Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.
"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.
"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 8
Jenia ternyata sakit typhus dan harus di rawat di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan.
Cwen yang mengetahui mamanya sakit dan harus tidur di rumah sakit langsung menangis sembari menyalahkan ayahnya, Cwen percaya jika semua itu adalah gara-gara ayahnya yang selalu memarahi mamanya dan membuat mamanya kelelahan.
“Pokoknya Cwen mau ayah minta maaf sama mama, mama sakit itu karena ayah pak guru, ayah setiap hari kerjaannya hanya marah-marah terus sampai membuat telinga Cwen sakit,”
“Cwen, sakit itu bukan karena ayah Cwen loh, ini memang sudah takdir, Cwen tidak boleh asal menyalahkan ayah Cwen seperti itu, oke?”
Cwen menggeleng tidak terima, "pokoknya ayah salah, ayah yang membuat mama seperti ini, kalau saja ayah tidak marah-marah terus, mama tidak mungkin masuk rumah sakit,”bantah Cwen, Cwen tetap menyalahkan semua itu karena ulah sang ayah.
Ansel menghela napas, ia menggandeng tangan Cwen untuk kembali masuk ke dalam ruangan tempat mamanya di rawat, kalau saja Ansel tidak membujuk Cwe untuk makan siang terlebih dahulu, mungkin sampai sekarang anak itu masih tidak mau makan.
Lucunya, Cwen tidak mau makan sampai ayahnya datang dan meminta maaf kepada sang mama.
“Mama,”panggil Cwen langsung berlari ke arah ranjang rumah sakit dan memeluk mamanya.
Jenia tersenyum lembut dan balas memeluk putrinya,“maafin mama ya, mama malah sakit, padahal harusnya mama antar Cwen sekolah,” sesal Jenia mengusap belakang kepala Cwen.
“Tidak ma, ini semua karena ayah, ayah yang membuat mama sakit sampai harus bobo di sini, mama tidak salah, yang salah di sini hanya ayah,” ucap Cwen membuat Jenia reflek melepaskan pelukannya.
“Eh kok Cwen bilangnya seperti itu?”tanya Jenia mengusap lembut pipi kesayangannya.
“Cwen benar kan, yang salah itu ayah, kalau saja ayah tidak terus-terusan memarahi mama, pasti mama tidak sakit sampai harus di sini,”Cwen cemberut begitu ia teringat dengan wajah jelek ayahnya itu yang wajahnya sudah ditumbuhi jenggot.
“Cwen tidak boleh loh menyalahkan oran lain seperti itu, tidak baik, mama sakit bukan karena siapa-siapa, tapi memang mama sudah waktunya sakit karena mungkin mama kelelahan,”
“Lihat pak guru, mama saja bilang ayah orang lain, jadi berhenti bilang kalau ayah itu ayah Cwen ya,”Cwen menatap Ansel yang berdiri di belakangnya.
“Orang lain bagaimana? Cwen masih manggil ayah loh,”balas Jenia menatap putrinya dengan tatapan sedikit tajam, memberikan peringatan kepada Cwen agar berhenti menjelek-jelekkan ayahnya sendiri. Bukan karena Jenia ingin membelanya, ia pun sama kesalnya dengan Anwar, lelaki yang tega mengusir dirinya dari rumah, tapi bukanlah hal yang baik menjelek-jelekkan ayah sendiri apalagi di depan orang lain yang bukan siapa-siapa. Bagaimana kalau guru Cwen berfikir jika Cwen seperti itu karena ajarannya? Jelas Jenia akan terlihat sangat buruk menjadi oran tua untuk Cwen.
“Tetap saja Cwen tidak suka dengan ayah,”
Berakhir dengan Cwen yang merajuk dan berbalik untuk duduk di sofa yang dekat dengan jendela menghadap taman rumah sakit.
“Pak Ansel maaf ya, Cwen memang sedikit tidak suka dengan ayahnya, mungkin karena Cwen masih terlalu kecil untuk memahami semuanya,” ucap Jenia menatap tidak enak hati kepada Ansel yang hanya berdiri sembari menonton drama dirinya dan juga Cwen.
“Tidak apa-apa, Cwen bukannya belum memahami semuanya, justru karena Cwen sudah mengerti, ia menjadi seperti ini, saya paham dan maklum dengan itu,”balas Ansel melangkah mendekati ranjang Jenia.
“Butuh bantuan?”tanya Ansel melihat Jenia yang meringis menahan sakit.
Jenia menggeleng, ia hanya merasakan sakit perut biasa, mungkin karena penyakit yang di deritanya, jadi wajar jika ia merasa sakit perut.
Ansel mengambilkan gelas di atas nakas dan menyodorkannya di depan bibir Jenia, Jenia pun tidak menolak, ia langsung minum melalui sedotan yang di sediakan pihak rumah sakit untuk ia minum.
Cwen yang sedang marah dengan mamanya malah tersenyum lebar melihat pemandangan di hadapannya, dan reflek berteriak menyerukan mamanya yang terlihat romantis dengan pak guru kesayangannya.
“Ya ampun mama dan pak guru romantis sekali, Cwen jadi senang lihatnya,”pekik gadis itu membuat Ansel reflek menarik tangannya sampai membuat pipet yang masih berada di antara bibir Jenia langsung terlepas.
“Maaf, saya terkejut mendengar Cwen berteriak seperti itu,”ucap Ansel kembali menyodorkan gelas ke depan bibir Jenia, tapi Jenia menolak.
“Tidak apa-apa, pak, tapi saya sudah cukup minumnya,”ucap Jenia, Ansel mengangguk lalu mengembalikan lagi gelasnya ke tempat semula.
Gara-gara pekikan putrinya itu, rasa sakit perut yang di rasakan Jenia tadi mendadak hilang digantikan dengan perasaaan gemas kepada sang anak, ingin rasanya Jenia mencubit pipi putrinya itu saking ia gemas dengan kedua bibir putrinya yang asal berbicara itu. Benar-benar tahu cara membuat mamanya malu.
***
Ansel meminta maaf karena tiba-tiba dirinya mendapatkan panggilan mendadak dari keluarganya, lebih tepatnya bunda dan ayahnya. Ansel sedikit khawatir meninggalkan Cwen bersama mamanya yang sedang terbaring lemas di ranjang rumah sakit, tapi Jenia meyakin Ansel jika Cwen akan baik-baik saja dengan dirinya.
Begitu sampai di rumahnya, Ansel langsung masuk ke dalam rumah dan mendapati meja makan yang sedikit ramai dari biasanya, mungkin kakak kakanya ada yang sedang pulang ke rumah.
“Ansel, kenapa lama sekali?”tanya sang bunda begitu melihat kedatangan putra bungsunya yang tampilannya sedikit kucel. Padahal biasanya Ansel sangat benci berpenampilan tidak rapih, membuat bundanya itu merasa keheranan melihat raut kecapean putranya.
“Ada apa? Kenapa wajahmu kucel sekali? Lembur?”tanya sang bunda kepada Ansel yang langsung duduk di kursi tanpa memperhatikan orang-orang yang duduk di meja makan tersebut.
Ansel hanya menjawab dengan senyum kecil, membuat bundanya itu mengangguk paham.
“Jadi ada apa bunda dan ayah memanggil Ansel mendadak seperti ini, tidak biasanya loh?”tanya Ansel menatap bunda dan ayahnya secara bersamaan, dan saat itu tanpa sengaja kedua matanya menangkap ada beberapa orang asing yang duduk bergabung di meja makan tersebut, membuat Ansel mengerutkan dahinya bingung.
Sang ayah menghembuskan napsnya pelan,“Cuci muka dulu sana, muka kamu benar-benar kelihatan kucel!”perintah sang ayah. Memang tidak salah, wajah Ansel terlihat benar-benar kelelahan, sedikit kusut ditambah dengan kedua matanya yang sedikit sayu.
Ansel mengangguk, ia memundurkan kursinya dan berlalu ke kamar mandi yang dekat dengan ruang makan, mungkin ayah dan bundanya benar, jika wajahnya terlihat sedikit kacau, dan mereka pasti mengira jika dirinya lembur sampai terlihat lusuh seperti ini, padahal jika mereka tahu, dirinya baru saja menjaga seorang ibu dari muridnya sendiri di sekolah.
Begitu wajahnya sudah kembali segar, walaupun sedikit, Ansel kembali duduk di kursinya dan menatap kedua orang tuanya, meminta penjelasan alasan ia di panggil mendadak juga keberadaan orang-orang asing di meja makan.
“Kita makan dulu saja, setelah itu baru kita bicarakan!”
seru ceritanya