NovelToon NovelToon
Gadis Milik Tuan Dingin

Gadis Milik Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.

Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 5

Mobil itu melaju cepat meninggalkan gereja.

Di dalamnya, suasana jauh dari kata tenang. liora masih saja berontak ingin pergi.

“LEPASIN AKU!” teriak Liora lagi, meski suaranya sudah serak. Tangannya mendorong bahu Saga, kakinya yang terluka tetap berusaha bergerak walau terasa nyeri.

Ia tidak peduli.

Rasa sakit kalah oleh amarah.

“Aku gak mau ikut kamu! Aku gak mau jadi istri kamu!”

Saga diam. Tatapannya lurus ke depan, rahangnya sedikit mengeras.

Namun saat Liora mencoba membuka pintu lagi.

BRAK!

Tangannya langsung ditahan saga.

Kuat.

Menyakitkan.

“Cukup,” ucap Saga rendah.

Satu kata. Tapi cukup membuat udara di dalam mobil terasa berat.

Liora menatapnya, napasnya memburu.

“Aku benci kamu…” bisiknya, penuh emosi.

Saga menoleh perlahan. Tatapan mereka bertemu.

Dekat.

Terlalu dekat.

“Biasakan,” balasnya dingin.

Deg.

Jawaban itu membuat dada Liora sesak. Ia ingin membalas, ingin berteriak lagi…

tapi tubuhnya mulai melemah. Luka di pahanya kembali terasa perih.

Darah merembes lagi.

Dan akhirnya…

Liora terdiam. Bukan karena menyerah. Tapi karena tubuhnya tidak lagi kuat.

***

Beberapa menit kemudian..

Mansion itu kembali berdiri megah di hadapan liora, Tempat waktu ia di kurung.

Pintu mobil terbuka.

Belum sempat Liora bergerak—

tubuhnya sudah diangkat.

“Turunin aku!” protesnya lemah, tetap berusaha mendorong dada Saga.

Namun sia-sia.

Saga menggendongnya tanpa kesulitan. Langkahnya mantap memasuki mansion.

Semua mata langsung tertuju pada mereka.

Anak buah.

Pelayan. Yang berjejer rapi depan pintu masuk.

Semua langsung membeku.

Tuan mereka—

yang dikenal dingin, kejam, tak tersentuh—

kini membawa seorang gadis dalam dress putih yang terdapat penuh darah.

Dan yang lebih mengejutkan…

ia tidak terlihat marah.

Tidak kasar.

Hanya… fokus.

“Siapkan Kotak medis,” perintah Saga singkat.

Nada suaranya tetap dingin. Tapi tidak sekeras biasanya.

Liora masih meronta.

“Lepasin aku! Aku bisa jalan sendiri!”

Namun justru..

Cengkeraman Saga sedikit menguat.

“Kalau kamu jatuh, jangan salahkan aku,” ucapnya datar.

Ucapan itu bukan ancaman.

Tapi fakta.

Dan entah kenapa…

itu membuat Liora kesal.

“Aku lebih baik jatuh daripada dipegang kamu!” balasnya.

Beberapa pelayan saling pandang. Menelan ludah.

Jantung mereka berdegup. Tidak ada yang pernah berani bicara seperti itu.

Tidak pernah.

Namun..

Saga tidak marah. Ia tetap berjalan. Seolah kata-kata itu tidak berarti.

***

Pintu kamar terbuka.

Saga masuk, lalu menutupnya dengan satu dorongan.

Klik.

Liora langsung diturunkan ke ranjang. Ia meringis saat kakinya menyentuh permukaan.

Namun sebelum sempat menjauh—

Saga sudah duduk di depannya. Kotak medis dibuka.

“Jangan sentuh aku!” Liora kembali menepis tangannya.

Kali ini—

Saga berhenti.

Tatapannya langsung mengunci Liora.

Dalam.

Dingin.

Namun lebih dekat.

“Kalau kamu terus melawan saat aku obati,” ucapnya pelan, “aku tidak jamin aku akan tetap sabar.”

Deg.

Ada sesuatu di nada itu. Bukan sekadar ancaman…

tapi juga batas.

Liora menelan ludah. Namun tetap menatap balik.

“Aku gak takut sama kamu…” bisiknya. Padahal jelas ia takut. Bahkan sudah gemetar.

Beberapa detik mereka saling menatap.

Sunyi.

Tegang.

Lalu—

Saga kembali bergerak. Kali ini lebih cepat.

Ia menahan kaki Liora dengan satu tangan, cukup kuat untuk membuatnya tidak bisa bergerak.

“SAKIT! LEPASIN—”

“Diam,” potongnya.

Namun…

Gerakannya saat membersihkan luka itu—

tidak kasar.

Justru hati-hati.

Kontras.

Sangat kontras dengan cara dia memperlakukannya sebelumnya.

Liora terdiam. Napasnya masih berat.

Matanya tanpa sadar memperhatikan wajah Saga dari dekat.

Tajam.

Dingin.

Tapi fokus.

Seolah ia benar-benar tidak ingin membuat luka itu semakin parah.

“Kenapa…” Liora berbisik tanpa sadar.

Saga tidak menjawab. Ia melilitkan perban dengan rapi.

Tangan yang tadi menggenggam kuat…

kini bergerak lebih tenang.

Setelah selesai—

ia melepaskan kaki Liora. Dan untuk sesaat…

tidak ada yang bergerak. Liora masih menatapnya.

Bingung.

Marah.

Tapi juga…

tidak mengerti. Saga berdiri.

Namun sebelum menjauh—

tangannya sempat menyentuh dagu Liora. Mengangkatnya sedikit. Memaksa Liora menatapnya.

“Kalau kamu terus seperti ini,” ucapnya pelan, “kamu akan lebih sering terluka.”

Nada suaranya tetap dingin.

Tapi…

tidak sepenuhnya kejam. Liora menepis tangannya.

“Kamu yang nyakitin aku!” balasnya cepat.

Hening.

Saga menatapnya beberapa detik.

Lalu—

“Dan aku juga yang mengobatinya,” jawabnya singkat.

Deg.

Kalimat itu menggantung di udara.

Sulit dijelaskan. Sulit dipahami.

Saga berbalik.

Melangkah ke pintu. Namun sebelum keluar—

ia berhenti sebentar.

“Biasakan diri kamu,” ucapnya tanpa menoleh. “Kamu tidak akan bisa ke mana-mana., Tanpa izin dariku”

Klik.

Pintu tertutup.

Liora terduduk di ranjang. Tangannya mengepal. Air matanya jatuh lagi.

Namun kali ini…

bukan hanya karena takut.

Melainkan karena—

ia mulai sadar. Pria itu bukan hanya kejam.

Tapi juga…

terlalu berbahaya untuk dipahami.

Dan entah kenapa…

semakin dekat dengannya—

justru semakin sulit untuk menjauh. Ia sudah terjebak dalam kehidupan seorang saga.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung........................

1
park jongseong
cerita yang menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!