Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian di Bawah Bulan
Sisa-sisa demam semalam masih meninggalkan jejak letih di kelopak mata Briella, namun udara segar dari balkon mansion seolah menjadi obat penawar yang ia butuhkan. Geovani menuntunnya keluar menuju area terbuka yang menghadap langsung ke hamparan Metropolis Etheria yang berkilau di kejauhan. Langit malam ini begitu jernih, seolah alam sedang menyiapkan panggung untuk sesuatu yang tidak biasa.
Salju mulai turun dengan perlahan, butiran putih halus itu jatuh menari di udara sebelum mendarat di lantai balkon yang dingin. Briella merapatkan jubah sutranya, merasakan sensasi kontras antara udara malam yang membeku dan kehangatan telapak tangan Geovani yang masih menggenggam jemarinya. Tidak ada suara mesin medis, tidak ada aroma antiseptik, hanya keheningan yang megah.
"Kenapa kau membawaku ke sini, Geovani? Udara ini bisa membuat demamku kembali," ujar Briella dengan suara yang masih sedikit serak.
Geovani tidak melepaskan tatapannya dari garis cakrawala yang memisahkan langit dan daratan. "Kau sudah terlalu lama terkurung dalam trauma dan dinding beton. Malam ini, salju pertama turun untuk menyambut kehidupan baru di rahimmu. Kau butuh sesuatu yang lebih indah daripada sekadar angka-angka pada monitor USG."
"Kau bicara seolah-olah kau adalah penyair, padahal kau adalah orang yang mengurungku di kamar gelap kemarin," balas Briella, mencoba mempertahankan benteng kebencian di dalam hatinya.
Geovani berbalik, menatap Briella dengan intensitas yang meluluhkan pertahanan gadis itu. Ia mengulurkan tangan kanannya, sebuah ajakan yang sangat formal di tengah kesunyian tanpa musik. "Berdansalah denganku, Briella. Tanpa kamera, tanpa media, dan tanpa syarat apa pun untuk malam ini saja."
"Berdansa? Tidak ada musik di sini, hanya ada suara angin dan salju yang jatuh," Briella menatap tangan kokoh itu dengan ragu, namun jantungnya berkhianat dengan berdegup lebih kencang.
Geovani tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak lagi terasa seperti ancaman. "Musik itu ada di sini, di setiap helaan napasmu yang mulai stabil. Ikuti saja langkahku, jangan biarkan logikamu merusak momen yang jarang terjadi ini."
Briella akhirnya meletakkan telapak tangannya di atas tangan Geovani. Pria itu segera menarik pinggang Briella, merapatkan tubuh mereka hingga tidak ada celah bagi hawa dingin untuk masuk. Mereka mulai bergerak dalam ritme yang lambat, berputar di bawah siraman cahaya bulan yang perak, menciptakan bayangan yang saling bertaut di atas salju yang mulai menipis.
"Kau bergerak dengan sangat baik untuk seseorang yang mengaku membenciku," bisik Geovani tepat di telinga Briella, hembusan napasnya terasa hangat di kulit yang dingin.
"Aku hanya mengikuti gerakanmu agar tidak jatuh. Jangan terlalu percaya diri, Dokter," sahut Briella, meski ia menyandarkan kepalanya di bahu Geovani dengan pasrah.
Gerakan mereka semakin mengalir, seolah-olah tarian ini adalah bahasa rahasia yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Briella merasakan aroma parfum cendana Geovani menyatu dengan bau salju yang bersih, menciptakan suasana yang sangat intim. Ia merasa seperti berada dalam sebuah mimpi indah yang dibalut oleh kenyataan yang mengerikan.
"Apakah kau benar-benar akan memberiku identitas baru setelah bayi ini lahir?" tanya Briella di tengah tarian mereka, matanya menatap butiran salju yang hinggap di jas hitam Geovani.
Geovani menghentikan langkahnya sejenak, menatap Briella dengan tatapan yang sulit diartikan. "Identitas hanyalah nama di atas kertas. Yang penting adalah di mana kau berada dan siapa yang menjagamu. Apakah kau begitu tidak sabar untuk meninggalkanku?"
"Bukankah itu tujuan awalmu? Menjadikanku objek penelitian sampai semuanya selesai?" Briella mencoba melepaskan diri dari dekapan Geovani, namun pria itu justru mempererat pelukannya.
"Objek penelitian tidak memiliki detak jantung yang seindah ini saat berada di dekatku," Geovani meletakkan tangannya di atas jantung Briella yang berpacu liar.
Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa jauh lebih berat oleh keinginan-keinginan tersembunyi yang mulai muncul ke permukaan. Geovani merunduk, mendekatkan wajahnya hingga Briella bisa merasakan panas yang memancar dari bibir pria itu. Di bawah naungan bulan, kemarahan dan dendam seolah memudar, digantikan oleh gravitasi yang tak terelakkan.
"Jangan lakukan ini, Geovani. Kau akan menyesal jika melibatkan perasaanmu pada tawananmu sendiri," lirih Briella, namun matanya tetap terkunci pada netra gelap Geovani.
"Penyesalan adalah untuk mereka yang lemah, dan aku tidak pernah merasa sekuat ini sebelumnya," jawab Geovani sebelum akhirnya ia menautkan bibirnya pada bibir Briella.
Ciuman itu dimulai dengan perlahan, hampir seperti sebuah permintaan maaf yang tidak pernah terucap secara lisan. Namun, seiring dengan dinginnya salju yang menerpa kulit mereka, ciuman itu berubah menjadi penuh gairah dan keinginan yang dalam. Ini bukan lagi ciuman yang didasari oleh paksaan atau dominasi seperti malam-malam sebelumnya.
Briella merasakan seluruh tubuhnya meleleh dalam pelukan pria yang paling ia benci. Ada rasa haus yang mendalam di dalam dirinya, sebuah kebutuhan untuk merasa dicintai meski ia tahu ini adalah cinta yang beracun. Ia melingkarkan lengannya di leher Geovani, menarik pria itu semakin dekat seolah ingin mencari perlindungan dari badai yang akan datang.
"Kenapa kau membuatku merasa seperti ini?" isak Briella di sela-sela ciuman mereka, air matanya jatuh dan segera membeku di pipinya yang memerah.
Geovani melepaskan ciumannya sejenak, menghapus air mata Briella dengan ibu jarinya yang kasar namun lembut. "Karena kita berdua adalah jiwa yang rusak, Briella. Dan hanya dalam kegelapan ini kita bisa merasa utuh."
Mereka kembali menari, namun kali ini tanpa jarak sedikit pun. Salju yang turun semakin lebat, menutupi balkon dengan lapisan putih yang murni, seolah ingin menghapus semua jejak dosa yang terjadi di rumah itu. Briella memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut dalam tarian tanpa musik ini, membiarkan hatinya beristirahat sejenak dari peperangan batin yang melelahkan.
"Kau tahu, Prilly tidak akan pernah membiarkan kita tenang jika dia tahu tentang malam ini," ujar Briella setelah beberapa saat terdiam dalam pelukan Geovani.
Geovani mengecup kening Briella, sebuah gerakan yang sangat posesif. "Biarkan dia mencari bayang-bayang. Selama kau berada di bawah perlindunganku, tidak ada satu orang pun di Etheria yang bisa menyentuhmu. Bahkan takdir sekalipun."
"Kau terlalu sombong, Dokter. Kau bukan tuhan," balas Briella dengan senyum kecil yang pertama kalinya muncul secara tulus.
"Aku mungkin bukan tuhan, tapi bagi hidupmu, aku adalah pemilik segalanya," Geovani menarik Briella kembali ke dalam ruangan hangat sebelum salju benar-benar menenggelamkan mereka.
Di balik pintu kaca yang tertutup rapat, mereka masih saling menatap, menyadari bahwa malam ini telah mengubah segalanya. Tarian di bawah bulan itu bukan sekadar hiburan, melainkan pengakuan diam-diam bahwa ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka selain benih di rahim Briella. Sesuatu yang jauh lebih berbahaya dan mematikan daripada sekadar obsesi medis.
Briella berjalan menuju tempat tidurnya, merasakan kehangatan yang masih tertinggal dari sentuhan Geovani. Ia tahu bahwa esok pagi, kenyataan pahit akan kembali menyapa, dan ia harus kembali mengenakan topeng kebenciannya. Namun untuk malam ini, di bawah bayang-bayang salju dan bulan, ia membiarkan dirinya menjadi wanita yang diinginkan oleh sang iblis.
"Tidurlah, Briella. Biarkan mimpi membawamu ke tempat di mana tidak ada lagi rasa sakit," ucap Geovani sebelum ia keluar dari kamar dan mengunci pintu secara otomatis.
Briella meringkuk di balik selimut, menghirup aroma cendana yang kini terasa seperti rumah baginya. Di tengah keheningan malam, ia menyadari bahwa ia telah jatuh ke dalam lubang yang lebih dalam daripada kegelapan kamar gelap kemarin. Ia telah jatuh cinta pada pria yang menghancurkan hidupnya, sebuah pengkhianatan terbesar bagi dirinya sendiri.
Salju terus turun di luar sana, menutupi jejak tarian mereka di balkon. Di dalam mansion yang megah dan terisolasi itu, dua hati yang terluka mencoba mencari arti dari tarian tanpa musik yang baru saja mereka selesaikan. Sebuah tarian yang menandai dimulainya babak baru dalam hubungan yang rumit antara sang penculik dan tawanannya yang kini mulai menyerahkan hatinya.