Pernah di khianati oleh Wanita yang dicintainya, Membuat Kaivan menutup hati pada semua wanita karena rasa traumanya.
Tapi siapa yang menyangka, Kalau dia harus terseret dalam hubungan percintaan putri majikannya. Kaivan harus diminta menggantikan sang calon pengantin pria yang merupakan asisten majikannya itu dalam sebuah pernikahan yang telah disiapkan.
"Kamu yang telah mengakadku.. Dalam pernikahan ini, Tidak ada suami pengganti atau suami rahasia.. Mulai sekarang kamu adalah suamiku yang sah.." Raisha Azzaira Pangestu.
"Aku berjanji akan menjaga pernikahan ini dengan baik. Dan aku juga akan berusaha belajar mencintaimu.." Kaivan Anugerah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Perlu Tes DNA
"Tuan... Mungkin anda salah orang.. Orang tua saya meninggal sejak saya usia tujuh tahun.. Mereka mengalami kecelakaan hingga keduanya tewas.." Jelas Kaivan masih merasa bingung dengan situasi ini.
Kaivan masih ingat, Orangtuanya meninggal karena kecelakaan dan pada saat itu usianya masih sangat kecil. Dan mana mungkin Tuan yang kaya raya ini adalah ayahnya dan wanita yang tengah tidur itu ibunya?
"Papa gak mungkin salah.. Kamu anak Papa nak.. Kamu anak Papa yang hilang selama tiga puluh tahun ini.. Kamu lihat tanda punya Papa nak.. Hanya putra sulungku yang punya tanda yang sama seperti yang Papa punya, Hanya dia yang mewarisi tanda ini.." Kaivan melihat dengan seksama tanda milik Tama. Dan memang benar, Tanda itu sama. Tak ada perbedaan sama sekali, Baik hitam dan besarnya pun sama.
"Kak.. Firasat orang tua tidak akan pernah salah.. Mama minta datang kesini karena Mama yakin kalau Kakak itu adalah putranya yang hilang. " Steve juga menimpali apa yang dikatakan oleh Papanya. Dia saja juga yakin kalau Kaivan itu adalah Kakaknya yang hilang. Dilihat dari parasnya saja sudah dapat dilihat kalau paras Kaivan mirip dengan Papanya saat masih muda dulu.
"Aku.. Aku masih bingung. Bagaimana mungkin aku adalah putra kalian.. Aku dulu punya orang tua.. Aku.." Kaivan tak dapat berkata-kata. Ini terlalu mendadak untuknya, Kaivan seolah belum bisa menerima ini. Untuk lebih detailnya, Kaivan tidak ingat karena pada saat itu dia masih sangat kecil. Yang Kaivan ingat ialah, Orangtuanya meninggal karena sebuah kecelakaan lalu oleh sodara Orangtuanya dia dibawa ke panti asuhan.
Steve mengotak atik ponselnya sebentar kemudian memperlihatkan sebuah foto yang ada di benda pipihnya.
"Kalau Kakak tidak percaya, Lihatlah.. Ini foto Kakak waktu masih usia lima tahun. Dan ini adalah foto Papa waktu masih muda.. Perhatikan, Mirip kan?" Melihat Kaivan yang masih tak percaya dengan kenyataan ini, Steve memperlihatkan foto Aksa saat masih usia lima tahun dan foto Tama ketika masih muda.
Semua benar dan tidak salah sama sekali. Kaivan cukup kaget setelah melihat foto itu dengan seksama.
Ya, Foto Aksa usia lima tahun itu sangat mirip dengan fotonya dulu waktu masih kecil. Karena foto itu Kaivan juga masih menyimpannya, Hanya pakaiannya saja yang berbeda. Dan yang lebih membuatnya terkejut ialah, Parasnya yang sekarang memang mirip dengan wajah Tama saat masih muda dulu.
"Bagaimana Nak.. Sekarang kau percaya kalau itu adalah putraku.." Kaivan menatap Tuan Tama..
"Apa kita tidak perlu melakukan tes DNA dulu? " Jika memang mereka adalah keluarga Kaivan, Pria itu akan merasa bersyukur sekali. Berarti selama ini dia masih punya keluarga.
Akan tetapi mereka? Kaivan tidak ingin mereka salah mengenali orang. Maka dari itu, Kaivan meminta untuk melakukan tes DNA saja agar lebih jelas.
"Tidak perlu melakukan tes DNA nak.. Papa yakin seratus persen, Kamu putra kami yang hilang puluhan tahun yang lalu..
"Tapi bagaimana bisa?" Ucap Kaivan lirih. Otaknya masih bertanya-tanya apa benar mereka ini adalah keluarganya. Kalau mereka memang keluarganya, Lalu orangtua yang telah meninggal itu siapanya dia?
"Aksa.. Dia hanyut terbawa arus saat liburan di usianya yang masih lima tahun. Dia menghilang.." Tuan Tama pun mulai bercerita tentang kejadian yang telah lama itu. Kejadian kelam yang membuat dirinya selalu dihantui oleh rasa bersalahnya karena dialah yang mengajak keluarga kecilnya liburan ke puncak pada waktu itu.
"Sejak kejadian itu, Mama kamu seperti orang yang hilang arah. Dia depresi, Banyak orang yang mengatakan kalau dia gila tapi Papa tidak pernah mendengar apa yang orang-orang itu katakan nak.. Percayalah.. Kamu itu keluarga kami gang hilang" Tuan Tama meyakinkan sekali lagi agar Kaivan percaya.
"Bisa saja orangtua kakak yang kecelakaan itu orang yang menemukan kakak waktu hanyut.." Ucap Steve. Kaivan langsung mengarahkan pandangannya terhadap Steve.
Dari cerita ini, Kaivan dapat menyimpulkan mungkin saja orang tuanya yang telah meninggal karena kecelakaan itu bukan orang tua kandungnya.
Pantas saja, Saat dulu Orangtuanya meninggal tak ada saudara dari mereka yang mau merawatnya. Padahal dulu Orangtuanya masih punya saudara meski tidak banyak. Mereka justru memilih menitipkan Kaivan dipanti asuhan.
"Seyakin itu kalian padaku?
"Ya.. Papa tidak perlu melakukan tes DNA. Papa yakin kalau kamu putra kami nak.. "
"Kak.. Ayolah.. Apa yang membuatmu ragu? Kita saja yakin kalau Kakak adalah keluarga kita yang hilang.. " Steve mengacak rambutnya merasa greget dengan Kaivan. Ketemu keluarganya yang kaya malah gak mau pikir Steve.
Mata Kaivan berkaca-kaca bahkan tak lama pria itu menangis. Takdir ini memang lucu sekali, Dia yang selama ini selalu merasa sendiri karena tidak punya orangtua ternyata ada keluarga yang terhormat yang ternyata secara valid mengakuinya sebagai Tuan muda yang hilang. .
"Sini peluk Papa nak.. Papa rindu sekali.." Kaivan mengangguk dan akhirnya mau dipeluk oleh Tama. Steve pun tak mau kalah, Dia juga memeluk sang kakak yang sejak dulu ia harapkan masih hidup dan bisa bertemu kembali. Dan keinginan itu terwujud sekarang.
Ketika mereka sedang fokus berpelukan, Di atas sofa yang lainnya. Aida mulai terbangun..
"Mas...
Suara itu membuat tiga pria yang ada disana menoleh ke arah sumber suara. Aida mengerjabkan matanya seraya mengumpulkan sisa nyawanya yang masih berkelana entah kemana.
Wanita itu terbangun, Matanya langsung tertuju pada Kaivan yang menangis disana.
"Aksa.. " Aida ikut mendekat, Tatapan matanya berkaca-kaca.
"Putraku.. Sayang.. " Aida memeluk Kaivan. Dia menangkup wajah tampan itu, Paras yang begitu mirip dengan suaminya saat masih muda dulu.
"Aku.. Aku tidak menyangka, Semua ini seakan mimpi.." Ya, Kaivan sungguh masih tak menyangka. Dia yang lama tinggal dipanti asuhan dengan waktu yang cukup lama. Bekerja seorang diri untuk menghidupi diri sendiri, Bahkan kini sampai usianya hampir tiga puluh lima tahun. Baru kali ini Kaivan mendapati sebuah kenyataan kalau dia masih punya keluarga.
Tapi tidak apa, Itu artinya Tuhan masih memberikan ia kesempatan untuk berkumpul bersama mereka.
"Sayang, Kita pulang ya.. Mama udah gak sabar bawa kamu pulang.. Mama mau kenalin kamu sama seluruh pekerja.. Mama juga akan kasih tahu ke semua orang kalau anak Mama yang hilang telah kembali.. " Aida menangis, Kaivan hanya bisa menatap wajah Wanita yang katanya Mamanya itu.
"Ya, Papa akan melakukan konferensi pers.. Papa akan umumkan pada media kalau putra sulung Papa yang hilang selama puluhan tahun telan ditemukan.." Jika biasanya Steve yang selalu ia kenalkan pada semua orang. Tuan Tama juga akan mengadakan pertemuan dimana ia akan mengumumkan bahwa selama ini putra sulungnya masih hidup dan telah ditemukan.
"Aku setuju.. " Kata Steve menatap sang kakak yang kembali diam. " Bagaimana kak? Kakak setuju kan?"
"Eum.. Kaivan rasa, Alangkah lebih baik kita melakukan tes DNA saja dulu.. Agar saat nanti dimana hari konferensi pers tiba, Papa tidak hanya mengumumkan tapi juga memperlihatkan bukti pada semua orang.. " Ucap Kaivan memberikan saran. Tama melirik Steve yang seolah berpikir.
Saran dari Kaivan memang ada benarnya juga. Mungkin sekarang keluarga Pramudya yakin kalau Kaivan adalah putranya yang hilang itu, Tapi apakah orang-orang juga akan yakin?
"Baiklah.. Besok kita akan pergi kerumah sakit untuk melakukan tes DNA.. Tapi besok, Kamu ikut pulang kerumah Papa ya.. Kita tinggal bareng.." Kaivan tersenyum..
"Ya sayang ya.. Mama kangen sama kamu." Ucap Nyonya Aida menatap dalam sang putra.
"Iya.. Kaivan juga rindu kalian.." Steve memeluk sang kakak ikut merasa bahagia sekali. Akhirnya setelah diyakinkan berulang kali. Kaivan yakin kalau mereka memang keluarganya.
"Kaivan juga mau minta sesuatu...
"Mau minta apa nak?
"Kebetulan, Kaivan mau nikah.." Semua yang ada disana terkejut.
"Kamu mau nikah?" Kaivan mengangguk.
"Iya.. Kaivan mau nikah Pa, Ma... Dan beberapa waktu yang lalu Kaivan dilamar oleh pihak perempuan.." Kaivan mulai bercerita apa yang sebenarnya terjadi kenapa pihak perempuan yang melamarnya lebih dulu.
"Dan kali ini Kaivan minta, Kalian dampingi Kaivan yah buat lamar balik calon istri Kaivan.. Kaivan juga ingin dia merasakan bagaimana dilamar dari pihak pria.." Tuan Tama menepuk pundak putranya.
"Kabar ini adalah kabar yang sangat membahagiakan nak.. Kamu tenang saja, Kapan rencananya akan kesana? Papa akan pesan seserahan yang paling mewah untuk calon istri kamu itu..
"Benar pa... Seserahannya harus mewah Pa, Biar mengalahkan si pria yang gak tahu diri itu.." Sahut Steve ikut kesal setelah mendengar cerita Kaivan tentang Raisha.
"Eh, Tapi ngomong-ngomong...Kalau boleh tahu siapa nama calon istri kakak?" Tanya Steve dengan rasa penasarannya.
"Namanya Raisha..
"Raisha?
"Iya...
"Kok namanya mirip sama nama cewek yang pernah aku incar ya? Ah paling bukan.. Nama Raisha kan banyak...
•
•
•
TBC