Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.15
Harlan terdiam. Senyum yang tadi sempat menghiasi wajahnya perlahan memudar. Tatapannya berubah jadi lebih dalam, seolah mencoba memahami apa yang dirasakan oleh Alisa saat ini.
“Demi keluarga. Kamu benar, pernikahan ini terjadi, memang untuk menyelamatkan nama baik keluarga… kita.” ucapnya pelan.
Alisa mengangguk. Kali ini ia berusaha terlihat biasa saja, meskipun jemarinya masih saling menggenggam, menahan perasaan yang sulit ia jelaskan.
“Iya… dari awal, semuanya memang untuk itu. Jadi… Mas tidak perlu melakukan apapun untuk membalas budi. Karena bukan cuma keluarga Mas yang terselamatkan, tapi… keluargaku juga.”
Hening. Suasana kembali hening. Ucapan itu seakan menyadarkan keduanya kepada fakta menyakitkan yang mempersatukan mereka.
Harlan menatap pantulan dirinya di cermin. Saat ini… ia tengah berdiri di samping wanita asing yang kini telah menjadi istri sah nya.
“Apa… kamu menyesal?” tanya Harlan setelah menghela nafas cukup panjang.
Alisa sedikit tersentak. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Apa yang terjadi dan dia alamai selama dua hari ini, masih menyimpan tanya yang masih belum ia temukan jawabanya.
“Aku tidak tahu, Mas. Aku… hanya mencoba melakukan apa yang aku bisa untuk membantu orang tuaku.”
Alisa menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tahu harus menjawab… semua ini terlalu membuatnya syok, sehingga, ia masih sulit mencerna semuanya.
“Aku hanya tidak ingin… Mas merasa terbebani dengan sesuatu yang seharusnya tidak perlu.” lanjut Alisa.
Kali ini, Harlan terdiam lebih lama. Lalu… tanpa diduga, ia tersenyum kecil. Membuat Alisa mendongak, sedikit bingung dengan reaksi itu.
Tanpa berkata-kata, Harlan kembali melangkah, lalu memutar tubuh Alisa perlahan agar kembali menghadapnya. Membuat keduanya saling berhadapan.
“Kita berdua tahu kalau kita memulai hubungan ini tidak seperti orang normal lainnya. Kita juga tahu alasan di balik hubungan kita ini, apa. Tapi bukan berarti… Kita tidak bisa memulai hubungan ini seperti orang normal lainnya, kan.” ucap Harlan.
Deg.
Alisa terdiam. Matanya menatap Harlan tanpa berkedip. Ada sesuatu yang kembali membuat jantung Alisa berdebar kencang.
Harlan menatapnya lekat-lekat, kali ini tatapan yang cukup serius, tanpa ada lagi bercanda terselip dari sorot matanya itu.
“Dengar aku baik-baik. Aku tidak membeli ini karena merasa berhutang budi. Aku membelinya… karena aku ingin kamu memiliki apa yang kamu butuhkan, dan apa yang kamu suka.” katanya penuh dengan ketegasan.
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang lebih pelan dan lebih lembut.
“Dan… sepertinya, mulai saat ini, aku juga ingin melakukan sesuatu yang… bukan sebagai ‘orang yang berhutang budi’… tapi sebagai seorang suami untuk istrinya.”
Kata-kata itu berhasil membuat wajah Alisa memanas. Nafasnya sedikit tercekat. Ia bahkan tidak sadar sejak kapan ia menahan nafasnya sendiri.
“Mas…” lirihnya. Suaranya nyaris tidak terdengar.
Harlan tersenyum tipis, kali ini lebih hangat lagi dan hal itu benar-benar membuat Alisa terenyuh untuk kedua kalinya.
“Sekarang, lebih baik kita bayar dulu gaun ini. Sebelum kamu berubah pikiran lagi.” lanjutnya santai membuat Alisa tersenyum cukup lebar.
Alisa yang ingin protes pun… urung ia lakukan. Sebaliknya, ia hanya menggeleng kecil sambil tersenyum.
***
Beberapa saat kemudian, gaun itu sudah berpindah ke dalam paper bag elegan dengan logo butik yang tertera rapi di bagian depannya.
Harlan membawanya dengan santai, sementara Alisa berjalan di sampingnya, sesekali melirik ke arah kantong tersebut.
Mereka melangkah keluar dari butik, disambut hiruk-pikuk pusat perbelanjaan yang cukup ramai. Namun entah kenapa… suasana di antara mereka justru terasa lebih tenang dibanding sebelumnya.
“Sekarang, kita mau kemana lagi?” tanya Harlan, memecah keheningan.
Alisa menoleh. Kali ini tidak ada lagi kepanikan seperti sebelumnya. Hanya sedikit rasa canggung… yang perlahan mulai mencair.
“Katanya tadi… mau cari makan,” jawab Alisa pelan.
“Eemm, kalau begitu... Kamu mau makan apa?”
“Apa saja boleh. Asal bisa dimakan,”
“Baiklah. Tapi… kalau boleh tahu, makanan favorit kamu apa?”
Harlan menoleh, menatap beberapa saat, menunggu jawaban dari Alisa.
“Sepertinya tidak ada yang favorit. Aku suka semua makanan yang bisa dimakan,” jawabnya jujur, membuat Harlan semakin melebarkan senyumnya.
“Alisa… Alisa… kamu benar-benar wanita yang unik, yang pernah aku temui,” gumam Harlan, tapi masih bisa didengar oleh Alisa.
Membuat Alisa kembali menunduk, salah tingkah dibuatnya.
“Aku cuma berusaha mensyukuri apa yang aku dapat.” jawab Alisa tidak kalah lirih.
Seketika, Harlan menghentikan langkahnya. Membuat Alisa pun ikut berhenti, lalu menoleh bingung.
“Apa… kehidupanmu terlalu keras hingga membuat kamu merasa tidak berhak untuk memiliki apa yang paling kamu suka?”
Deg.
Pertanyaan itu… cukup membuat Alisa kaget. Saking kagetnya, Alisa hanya bisa terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.
Rasanya… Alisa masih terlalu enggan membuka diri, meski Harlan kini suaminya. Namun, mereka baru bertemu dan bersama kurang dari 24 jam.
Alisa juga tidak bisa sembarangan membuka diri, karena dengan begitu, sama saja dengan Alisa yang membuka aib keluarganya sendiri.
“Kenapa diam?” lanjut Harlan karena tidak ada jawaban dari Alisa.
“Maaf… tapi, bisakah, pertanyaan ini tidak aku jawab, dulu?” pinta Alisa dengan raut wajah yang berubah sedih.
Sepertinya, tanpa Alisa jawab dan jelaskan pun, Harlan sudah paham bagaimana kehidupan gadis itu sebelum bertemu dengannya.
Hanya saja, Harlan perlu memastikannya. Di jaman sekarang banyak sekali orang-orang melakukan penipuan hanya demi kepentingannya sendiri.
Meski Harlan tidak yakin jika Alisa mampu berbuat licik seperti itu. Namun, tidak ada salahnya jika ia memastikan lagi.
“Baiklah. Jangan dipikirkan. Sekarang, lebih baik kita cari tempat makan.”
Harlan tidak memaksa. Ia memilih mengalihkan Perhatian, mengingat tujuan mereka datang kesana adalah untuk mencari makan.
Akhirnya, mereka memilih sebuah restoran di sudut mall itu. Tempatnya tidak terlalu mewah, namun cukup ramai oleh pengunjung, menghadirkan suasana yang hangat dan hidup.
Alisa duduk dengan rapi di kursinya, kedua tangan bertumpu di pangkuan. Matanya menyapu sekeliling, memperhatikan setiap orang yang ada disana dan setiap sudut ruangan itu.
Seolah sedang menyesuaikan diri dengan suasana yang masih sangat asing baginya.
Sementara itu, Harlan duduk di hadapannya, diam-diam memperhatikan Alisa. Tatapannya lembut, penuh perhatian.
Kemudian, ia meraih buku menu yang sudah tersedia di atas meja, membukanya perlahan. Meneliti setiap menu yang disediakan oleh restoran tersebut.
“Kamu mau pesan apa?” tanyanya, mencoba mengalihkan perhatian Alisa.
Alisa menoleh, kemudian ikut mengambil buku menu di depannya. Ia membalik halaman demi halaman, membaca daftar makanan yang tersaji dengan teliti. Namun, semakin lama, raut wajahnya justru tampak sedikit bingung.
“Aku tidak tahu harus pesan apa… Jadi, aku ikut Mas saja.” jawabnya pelan. Kembali menutup, lalu menyimpan buku tamu itu ke atas meja.
Harlan mengamati Alisa sejenak. Setelah kejadian di toko baju tadi, ia mulai memahami bagaimana sifat gadis itu. Dan setelah melihat daftar menu yang memiliki harga yang cukup mahal.
Dan kali ini pun sepertinya akan sama dengan kejadian tadi. Dimana Alisa enggan untuk memilih. Meskipun itu menu paling murah yang ada di sana.
Harlan tersenyum tipis, seolah sudah memahami gadis yang ada di hadapannya.
Tidak menunggu lama, Harlan pun segera memanggil pelayan dan memesan beberapa menu untuk disajikan di meja mereka. Dengan masing-masing menu, sebanyak dua porsi.