Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.
Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.
Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.
Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pesta
Dia terlambat.
Raymon kembali fokus pada percakapan di meja, berusaha terlihat nyaman. Dia tidak pernah suka acara seperti ini.
Orang-orang palsu dengan senyum palsu, berpura-pura senang bertemu dengannya, sementara diam-diam berharap dia mati.
Pandangan Raymon menyapu sekeliling meja. Dia bertanya-tanya siapa di antara mereka yang menanam bom yang hampir menghancurkan hidupnya. Bom itu dipasang di bawah mobilnya.
Dia beruntung bajingan itu terlalu cepat menekan pemicu, beberapa detik sebelum Raymon masuk ke mobil.
Hanya segelintir orang yang tahu jadwalnya hari itu. Dan beberapa dari mereka duduk di meja ini.
Raymon meraih botol wiski untuk mengisi gelasnya saat pamannya bersiul kasar seperti babi tak tahu diri, lalu mengayunkan cerutunya ke arah pintu masuk.
“Pantatnya bagus,” komentarnya.
Raymon mengikuti arah pandang itu. Seorang wanita berdiri di sana, mengenakan gaun panjang hijau zamrud. Bordiran hitam menghiasi bagian dada dan menonjolkan pinggang rampingnya, lalu mengalir ke sepanjang belahan tinggi yang memperlihatkan kaki jenjang.
Tatapan Raymon mengikuti garis belahan itu, naik sampai ke wajahnya. Dia hampir tidak mengenalinya. Piercing di hidungnya sudah tidak ada. Rambutnya juga berbeda, ditata ke atas dalam sanggul rumit. Sulit dipercaya ini orang yang sama yang dia temui beberapa hari lalu.
Para pria di meja mulai berbisik satu sama lain. Raymon berharap mereka diam supaya dia bisa menikmati pemandangan itu tanpa gangguan.
“Itu istrinya Antonius?” tanya seseorang.
“Kayaknya iya.”
“Siapa Antonius?”
“Yang ngurus pembelian properti buat Jamerson. Itu pasti anaknya.”
“Aku sih nggak keberatan ‘ngurus’ dia semalam.”
Mereka tertawa dengan lelucon bodoh mereka. Darah Raymon langsung mendidih. Dia ingin mematahkan leher mereka satu per satu.
“Diam!” geramnya.
Tatapannya menyapu mereka satu per satu. Dalam sekejap, semua langsung terdiam dan mengalihkan pembicaraan.
Raymon kembali menatap Gwen.
Dia berdiri bersama Papanya dan beberapa pria lain, tersenyum pada sesuatu yang dikatakan oleh salah satu dari mereka. Dan entah kenapa, Raymon merasa ingin menembak pria yang sedang menerima senyum itu.
“Ada yang kamu suka, Raymon?” Pamannya menyenggol bahunya.
“Mungkin.”
“Dia manis. Tapi bukan tipe kamu.”
“Pergi.” Raymon mengambil gelasnya. “Bawa mereka juga.”
“Apa?”
“Cari meja lain, Esmond. Sekarang.”
Pamannya menggerutu, tapi tetap bangkit. Beberapa detik kemudian, kursi-kursi lain ikut bergeser.
Raymon bersandar di kursi rodanya, membiarkan pandangannya kembali jatuh pada gadis kecil berbahaya di seberang ruangan.
Gweneverre.
Ada sensasi geli di tengkuk Gwen. Sejak mereka masuk, perasaan itu tidak hilang.
Mungkin ini hanya kecemasan. Dia berdiri di tengah sarang serigala, dikelilingi pria dan wanita berpakaian mahal. Mereka tersenyum dan bercakap-cakap, dan Gwen bertanya-tanya berapa banyak dari mereka yang tangannya sudah berlumuran darah.
Dia berbalik untuk mengambil segelas wine dari pelayan, lalu matanya menangkap sosok pria yang duduk sendirian di meja sudut.
Jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Bersandar santai di kursi roda, Frost sedang menatapnya dengan mata menyipit.
Dan bagian dirinya yang sedikit narsis diam-diam menikmati perhatian itu.
"Ya, tentu saja, Tuan Frost. Aku memang terlihat keren!" batinnya.
Malam saat mereka pertama kali bertemu, pencahayaan restoran yang redup membuatnya tidak bisa melihat pria itu dengan jelas. Tapi di sini, di bawah lampu kristal besar yang terang, dia bisa melihatnya sepenuhnya.
Raymon mengenakan celana hitam dan kemeja abu gelap, dua kancing teratas terbuka, memperlihatkan ujung pola tato hitam di dadanya. Lengan kemejanya digulung sampai siku, memperlihatkan tato serupa di lengan kanannya.
Entah kenapa, Gwen tidak pernah membayangkan dia sebagai tipe pria bertato. Dia pernah melihat banyak pria tampan. Bahkan beberapa model pernah menjadi objek di kelas melukisnya. Wajah mereka sempurna, sulit ditiru di atas kanvas.
Raymon Frost berbeda.
Membandingkannya dengan mereka seperti membandingkan kijang dengan harimau yang siap menerkam. Kalau harus memilih satu kata untuk menggambarkannya, Gwen akan bilang, pria ini sungguh menghancurkan.
Rambut hitamnya sedikit lebih panjang di bagian atas, tulang pipi tegas, hidung sedikit lebih mancung. Wajah itu mustahil dilupakan.
Matanya yang gelap dan tajam itu masih menatapnya. Ada sesuatu yang membuat Gwen ingin berbalik dan lari.
Mungkin ini nalurinya. Kesadaran bawah sadar sang mangsa saat menjadi pusat perhatian si predator.
Tanpa memutus kontak mata, Raymon menarik kursi kosong di sampingnya dan memberi isyarat.
Gwen seharusnya mendekat. Tapi kakinya terasa kaku.
“Nona Ducker, Raymon Frost mengundang Anda untuk bergabung,” kata pria di sebelahnya. “Tidak bijak membuat Presiden menunggu.”
Jadi, pertunjukannya sudah dimulai.
Gwen menarik napas dalam, memasang senyum menggoda, lalu melangkah menuju pria paling berbahaya di ruangan itu. Dia sempat bertanya-tanya apakah ini langkah menuju kematiannya.
Dia berhenti tepat di depan Raymon dan mengulurkan tangan.
“Tuan Frost, Anda memanggil saya.”
Bukannya menjabat, Raymon menggenggam jarinya dengan lembut, lalu mengangkat tangannya dan mencium punggung tangannya.
Seolah ada api menyentuh kulitnya, Raymon tidak langsung melepaskan.
Gwen juga tidak bisa mengalihkan pandangan, memperhatikan betapa kecil tangannya dibandingkan tangan pria itu.
“Raymon, panggil aku Raymon,” katanya dengan suara rendah dan serak.
Perut Gwen langsung terasa bergejolak. Dia duduk di sampingnya, cepat-cepat merapikan gaunnya untuk menutupi kakinya yang gemetar.
Saat melirik Papanya, pria itu masih bersama kelompok yang sama, semuanya menatap ke arah mereka.
“Itu selalu berhasil buat kamu?” tanya Gwen dengan senyum palsu. “Kamu tinggal pilih perempuan, kasih isyarat, dan dia langsung datang?”
“Sebagian besar, ya.”
“Seru, ya.”
“Enggak juga.”
Raymon menyesap minumannya sambil mengamati ruangan. Banyak yang diam-diam melirik mereka, tapi langsung mengalihkan pandangan saat ketahuan.
“Coba jawab, Gwen. Kalau nggak ada kesepakatan ini, emang kamu bakal datang waktu aku panggil?” tanyanya.
“Nggak.”
Gwen tidak menyangka dia akan minta penjelasan, tapi Raymon tetap menunggu. “Kenapa? Karena kursi roda ini?” Nada suaranya santai, tapi ada sesuatu di baliknya yang sulit dibaca.
Gwen berhenti memperhatikan sekitar dan menatap langsung ke matanya. “Karena aku bukan anjing peliharaanmu, Tuan Frost.”
Raymon tertawa pelan, lalu menghabiskan minumannya.
“Apa yang terjadi?” Gwen mengangguk ke arah kakinya.
“Kamu langsung ke inti, ya?”
“Oh kamu mau aku muter-muter dulu?”
“Itu bom mobil. Serpihannya kena lutut kanan aku dan menghancurkannya.”
“Itu sakit?”
“Banget,” jawabnya datar.
Gwen mengangguk pelan. “Kamu punya uang. Pasti ada operasi yang bisa bantu.”
“Sepertinya ada hal yang nggak bisa dibeli pakai uang.”
“Iya. Menyebalkan.” Gwen mengangkat bahu. “Setidaknya kamu bisa beli istri.” Dia tersenyum tipis. “Padahal dengan tiga juta, kamu bisa dapet satu harem, bukan cuma satu orang.”