NovelToon NovelToon
Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:844
Nilai: 5
Nama Author: SecretPenaa_

Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .

Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis yang melupakan pedangnya

Di sela pembicaraan mereka, tiba-tiba Riu masuk dan memotong obrolan Cakra dan Sedra—atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Nayan.

"Pange... maksudku, Tuan Cakra! Kita harus segera melanjutkan perjalanan," ujar Riu tergesa-gesa. Lidahnya yang refleks hendak menyebut Cakra sebagai 'Pangeran' seketika kelu tatkala mendapati tatapan tajam dari Cakra . Riu menelan ludah, buru-buru menundukkan kepala.

Cakra tidak langsung menjawab. Ia terlihat tengah memikirkan sesuatu yang berat. Entah mengapa, hatinya tak tega meninggalkan Nayan sendirian di tempat ini, meskipun wanita di depannya ini sudah sadar sepenuhnya. Ada dorongan aneh dalam diri Cakra yang sulit sekali ia jelaskan.

"Nayan, kau akan pergi ke mana setelah ini? Kau tidak punya tempat tinggal bukan ? "ucap Cakra, memecah keheningan.

"Jika kau tidak keberatan, ikutlah denganku. Rumahku di desa mungkin tidak bagus, tapi setidaknya untuk sementara kau bisa tinggal di sana." lanjutnya

Nayan sedikit tertegun mendengar tawaran itu. Ia menatap Cakra dengan tatapan menelisik, mencoba mencari tahu apakah ada niat terselubung di balik kebaikan yang tiba-tiba ini.

" Sepertinya dia memang pemuda yang baik . Lagipula, aku memang tidak punya apa-apa sekarang. Aku butuh tempat yang aman untuk berlindung. " batin Nayan menyimpulkan.

Sementara itu, Riu yang berdiri tidak jauh di belakang Cakra mendadak merinding. Menyaksikan pangerannya yang biasanya sedingin es batu dan tidak berperasaan tiba-tiba berbicara dengan nada selembut itu membuat bulu kuduknya berdiri.

" Pangeran kenapa? Apa dia habis kesurupan dedemit hutan? " batin Riu ngeri, sambil refleks membuat tanda penolak bala di balik punggungnya.

Cakra masih bergeming, menunggu jawaban dari lawan bicaranya dengan sabar.

Nayan yang tadinya terlihat banyak menimbang-nimbang, tiba-tiba bergerak turun dari tempatnya. Ia bersimpuh di depan Cakra dengan sikap hormat.

"Terima kasih banyak, Tuan Cakra. Anda baik sekali sampai mau menampung orang asing sepertiku." ucap Nayan dengan nada penuh rasa syukur yang tulus.

.....

Langkah kaki mereka mengiringi kesunyian jalan setapak yang dikelilingi pepohonan rimbun.

"Nayan, apa kau tidak punya keluarga atau kerabat lain di sekitar sini?" Cakra membuka suara, memecah keheningan.

Nayan mengulas senyum tipis yang tampak sedikit getir. "Saya sebatang kara, Tuan. Sama sekali tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini."

Cakra spontan mengernyitkan dahi. Ia merasa agak risih dengan panggilan itu.

"Tuan? Ah, sudahlah, panggil nama saja, Nayan. Aku ini hanya pengembara miskin yang luntang-lantung. Panggilan itu terdengar terlalu berlebihan."

Mendengar kerendahan hati Cakra, tawa kecil yang tulus lolos dari bibir Nayan. Ia menatap pemuda itu sejenak sebelum akhirnya mengangguk paham. "Hmm... baiklah kalau itu maumu. Mulai sekarang aku panggil Cakra saja, bagaimana?"

"Nah, begitu kan jauh lebih enak didengar!" sahut Cakra sambil terkekeh.

Obrolan mereka pun terus bergulir santai, dipenuhi tawa ringan yang saling menyahut. Di balik tawa itu, ada kehangatan yang perlahan menjalar di dada Sedra. Untuk sekejap saja, ia merasa hidup sebagai gadis normal seutuhnya. Gadis biasa yang bisa bercanda lepas tanpa harus memikirkan beratnya hulu pedang atau pekatnya aroma darah yang menempel di tangan.

Namun, kedamaian itu pecah seketika saat Riu yang sejak tadi mengekor di belakang mulai merasa jengah karena diabaikan. Dengan gaya konyolnya, ia nekat menerobos maju dan menyelipkan tubuhnya tepat di antara Cakra dan Nayan.

"Apa-apaan kau ini, Riu?" tegur Cakra, terkejut sekaligus kesal karena jalurnya dipotong tiba-tiba.

"Aduh, maaf, Tuan! Tapi aku takut jika harus berjalan sendirian di paling belakang," kilah Riu dengan ekspresi wajah yang dilebih-lebihkan.

"Bagaimana kalau tiba-tiba si pendekar gila itu melompat dari balik pohon lalu menyergapku dari belakang?"

Deg...

Mendengar celetukan Riu, jemari Nayan langsung meremas ujung bajunya dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdegup kencang menahan syok, namun dengan sekuat tenaga ia menata ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang dan polos.

"Pendekar... gila?" tanya Nayan dengan nada suara yang dibuat sebingung mungkin, berpura-pura tidak tahu apa-apa.

"Kau tidak tau Nayan ? Bukannya kau ini berasal dari wilayah Utara ?"

Riu menatap Nayan dengan mata membelalak heran.

Nayan hanya bisa membalasnya dengan gelengan kepala yang lambat.

"Di luar sana ada iblis betina yang sangat kejam. Dia selalu membuat onar dan hobi menumpahkan darah di mana-mana. Namanya Sedra!"

Riu bercerita dengan menggebu-gebu dan penuh emosi, dia tak menyadari sama sekali bahwa sosok 'iblis betina' yang sedang ia jelek-jelekkan itu justru tengah berjalan tepat di sampingnya saat ini.

"Kedengarannya... dia sangat menyeramkan, ya," sahut Nayan sembari berpura-pura merinding.

Mungkin jika berada di situasi yang berbeda, Nayan sudah pasti akan langsung menebas kepala Riu detik itu juga. Namun, ia mencoba meredam amarahnya. Nayan sangat sadar bahwa ketakutan orang-orang terhadap sosoknya adalah akibat dari ulahnya sendiri di masa lalu. Dulu, ia selalu membantai siapa pun sesuai keinginan Elias, tanpa pernah bertanya sedikit pun.

Pikiran itu seketika melempar ingatan Nayan kembali ke masa lalu. Ke sebuah momen di mana Elias pertama kali membujuknya untuk turun ke medan perang.

Flashback

Hari itu langit begitu cerah. Sedra sedang duduk santai di sebuah ayunan di taman belakang istana. Senyum tipis terkembang di bibirnya sembari sesekali menghirup aroma harum dari setangkai bunga mawar pemberian Elias.

"Sedra...," panggil Elias tiba-tiba. Wajahnya ditekuk, memancarkan kecemasan yang mendalam. "Aku selalu mencemaskan kerajaan ini. Rakyat kita di wilayah Utara selalu menderita."

Mendengar hal itu, Sedra langsung menghentikan aktivitasnya. Ia turun dari ayunan dan melangkah menghampiri Elias dengan raut cemas.

"Ada apa, Pangeran? Bukankah saat di aula tadi tidak ada keluhan apa pun saat para raja dan adipati melapor kepada Yang Mulia?" tanya Sedra bingung.

"Itulah masalahnya, Sedra. Ayahku tidak tahu apa-apa. Hati ayah terlalu baik dan terlalu mudah percaya pada bualan mereka," keluh Elias sembari menghela napas berat.

"Seseorang memberitahuku bahwa raja-raja bawahan itu sebenarnya bersikap kejam dan tidak adil pada rakyat. Mereka merampas semua yang dimiliki rakyat kecil."

Darah Sedra mendidih seketika. "Ini tidak bisa dibiarkan! Kita harus segera melaporkan hal ini pada Yang Mulia Raja!"

Dengan geram, Sedra sudah hendak berbalik untuk menemui Raja Seno dan melaporkan kejahatan tersebut. Namun, belum sempat ia melangkah, Elias tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya dengan erat.

"Tidak, Sedra. Kita tidak perlu melibatkan ayahku," cegah Elias cepat.

"Biarkan beliau fokus mengurus urusan istana. Sisanya, biar kita yang selesaikan secara diam-diam."

Sedra menatap manik mata Elias, mencoba mencari jawaban. "Lalu, apa rencanamu yang sebenarnya, Pangeran?"

Elias menatap Sedra lekat-lekat, menyiratkan beban yang berat. "Aku butuh bantuanmu, Sedra. Selama ini kau selalu membantuku mempertahankan kerajaan Utara di medan perang. Sekarang, aku ingin kau meringkus raja-raja itu—kerajaan yang selama ini merupakan sekutu kita."

Elias menjeda kalimatnya sejenak untuk meyakinkan gadis di depannya.

"Aku akan mengerahkan pasukan khusus untukmu. Mereka akan menyamar dan membantumu bergerak."

Hari itu menjadi saksi bisu. Titik awal di mana Elias mulai membentuk Sedra menjadi seorang mesin pembunuh yang berdarah dingin. Sedra yang malang sama sekali tidak tahu bahwa semua cerita pilu Elias tentang penderitaan rakyat hanyalah kebohongan besar demi ambisi pribadinya.

Bersambung....

💞💞💞

1
Rabbella Saputri
cakep 😍
Rabbella Saputri
ceritanya bagus thorr 😍 semangat trus 💪😍
SecretPenaa_: siappp 👍🏻 maksihhh ya udah mau baca 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!