Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Xena bersandar pada dinding lorong rumah sakit yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang terasa sesak.
Bayangan tatapan benci Prabu terus menghantui pikirannya.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia merogoh saku jas putihnya dan mengambil ponsel.
Hanya satu nama yang terlintas di kepalanya saat ini.
Xena menghubungi sahabatnya, Dwi, yang juga teman sekolah mereka saat SMA dan tahu betul bagaimana perjuangan Xena mengejar Prabu dulu.
Begitu sambungan telepon terangkat, suara Xena terdengar serak.
"Dwi, bisa kita ketemu sebentar? Aku di rumah sakit."
Di seberang telepon, Dwi menangkap nada tidak beres dari suara sahabatnya itu.
Tanpa banyak tanya, Dwi langsung menjawab tegas.
"Tunggu di sana, Xen. Jangan ke mana-mana."
Dwi segera menutup ponselnya. Ia meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai, menyambar kunci mobil, dan segera memacu kendaraannya menuju rumah sakit tempat Xena bekerja.
Ia tahu, jika Xena sampai meneleponnya di jam seperti ini dengan suara seperti itu, artinya sesuatu yang besar tengah terjadi.
Tiga puluh menit kemudian, Dwi menemukan Xena sedang duduk termenung di bangku taman rumah sakit yang sepi.
"Xena!" panggil Dwi terengah-engah.
Xena mendongakkan kepalanya dengan matanya yang sembap.
"Dwi, aku akan menikah."
Langkah Dwi terhenti. Ia mengerutkan kening, bingung.
"Menikah? Sama siapa? Kamu bahkan nggak lagi dekat sama siapa-siapa, Xen."
"Prabu," bisik Xena lirih.
Mata Dwi membelalak sempurna. "Prabu? Prabu, teman SMA kita? Pria yang sudah menolakmu mentah-mentah dan menghilang bertahun-tahun? Bagaimana bisa?"
Xena pun mulai menceritakan semuanya. Tentang kondisi Prabu yang depresi berat, tentang orang tua Prabu yang memohon, hingga ancaman sang ayah untuk mencabut lisensi terbang Prabu.
Dwi mendengarkan dengan rahang yang mengeras, sesekali ia mengumpat pelan mendengar sikap Prabu yang masih saja kasar.
"Kamu gila, Xen!" seru Dwi setelah Xena selesai bercerita.
"Kamu itu dokter jiwa, bukan tumbal! Kamu mau menyembuhkan dia dengan cara menghancurkan dirimu sendiri? Kamu tahu kan dia masih mencintai perempuan itu?"
Xena menunduk, meremas ujung jasnya. "Aku tahu, Dwi. Tapi melihat Om dan Tante memohon, aku nggak bisa bilang nggak. Dan di dalam sini,"
Xena menyentuh dadanya, "masih ada bagian dari diriku yang ingin melihat dia kembali tertawa, meski bukan untukku."
Dwi menghela napas panjang, lalu duduk di samping Xena dan merangkul bahunya erat.
"Aku nggak setuju, tapi aku tahu betapa keras kepalanya kamu kalau sudah urusan Prabu. Tapi janji satu hal sama aku, Xen. Kalau dia sudah keterlaluan, kamu harus pergi. Kamu dokter, kamu harusnya tahu kapan sebuah 'pasien' sudah tidak bisa ditolong."
Xena menganggukkan kepalanya perlahan, mencoba meresapi peringatan Dwi yang terasa seperti tamparan realitas.
Ia tahu Dwi benar, namun rasa tanggung jawab dan sisa-sisa perasaan masa lalu telah mengunci keputusannya.
"Aku akan ingat itu, Dwi. Terima kasih sudah datang malam-malam begini," ucap Xena dengan senyum yang dipaksakan.
"Kabari aku setiap ada apa-apa. Jangan dipendam sendiri," balas Dwi sambil menepuk pundak Xena sekali lagi sebelum mereka berpisah di parkiran.
Xena berjalan menuju mobilnya dengan langkah yang terasa sangat berat.
Setelah berpamitan pada orang tua Prabu yang masih setia menunggu di depan ruang rawat, ia memacu kendaraannya membelah jalanan kota yang sudah mulai lengang.
Sesampainya di rumah, suasana sunyi menyambutnya.
Xena tidak langsung menuju kamar, melainkan terduduk di sofa ruang tamu yang gelap.
Ia membiarkan kegelapan menyelimutinya, sama seperti perasaan yang kini menyelimuti hatinya.
Pikiran Xena melayang pada ucapan Prabu di rumah sakit tadi.
"Dasar munafik!"
Suara itu terus bergema di telinganya. Prabu benar-benar membencinya.
Menikah dengan pria yang menganggap keberadaanmu sebagai sebuah skema licik adalah sebuah perjudian besar.
Xena bangkit, berjalan menuju cermin besar di koridor kamarnya.
Ia menatap pantulan dirinya sendiri—seorang wanita dewasa, seorang dokter jiwa yang dihormati, namun kini tampak seperti gadis kecil yang kembali tersesat dalam labirin cinta pertama yang menyakitkan.
"Ini demi kesembuhannya, Xena. Hanya untuk kesembuhannya," bisiknya pada diri sendiri di depan cermin, mencoba meyakinkan logika yang mulai goyah.
Ia membersihkan diri, mengganti pakaiannya, dan merebahkan tubuh di ranjang. Namun, mata itu sulit terpejam.
Di balik jendela kamar, langit malam tampak mendung, seolah turut menggambarkan masa depan yang akan ia jalani bersama Prabu: sebuah pernikahan tanpa cinta, yang dibangun di atas reruntuhan luka dan rasa bersalah.
Sore harinya, Xena kembali ke rumah sakit dengan langkah yang lebih tenang, meski hatinya masih terasa sesak.
Sebagai dokter, ia harus profesional. Ia menyusuri koridor menuju ruang rawat VIP tempat Prabu dirawat, mencoba menata emosinya agar tidak tampak rapuh di depan pasiennya.
Saat memasuki ruangan, suasana terasa berbeda.
Ayah dan Ibu Prabu sudah berdiri di sana, berbicara serius dengan seorang asisten yang membawa beberapa map dan berkas.
Begitu melihat Xena masuk, wajah Ibu Prabu langsung cerah, sementara Prabu sendiri hanya memalingkan wajah ke arah jendela, menatap langit sore dengan tatapan kosong.
"Xena, syukurlah kamu sudah datang," sapa Ayah Prabu.
Beliau melangkah mendekat, menunjukkan beberapa dokumen.
"Om sudah mengurus semuanya. Pernikahan kalian akan dilaksanakan dua hari lagi. Secara sederhana saja di sini, yang penting sah secara agama dan hukum."
Xena tertegun. "Dua hari lagi, Om? Bukankah itu terlalu cepat?"
"Lebih cepat lebih baik, Xena. Agar Prabu bisa segera pindah ke rumah yang lebih tenang dan kamu bisa mulai memantau kondisinya setiap saat," jawab sang Ayah tegas, namun terselip nada memohon di matanya.
Xena terdiam seribu bahasa. Ia menoleh ke arah bangku kosong di sampingnya, tempat yang seharusnya diisi oleh kedua orang tuanya jika mereka masih ada.
Sebagai seorang yatim piatu, Xena tidak memiliki tempat untuk mengadu atau meminta pertimbangan.
Ia sendirian menghadapi keputusan besar ini.
Kesunyian menyelimuti ruangan itu.
Xena melirik Prabu yang sama sekali tidak bereaksi, seolah-olah pernikahan ini adalah pemakaman baginya.
Tanpa kata, Xena akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya perlahan.
Sebuah anggukan yang menjadi tanda bahwa ia menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke dalam sebuah pengabdian yang penuh risiko.
"Baik, Om. Xena ikut apa kata Om dan Tante saja," ucapnya lirih.
Ibu Prabu langsung memeluk Xena dengan erat, membisikkan kata terima kasih berulang kali.
Di pelukan itu, Xena hanya bisa menatap punggung tegap Prabu yang membeku.
Ia tahu, mulai detik ini, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri, melainkan milik seorang pria yang bahkan tidak sudi melihat wajahnya.
Setelah pintu ruang rawat tertutup rapat seiring dengan pamitnya kedua orang tua Prabu, keheningan yang menyesakkan langsung menyergap.
Prabu masih pada posisinya, membelakangi Xena seolah-olah wanita itu adalah kuman yang harus dihindari.
Xena menarik kursi, duduk tepat di samping ranjang.
Ia membuka catatan medis di tangannya, berusaha memposisikan dirinya sepenuhnya sebagai seorang dokter.
"Kita mulai terapinya hari ini, Prabu. Aku perlu tahu apa yang kamu rasakan selain rasa lelah yang..."
"Cukup, Xena. Berhenti berakting," potong Prabu tajam. Ia menoleh, menatap Xena dengan mata yang merah dan penuh kebencian.
"Kamu pikir dengan memakai jas putih itu, kamu terlihat hebat? Di mataku, kamu tetap saja wanita menyedihkan yang menggunakan cara kotor untuk menikahiku."
Prabu mendengus sinis, bibirnya menyunggingkan senyum menghina.
"Berapa banyak yang orang tuaku bayar untuk membeli harga dirimu? Atau memang kamu semurah itu sampai mau menyerahkan hidupmu pada pria yang bahkan tidak sudi menyentuhmu?"
Mendengar ejekan yang begitu kasar, tangan Xena yang memegang pena sempat bergetar.
Namun, ia tidak membalas dengan amarah.
Sebaliknya, ia menarik napas panjang dan menatap Prabu dengan tenang. Sebuah senyum tipis—senyum yang sulit diartikan—muncul di wajahnya yang cantik.
"Kamu mau menghinaku setinggi langit pun, itu tidak akan mengubah kenyataan, Prabu," ucap Xena dengan suara yang lembut namun sangat stabil.
"Kenyataan apa? Bahwa kamu menang?" tantang Prabu.
Xena menggeleng pelan. "Bukan. Kenyataan bahwa saat ini, di ruangan ini, kamu bukan lagi kapten tim bola yang populer atau pilot yang hebat. Kamu adalah pasienku. Dan tugasku adalah memastikan pasienku tidak mati konyol karena egonya sendiri."
Xena menutup buku catatannya dengan suara berdehem pelan.
"Jadi, mari kita simpan ejekan itu untuk nanti. Sekarang, ceritakan padaku tentang malam saat kamu merasa tidak bisa bernapas."
Prabu tertegun sejenak. Ketegasan dalam suara Xena sedikit mengusik pertahanannya, namun ia segera membuang muka kembali, rahangnya mengeras karena harga dirinya yang terluka.
Ia belum siap mengakui bahwa wanita yang dulu ia remehkan, kini menjadi satu-satunya orang yang memegang kunci kewarasannya.
wwkwkwkwk
gemes bgt sama nie orang dech
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣