Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.
Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.
Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.
Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul
Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hilang
Jari jemari Rania sibuk mengusap layar ponselnya berulang kali. Seperti orang kesurupan. Seperti orang yang sedang mencoba membangkitkan mayat.
"Tidak ada jawaban". Bisik Rania
"Pesan WhatsApp-nya cuma centang satu. Satu! Sejak kapan Rangga tidak online? Sejak kapan dia tidak membalas? Sejak kapan dunia ini terasa seremir ribut banget di kepala Rania?" Rania teriak dibantal
Rania merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya merah sembab. Tapi air matanya sudah habis menangisi seseorang yang begitu spesial baginya. Walau sudah 6 bulan lamanya. Sekarang yang tersisa cuma rasa kesal. Kesal sama diri sendiri. Kesal sama Rangga. Kesal sama takdir yang lagi main kartu sama hidupnya.
180 hari telah berlalu, waktu yang relatif lama jika seseorang ditinggal pergi.
Itu angka yang terpampang jelas di chat terakhir mereka. Rania buka lagi hpnya, scroll ke atas, membaca kalimat terakhir yang dikirim Rangga
"Malam Rani, Besok kita ketemu ya. Aku mau ngomong sesuatu penting."
audah 180 hari yang lalu. 6 bulan sejak Rania membalas "Iya, Ranga aku tunggu."
Dan sejak itu... bum! Rangga lenyap. Kayak ditelan bumi, kayak diculik alien, kayak lagi main petak umpet tingkat dewa yang gak ada habisnya.
---
Kreeek...
Pintu kamar Rania terbuka sedikit. Sebuah kepala menjulur kedalam seseorang mencoba masuk kamar Rania dan itu adalah ibunya Rania bernama Ibu Sulis
“Ran, kamu sudah makan belum?” ucap Bu Sulis.
Rania tidak menjawab, dia hanya membalikkan badan. Menghadap tembok, menatap noda jamur yang mirip bentuk hati. Ibu menghela napas panjang. Sampai rambutnya ikut bergerak.
“Nak, ibu tahu kamu sedih, tapi...."
Tapi dia bukan tipe ibu yang keras. Jadi dia hanya bilang
“Nanti kalau laper, makan ya ada rendang.”
Pintu tertutup rapat kembali.
Rania kembali ke ponselnya. Sekali lagi dia tekan nama Rangga. Sekali lagi dia tekan tombol panggil.
Tut.. tut.. tut..
Suara nada sambung itu seperti lagu kematian buat Rania. Berulang-ulang tidak ada yang angkat tidak ada pesan otomatis tidak ada kabar kosong hampa sepi.
“Rangga, lo dimana sih?” bisik Rania ke ponselnya seperti orang gila seperti ponselnya bisa menjawab.
Tapi ponselnya dia cuma iklan kredit online yang muncul.
---
Crek.. crek..
Rania menggigit bibir bawahnya. Matanya menatap langit-langit kamar. Kipas angin di pojok berputar lambat, bunyinya kayak ngorok tua. Crek.. crek.. ngeee...
Kenapa Rangga pergi?
Apa ada yang salah?
Adakah kata-kata yang salah?
Rania memutar otak mengingat-ingat pertemuan terakhir. Waktu itu di kafe favorit mereka, Rangga tampak biasa saja malah lebih banyak senyum. Pesan es kopi susu gula sedikit. Nanyain skripsi Rania yang masih molor. Lalu janji mau ngomong sesuatu penting besoknya.
Besok itu tidak pernah datang.
Besok itu menjelma jadi mimpi buruk.
Besok itu berubah jadi empat puluh hari tanpa kabar.
---
Tooot!
Ponsel Rania getar jantungnya nyaris copot. Dia balikkan ponsel dengan cepat nyaris terlempar dari tangan.
Notifikasi: Promo belanja diskon 50%!
“ARRGGHHH!”
Rania mengumpat lumayan keras untung ibu tidak dengar.
Dia lemparkan ponsel ke ujung kasur. Lalu dia tutup wajahnya dengan bantal. Bantalnya sudah basah. Dia nangis sampai bantalnya kayak habis dicuci. Sekarang baunya campur parfum dan air mata. Aneh. Tapi itulah hidup.
Tiga jam kemudian.
Rania masih di posisi yang sama. Tapi sekarang dia duduk bersila di kasur. Ponselnya sudah dia ambil lagi. Dia buka Instagram. Stalk akun Rangga.
Tidak ada postingan terbaru.
Postingan terakhir masih foto langit waktu mereka ke pantai dua bulan lalu. Captionnya “Bersyukur.”
Rania scroll ke bawah baca komentar. Ada komentar teman Rangga
“Mantap bos, sama siapa?”
Rangga jawab “Sama orang baik.”
Dulu Rania merasa bangga. Sekarang dia merasa ingin muntah. Orang baik? Orang baik kalau mau pergi bilang. Orang baik gak menghilang begitu saja.
Malam harinya.
Rania tidak keluar kamar Ibu sudah mencoba memanggil Rania dua kali manggil, Sang Ayah juga mencoba memanggil Rania tetapi tetep tidak digubris. Naufal? Naufal malah ngetok pintu sambil joget.
“Mbaaak! Mbaaak keluar dong! Aku beliin martabak!”
Rania tidak bergerak.
“Mbaaak, martabaknya aku makan loh!”
Masih diam.
“Yaudah aku makan sendirian buat lo nanti cuma bekas.”
Rania dengar suara Naufal pergi, dasar adik rese. Usia 20 tahun tapi tingkahnya masih kayak bocil. Biasanya Rania bakal marah-marah. Sekarang dia tidak punya energi. Boro-boro marah. Bangun dari kasur aja rasanya kayak bangun dari kubur.
Dia meraih ponsel lagi.
Terakhir kalinya dia coba telepon Rangga.
Tut... tut... tut...
Nada sambung berubah, biasanya tujuh kali sekarang baru tiga kali.
Klik.
“Halo?”
Jantung Rania serasa berhenti berdetak karena berhasil menghubungi Rangga.
Itu suara Rangga.
“Rang?” suara Rania pecah tangannya gemeteran.
“Eh... iya. Ini siapa?”
Mata Rania membelalak.
"Ini siapa?"
“Rangga, ini Rania pacar lo masa lo lupa?”
Rangga diam, diam membeku kayak kulkas rusak.
“Maaf, nomor ini baru ganti Rangga pake nomor baru.”
tetapi kali ini yang menjawab suara perempuan.
“Maaf, maksud saya ini pacar barunya Rangga. Siapa ya dengan saya?” Ucapnya.
Rania lepaskan ponsel dari telinga, dia lihat layar Panggilan masih berlangsung, dia tekan end call tanpa ragu-ragu. Ponsel pun dimatikan lalu dia melempar ponselnya di kasur.
Di kegelapan kamar, Rania terdiam. Matanya panas dadanya sesak, serasa mau nangis tetapi air mata sudah kering, mau teriak mau hancurin bantal supaya emosinya terlampiaskan. Tapi dia hanya menggigit bibir Keras.
Pacar baru.
Pacar baru Rangga.
6 bulan tanpa kabar.6 bulan dia nunggu kayak orang tolol di pinggir jalan yang percaya kalau hujan bakal berhenti sebentar lagi.
Ternyata hujannya bukan reda. Ternyata yang basah cuma dia. Sementara Rangga sudah berlindung di pelukan orang lain.
Rania tidak menangis.
Dia cuma tertawa kecil.
“Bagus,” bisiknya.
“Bagus banget, Rang. Lo berhasil jadi orang nomor satu di daftar orang yang paling saya benci sepanjang masa.”
Dia gulung selimut kayak lumpia raksasa.
Lalu dia tidur.
Dia tidak akan keluar kamar sampai dunia ini berhenti berputar.
Besok pagi.
Ibu sulis mengetuk pintu kamar lagi, mencoba membujuk Rania
“Ran, buka pintu.”
Rania tidak jawab.
“Ran... jangan bikin ibu khawatir” ucap Bu Sulis
Rania masih terdiam tanpa menjawab
“RANIA!” teriak ibu.
“Iya... aku hidup.” Rani menjawab dengan terpaksa
Ibu menghela napas.
“Kamu keluar sekarang! Ada tamu!”
Rania memejamkan mata.
“Tamu siapa lagi, Bu?”
“Sepupunya bapak dari Bandung bawa oleh-oleh.”
“Gak mau.”
“RANIA!” suara ibu naik setingkat. “Buka pintu atau ibu gedor!”
Rania menggerutu dia turun dari kasurnya. Langkahnya gontai kayak zombie. Dia buka pintu dengan wajah kusut. Rambut acak-acakan, matanya sembab. Baju tidurnya bolong di bagian ketiak.
Ibu langsung cemberut. “Cuci muka dulu, dasar.”
Rania cuma nyengir kuda. “Biarin, Bu. Aku mau tampil natural. Biar sepupu Bapak kapok dateng lagi.”