Dunia Sarah Wijaya jungkir balik setelah mendapat pelecehan dari seorang pria yang begitu ia segani dan hormati.Sebanyak asa yang mebumbung angan seakan sirna menjadi sebuah kemalangn. “Pergi! Menjauhlah dari hidupku selamanya”.Sarah wijaya “Jangan membenci takdir,maaf,kalau aku hanya singgah bukan untuk menetap”.Lingga Pratama. Tiada tebusan yang paling berharga atas rasa sakit tidak dianggap oleh seorang yang begitu diharapakn kehadirannya.Waktu telah merubah segalanya,membawa Lingga dalam penyesalan tam berujung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Hada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Sarah mau tidak mau ikut masuk kedalam mobil. Ia duduk di belakang bersama Bu Alice. Sementara Lingga di jok depan seorang diri.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang.Sarah langsung menuju rumahnya setelah turun. Begitupun dengan Lingga dan Ibunya yang terlihat akrab saat memasuki rumah.
“Dari mana saja, kok sampai sore gini?” tanya Bu Maryam mendapati putrinya baru pulang kuliah.
“Maaf Bu, tadi di ajak Bu Alice kliniknya, trus nganter belanja juga.”
“Owh …. Ya sudah, masuk sana terus makan, pasti laparkan?”
“Sarah sudah makan juga Bu tadi di luar, nggak enak mau nolak,” ujarnya benar adanya.
“Ya sudah, masuk kamar. Ibu masih ada urusan yang belum beres,” ujar Bu Maryam kembali ke rumah utama.
Semen Lingga di kamarnya, ia sedikit kepikiran tentang sikap Sarah yang jelas berbeda dari hari-hari sebelumnya. Pria itu kesal karna sikapnya yang sok menghindar dirinya bisa menimbulkan kecurigaan dan persepsi orang yang melihat. Sebelumnya pria itu sudah mengambil jalan damai dengan menawarkan uang. Namun, Sarah tidak mau. Lingga hanya tidak ingin ada satu orang pun tahu apa yang telah terjadi dia antara mereka berdua.
“Sok jual mahal banget sih, emangnya nggap butuh uang apa?” Guman Lingga kesal. Sepertinya ia harus mencari cara lain agar Sarah tidak menampakan gelagat yang mencurigakan.
Semalaman Lingga memikirkan itu, ia benar-benar tidak mau ada seorang pun yang tahu tentang kejadian malam itu. Terlebih orang tuanya. Sarah begitu dekat, kalau sikapnya terus aneh setiap kali di dekatnya, Lingga takut ibunya akan menaruh curiga.
Keesokan paginya, Lingga merasa sangat ngantuk karna semalam susah tidur. Entah di jam berapa, yang jelas pria itu tidak tenang.
“Pagi Mas, ini sarapannya sesuai pesanan Mas Lingga kemarin,” ujar Bu Maryam menyiapkan nasi goreng special request anak majikannya.
“Terima kasih mbok. Mama sama Papa udah berangkat ya, kok sepi?” tanya Lingga seorang diri di meja makan.
“ pagi-pagi sekali pak Re sudah berangkat, kalau Bu Alice baru saja mas,” jawab Bu Maryam sembari mondar mandir sibuk sendiri.
“Owh… eh ya mbok, tolong setrika kemeja hitam aku mbok, lagi pengen pakai itu ,” ujar Lingga sembari menyuap ke mulutnya.
“Siap Mas,” jawab perempuan itu sembari menuju ruang laundry yang bersebelahan dengan tempat menyetrika pakaian.
“Nanti tolong bawa ke kamar ya mbok kalau sudah selesai,” ujar pria itu memberi pesan. Bu Maryam mengiyakan dengan segera.
Saat hendak memulai memanasi setrikaan, tiba-tiba perempuan yang tak lagi muda itu berhajad ke kamar mandi. Di saat itu pula Sarah sengaja mencari ibunya yang biasa mengghuni ruang belakang istana megah majikannya.
“Kebetulan kamu datang, ibu minta tolong sebentar, setrikain kemeja ini sekarang, perut ibu sakit,” ujar Bu Maryam meleset.
“Tapi Bu, Sarah susah mau berangkat,” sahut gadis itu yang sudah di tinggalkan orangnya.
“Duh …. Ini pasti kemeja orang itu, males banget sih!” Sarah menggerutu. Padahal sebelumnya ia sering membantu ibunya. Perkara satu kemeja hal yang biasa sekali dan tidak terlalu berat, hanya saja Sarah kadung malas sama yang punya.
Sarah tetap melaksanakan walau mulutnya menggerutu. Bahkan dalam hati setengah memaki pada yang punya kemeja itu.
Sementara Lingg di kamarnya, dia sudah selesai mandi tetapi Bu Maryam tak kunjung membawakan pakaian yang dia minta. Pria itu berjalan keluar menuju ruang belakang tempat yang bahkan tidak pernah Lingga datangi sebagai penghuni rumah.
“ Mbok! Mbok!” Seru Lingga berjalan mencari art nya. Ia ingin segera memakai kemejanya.
Sarah yang mendengar pekikan Lingga jelas menghindari. Ia tidak ingin menjumpai mukanya yang selalu berwajah menyebalkan di setiap kesempatan. Gadis itu hendak keluar,tetapi suara Lingga semakin dekat. Membuat Sarah mengurung niatnya, dan bersembunyi di balik pintu.