No plagiat 🚫
" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.
Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Si Arwah Penyesat
Langkah kaki Bian Zhi bergema pelan di lorong bawah tanah Paviliun Lentera Abadi. Lorong ini adalah urat nadi dari Lembah Sunyi, tempat di mana energi Yin berkumpul dan mengalir menuju lentera utama milik He Xueyi. Dinding-dinding batunya yang lembap dilapisi oleh lumut pendar berwarna biru pucat, memberikan pencahayaan redup yang hanya cukup untuk melihat siluet-siluet arwah yang terkurung di balik jeruji besi hitam.
Biasanya, kesunyian di sini begitu mutlak hingga detak jantung seorang kultivator bisa terdengar seperti tabuhan genderang di tengah malam. Namun kali ini, kesunyian itu robek oleh suara yang tidak seharusnya ada di kedalaman penjara bawah tanah yang sakral.
"Kakak Asisten, kau tahu tidak? Pedang hitam yang kau panggul itu terlihat sangat berat. Apa kau tidak lelah membawanya setiap hari? Hihihi."
Bian Zhi berhenti melangkah. Urat di pelipisnya berdenyut pelan, sebuah tanda langka bahwa ketenangannya mulai terusik. Di samping bahunya, melayang sebuah gumpalan asap hijau pucat yang perlahan membentuk sosok pemuda kerempeng dengan pakaian compang-camping. Itu adalah Xiao Bo, arwah seorang pencuri tingkat rendah yang nasibnya berakhir tragis setelah mencoba menyusup ke paviliun demi mencuri minyak lentera suci.
"Diam," desis Bian Zhi. Suaranya rendah, namun mengandung getaran energi yang mampu membuat arwah biasa langsung tercerai-berai menjadi debu astral.
Namun, Xiao Bo bukan arwah biasa. Ia memiliki ikatan obsesif dengan dunia fana yang membuatnya tetap utuh meskipun berada di bawah tekanan aura Bian Zhi. "Eh, jangan galak-galak begitu. Aku hanya bertanya. Tuanmu itu, He Xueyi, dia terlihat sangat anggun di atas sana. Tapi kau? Kau terlihat seperti algojo yang baru saja kehilangan jatah makan siangnya. Hihihi."
Bian Zhi kembali berjalan, mencoba mengabaikan gangguan tersebut. Ia memiliki tugas penting untuk memeriksa segel pada Ruang Bawah Tanah Ketiga, tempat di mana esensi dari Tuan Tua Han baru saja dijebloskan. Namun, Xiao Bo justru melayang berputar-putar di depan wajahnya, menghalangi pandangan dengan gerakan-gerakan yang lincah dan provokatif.
"Kak, tadi saat kau bertarung melawan tetua-tetua itu, jubahmu sedikit sobek di bagian belakang. Apa kau tidak malu jika He Xueyi melihatnya? Seorang asisten hebat dari Lembah Sunyi tidak boleh terlihat berantakan, bukan? Hihihi."
Bian Zhi akhirnya berhenti total. Ia menarik pedang hitamnya sedikit dari sarungnya, membiarkan aura kematian yang pekat merembes keluar. Udara di lorong itu seketika membeku, dan lumut-lumut pendar di dinding mati seketika karena tekanan energi yang luar biasa.
"Satu kata lagi keluar dari mulutmu, dan aku akan memastikan esensimu menjadi bagian dari sumbu lentera paling murah di paviliun ini," ancam Bian Zhi. Matanya yang sedingin es menatap lurus ke dalam pupil transparan Xiao Bo yang bergetar.
Xiao Bo terdiam sejenak, pura-pura gemetar dengan menutup mulutnya menggunakan tangan transparannya. Namun, rasa takut itu hanya bertahan beberapa detik sebelum tawanya kembali pecah dengan suara yang mengecil namun tetap menjengkelkan di telinga.
"Aduh, takut sekali! Tapi Kak, kau harus tahu satu hal. Marah-marah seperti ini hanya akan merusak sirkulasi tenaga dalammu. Lihat, warna kulitmu makin pucat saja. Apa kau tidak rindu melihat matahari? Atau kau memang sudah lupa bagaimana rasanya menjadi manusia yang bernapas? Hihihi."
Tangan Bian Zhi mengepal erat di hulu pedangnya. Pertanyaan Xiao Bo secara tidak sengaja menyentuh bagian terdalam dari ingatannya yang telah ia kubur selama ratusan tahun. Menjadi asisten He Xueyi berarti menyerahkan segala bentuk emosi manusiawi demi menjadi pedang yang tak tergoyahkan. Namun, arwah ini dengan lancangnya mengorek luka lama itu dengan tawa yang meremehkan.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang menjadi manusia, Pencuri," ucap Bian Zhi dengan suara sedingin makam tua.
"Mungkin tidak," sahut Xiao Bo, kini ia melayang dengan tenang di samping kepala Bian Zhi. "Tapi aku tahu rasanya kesepian. Dan di lembah ini, tidak ada yang lebih kesepian daripada asisten yang harus menjaga ribuan jiwa mati sendirian di tengah kegelapan tanpa ujung. Hihihi."
Pertempuran mental ini jauh lebih melelahkan bagi Bian Zhi daripada beradu pedang melawan seribu prajurit. Ia menarik napas panjang, mencoba menekan gejolak energinya agar tidak meledak di tempat yang salah. Tugasnya adalah menjaga ketertiban, bukan berdebat dengan arwah rendahan yang bahkan tidak layak menjadi bahan bakar lentera kelas bawah.
Tepat saat ia ingin melangkah masuk ke ruang segel, sebuah guncangan hebat terasa dari lantai atas paviliun. Suara dentuman yang jauh lebih berat dari serangan Sekte Pedang Langit bergema, meruntuhkan beberapa serpihan batu dari langit-langit lorong.
"Mereka sudah datang," gumam Bian Zhi, niat membunuhnya kini teralih sepenuhnya ke arah permukaan.
"Wah, musuh baru lagi? Sepertinya malam ini akan sangat berisik, Kak! Apa kau butuh bantuan untuk menertawai mereka saat mereka berlutut memohon nyawa nanti? Hihihi," celetuk Xiao Bo tanpa rasa takut sedikit pun.
Bian Zhi tidak menjawab. Ia melesat dengan kecepatan kilat menuju tangga keluar, meninggalkan Xiao Bo yang masih cekikikan di tengah lorong yang gelap. Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, tantangannya bukan hanya senjata di tangan musuh, melainkan kewarasan pikirannya sendiri yang terus-menerus diuji oleh tawa si arwah penyesat.