yang sangat kurus.
Jika pandangan mata Marcell memang fokus melihat ke arah lengan dan tangan Renata, akibat banyaknya lebam dan tulang belulang Renata yang sampai kelihatan.
Sungguh berbeda dengan jalan pikiran Renata. Karena Renata kira, Marcell fokus pada bajunya yang usang. Dengan wajah terlihat malu, Renata terlihat menutup kaos usangnya yang bolong, dengan telapak tangan nya.
Kaos yang Renata gunakan sekarang ini terlihat begitu tipis, dan bolong bolong. Akibat terlalu sering dicuci.
"Kok kamu menolak sweater ini. Buat kamu aja, gak perlu di kembalikan, kamu emang nya gak kedinginan?" Tanya Marcell dengan wajah khawatir.
"He he enggak kedinginan kok, maaf .. bisa gak anter aku sekarang pulang? Soalnya aku belum masak di rumah. Takutnya kalau suamiku dah pulang, dan saat dia ingin makan, tidak ada makanan yang tersedia," ucap Renata dengan nada yang tidak enak. Sembari menundukkan wajahnya.
Karena sedari tadi bukanya buru buru melajukan mobilnya. Marcell malah fokus terus melihat ke arah tangannya.
"Oh ... Oke. Maafkan aku Renata, aku malah lupa," ucap Marcell, lalu dia mulai melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.
Marcell berkali kali melirik ke arah Renata, yang masih melihat hujan dari balik kaca jendela mobilnya. Bahkan Renata melihat hujan dengan mata yang berbinar.
"Dari dulu, kamu tidak berubah Renata. Masih suka dengan hujan. He he he," ucap Marcell disertai dengan sebuah tawa kecil.
"Hiks .. hiks ... Hiks ..." Renata malah menangis, beban yang selama ini dia tahan. Akhirnya bisa luruh juga didepan orang yang menorehkan sebuah luka yang begitu dalam didalam hati tulus Renata.
"Renata, kok malah menangis. Aduh jangan menangis dong, apa ada yang salah dengan kata kataku barusan," ucap Marcell panik, lalu memelankan laju mobilnya. Marcell menepikan mobilnya, lalu berhenti dipinggir jalan raya.
Marcell ingin sekali memeluk tubuh ringkih Renata yang sedari tadi menggigil, mengusap bahu Renata penuh kasih sayang.
Walaupun berkali kali Renata mengatakan jika dia tidak kedinginan, tapi Marcell sebenarnya tahu. Apalagi respon yang ditunjukkan oleh tubuh Renata sama sekali tidak bisa berbohong.
"Eh ... Kenapa berhenti, aku gak papa kok. Udah yuk lanjut jalan nya," ucap Renata dengan senyuman pilu.
"Iyaa ..." Jawab Marcell singkat, dengan nada yang terdengar kaku dan juga memasang ekspresi wajah bingung.
Tak berselang lama, mobil sport milik Marcell pun berhenti disebuah perumahan yang tergolong lumayan elit. Jika dibandingkan dengan rumah Renata yang dulu. Karena rumahnya yang dulu sangatlah sederhana.
"Makasih banyak untuk tumpangannya Leon, eh lupa dokter Marcell," ucap Renata sembari memegang kenop pintu mobil. Karena dia ingin membuka pintu mobil yang ada di samping nya.
Berkali kali Renata mencoba memutar kenop pintu mobil milik Marcell, tapi hasil nya nihil. Pintu mobil sport milik Marcell nyatanya tidak mau terbuka juga.
Ternyata Marcell lah yang sengaja, mengunci mobil itu. Karena dia ingin mengatakan sesuatu hal pada Renata.
"Rena? Bagaimana kabarmu sekarang? Apakah kehidupan yang sekarang kamu jalani, baik baik saja?" Tanya Marcell dengan tatapan wajah iba dan terbesit sebuah rasa kerinduan yang begitu mendalam.
Sebuah kata rindu yang nampak terpancar dari sorot mata milik Marcell. Bahkan Marcell juga terlihat meraih tangan kurus Renata, lalu menggenggamnya dengan gerakan yang terlihat begitu lembut.
Pertanyaan Marcell benar benar membuat Renata menangis. Karena hidupnya memang tidak baik baik saja, begitu menyedikan untuk dibicarakan. Tapi Renata mencoba kuat, agar tidak lemah. Agar Marcell tidak bersimpati kepadanya.
"Eh ... Jangan begini pak dokter Marcell yang terhormat, he he he. Kabarku baik kok. Ya udah pintu mobilnya buka dulu dong! Nanti keburu suamiku pulang," ucap Renata dengan wajah bingung dan juga terlihat takut. Bahkan Renata juga dengan kasar menjauhkan tangan Marcell dari tangannya.
Renata sangatlah takut. Karena Ivan suaminya adalah tipe orang yang sangat pencemburu. Renata sangat takut, jika sampai suaminya itu salah sangka. Jika melihatnya berkontak fisik dengan lawan jenis.
"Ya udah kalau begitu. Tolong sampaikan salam ku. Kepada kedua orang tua mu, aku sangat merindukan mereka. Dan kapan kapan aku akan berkunjung dan menemui mereka seperti dulu, saat kita bersama. Alamat nya masih samakan," ucap Marcell tulus. Lalu terdengar suara, kunci terbuka.
"Hmmm ... Mereka sudah meninggal Marcell, he he, maaf dulu
kan aku pernah berjanji padamu, akan setia menunggumu. Sampai kamu lulus kuliah dan pulang dari luar negeri. Walaupun saat itu, kamu memutus kan hubungan kita sepihak. Aku sebenarnya masih bisa menunggumu. Tapi maaf, aku hanya bisa menunggumu kembali, sampai ditahun ke 2, saat kamu mengatakan putus. Karena kesehatan ke dua orang tua ku saat itu memburuk, akhirnya kedua orang tua ku. Menjodohkan ku dengan mas Ivan. Agar aku tidak sebatang kara dan juga sendirian didunia ini. Maafkan aku Marcell saat itu, aku tidak setia. Karena saat aku juga sangat bingung. Kedua orang tuaku mendesakku untuk segera menikah, dan ... aku juga tidak pernah mendapatkan kabar darimu, jadi akhirnya aku menerima pinangan keluarga mas Ivan. Dan maaf, aku baru bisa mengatakannya sekarang, karena. Kita akhirnya bisa bertemu juga setelah sekian lama. 'Leon aku menerima kata putusmu 12 tahun yang lalu' " ucap Renata dengan sebuah senyuman tulus, Renata mati matian menahan air matanya agar tidak luruh.
Tapi mata Renata benar benar terlihat tidak bisa berbohong. Mata cantik nan sayu itu terlihat menyimpan banyak sekali kepedihan.
Marcell malah melamun, setelah mendengarkan penuturan Renata.
Setelah Marcell sadar, Renata sekarang sudah tidak berada lagi didepan matanya lagi.
Kapan sihh moment pintarnya si Renata sbg wanita 👍😂
gimana kalau nanti karma nya dia juga merasakan sakit yg sama kaya istrinya, kanker prostat 😏😆
bukan nya menjalani hidup kali ke 2 Renata seperti harapannya dokter Leon?! 😁😁
dasar suami lucknut 😡😡