Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagai Buah Simalakama
Tubuh yang sudah tidak muda lagi dan kulit sedikit keriput terbaring kaku di atas emergency bed. Beberapa dokter dan suster mencoba memberikan pertolongan kepada neneknya Jeevan yang tidak sadarkan diri setelah mendengar ucapan Valerie tadi. Semua peralatan rumah sakit dipakai untuk menyelematkan nyawa neneknya Jeevan, namun sayang belum ada tanda-tanda jika nyawanya akan selamat. Suasana begitu tegang di luar ruangan IGD, rasa panik dan ketakutan terlihat jelas di wajah keluarga besar Jeevan, apalagi sang kakek yang menanti kehadiran istrinya dengan air mata yang kadang menetas ke pipi serta napasnya yang sedikit tertahan karena sesak di dadanya.
Valerie merasa sangat bersalah dengan apa yang baru saja diperbuatnya, andai saja dirinya mendengarkan ucapan Jeevan tadi pasti mereka semua tidak akan berada di sini sekarang. Namun semua sudah terlambat karena itu adalah keputusan Valerie. Wajah Valerie terlihat ketakutan dan pucat, entah apa yang harus dilakukan olehnya saat ini agar menghilangkan rasa gugup dan ketakutan yang melandanya. Yang bisa Vale lakukan saat ini adalah berdoa agar neneknya Jeevan selamat.
Ketika Valerie sedang duduk bersisian bersama Jeevan yang sedari tadi hanya terdiam tanpa bicara sepatah kata, tiba-tiba saja Sulthan Malik Sailendra berjalan menghampirinya dengan wajah terlihat dingin dan tatapan wajah sangat tajam menatap Valerie. Spontan Valerie yang sadar kedatangan Sulthan akan menghampirinya langsung berdiri menyambut kedatangan Sulthan yang tinggal beberapa langkah lagi. Hatinya semakin berdekat sangat cepat seperti akan meledak, namun Jeevan hanya terdiam tidak menghiraukan akan kehadiran papanya yang hendak menghampiri Valerie.
Valerie menggenggam mengepalkan kedua tangannya begitu erat karena merasa ketakutan, tubuhnya sedikit gemetaran dan dadanya berdetak kencang ketika melihat tatapan mata Sulthan menatapnya begitu tajam. Sebisa mungkin dirinya mencoba tenang di hadapan Sulthan Malik Sailendra meski kenyataannya dirinya tidak sekuat itu. Beberapa saat kemudian Sulthan berdiri tepat di hadapan Valerie masih dengan tatapan dingin terkesan sinis.
Bukan tanpa alasan Sulthan menghampiri Vale karena ibunya tidak sadarkan diri saat bersama dengan Valerie dan putra bungsunya, Jeevan. Tatapan mata Sulthan membuat Valerie tersudutkan, Vale hanya bisa memainkan kedua bola matanya agar bisa merasa sedikit tenang. Dan dia berharap jika Jeevan juga berdiri di sampingnya untuk membantunya.
"Kalau terjadi sesuatu dengannya, kalian berdua harus bertanggung jawab!" Ancam Sulthan mengintimidasi membuat Valerie tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa menuntaskan air mata.
Jeevan hanya terdiam saat papanya berbicara kepada Valerie, dia tidak mau ikut campur dengan urusan Valerie karena merasa kecewa dengannya. Begitu juga dengan yang lain, Deevina hanya bisa menangis ditemani oleh kedua putranya yaitu Jericho putra pertamanya dan Nino putra keduanya serta menantu tertuanya Isabel. Air mata Deevina mengalir begitu deras sampai Isabel selalu siap merangkulnya, karena Deevina merasa sangat takut kehilangan mertuanya.
Merasa sangat penat membuat Jeevan memutuskan pergi keluar sebentar untuk mencari udara segar sambil menunggu neneknya sadar. Baru saja dokter bilang jika neneknya masih belum sadarkan diri membuat semuanya merasa ketakutan dan gelisah. Nino akhirnya pulang bersama kakeknya karena kondisi kakeknya mendadak tidak sehat. Hanya ada Deevina, Isabel, Jericho, Sulthan, Jeevan dan Valerie. Terpaksa Valerie harus terjebak di sini karena kondisi Ny. Ester masih belum baik-baik saja. Mungkin dengan mengucapkan yang sebenarnya membuat Valerie bisa lepas dari situasi tadi namun nyatanya dia harus terjebak lebih dalam lagi di sini.
Tatapan Valerie begitu sendu menyimpan rasa penyesalan saat menatap Jeevan yang duduk di luar taman rumah sakit sendirian. Tatapan Jeevan kosong dan matanya sembab setelah menangis tadi. Rasanya mereka berdua sedang berada di ambang kematian. Langkah kaki Valerie menghampiri Jeevan, entah kenapa dirinya begitu ingin menghibur Jeevan meskipun tidak akan berhasil, tapi setidaknya Vale harus meminta maaf karena kesalahannya. Belum sempat Vale berbicara, Jeevan lebih dulu mengusirnya. Sepertinya Jeevan sudah tahu kehadiran Valerie di sana.
"Kenapa kamu masih di sini? Lebih baik kamu pergi dari sini!" Usir Jeevan tanpa menoleh ke arah Valerie yang berdiri di samping kanannya.
Glek, Valerie hanya bisa menelan ludah saat Jeevan mengusirnya mentah-mentah. Entah kenapa hati Valerie merasa sangat sakit saat Jeevan mengusirnya, mungkin dirinya merasa bersalah. Karenanya semua menjadi kacau balau, padahal ini bermula karena kecerobohan Valerie yang salah masuk kamar, andai saja tadi dia mengecek kembali pasti tidak akan seperti ini.
Diambilnya sebuah rokok di saku celana Jeevan, lalu dinyalakan pematuk dan menyalakan sebatang rokok yang sudah berada di mulutnya. Ternyata Jeevan seorang perokok, dirinya lebih memilih rokok dibandingkan Vape. Bagi Jeevan merokok bisa menghilangkan sejenak beban di dalam pikirannya saat ini. Ingin rasanya Jeevan melampiaskan rasa amarahnya saat ini, tapi pada siapa?
"Aku minta maaf," ucap Valerie dengan suara sedikit parau terdengar sangat menyesal dan kedua bola matanya kembali dipenuhi buliran berwarna bening.
Senyum simpul terkesan sinis terlihat di bibir Jeevan saat perempuan cantik meminta maaf kepadanya, namun lagi-lagi Jeevan tidak menoleh apalagi menghiraukannya. Bagi Jeevan semua sudah terlambat bagi Valerie memperbaiki semuanya.
"Minta maaf buat apa? Buat kekacauan yang sudah kamu buat?" Jeevan balik bertanya sambil menghembuskan asap rokok yang dihisapnya. Deg, lagi-lagi Valerie hanya terdiam seribu bahasa.
"Bukannya tadi aku udah bilang sama kamu alasannya, tapi kamu nggak denger. Dan sekarang kamu mau minta maaf? Apa sekarang maafmu berguna buat membangunkan nenek yang masih belum sadar?" sindir Jeevan dengan nada bicara biasa saja namun terdengar tegas membuat Valerie semakin merasa sangat bersalah.
"Aku cuma takut akan bertambah masalah kalau kita berbohong," ujar Valerie berusaha membela diri.
"Tapi sekarang kamu sudah bikin masalah dengan keputusanmu yang ceroboh dan egois!" Tegas Jeevan sambil menoleh ke arah Valerie seraya berdiri berjalan menghampirinya membuat Valerie semakin ketakutan.
Tatapan mata yang Valerie lihat saat ini bukanlah tatapan mata yang dilihatnya tadi, ada rasa amarah yang sangat besar disimpan begitu dalam agar tidak memuncak. Wajah Jeevan merah padam hanya tatapan dingin dan sinis begitu mematikan. Nasi sudah menjadi bubur semua tidak bisa diulang lagi, benar kata Jeevan jika Valerie begitu egois padahal apa salahnya dia membantu Jeevan sebentar saja.
"Aku mempunyai seorang kekasih yang sudah hampir 2 tahun bersama. Tapi aku belum siap menikah dengannya karena bagiku perusahaan papaku yang utama." Jeevan mulai bercerita alasan apa yang meminta dirinya agar Valerie mau berpura-pura menjadi calon istrinya.
Suasana terdiam sesaat mereka hanya saling menatap satu sama lain, tatapan sinis Jeevan melukiskan perasannya saat ini. Rokok yang sedang dihisapnya sedari tadi kini dibiarkan saja berada di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya. Sudah tidak ada tenaga lagi bagi Jeevan untuk terus berdebat dengan Valerie karena sehari ini dirinya begitu sangat lelah menghadapi masalah demi masalah.
"Dia selalu mengajakku menikah, sedangkan aku belum terpikirkan membangun rumah tangga karena aku belum siap buat semuanya. Dan selama 2 tahun juga aku belum pernah membawa dia bertemu dengan keluargaku. Bagiku menikah adalah hal yang sangat mengerikan dan menjenuhkan, di sana banyak drama yang akan saling melukai satu sama lain." Valerie hanya terdiam mendengar cerita Jeevan yang hampir sama dengannya yang tidak ingin menikah namun mereka mempunyai alasan masing-masing.
"Namun papaku memberikan satu syarat agar aku bisa memiliki anak cabang perusahaannya, yaitu syaratnya aku harus menika lebih dulu. Jujur itu syarat yang tidak bisa aku penuhi," tambahnya lagi dengan nada kecewa dan sedih.
"Kenapa? Bukanya ada perempuan yang sangat mencintaimu yang akan menemanimu?" tanya Valerie penasaran dibuatnya dengan jalan pikiran Jeevan.
"Justru itu, aku harus bertanggung jawab sekaligus. Sebagai kepala rumah tangga dan pemilik perusahaan. Aku bilang kalau aku belum siap buat menikah. Bagiku sangat mengerikan. Tapi karena syarat dari papa yang membuatku memutuskan untuk melamarnya," tambah Jeevan dan sedari tadi Valerie menjadi pendengar setia Jeevan.
"Ketika aku hendak memperkenalkan dirinya kepada keluargaku justru dia pergi, dan entah kenapa tiba-tiba saja kamu datang tanpa diduga. Aku pikir hari ini semua akan berantakan karena aku gagal membawa calon istriku, tapi setelah kehadiranmu semua jalan buntu bagiku terbuka lebar. Itulah kenapa aku memintamu berpura-pura menjadi calon istriku buat hari ini saja."
"Semua nggak akan selesai sampai di sini saja kalau kamu berbohong," timpal Valerie tidak membenarkan sikap Jeevan.
"Aku tahu! Tapi seenggaknya aku bisa menyelamatkan nyawa nenek yang baru saja keluar dari rumah sakit. Dia begitu bahagia mendengar kalau aku mau membawa calon istri setelah sekian lama menutupinya. Tapi nyatanya semua berantakan juga," sesal Jeevan sangat frustasi dengan keadaannya saat ini.
"Pergilah! Aku nggak mau lihat kamu lagi di sini!" Usir Jeevan membuat Valerie merasa sangat bersalah.
"Maaf aku nggak bisa membantumu karena aku juga sedang menyelesaikan masalahku di sini, tapi tanpa sengaja masuk ke dalam masalahmu," ucap Valerie merasa bersalah dan kebingungan.
Lelaki yang lebih senang menggunakan hoodie kembali tertawa sinis, seolah tidak tertarik dengan apa yang sedang dibahas oleh Valerie saat ini. Jeevan mengigit giginya sebagai pertanda menahan amarahnya saat ini yang bisa meledak kapan saja. Jeevan berharap jika mereka berdua tidak akan bertemu kembali.
"Aku harap kita nggak akan pernah bertemu lagi," kata terakhir Jeevan memutuskan untuk pergi meninggalkan Vale tanpa berpamitan padanya.
Pergi dari Valerie sepertinya hal yang tepat bagi Jeevan karena jika mereka masih bersama bisa membuat Jeevan tidak terkendali. Kedua bola mata Valerie hanya bisa menatap kepergian Jeevan yang semakin jauh dari pandangannya. Air mata Valerie tumpah dan menangis begitu deras karena ingat dengan Ny. Ester. Haruskan Valerie mengiyakan permintaan Jeevan agar berpura-pura menjadi calon istrinya?
Satu jam Valerie duduk termenung di tepat Jeevan tadi. Berpikir apa yang sudah terjadi dan bagaimana selanjutnya dengan Ny. Ester. Jika seandainya Ny. Ester dalam kondisi buruk, keluarga Jeevan meminta dirinya untuk bertanggung jawab. Tapi ada sesuatu yang mengubah pikiran Valerie saat itu juga. Mungkin ada untungnya juga bagi Valerie menerima tawaran Jeevan untuk berpura-pura menjadi calon istrinya. Dengan begitu dirinya bisa memutuskan hubungan dengan Nathan. Sedikit sadis tapi ini adalah alasan yang tepat bagi Valerie, dan juga dia bisa mendapatkan sesuatu dari Jeevan.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪