NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Malam Pesta

Hotel Mulia, Jam 19.32 WIB.

Clarissa turun dari mobilnya Toyota GR Supra. Mengenakan dress navy, tas dior edisi terbatas, berjalan dengan elegan.

Alvian menyusul di belakang. Jas charcoal butik DeLux, dasi maroon, rambut sisir rapi. Penampilannya sekarang jauh dari kata dokter kampung. Tampak berwibawa, terlihat lebih tampan.

"Nanti di dalam jangan bicara sembarangan. Yang datang ke pesta semua adalah teman dan kolega Papa."

Clarissa memperlambat langkah dan berbisik memperingatkan Alvian. Alvian langsung mengangkat jempolnya, mengangguk dua kali.

"Oke, paham."

Mereka masuk bersama. Clarissa jalan duluan, sementara Alvian 1 langkah di belakangnya.

Begitu sampai di depan pintu ballroom Clarissa menunjukkan kartu undangan, meski penjaga pintu telah mengenalinya. Sekadar formalitas, biar tamu lain tidak merasa seenaknya sendiri.

"Silakan Dok, semoga menikmati pestanya."

Begitu pintu besar dibuka, pemandangan megah langsung menyambut mereka. Seperti acara pesta kerajaan, ruangan luas di penuhi dengan berbagai macam hidangan.

"Kita cari Papa dulu," ajak Clarissa.

Alvian tetap mengekor di belakang seperti gantungan. Pergi ke mana pun Clarissa melangkahkan kakinya.

"Clara, sudah datang?"

Seorang wanita yang seumuran dengan mamanya menyapa di tengah kerumunan. Gaun merah mentereng, gelang emas sebesar rantai, Clarissa mengenali wanita itu tak lain adalah Tante Lina, Mama Bayu.

"Malam Tante. Tante datang ke sini sendiri?" balas basa-basi Clarissa.

"Tentu saja tidak. Tante datang sama Bayu. Kamu harusnya tahu, kan, Bayu sudah kembali dari luar negeri? Sekarang dia juga sudah jadi dokter spesialis." Tante Lina menoleh ke belakang, mencari Bayu. "Bay, cepat sini. Bukannya tadi kamu bilang mau ketemu dengan Clara?"

Dokter Bayu mengakhiri pembicaraan dengan rekannya dan menghampiri mamanya. Tapi baru saja sampai, Clarissa sudah pergi setelah menemukan keberadaan dr. Hendra dan Bu Diany.

"Tante, aku tinggal dulu ya. Mau ke Papa dan Mama."

"Eh! Eh! Kok pergi sih." Tante Lina berusaha menahan Clarissa, sayangnya Clarissa sudah terlanjur menjauh.

"Omong-omong Bay, siapa laki-laki yang selalu mengikuti Clara itu? Apa dia sopir?"

Dokter Bayu berdecak pelan. "Harapnya sih begitu. Tapi, bukan. Dia suami Clara."

"Apa!!"

Tante Lina terkejut hingga membuka mulutnya lebar-lebar.

"Clara sudah nikah? Kenapa Mama tidak mendengar berita ini?"

"Mama saja tidak tahu, apalagi aku. Jika tidak datang ke rumah sakit tadi siang, aku juga masih tidak tahu Clarissa sudah menikah," keluh dr. Bayu.

"Tapi tenang saja, Ma. Suami Clarissa hanya dokter kampung biasa yang bekerja di klinik kecil. Lihat nanti bagaimana aku akan membuatnya kehilangan muka."

Tante Lina sedikit ragu. Berkata, "Tapi Bay, ini pesta Keluarga Amartya. Jangan sampai menyinggung dr. Hendra."

"Itu tidak akan. Bahkan, aku rasa Paman Hendra akan berterima kasih setelah tahu betapa inkompeten-nya si dokter kampung itu."

"..."

---

Alvian ikut Clarissa ke lantai dua menemui dr. Hendra dan Bu Diany. Di sana mereka bertemu beberapa direktur rumah sakit, termasuk dr. Heru, Direktur Rumah Sakit Harapan Kita. Pria itu tampak antusias menyambut Alvian ketika diperkenalkan oleh dr. Hendra sebagai menantunya.

"Oh, jadi ini dr. Alvian Wira? Yang sekali lihat langsung bisa membedakan obat palsu? Tak heran, auranya sangat berbeda."

Alvian tertawa kecil sambil membalas sapaan dr. Heru. "Itu hanya kebetulan. Hanya kebetulan," ucapnya.

Direktur Rumah Sakit Madya, dr. Nurkhozin, yang ada di samping langsung membantah. "Itu bukan cuma kebetulan. Karena jika itu orang awam, melihatnya berkali-kali pun tidak akan curiga ada yang salah dengan obatnya. Ini murni kemampuan."

"Benar. Anak muda memang suka merendah. Tahu cara menghormati yang tua-tua ini." Dokter Heru tertawa dan menawarkan segelas cocktail untuk Alvian.

Mereka berbincang dan tampak sangat akrab. Dokter Hendra yang melihat ini tentu saja senang, sedangkan Clarissa yang berkumpul dengan istri dan putri para direktur sedikit terkejut karena tidak menyangka Alvian dapat menyesuaikan diri dengan sangat cepat.

Bahkan, Clarissa merasa Alvian yang sekarang terlihat jauh lebih elegan, tidak konyol dan cerewet seperti biasanya.

Clarissa hampir saja terpesona, sampai mata mereka bertemu, dan Alvian tiba-tiba melambaikan tangan dengan ekspresinya seperti anak itik menemukan induknya. Kegirangan, mengangkat gelas cocktail ingin menawarkannya.

"..."

Tangan langsung Clarissa memijat kening, memalingkan wajah ke arah lain.

Padahal baru saja dirinya memiliki kesan yang lumayan baik tentang Alvian, tetapi dalam hitungan detik pria itu sudah menghancurkannya berkeping-keping.

"Seharusnya aku tahu, sikapnya tidak mungkin tiba-tiba berubah."

"..."

___

Sekitar jam 20.10 WIB. Gala diner memasuki fase free flow.

Dokter-dokter yang datang berpencar, mencari relasi sambil menikmati suguhan wine yang dibawakan pelayan.

Clarissa juga pergi bertemu teman-teman wanitanya. Sehingga Alvian sendirian, duduk di dekat meja dessert, melahap dua sampai tiga pudding.

Bayu yang sudah menunggu kesempatan sejak pesta dimulai, akhirnya mulai menghampiri Alvian.

Dia membawa beberapa temannya, kemudian berkerumun di depan Alvian.

"Guys... Kenalkan, namanya Alvian Wira. Menantu dr. Hendra. Dia juga dokter seperti kita, bahkan punya klinik sendiri di daerah Tebet."

Alvian fokus menyendok pudding, tujuh dokter di samping dr. Bayu mengernyitkan kening melihat sikap Alvian.

Satu dari mereka lalu berkata, "Wah, hebat dong, buka klinik sendiri. Ambil spesialis apa?"

Dokter Bayu diam mengamati. Senyum di wajahnya hampir tak bisa disembunyikan saat mendengar pertanyaan yang sudah ia nantikan.

"Sekarang, bagaimana kau akan mengatakannya? Hanya dokter kampung, berani-beraninya ingin bersaing denganku?"

Alvian mengangkat wajahnya, menatap satu persatu dokter yang kemungkinan sepantaran dengannya. Dia meletakkan sendok pudding, mengambil gelas cocktail. "Hanya dokter umum. Klinik kecil di pinggir kota, hanya layani pasien batuk, pilek dan demam."

Jelas jawaban Alvian membuat ketujuh dokter terdiam. Awalnya mereka berpikir ingin membangun relasi, karena tahu Alvian adalah menantu dr. Hendra. Mereka berpikir Alvian adalah dokter yang memiliki kualifikasi sangat tinggi, tapi kenyataannya Alvian hanya seorang dokter umum.

Tatapan mereka kepada Alvian pun dengan cepat berubah. Yang mulanya masih terlihat segan, sekarang tampak meremehkan.

"..."

Menyaksikan hal ini dr. Bayu puas bukan kepalang. Dia berpura-pura maju membela Alvian, tapi sebenarnya jelas bukan itu niatnya yang sesungguhnya.

"Hei... Jangan menganggap remeh dokter batuk pilek. Walau bagaimanapun dokter tetaplah dokter. Punya STR, meskipun... Cuma bisa tangani batuk pilek."

Mereka tertawa. Dokter Bayu juga tertawa, tetapi dia berpura-pura simpatik dan menepuk pundak Alvian.

"..."

Saat itu, di tengah suara tawa, dr. Heru datang menghampiri Alvian. Menyapa seperti bertemu teman sebaya, menunjukkan jelas posisi Alvian di matanya.

"Ternyata kamu di sini. Bagaimana jika ikut saya ketemu beberapa kenalan? Mereka dengar cerita saya, ingin bertemu orangnya."

"Oh! Boleh. Kebetulan tidak ada yang bisa diajak bicara."

Alvian berdiri dari kursi dan pergi bersama dr. Heru. Dokter Bayu dan ketujuh dokter yang sebelumnya masih tertawa seketika berhenti, menatap dengan rumit situasi tersebut.

"Bukankah dia cuma dokter batuk pilek? Kenapa Pak Heru terlihat sangat menghargainya? Bay, apa yang sebenarnya terjadi?"

Mendapat pertanyaan dari temannya, dr. Bayu diam kebingungan. "A-aku juga tidak tahu. Dia seharusnya memang dokter batuk pilek yang punya klinik di pinggir kota."

Mereka bingung. Pada waktu yang sama mulai khawatir setelah melihat dr. Heru benar-benar membawa Alvian bertemu tokoh-tokoh dokter terkemuka.

"..."

Dokter Bayu kesal. Dia mulai memutar otak, mencari cara lain untuk mempermalukan Alvian.

___

Setengah jam kemudian.

Alvian masih dikelilingi kenalan dr. Heru. Mereka juga cukup antusias berbicara dengan Alvian, membicarakan kasus obat palsu.

Pada waktu itu dr. Bayu datang sambil menggandeng seorang wanita tua. Berjalan sambil memegang pinggangnya, terlihat kesakitan.

"Dok Alvian, boleh bantu periksa kerabat saya? Kata orang-orang di sini kemampuan Dok Alvian sangat hebat."

Dokter Heru menatap dr. Bayu sejenak sebelum memperhatikan wanita tua yang memegangi pinggang. Beberapa dokter senior yang ada di sana juga ikut memperhatikan, tetapi hanya sebatas menilai karena yang diminta jelas adalah Alvian.

Namun sampai detik ini Alvian masih bergeming seolah tidak bisa memberikan diagnosis.

Dokter Bayu tersenyum. "Lihat! Apa kau sekarang panik? Hanya satu kata, dan semua orang akan mengetahui jika kau hanya seorang dokter kampung."

Di sisi lain, Clarissa yang sedang bersama teman-temannya tak bisa mengalihkan perhatian saat melihat kerumunan di salah satu sudut ballroom. Matanya mengernyit, lalu menemukan Alvian yang berada di tengah kerumunan itu.

"Dia... Apa Bayu sedang mencari masalah dengannya?"

"Clara, ada apa? Mungkinkah yang di sana itu, suami kamu?" Teman-teman Clarissa juga mulai penasaran dan ikut mendekat ke kerumunan.

___

Lima menit. Alvian masih tidak bersuara, membuat beberapa orang mulai berbisik.

Dokter senior di samping menunggu, sementara dr. Bayu sengaja menuangkan minyak ke dalam api.

"Bagaimana, Dok? Seharusnya sudah punya gambaran, bukan? Kecuali ...."

Siapapun dapat melihat niat dr. Bayu yang ingin memojokkan Alvian. Clarissa berniat maju membela Alvian, tetapi langkahnya berhenti saat tiba-tiba mengangkat tangannya.

"Ya. Jika tidak salah, kemungkinan ini kasus saraf terjepit. Segmen L5-S1, sendi lumbosakral, titik transisi antara tulang belakang pinggang (L5) dan sakrum (S1). Area yang menopang beban berat badan sehingga sangat rentan terhadap saraf terjepit. Nyeri punggung bawah kronis, sering menjalar ke kaki, menyebabkan mati rasa hingga kelemahan otot. Kalau tidak cepat fisioterapi, 3 bulan lagi akan drop foot, masa jalan level 1."

"..."

Semua terdiam. Sejenak ballroom menjadi hening seolah tak percaya dengan diagnosis Alvian.

Dokter-dokter muda membuka penelusuran, mencaritahu tentang L5-S1. Dokter senior masih menganalisis.

Saat itu wanita tua membuka mulutnya, berkata, "Dokter, apa ini sungguh serius? Hasil periksa terakhir rumah sakit bilang memang ada kemungkinan saraf terjepit. Apa nantinya akan tidak bisa jalan jika terus dibiarkan?"

Perkataan wanita tua itu membuat semua tercengang. Mereka kini semua tahu jika diagnosis yang diberikan Alvian sudah tepat sasaran. Hal ini sangat sulit dipercaya, mengingat dr. Heru dan dokter senior lainnya tidak bisa memastikan seratus persen tanpa melihat laporan hasil pemeriksaan.

"I-ini bagaimana mungkin!!" Mulut dr. Bayu kelu. Wajahnya pucat, keringat dingin. Niatnya ingin mempermalukan Alvian, malah membuat pria itu menjadi pusat perhatian.

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!